Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Lelah


__ADS_3

Setelah berkutat dengan berkas-berkas, Jeje, Adhi, Fira, dan Zara, menyelesaikan semuanya. Semua berkas yang akan di serahkan pada Tuan Edward sudah siap. Tinggal mereka menyiapkan diri untuk keberangkatan besok ke luar negeri.


"Akhirnya selesai juga," ucap Adhi meregangkan otot tangannya yang begitu pegal.


"Jam berapa kalian besok berangkat?" tanya Fira menatap Jeje, Adhi, dan Zara.


"Kami akan berangkat malam," ucap Jeje menatap istrinya.


Fira mengangguk mengerti. Raut wajah Fira berubah menjadi sedih. Rasanya memang berat, saat mendengar Jeje, Adhi dan Zara, akan berangkat besok. Apa lagi untuk Fira, ini adalah kali pertama di tinggal oleh Jeje dalam waktu yang lama.


Jeje menyadari raut wajah Fira yang tampak sedih. Dirinya juga berat sebenarnya meninggalkan Fira seminggu untuk ke luar negeri. Tapi ini adalah tanggung jawabnya, yang harus dia kerjakan. Tuan Edward sudah meminta tolong padanya, dan saat perusahaan sudah di tangani oleh Adhi seutuhnya Jeje harus menyerahkan laporannya, dan melepas perusahaan Adhi berdiri sendiri


"Apa kalian lupa aku punya hutang untuk mentraktir kalian?" Jeje mencoba mengalihkan, agar istrinya tidak sedih lagi.


"Oh iya.. aku hampir saja lupa." Fira yang mendengar ucapan Jeje, langsung bersemangat saat Jeje mengingatkannya untuk mentraktir dirinya, Adhi, dan Zara.


Jeje tersenyum saat melihat raut wajah Fira yang kembali senang. Pikirnya, idenya untuk mengalihkan kesedihan akan kepergiaannya keluar negeri berhasil. "Ayo, kalau begitu." Jeje langsung berdiri, dan melangkah menuju ke meja kerjanya mengambil tasnya.


Akhirnya Fira, Adhi dan Zara pun ikut berdiri, untuk bersiap pergi ke mall terdekat. Dengan mengunakan mobil masing-masing, Jeje, Fira, Adhi dan Zara, menuju ke apartemen.


**


"Kita mau pergi menonton dengan pakaian formal seperti ini?" tanya Fira menatap ke arah Jeje, Adhi dan Zara.


Jeje, Adhi dan Zara yang baru saja masuk area mall, di buat berhenti saat mendapatkan pertanyaan dari Fira. Perasaan baju kerja mereka tidak ada masalah.


"Bukannya kita sering melakukannya, Fir," ucap Zara pada Fira.


"Iya, tapi sekarang aku tidak mau," ucap Fira mengerucutkan bibirnya.


Adhi dan Zara saling padang saat mendengar Fira yang merajuk. Mereka sudah paham, kalau mood ibu hamil seperti Fira, akan berubah-ubah seketika.


Jeje tahu istrinya sedang mode ingin di turuti keinginannya. Jeje menghela napasnya, semoga apa yang di inginkannya tidak akan aneh-aneh. "Lalu kamu mau apa?" tanya Jeje menatap Fira.


Senyum Fira langsung tertarik saat Jeje menanyakan apa yang di inginkannya. "Aku mau kita beli baju," ucap Fira.


"Beli baju?" tanya Jeje memastikan.


"Karena kamu kalah kemarin, jadi kamu belikan kami bertiga baju," ucap Fira seraya menunjuk dirinya, Adhi, dan Zara.


Adhi dan Zara hanya tersenyum, saat Fira mengatakan keinginan pada Jeje. Adhi pun mengerlingkan matanya pada Jeje, seolah sedang meledek Jeje.


Jeje hanya menahan kesalnya. Tapi dirinya tidak bisa menolak, apa lagi mood Fira sedang tidak baik. "Baiklah, ayo," ajak Jeje. Meraih jemari Fira, Jeje mengajak Fira untuk pergi ke departemen store yang terdapat di mall.


Adhi dan Zara hanya mengekor di belakang Jeje dan Fira. Adhi menautkan jemarinya pada jemari Zara, dan melangkah beriringan.


