
Ting..tong
Bel apartemen Fira berbunyi.
"Itu pasti Adhi," ucap Fira berjalan seraya membuka pintu apartemennya.
"Hai fir," sapa Adhi yang sudah di depan pintu.
Sesuai dugaan Fira, kalau Adhi lah yang datang, karena kemarin sebelum Adhi pulang dari apartemen Fira. Adhi sudah memberi tahu Fira, kalau dia akan menjemput Fira untuk pergi ke kantor hari ini.
"Hai dhi masuk dulu yuk," ajak Fira untuk masuk ke dalam apartemennya, Adhi pun mengiyakan dan ikut masuk.
"Kamu dah sarapan dhi?" tanya Fira pada Adhi dan Adhi menggeleng, "Ya sudah kebetulan aku buat nasi goreng, kamu sarapan dulu aja, aku ke kamar dulu." Tadi pagi Fira memang sengaja memasak nasi goreng lebih, karena Fira sudah yakin kalau Adhi pasti belum sarapan.
Akhirnya mereka berdua sarapan bersama-sama, setelah Fira kembali dari kamarnya.
"Fir aku mau kasih tahu kamu," ucap Adhi di sela-sela sarapannya.
"Apa?" ucap Fira sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya
"Karena gedung perusahaan kita belum rampung, sementara kita pinjam satu lantai di gedung perusahaan Bang Jeje."
"Uhuuk..uhuuk.." Fira seketika langsung tersedak, saat mengunyah makanan, karena mendengar apa yang di katakan oleh Adhi.
Adhi yang melihat Fira tersedak, langsung menyodorkan minuman, "Pelan-pelan fir."
"Apa harus di kantor Jeje, dhi?" tanya Fira setelah minum, dan menghilangkan rasa sakit tenggorokannya akibat tersedak.
"Ya kan kita kerjasama dengan Bang Jeje fir, wajar pakai fasilitas dari Bang Jeje," jelas Adhi.
Fira hanya bisa menghela nafas, dirinya tahu benar, bahwa perusahaan Tuan Edward berkerja sama dengan Jeje. Tapi dia tidak membayangkan akan memakai kantor Jeje untuk sementara waktu. Fira tidak bisa membayangkan hari-harinya akan di hiasi dengan pertemuan dengan Jeje.
"Kamu harus coba hadapin fir, nanti kamu akan terbiasa, aku akan ada buat bantu kamu jalani ini semua," Adhi mencoba menenengkan Fira. Adhi tahu Fira berat dengan kondisi yang akan membuatnya bertemu dengan Jeje.
__ADS_1
"Ya sudah, mau di kata apa lagi dhi semua harus di jalani." Fira hanya pasrah menerima keputusan Ini.
"Bagus kalau kamu sudah menerima, jadi kita bisa berkerja dengan baik nanti."
Fira hanya berharap seperti yang di katakan oleh Adhi, kalau semua akan baik-baik saja.
Akhirnya mereka melanjutkan makan dan bersiap untuk berangkat kerja, setelah sarapan selesai.
Mereka berdua keluar dari apartemen. Tapi saat Adhi dan Fira keluar, mereka melihat seorang kurir makanan tepat di depan apartemen Jeje.
"Jeje " batin Fira saat melihat Jeje juga membuka pintu. Rasanya masih berat sekali setelah pertemuan mereka terakhir kali, dan memutuskan untuk mengakhirnya.Fira merasa belum siap untuk bertemu, tapi sepertinya takdir berkata lain, Fira harus bertemu dengan Jeje dengan status mantan kekasih Jeje.
Jeje yang membuka pintu apartemen, untuk menerima makanan dari kurir, di kagetkan dengan Adhi dan Fira yang juga baru keluar dari apartemen. Rasanya berat sekali menerima kenyatan mereka sudah berpisah. Tapi lebih sakit melihat kedekatan Adhi dan Fira.
"Hai Bang," sapa Adhi yang melihat Jeje juga di sedang membuka pintu
"Hai dhi," sapa balik Jeje dengan malas. Jeje merasa kesal saat melihat Adhi keluar dari apartemen bersama Fira. Jeje beralih pada kurir makanan dan menerima makanan pesanannya.
