
Tok..tok
Suara pintu di ketuk.
"Masuk!" seru Jeje.
Saat pintu di buka Jeje melihah Fira dari balik pintu.
"Apa kamu memanggilku," tanya Fira.
"Sayang kemarilah," ucap Jeje meminta Fira untuk mendekat padanya, dan duduk di kursi yang terdapat di depan meja Jeje.
Fira pun melangkahkan kakinya menuju kursi yang di maksud oleh Jeje. "Ada apa kamu memanggilku?" tanya Fira sesaat setelah dia duduk.
"Kamu sudah tahu dari Adhi, kalau gedung perusahaan Tuan Edward sudah siap?" tanya Jeje memastikan.
"Oh ya, aku sudah tahu soal itu."
Jeje mengangguk mengerti kalau Fira sudah tahu. "Jadi karena kantor Tuan Edward sudah bisa di tempati, Adhi dan beberapa karyawan akan pindah. Tapi aku mau kamu tetap disini." Jeje menjelaskan maksudnya pada Fira.
Fira yang mendengar ucapan Jeje terperangah, "Apa maksudmu?" tanyanya masih bingung dengan yanh di ucapkan Jeje.
"Aku mau kamu tetap di kantorku, dan berkerja sini." Jeje menjelaskan lagi pad Fira.
Fira membulatkan matanya mendengar penjelasan Jeje, "Kamu tahu bukan, kalau aku karyawan Tuan Edward" ucap Fira sedikit tidak terima.
"Aku tahu, tapi Tuan Edward juga berkerjasama dengan ku, aku rasa dia tidak akan keberatan untuk kamu disini."
"Mana bisa begitu, walaupun kamu berkerjasama dengan Tuan Edward tidak seharusnya kamu bertindak sesukamu."
"Sayang, aku tidak bertindak sesukaku" elak Jeje seraya melangkah mendekat pada Fira.
"Dengar kan aku, aku hanya tidak ingin kamu kerja di tempat lain, dan jauh dariku" Jeje berlutut di depan Fira, mencoba untuk memberi penjelasan.
"Kamu yang harusnya mendengarkanku, aku berkerja tidak jauh, dan lagi pula kita bertemu di apartemen, kenapa kamu khawatir aku jauh darimu," ucap Fira seraya mengenggam tangan Jeje.
"Dari awal aku karyawan dari Tuan Edward, jadi aku mohon jangan campur adukan urusan pribadi dengan perkerjaan," jelas Fira lagi.
"Aku akan baik-baik saja, saat kamu berkerja jauh darimu." Fira menatap lekat Jeje memberikan pengertian.
Jeje menimbang-nimbang ucapan Fira, "Baiklah kalau begitu." Jeje tidak punya pilihan lain untuk tidak menuruti keinganan Fira.
"Tapi berjanjilah akan menjaga hatimu saat berkerja jauh dari ku," pinta Jeje pada Fira.
Fira hanya menahan tawa mendengar ucapan dari Jeje. "Apa dia masih takut aku dekat dengan Adhi ."
"Baiklah, aku akan menjaga hatiku untukmu."
__ADS_1
Jeje pun tersenyum mendengar ucapan Fira. Setelah masalah kepindahan Fira selesai, Fira pun kembali ke ruangannya, untuk menyelesaikan perkerjaanya membereskan barang-barang yang akan di bawa untuk ke kantor baru.
"Apa kamu tetap akan disini?" tanya Adhi yang sedang membereskan beberapa berkas.
Fira yang mendengar Adhi menanyakan hal itu pun mengerutkan dahinya. "Kamu sudah tahu?" Fira tidak menjawab tapi malah balik bertanya.
"Iya, tadi dia minta padaku, untuk kamu tetap tinggal disini."
"Kenapa kamu tidak bilang?" sergah Fira.
"Itu urusan kalian berdua, jadi aku tidak bisa ikut campur terlalu dalam."
"Tapi kamu atasanku, kamu berhak melarang Jeje untuk memintaku tetap tinggal disini." Fira tidak habis pikir Adhi akan menuruti Jeje.
"Aku tahu, aku pun sudah menolak, tapi nampaknya Bang Jeje tetap meminta mu disini. Jadi keputusannya hanya ada di kamu, kalau kamu mau, aku bisa apa."