"Apa saat kamu hamil nanti akan seperti itu juga?" tanya Adhi menoleh pada Fira.


"Mungkin sama, atau mungkin lebih parah," ucap Zara tersenyum pada Adhi.


Adhi mengerutkan dalam keningnya. "Lebih parah seperti apa?" tanyanya ingin tahu.


"Emm...apa ya," ucap Zara berpikir. "Aku tidak tahu, nanti kamu rasakan sendiri saja lebih parah atau tidak," jawab Zara yang bingung membayangkan seperti apa.


Rasanya Adhi di hujani begitu banyak kebahagiaan saat Zara mengatakan hal itu padanya. Adhi mengeratkan genggaman tanganya. "Aku akan menunggu waktu itu, dan aku akan dengan suka rela melakukan apa pun untukmu," ucap Adhi menatap lekat wajah Zara.


"Apa pun?" tanya Zara dengan senyum licik.


"Tapi jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan," ucap Adhi seraya mencubit pipi Zara.


Zara tertawa, saat ketahuan Adhi dirinya berniat untuk mengambil kesempatan dalam kehamilannya nanti.


"Kalian mau baju apa?" tanya Fira yang baru saja melihat Adhi dan Zara memasuki departemen store.


Adhi memandang Zara. "Kamu saja yang pilih," ucap Adhi pada Zara.


"Kamu sudah dapat baju, Fir?" tanya Zara pada Fira.


"Sudah," ucap Fira. "Ini t-shirt couple," ucapnya kembali seraya menunjukan dua t-shirt couple pada Zara dan Adhi.


Adhi dan Zara saling pandang. Dan Adhi langsung mengelang. Bukan Adhi tidak mau baju yang sama dengan Zara. Tapi warna yang Fira pilih adalah warna pink, dan Adhi tidak mau warna yang sama.


Dari kejauhan, Adhi melihat wajah Jeje yang terpaksa tersenyum, kala Fira membeli t-shirt warna pink. Ingin rasanya adhi tertawa, tapi karena jaraknya cukup jauh, Adhi memilih nanti di saja.


"Aku warna merah saja, Fira," ucap Zara seraya melirik pada Adhi sedikit. Adhi yang melihat Zara mendengar Zara memilih warna t-shirt merah, mengangguk menyetujuinya.


Setelah mereka semua sudah mendapatkan baju yang di cari, akhirnya mereka menganti sesuai keinginan Fira. Jeje, Adhi dan Zara hanya menuruti keinganan Fira.


Senyum merekah di bibir Fira saat mendapati mereka berpasangan memakai baju couple.

__ADS_1


"Kita tidak seperti anak kembar kan?" tanya Adhi berbisik pada Zara.


Zara langsung mencubit lengan Adhi. "Kita lebih mirip kakak Adik," ucap Zara tak kalah usil.


"Apa aku setua itu, jadi kakakmu." Adhi mengerucutkan bibirnya sedikit, kesal mendengar ucapan Zara.


"Sepertinya menjadi pimpinan perusahaan membuatmu lebih terlihat tua."


"Aku sedang berusaha, untuk anak kita nanti," ucap Adhi.


"Anaknya saja belum ada." Zara melirik dan berucap dengan nada penuh cibiran.


"Kita buat dulu, agar ada."


Zara langsung menatap tajam Adhi, saat Adhi mengucapkan hal yang tidak dia duga.


"Jangan menatapku seperti itu. Kita akan membuatnya nanti setelah kita menikah."


Zara merasa sangat lega, saat Jeje tidak berpikir sejauh itu untuk hubungan dirinya. Entah apa yang di rasakan jika Zara jika Adhi melakukan hal buruk padanya.


*


Tujuan mereka kedua adalah bisokop. Jeje dan Adhi langsung membeli tiket bisokop setelah mereka menentukan ingin menonton apa.


"Dua orange juice, dua cola, dan dua pop corn ukuran large," ucap Jeje memesan makanan.


Pelayan yang mendapatkan pesanan dari Jeje, malah termenung melihat Jeje. Rasanya aneh sekali melihat seorang pria gagah, memakai baju warna pink.


"Halo.." sapa Jeje saat pelayan bioskop tidak merespon pesanannya.


