Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Permainan


__ADS_3

Fira mengerjap saat terdengar suara bel apartemennya tidak berhenti berbunyi.


"Sayang, coba kamu lihat siapa yang datang," ucap Fira dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Aku masih mengantuk," jawab Jeje. Suara Jeje pun tak kalah serak.


Keduanya sama-sama masih menikmati dekapan hangat. Di bawah selimut menutupi tubuh mereka membuat kenyamanan begitu terasa.


Tapi sayangnya kenyamanan itu harua terusik dengan suara bel apartemen tang terberbunyi. Di tambah lagi suara dering telepon melengkapi untuk menganggu tidur indah.


Fira yang sudah kesal akhirnya meraih ponselnya. "Halo," ucap Fira mengangkat sambungan telepon.


"Fira, kamu jadi pergi jalan-jalan tidak. Aku di depan pintu apartemen kamu." Suara merdu milik Zara terdengar mengelegar dari sambungan telepon.


Fira sedikit menjauhkan ponselnya. Tapi sejenak dia mengingat suara siapa itu. Mencerna suara dari sambungan telepon, seketika membuat Fira membuka matanya sempurna.


"Fira..." panggil Zara yang tidak mendengar suara Fira.


Mata Fira langsung melihat ke arah Jeje yang masih tertidur pulas. Seolah mimpinya begitu indah hingga saat Fira mengoyang-goyangkan tubuhnya, Jeje tidak bergeming sama sekali. "Sayang," panggil Jeje.


"Em..." Jeje hanya melenguh dan tidak sama sekali membuka matanya.


"Sayang bukannya kita harus pergi jalan-jalan?" Firw terus mencoba membangunkan Jeje.


Samar-samar Jeje mendengar kata jalan-jalan, dan itu mampu membuat kesadaranya kembali. Matanya langsung terbuka sempurna saat itu juga. "Jalan-jalan," ucap Jeje bangkit dan menyibak selimutnya.


"Adhi dan Zara sudah di depan, kamu buka pintu dulu. Aku akan mandi lebih dulu." Fira turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Sedangkan Jeje langsung turun dari tempat tidur, dan keluar kamar untuk membuka pintu.


"Hai, maaf," ucap Jeje saat membuka pintu.


Adhi yang melihat Jeje membuka pintu, melihat Jeje dari atas sampai bawah. Tepat dugaan Adhi, kalau Jeje baru bangun tidur. "Abang gimana sih," ucap Adhi kesal.


"Maaf, ayo, masuk dulu." Jeje pun mempersilakan Adhi dan Zara untuk masuk ke dalam apartemen.


Walaupun kesal, Adhi tidak punya pilihan selain mengikuti Jeje untuk masuk ke dalam apartemennya.


"Kalian tunggu dulu ya, aku akan bersiap." Jeje pun berlalu meninggalkan Adhi dan Zara di ruang tamu.


"Sudah, jangan kesal." Zara mencoba menenagkan Adhi yang dari tadi kesal. Zara ingat betul, bagaimana tadi Adhi mengrutu saat menekan bel apartemen Fira.


Selang beberapa saat Fira keluar lebih dulu. Menghampiri Zara dan Adhi, Fira duduk di sofa ruang tamu. "Maaf ya," ucap Fira sedikit tidak enak pada Zara dan Adhi.


"Nggak apa-apa Fir, lagi pula wajar ibu hamil susah bangun."


Fira yang mendengar Zara mengira karena kehamilan Fira, hanya bisa menarik senyumnya. Sebenarnya semalam dirinya dan Jeje berdebat membahasa nama anak, dan hingga larut malam mereka tidak tidur. Setelah tidak menemukan titik temu nama untuk anaknya, akhirnya mereka memilih tidur.


Tapi sayangnya, jam sudah menunjukan pukul satu dini hari. Itu artinya mereka kurang tidur, dan membuat mereka bangun kesiangan.


Setelah Jeje keluar dari kamarnya, akhirnya Adhi, Zara, Jeje, dan Fira berangkat.


Karena mereka sudah terlalu siang jalan sudah sangat macet, dan itu si manfaatkan Fira untuk memakan bekalnya.


