
"Kenapa kamu pergi"
Fira yang mendapatkan pertanyaan itupun menautkan alisnya, "Siapa yang pergi", jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Maksudku kenapa kamu tidak pulang ke apartemen kita?"
"Bukankah ini apartemenmu juga"
Jeje tidak bisa menyalahkan Fira, kalau ini juga apartemennya juga. Dulu dia membelinya untuk di tempati Fira dan beralasan kalau apartemen ini milik Daffa, agar Fira mau menempatinya.
"Ya aku tahu ini apartemenku, tapi kenapa kamu tidak ke apartemen sebelah dan tinggal bersama denganku"
"Kamu masih bisa bertanya kenapa?, ya jelas saja aku malas denganmu" ucap Fira membuang muka meluapkan kekesalan yang masih tersisa.
Jeje menyadari kalau Fira benar-benar masih marah dengannya karena masalah dengan Ana.
"Sayang maaf kan aku, dengarkan penjelasan ku lebih dulu." Jeje mengenggam tangan Fira.
"Waktu itu aku tidak tahu Ana datang, saat aku masuk dia berusaha mengodaku" jelas Jeje lagi.
"Kalau kamu tau dia mengodamu kenapa kamu mau?" kesal Fira yang mendapati penjelasan dari Jeje.
__ADS_1
"Aku hanya geram dengannya, aku mendekat karena aku memperingatkannya "
"Sayang, aku mohon dengar kan aku,aku tidak melakukan apapun dengannya, percayalah" jelas Jeje dengan penuh harap.
Fira melihat wajah suaminya yang begitu penuh pengharapan. Terlihat jelas penyesalan yang menyelimutinya menjadi tidak tega.
Fira menginggat kejadian bagaimana dia memutusakan berada di apartemen ini.
Fira yang memutuskan meninggalkan kantor Jeje, langsung memberhentikan taxy.
Sepanjang jalan dia memikirkan kenapa Jeje setega itu padanya. Rasanya sakit saat menemukan orang yang dia cintai, berdua dengan wanita lain.
"Tujuan kita kemana Nona?" Tanya sopir taxy pada Fira.
Fira yang mendapatkan pertanyaan itu pun bingung harus kemana dia pergi. Rasanya dia masih enggan untuk bertemu Jeje.
"Kalau aku kerumah ibu, ibu pasti akan sedih melihat ku."
Setelah menimbang kemana dia akan pergi. Akhirnya Fira memutuskan untuk ke makam ayahnya.
"Ke makam di jalan Kenari ya Pak," ucap Fira pada sopir taxy.
__ADS_1
Setelah sampai Fira berjalan menuju makam ayahnya. Dirinya begitu merindukan sosok ayahnya.
Dilihatnya nisan ayahnya. "Ayah aku merindukanmu," ucapnya seraya membelai nisan bertuliskan nama ayahnya.
Sejenak dia memanjatkan doa untuk ayahnya, melupakan kesedihannya atas apa yang di lakukan Jeje.
Setelah dari makam Fira memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Tidak ada pilihan lain selain kesana.
Fira membuka pintu apartemen melihat ke sekeliling. Fira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur merasakan sesak yang masih tersisa.
Seketika dia teringat akan apartemen Jeje yang pernah dia tempati. Fira membuka nakas, dan menemukan kunci apartemen yang dulu pernah dia tempati.
Fira membuka lemari mengambil beberapa helai baju, karena dia pikir untuk beberapa hari menenangkan diri. Dia melanjutkan langkahnya ke kamar mandi untuk mengambil peralatan mandi.
Setelah selesai mengambil barang-barangnya di kamar dia beralih pada lemari pendingin. Fira teringat kalau kemarin dia membeli beberapa stok bahan masakan. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambilnya sebagai stok di apartemen sebelah.
"Sementara aku akan tinggal disini dulu, aku butuh untuk menenangkan diri," ucapnya saat membuka apartemen yang pernah dia tempati.
"Maafkan aku, aku hanya butuh waktu sendiri, dan memilih tinggal disini," ucap Fira membalas genggaman tangan Jeje.
"Apa kamu tahu aku begitu merindukanmu." Jeje memeluk istrinya erat istrinya menyalurkan rasa rindunya.
__ADS_1