"Oh.. ya Pak. Dua orange juice, dua cola, dan dua pop corn ukuran large," ucap pelayan mengulang pesanan Jeje.


"Iya."


Saat Jeje sibuk memesan makanan dan minuman, Adhi pergi untuk membeli tiket.


Setelah mendapatkan tiket, Adhi menghampiri Jeje, yang sedang menunggu makanan. Mata Adhi memindai minuman dan pop corn, Adhi mengangguk. Adhi tidak menyangka, Jeje mengingat Fira tidak suka minuman soda.


"Sudah?" tanya Jeje.


"Sudah, Bang."


"Bang Jeje terlihat manis pakai t-shirt ini." Dari tadi Adhi menunggu waktu dia bisa mengoda Jeje. Rasanya bibirnya sudah sangat gatal, untuk mengomentari t-shirt pink milik Jeje.


Jeje hanya menatap tajam. Sebenarnya dia malas sekali menanggapi ucapan Adhi. Tapi rasanya tidak ada tempat lagi untuk mencurahkan isi hatinya. "Aku hanya takut ada klienku melihat aku dengan baju warna pink seperti ini."


Adhi melihat kesekeliling, mencari siapa tahu ada klien Jeje. "Aku rasa, harga sahammu akan langsung naik, saat tahu pimpinan semanis dirimu."


"Kamu sedang menyemangati apa mencibir?" tanya Jeje dengan memutar bola matanya malas.


Adhi langsung tergelak. "Aku rasa dua-duanya."


"Ingatlah, saat nanti istrimu hamil dan memintamu untuk melakukan hal aneh, aku adalah orang pertama yang tertawa."


"Dan aku berharap itu tidak akan terjadi."


Setelah mendapatkan minuman, makanan dan tiket, Jeje dan Adhi kembali menghampiri Fira. Dan kebetulan waktu mereka pas, dimana saat teater di buka. Dan mereka berempat masuk ke dalam teater dan menonton film.


Selama menonton, Fira begitu senang. Tangannya selalu di lingkarkannya di lengan Jeje, begelayut manja pada Jeje. Kepalanya pun di sandar pada pundak Jeje, dan pandangannya tetap pada layar besar di depannya. Walaupun sebenarnya tidao terlalu fokus


Jeje pun dengan telaten menyuapi pop corn pada Fira. Dirinya sudah tidak perduli dengan film yang di lihatnya. Yang dia fokuskan adalah menyuapi Fira. Dirinya tidak mau sampai salah menyuapi kalau dirinya fokus pada filmnya.


Sedangkan pasangan di sebelah, lebih fokus pada filmnya. Zara dan Adhi mentap layar besar di hadapanya, tanpa perduli pada satu dengan yang lain. Bagi mereka menonton film itu harus benar-benar di nikmati.


Sampai akhirnya film selesai, dan mereka berempat keluar dari teater.


"Apa ibu hamil masih ada keinganan?" tanya Jeje seraya mengoda Fira.


Fira langsung tersenyum memamerkan deretan gigirnya saat Jeje mengodanya. "Makan," ucapnya.


"Mau makan apa?" tanya Jeje lembut.


"Emm...pizza," ucap Fira


Menuruti keinginan Fira akhirnya, Jeje, Adhi dan Zara, bersama-sama menuju restoran pizza. Saat masuk ke restoran pizza, mereka langsung memesan tempat duduk, dan duduk setelah pelayan memberitahu dimana mereka harus duduk.


Pelayan yang melayani, mencatat pesanan mereka, dan meminta untui menunggu.


Saat menunggu pizza yang di pesan datang. Tiba-tiba ada anak kecip menghampiri Jeje. "Apa Om mau buat pizza lagi kemari?" tanya anak kecil itu pada Jeje.

__ADS_1


Jeje menatap anak kecil, seraya mengingat siapa anak itu. Dan akhirnya Jeje menemukan jawabannya, bahwa anak itu adalah anak yang bersama dengannya membuat pizza waktu Fira meminta membuat pizza.


"Tidak, Om tidak membuat pizza," ucap Jeje.


"Apa adik kecil sudah keluar dari perut, hingga Om tidak mau membuat pizza lagi?" tanya anak laki-laki itu polos.