"Kamu bawa jajanan kayak anak SD aja, Fir," ucap Adhi yang melihat dari kaca spion.


Fira langsung menajamkan matanya, saat mendengar ledekan Adhi.


Jeje yang melihat Fira tampak kesal, sudah sangat waswas karena mood Fira bisa berubah seketika.


Zara pun yang melihat Adhi mengoda Fira, menepuk pundak Adhi. Zara yang duduk tepat di belakang Adhi, dapat menjangkau Adhi.


"Sudah, Fir. Jangan dengarkan Adhi, sebaiknya kita makan." Zara mencoba menenanglan Fira.


Fira pun senang saat Zara, ikut makan juga bersamanya. Berbagi dengan Zara, Fira memakan snack yang di belinya di supermarket.


Perjalanan yang macet, akhirnya membuat jarak tempuh menjadi sangat lama. Hingga sore hari mereka baru sampai di Villa. Sesampainya di villa, Jeje, Adhi, Fira, dan Zara turun dari mobil.


"Udaranya segar sekali." Fira menghirup dalam-dalam udara pegunungan. Udara segar dan bersih langsung masuk ke dalam paru-parunya, membuat kelegaan tersendiri.


"Apa kamu suka?" tanya Jeje.


"Iya aku suka," ucap Fira seraya tersenyum manis menunjukan lesung pipinya.


Rasanya Jeje meras sangat puas, saat melihat wajah bahagia Fira.


Menarik kopernya ke dalam villa Jeje dan Adhi membiarkan Fira dan Zara menikmati udara di luar.


"Ra, lihat ternyata pemandangan kota dari sini kelihatan," ucap Fira melihat ke samping Villa.


Zara yang di panggil pun menghampiri Fira. Dilihatnya pemandangan yang indah, tampak dari Villa. "Harusnya kamu perginya sendiri, jadi kamu sama Pak Gajendra bisa menikmati keromantisan," ucap Zara yang melihat tempat yang begitu indah.


Fira melirik ke arah Zara saat mendengar ucapan Zara. "Memangnya kamu nggak bisa?"


"Aku belum sah, tidak boleh," ucap Zara di iringi tawa.


"Ya, ya..." Fira hanya bisa mengagangguk dengan apa yang di ucapkan Zara. Fira sadar, jika Zara selalu menjaga batasannya. "Tapi pegangan tangan bolehlah," goda Fira.


Zara tersipu malu saat me dengar Fira mengodanya.


"Kalian lagi apa," tanya Adhi. Adhi dan Jeje yang baru saja menaruh koper di dalam villa, menghampiri Fira dan Zara, yang sedang asik melihat pemandangan.


"Kita lagi lihatin pemandangan, ternyata kota terlihat dari sini," ucap Fira. Fira menatap pada Jeje. "Kamu bisa saja pilih tempatnya," puji Fira pada Jeje.


"Aku ingin kamu senang dengan suasana seperti ini." Jeje memeluk Fira dari belakang dan melihat pemandangan kota yang tampak indag dari villa.


" Kalau lihat yang sudah resmi seperti ini rasanya mau cepat-cepat bawa ke penghulu," ucap Adhi seraya melirik ke arah Zara.


"Makannya, jangan lama-lama." Jeje pun akhirnya buka suara, mendengar ucapan Adhi.


"Iya, masih nunggu apa sih?" tanya Fira menambahi ucapan Jeje.


"Pengennya secepatnya, tapi aku harus selesaikan perkerjaan aku di luar negeri dulu. Sekalian nunggu Kak Tania lahiran." Adhi menatap lekat wajah Zara.

__ADS_1


Zara melihat ke arah Adhi. Dirinya mencerna ucapan Adhi. Seingatnya, dirinya dan Adhi belum membicarakan rencananya sejauh itu. Tapi bagi Zara rencana Adhi mungkin ada benarnya. Lebih baik Adhi menyelesaikan perkerjaanya terlebih dahulu.


"Ayo masuk, kita bersiap untuk barbeque nanti malam," ucap Jeje.


Adhi, Zara dan Fira pun akhirnaya mengikuti Jeje untuk masuk ke dalam villa. Menuju dapur, ternyata sudah ada bahan barbeque disana.