"Pesan sarapan bang?" tanya Adhi yang melihat Jeje sedang menerima makanan dari kurir.
"Kasihan dia nggak ada yang buat sarapan."
"Wah, aku juga tinggal sendiri, tapi ada yang buatin sarapan aku," seragai licik dari Adhi, "Makasih ya fir atas sarapannya," Adhi beralih menatap Fira yang berada di sampingnya. Dia sengaja mengucapkan terimakasih atas sarapannya, di depan Jeje.
"Oh..iya" jawab Fira yang gugup.
"Kenapa Adhi ngomong gitu sih " kesal Fira dalam hati.
"Emang sengaja ini bocah" batin Jeje yang begitu kesal mendengar ucapan Adhi.
"Fir kalau kamu sempet tambah satu porsi lagi, buat tetangga apartemen kamu fir," Adhi mengatakan pada Fira, seraya melirik ke arah Jeje.
Jeje yang kesal hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia benar-benar tidak suka ucapan Adhi yang membuatnya emosi. "Nggak perlu aku bisa pesan di luar."
__ADS_1
"Padahal nggak sehat lho bang, pesan makanan di luar, makanan buatan sendiri lebih sehat."
"Udah dhi kita nanti terlambat." Fira yang sudah tidak tahan dengan Adhi yang memancing emosi jeje dari tadi, akhirnya menarik lengan Adhi.
Adhi yang melihat Fira menariknya tersenyum, "Aku berangkat duluan ya bang, bye," Adhi memasang senyum kemenangan di wajahnya.
Fira dan Adhi pun berlalu meninggalkan Jeje. Jeje yang melihat Fira menarik Adhi merasakan kekesalan di hatinya. Akhirnya dia memilih masuk ke dalam apartemennya dan bersiap ke kantor.
Sepanjang jalan ke arah kantor Fira hanya diam melihat ke arah luar kaca mobil. Dia benar-benar kesal dengan ulah Adhi yang mengerjai Jeje pagi-pagi, dan mengodanya.
"Kamu marah fir sama aku," tanya Adhi yang melihat Fira mendiaminya.
"Aku cuma kesel aja dhi sama kamu, ngapain juga kamu ngomong begitu sama Jeje."
"Ya ampun fir becanda doang, kamu serius amat, lagian juga aku kan ngomong begitu baik."
"Baik apanya?" Fira melirik sinis pada Adhi.
"Aku nawarin dia sarapan buatan kamu, biar dia makan makanan sehat, kan kasihan dia pesan di luar belum tentu sehat," bohong Adhi pada Fira tentang alasannya, sebenarnya Adhi suka sekali mengoda Jeje, apalagi kalau melihat Jeje menahan emosi. Rasanya senyum kemenangan benar-benar mengembang sempurna di wajahnya.
Fira juga sebenarnya merasa sangat kasihan, saat melihat Jeje harus memesan makanan. Dulu saat dia bersama Fira, mereka selalu sarapan bersama, dan sarapan masakan sendiri. "Tapi kenapa juga harus aku," Fira masih tidak terima.
"Ya kan tadi di sana cuma ada kamu, nggak mungkin aku kan yang nawarin dia untuk buatin sarapan, aku kan nggak bisa masak" elak Adhi polos.
"Maleslah ngomong sama kamu nggak ada menangnya," Fira pasrah dan malas berdebat dengan Adhi yang selalu bisa menjawab setiap yang Fira ucapkan.
Adhi yang melihat reaksi Fira hanya tertawa
"Sudah jangan marah lagi, hari ini kan, hari pertama kamu kerja, jadi jangan marah," Adhi menoleh sebentar pada Fira dan mencoba meredakan kemarahan Fira.
Fira hanya bisa menghela nafasnya, benar kata Adhi. Ini hari pertama dia kerja, dan tidak seharusnya dia merasa kesal dan membuat mood buruk. "Iya aku nggak marah."
"Kalau nggak marah senyum dong," goda Adhi.
__ADS_1
Fira pun langsung tersenyum saat Adhi mengodanya. Dan Adhi yang melihat merasa senang.