Jeje hanya tersenyum mendengar pertanyaan polos dari anak kecil itu. "Tidak, adik kecil belum keluar dari perut, tapi adik kecil sedang tidak ingin di buatkan pizza."


"Ega.."panggil seorang wanita pada Anak kecil itu.


"Kalau nanti adik kecil lahir itu, adalah laki-laki aku mau menjadikan dia temanku, tapi kalau dia perempuan aku akan menjadikannya pacarku," ucap anak laki-laki itu pada Jeje.


Tapi belum sempat Jeje membalas ucapan anak kecil itu, anak kecil itu sudah pergi.


"Apa kamu sedang mendapat sebuah lamaran untuk anakmu yang belum lahir?" tanya Fira mengoda Jeje.


Jeje menatap Fira. "Aku jadi penasaran anak kita akan lahir dengan jenis kelamin apa?"


"Kalau perempuan kamu akan menerima lamaran pria kecil tadi?" tanya Fira tersenyum dan di iringi tawa kecil.


"Mungkin akan aku pikirkan. Aku tidak tega melihat pria kecil itu menunggu."


Fira dan Jeje seketika tertawa mengingat lamaran dari pria kecil itu.


**


Setelah tadi acara mereka selesai, berbelanja, menonton film dan dia akhiri dengan makan malam, akhirnya Jeje dan Fira sampai di rumah.


Secara bergantian mereka berdua membersihkan diri. Dan langsung merebahkan diri di tempat tidur.


"Aku lelah," ucap Fira yang merasakan lelah seharian ini berjalan-jalan.


"Apa kamu mau aku memijit kakimu?" Jeje yang melihat istrinya kelelahan merasa tidak tega. Sebenarnya ini lah yang di takutkan oleh Jeje, jika terus saja menuruti Fira untuk berjalan-jalan.


Fira pun mengangguk, saat Jeje menawarinya untuk memijat kakinya. Lelah yang menderanya memang membutuhkan pijatan.


Jeje langsung berdiri mengambil minyak untuk memijat Jeje. Dengan mengolesi minyak, tangan Jeje langsung bergerak memijat kaki Fira, saat Fira mengangguk.


"Dari mana kamu belajar memijat?" Fira yang merasakan pijatan yang begitu enak pun bertanya. Pinjatan Jeje tidak terlalu keras tapi juga tidak terlalu pelan.


"Naluri saja."


"Sepertinya kursus memijat akan segara tutup, kalau semua orang memiliki naluri memijat seperti dirimu." Di tengah-tengah lelahnya, Fira masih sempat untuk bercanda.


"Naluri seperti ini tidak semua orang bisa miliki. Ini adalah anugerah khusus." Tangan Jeje terus, tanpa henti memberikan pijatan lembut di kaki Fira.


Mata Fira yang memejamkan merasakan nikmatnya pijatan Jeje. Rasanya lelah yang di deranya menghilang seketika, saat sentuhan tangan Jeje dengan lihai memijat. Kaki Fira yang merasakan pegal, karena dari siang tidak berhenti berjalan-jalan, perlahan merasa pegalnya hilang.


Akhirnya perlahan Fira memejamkan matanya, dan benar-benar tidur.


Jeje yang sudah tidak mendengarkan suara Fira, mengintip wajah Fira. Dan sesuai dengan tebakannya, Fira telah tertidur.


Meletakkan minyak pijat di atas nakas, Jeje berlalu ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.


Sebelum merebahkan tubuhnya, Jeje melibat ponselnya. Mengecek beberapa email, Jeje menemukan email dari Daniel, yang meminta dirinya untuk bertemu dua hari lagi.


Jeje mulai memikirkan bagaiamana caranya mengatur jadwalnya, sedangkan dirinya akan ke luar negeri. Akhir Jeje berpikir, untuk mengirim pesan pada Reza. Jeje merasa Reza bisa menangani Daniel, karena Jeje menangani untuk bertemu dengan Tuan Edward.


Jeje langsung meminta Reza membatalkan keberangkatan Reza bersama dengan dirinya.


Setelah selesai memastikan semuanya, Jeje meletakkan ponselnya, dan menyusul Fira membenamkan diri di dalam selimut tebal. Mencari kehangatan dari balik selimut.


.


.


.


.


.


Baca juga My baby CEO


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like,🥰


__ADS_2