"Kamu yang siapin ini semua?" tanya Fira pada Jeje.


"Iya, aku meminta tolong penjaga villa untuk menyiapkan semua."


"Wah, akan seru nanti."


"Ayo, kita siapkan," ucap Jeje.


Di bantu Adhi, Jeje membawa alat barbeque ke halaman di mana tempat pemandangan tadu berada. Rencananya, mereka ingin menikmati pemandangan malam dengan makan.


"Sebaiknya kalian mandi dulu, biar kami siapkan semua," ucap Jeje pada Fira dan Zara.


Fira dan Zara yang sedang memarinasi daging pun menyelesaikan terlebih dahulu sebelum mereka berlalu untuk mandi.


***


Setelah selesai mandi Fira dan Zara kembali ke taman. Bergantian dengan Jeje dan Adhi, mereka meninggakan Fira dan Zara berdua di taman.


Saat sedang menunggu api untuk barbeque, Fira dan Zara mendengar suara dari semak-semak. Awalnya Fira dan Zara membiarkan saja, pikirnya mungkin angin. Tapi saat suara mulai terdengar lebih kencang, Fira dan Jeje semakin takut.


"Ra," panggil Fira pada Zara.


Zara pun tidak kalah takut dengan Fira. Hingga akhirnya mereka berlari masuk ke dalam villa, dan meninggalkan api yang sedang menyala, dan beberpa daging.


Saat mereka masuk ke dalam villa, mereka berdua menabrak Jeje dan Adhi.


"Ada apa?" tanya Jeje yang melihat Fira dan Zara berlari.


"Tidak tahu, tapi di semak-semak seperti ada yang bergerak-gerak." Fira menjelaskan apa yang membuat dirinya dan Zara ketakutan.


Jeje dan Adhi saling pandang, mereka berdua pun keluar dari villa menuju ke tempat barbeque. Tapi mata Jeje dan Adhi membukat saat melihat kucing sedang memakan daging yang akan di bakarnya.


Hush...hush..


Jeje dan Adhi mengusir kucing yang sedang memakan satu daging.


Fira dan Zara yang mengintip di belakang pintu, melihat ternyata kucinglah yang tadi di semak-semak. Dengan tertawa sedikit, Fira dan Zara keluar menyusul Jeje dan Adhi.


Jeje dan Adhi pun mengeleng melihat ketakutan Fira dan Zara.


"Lihatlah hanya kucing, dan kalian memberikan daging untuk mereka makan," ucap Adhi menyindir.


"Kami pikir tadi..." Ucapan Fira terhenti.


"Hantu?" tanya Adhi.


"Sayang, kenapa kamu jadi penakut?" Jeje pun tergelitik untuk bertanya.


"Tidak takut tapi lari," potong Adhi.


"Ya sudah, ayo kita bakar-bakar dagingnya." Jeje pun mengakhiri perdebatan mereka.


Jeje dan Adhi langsung membakar beberapa daging, sedangkan Fira dan Zara menunggu. Fira dan Zara mengisi waktu dengan bercerita.


"Ibuku sudah kembali, Fir," ucap Zara menceritakan pada Fira.


Fira mengerutkan dahinya dalam, dia tahu pasti jika ibu Zara pergi sudah lama. Ibunya meninggalkan Zara dan Nadia hanya untuk pria lain. "Untuk apa ibumu kembali?"


"Ayah mengatakan, jika ibu sudah di ceraikam suaminya, dan karena ibu tidak memiliki sanak saudara, ayah menampungnya."


Mendengar cerita Zara, Fira bisa merasakan, bagaimana ibunya menangung karma yang dia buat. Dulu ibu Zara meninggalkan Zara, Nadia, dan ayah Abian, sekarang dia di tinggal oleh suaminya.


"Aku belum berbicara sama sekali dengannya, rasanya aku masih berat untuk menerima semua ini."


Fira tahu pasti akan sangat sulit Zara menerima ibunya. "Tapi tetap saja dia ibumu."


Zata sendiri menyadari, jika apa di katakan Fira benar, tapi perasaannya begitu berat.


"Saat anak melakukan kesalahan orang tua akan dengan mudah memaafkan. Tapi apakah kita bisa seperti mereka? pertanyaan semacam itu, hanya diri kita yang bisa menjawab," jelas Fira. "Cobalah memaafkan." Fira menepuk lembut bahu Zara.