"Aku sudah menolaknya."
Adhi membulatkan matanya, "Benarkah?" Adhi seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Iya, aku juga sudah jelaskan semuanya, dan Jeje menerima."
"Mamang harus kamu yang menjawab, Bang Jeje tidak akan menolak kalau kamu yang mengatakannya." Adhi tertawa, membayangkan semudah itu Fira meluluhkan hati Jeje untuk melepaskan dia kerja di kantor baru.
"Iya," Fira pun ikut tertawa.
Setelah semua barang sudah siap di bawa, Adhi dan Fira menuju kantor baru. Mereka berdua sama-sama melangkah ke dalam lift. Tapi saat masuk ke dalam lift, teryata sudah ada Zara di dalam lift.
" Iya, sudah banyak perkerjaan jadi aku masuk"
"Sudah jadi istri 9resdir masih memikirkan perkerjaan saja," cibir Zara.
"Kamu pikir istri Presdir hanya duduk manis begitu, lalu untuk apa aku susah payah kuliah," jawab Fira sambil memutar bola malas.
Zara hanya tersenyum memamerkan giginya, "Iya juga" Zara dan Fira sama sama tahu, bagaimana perjuangan mereka saat kuliah.
Saat lift terbuka mereka bertiga keluar bersama-sama. "Kita masih bisa bertemu kan?" tanya Zara yang sedih saat mereka sekarang berpisah kantor.
"Kamu pikir Fira pergi jauh seperti kemarin," cibir Adhi yang dari tadi melihat drama Zara.
"Ya aku takut Fira pergi lagi, dan kamu akan menyiksaku dengan mengajakku mencarinya," sindir Zara.
"Untuk apa aku mencari Fira kalau dia pergi, sudah ada bang Jeje yang akan mencari," elak Adhi. "Tapi kalau kamu mau pergi denganku, dengan senang hati aku akan mengajakku" goda Adhi pada Zara.
Zara mencebikan bibirnya, "Malas sekali pergi denganmu."
"Sudah -sudah kalian itu bertengkar terus, lama-lama nanti jatuh cinta baru tahu rasa." Fira yang kesal pun ikut berbicar melihat dua temannya bertengkar.
__ADS_1
"Apaan sih fir, Adhi kan sedang dekat dengan Nayla," elak Zara.
"Benar dhi?" tanya Fira langsung menatap Adhi, dan Fira ingin tahu kebenaran dari mulut Adhi sendiri.
"Sudah ayo kita berangkat," elak Adhi mengalihkan pertanyaan Zara.
Akhirnya Fira berpamitan dengan Zara dan menuju mobil Adhi. Di dalam mobil Fira masih menanyakan kebenaran, atas hubungan dengan Nayla tadi, yang di ucapkan oleh Zara.
"Benar dhi kamu sedang dekat dengan Nayla?" tanya Fira memastikan lagi.
"Aku hanya berhubungan biasa saja fir, tidak ada apa apa."
"Kamu tidak menyukainya?"
"Aku bukan bilang tidak, karena kita tidak tahu ke depan seperti apa, tapi.."
"Tapi kamu mencintai orang lain?, aku tahu itu."
"Sudahlah fir, jangan membahas aku," elak Adhi.
"Oke..oke, aku hanya ingin terbaik untukmu dhi, aku hanya ingin kamu bahagia dengan siapapun kamu nanti"
"Iya"
**
Tok..tok
Suara pintu ruangan Jeje di ketuk.
"Masuk!" Seru Jeje
"Permisi Pak" sekertaris Jeje masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa?" tanyanya yang ingin tahu, karena dia merasa tidak memanggil.
"Saya mau menyerahkan ini." Sekertaris menyerahkam map, dan Jeje membukanya.
"Kamu mau resign?" tanya Jeje memastikan.
"Iya pak, saya baru menikah dan harus ikut suami keluar kota."
"Baiklah saya terima ini, kamu bisa
ke bagian keuangan untuk mengambil pesangon kamu."
"Terimakasih Pak," ucap sekertaris, dan keluar dari ruangan Jeje.
__ADS_1
Jeje menghela nafas, dan menelepon sesorang. "Za, carikan sekertaris baru untukku," perintah Jeje pada Reza.
Reza pun mengiyakan perintah dari Jeje.