Memaafkan adalah hal tersulit yang orang lakukan, batin Zara.


"Aku akan mencobanya, tapi mungkin perlahan."


"Selamat makan," ucap Adhi yang meletakkan daging barbeque di atas meja, dan itu langsung menghentikan obrolan Fira dan Zara.


"Wah, sepertinya enak," ucap Fira yang melihat daging di bawa oleh Adhi.


"Ayo, makan," ucap Jeje.


Suara Jeje yang baru saja datang pun mengalihkan pandangan Fira ke arah Jeje. Fira pun mengangguk dan dan tanpa aba-aba dirinya memakan daging barbeque yang di berikan Adhi dan Zara.


Setelah menghabiskan seluruh makanan, Fira, Zara, Jeje, dan Adhi menikmati waktu bersantai.


"Bagaimana kita melakukan permainan uno, yang kalah nanti kita coret," ucap Fira yang mendapatkan ide.


"Memangnya mau bawa uno?" tanya Jeje pada Fira. Seingat Jeje, Fira tidak membawa uno.


"Ada aku taruh bersama snack yang di goodie bag," jelas Fira.


Jeje hanya mengelengkan kepalanya, dirinya benar-benar tidak tahu jika Fira mempersiapkan segalanya.


Fira langsung berdiri dan mengambil uno di goodie bag yang di bawanya. Menyurun di meja Fira memulai permainannya.


"Setiap pemain yang menrobohkan uno, akan dapat satu coretan dari pemain yang lain," ucap Fira seraya menunjukan lipstik.


Jeje, Adhi, dan Zara pun mengangguk menerima aturan permainan yang di buat oleh Fira. Permainan pun di mulai, semua pemain meletakkan uno dengan hati-hati.

__ADS_1


Brugh..


Semua uno roboh, dan Jeje lah yang merobohkannya. Mata Jeje langsung membulat saat melihat uno roboh. Ini artinya mereka akan mencoret-coret wajahku.


Fira tersenyum penuh arti pada Jeje, dia merasa senang saat Jeje kalah. Mengambil lipstik, Fira langsung mencoret di pipi Jeje. Fira membuat lingkaran di pipi kanan dan kiri milik Jeje.


"Kenapa dua kali?" tanya Jeje yang protes, karena Fira mencoret dua kali di wajah Jeje.


"Karena aku istrimu, jadi harus ada bonus," ucap Fira.


Jeje hanya bisa mendengus kesal dengan apa yang di lakukan Fira. Tapi dirinya tidak bisa menolak.


Adhi yang melihat kesempatan mencoret wajah Jeje, menarik senyum di wajahnya. "Giliran aku," ucap Adhi dengan senyuman licik.


Jeje hanya bisa menatap tajam pada Adhi. Dia tahu, Adhi memanfaatkan kesempatan ini.


Adhi lagsung membuat kumis di wajah Jeje. Senyum tertarik di wajah Adhi saat melihat hasil karyanya.


"Kenapa kamu juga dua?" tanya Jeje yang melihat Adhi membuay kumis dua di wajahnya.


"Kalau satu akan jadi lucu. Jadi aku buat dua agar seimbang."


"Yang satu anggap saja dari saya, Pak," ucap Zara.


"Pas kan berarti, yang satu dari Zara." Adhi pun tidak mau kalah mengoda Jeje.


Permainan pun di lanjutkan, semua pemain dengan hati-hati mengambil dan menyusun uno.


Brugh...


Kini giliran Adhi lah yang menjatuhkan semua uno.


Senyum mengembang di wajah Jeje, saat mendapati Adhi menjatuhkan semua uno. Dengan cekatan Jeje meraih lipstik dan mencoret wajah Adhi. Kali ini Jeje mencoret tepat di bibir Adhi. Membuat bibir Adhi penuh dengan lipstik.


"Kenapa di bibir, Bang?" protes Adhi.


"Bia sexy," ucap Jeje.


Adhi pun mendengus kesal, saat melihat Jeje membuat bibirnya merona.


Fira yang melihat pun ikut mencoret wajah Adhi. Kali ini Fira menambakan dua coretan di kanan dan kiri pipi Adhi.


"Kenapa dua juga, Fir?" Adhi yang melihat Fira mencoret dua tempat, melayangkan protes.


"Iya blush on harus kanan dan kiri, kalau sebelah saja jelek," elak Fira.


Adhi pun tidak bisa menolak, dan hanya bisa pasrah.


Saat giliran Zara, Adhi langsung bertanya. "Kamu mau coret dimana?" tanya Adhi.


Melihat wajah Adhi, memikirkan dimana dirinya akan mencoret wajah Adhi. "lipstik di bibir sudah, blush on sudah, emm..." Zara mikirkan tempat yang pas. "Eye shadow," ucap Zara saat mengingat dimana dirinya harus mencoret Adhi.


Jeje dan Fira langsung tertawa, saat mendengar Zara akan membuat kelopak mata Adhi berwarna.


"Tutup mata kamu," ucap Zara.


Adhi tidak punya pilihan lain, akhirnya dia menutup matanya.


Zara langsung membubuhi lipstik tepat di mata Adhi layaknya eye shadow. "Kamu cantik sekali," puji Zara di sertai tawa.


Adhi tahu, Zara hanya mengodanya saja, tapi melijat Zara tertawa membuat kekesalan Adhi hilang seketika.


"Ayo foto," ucap Fira yang sangat senang melihat dua pria di hadapannya tersiksa. Fira pun langsung berdiri dan mengambil posisi untuk memfoto.


"Tidak," jawab Jeje dan Adhi bersama-sama.


"Benar tidak mau?" tanya Fira.


Pertanyaan Fira seakan acaman bagi Jeje dan Adhi. Jeje pun langsung menyenggol lengan Adhi. "Kamu tidak mau bukan melihat Fira menangis," bisik Jeje pada Adhi.


"Iya kami mau," jawab Adhi pada Fira. Adhi yang mendengar ucapan Jeje, tidak mau sampai Fira menangis.


Dengan senang Fira langsung memfoto Jeje dan Adhi. Senyum tak surut dari wajah Fira, apalagi di tambah melihat foto Adhi dan Jeje.


"Ayo kita lanjutkan," ucap Adhi semangat. Adhi menantikan membalas dua wanita di hadapannya itu.


"Iya, ayo lanjutkan." Jeje pun tidak sabar membalas Fira.


Fira hanya bisa menelan kasar salivanya, membayangkan wajahnya akan jadi objek balas dendam Adhi dan Jeje. "Sayang, mainnya sudah ya, aku sudah mengantuk."


"Ya sudah kalau begitu." Jeje yang tadinya sudah mengebu-gebu ingin membalas Fira, seketika luluh saat Fira meminta mengakhiri permainan.


"Jangan curang, Fir." Adhi pun melayangkan protes saat Fira ingin mengakhiri permainan.


"Aku memang mengantuk," elak Fira.


"Dhi, aku juga sudah mengantuk. Jadi kita sudahi saja ya." Zara yang mengerti kemana arah Fira pun menambahi ucapan Fira.


Adhi yang mendengar Zara juga ingin tidur, akhirnya mengalah. "Ya, sudah kita tidur semua," ucap Adhi.


"Ayo sayang, aku akan bersihkan wajahmu di kamar." Fira berdiri dan mengulurkan tangannya pada Jeje.


Meninggalkan Adhi dan Zara berdua, Fira dan Jeje masuk ke dalam kamar.


"Kamu tidak mau membersihkan wajahmu?" tanya Zara yang melihat Adhi diam saja.


"Iya, aku akan mencucinya di wastafel dapur saja."


"Ayo, aku temani."


Adhi tersenyum, dan berdiri bersamaa dengan Zara. Mereka berdua menuju ke dapur, tapi Zara berbelok ke kamar untuk mengambil handuk terlebih dahulu.


Saat kembali, Zara melihat Adhi sudah selesai membersihkan wajahnya. "Ini," ucap Zara seraya memberikan handuk pada Adhi.

__ADS_1


"Mau mengobrol di depan?" tanya Adhi pada Zara, dan mendapat anggukan kepala dari Zara.


__ADS_2