Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Selalu jatuh cinta


__ADS_3

"Apa Adhi sudah memberi kabar?" tanya Fira saat perjalanan menuju kantornya.


"Coba kamu lihat di ponsel ku. Mungkin saja dia sudah mengirim fotonya."


"Dimana kamu menyimpan ponselnya?"


"Di dalam kantung jas ku." Jeje mengisyaratkan dengan mata, letak ponselnya di jas.


"Ya sudah, ambilkan."


"Aku senang menyetir sayang," elak Jeje.


Fira hanya mendesis, dan melirik tajam pada Jeje. Fira tahu itu hanya alasan Jeje saja, untuk memintanya mengambilnya. Akhirnya Fira memasukkan tangannya ke dalam jas Jeje. Dan mengambil ponsel Jeje di balik jasnya.


Jeje hanya tertawa melihat aksi Fira, yang sedang mengambil ponsel di balik jasnya.


Setelah mendapatkan ponselnya. Fira langsung membuka ponsel milik Jeje. Ini pertama kalinya Fira membuka ponsel Jeje. "Apa password nya?" tanya Fira yang tidak tahu.


"Tanggal pernikahan kita," ucap Jeje.


"Kamu pakai tanggal pernikahan kita?" tanya Fira yang terkejut.


Jeje menoleh sebentar pada Fira, sebelum kembali pada jalanan di depannya. "Memangnya kamu pakai password apa untuk ponsel mu?"


Malu-malu Fira menjawab. "Ulang tahun aku," ucap Fira lirih.


"Ganti!" perintah Jeje.


"Kenapa?" tanya Fira heran, karena di minta untuk menganti password ponselnya.


"Agar kamu tidak lupa kalau kamu sudah menikah."


"Tanpa aku gunakan sebagai password aku tetap ingat," elak Fira. "Mungkin kamu yang lupa, kalau kamu sudah menikah," sindir Fira mencebikkan bibirnya.


Jeje yang sedang memarkirkan mobilnya di basement kantor, mengerutkan dahinya, saat mendengar ucapan Fira. Dia langsung melepas seatbelt yang melingkar pada tubuhnya. Jeje langsung mengeser tubuhnya, dan langsung mencium Fira.


Fira yang mendapat ciuaman mendadak dari Jeje membulatkan matanya. Seketika Fira langsung mendorong tubuh Jeje menjauh dari dirinya. "Kamu lupa ini di kantor. Nanti kalau karyawanmu melihat bagaimana?" tanya Fira sesaat setelah melepas ciuman dari Jeje.


"Biarkan semua orang melihat. Dan akan aku katakan bahwa aku sedang mencium istri ku. Jika perlu aku akan katakan bahwa aku Gajendra Nareswara adalah suami Zhafira Maheswari." Jeje menatap tajam pada kedua bola mata milik Fira.


Rasanya Fira benar-benar merasa bersalah karena meragukan Jeje. "Maaf," lirih Fira.


"Jangan pernah ragukan aku. Dimana pun dan pada siapa pun, aku akan mengatakan, bahwa aku sudah menikah," ucap Jeje, seraya mengusap bibir Fira yang basah sisa ciumannya.


Fira yang mendengar ucapan Jeje hanya mengangguk. Dia tidak bisa membalas kata-kata yang terlontar dari bibir Jeje. Dia benar-benar merasa selalu jatuh cinta, pada kata-kata yang di ucapkan oleh bibir Jeje.


Akhirnya setelah permasalahan kecil antara Fira dan Jeje. Mereka berdua keluar dari mobil, dan melangkah ke dalam kantor. Fira yang tadi belum sempat melihat ponsel Jeje. Membuka ponsel milik Jeje, seraya berjalan.


"Sudah di kirim foto parfumnya?" tanya Jeje, yang sedikit mengintip ke layar ponsel yang di pegang oleh Fira.


"Sudah sepertinya," ucap Fira seraya menekan pesan dari nomer Adhi.


Dahi Fira berkerut saat membaca pesan dari Adhi. "Adhi menunda pergi ke luar negeri katanya," ucap Fira pada Jeje.


"Kenapa?"


"Karena ayah Zara masuk rumah sakit. Dan Adhi tidak bisa pergi sendiri." Fira yang membaca pesan dari Adhi pun, menyimpulkan seperti yang dia sampaikan.


"Apa hubungannya?" tanya Jeje heran. Jeje benar-benar merasa sangat aneh, saat Adhi membatalkan karena sekretarisnya.


"Mungkin Adhi ingin mengajak Zara, untuk pergi ke luar negeri."


"Ya sudah kalau begitu. Nanti kamu atur ulang jadwal aku ya."


Fira hanya mengangguk. Dan menyerahkan ponsel Jeje pada Jeje. Sesampainya di depan ruangan Jeje. Fira langsung menuju ke meja kerjanya, dan mengecek jadwal Jeje. Tapi sejenak dia beralih pada Valeria. "Val, acara pernikahan kamu kapan?"


"Satu minggu lagi, fir."


Fira yang mendengar ucapan Valeria, mengangguk. Akhirnya Fira pun mencatat jadwal Valeria, dan masuk ke dalam ruangan Jeje.


"Sepertinya kamu harus menunda ke luar negeri, setelah acara pernikahan Valeria dan Reza" Fira yang berdiri tepat di samping Jeje, memberitahu Jeje.


Jeje menengadah menatap Fira. Dengan berat hati Jeje harus mengubah jadwal ke luar negeri. "Ya sudah kalau begitu. Akan bertemu Tuan Edward, setelah pernikahan Val dan Reza saja."


Fira yang mendengar perintah Jeje, masih berdiri di samping Jeje. Dirinya belum beranjak sama sekali, kembali ke meja kerjanya.


"Ada apa lagi?" tanya Jeje yang menyadari istrinya tidak bergeming.


"Siang ini kamu ada jadwal meeting dengan klien baru dari luar negeri. Aku ingin menjenguk ayah Zara. Bolehkah aku pergi?" Dengan ragu-ragu Fira mengungkapkan keinginannya, pada Jeje.


"Ikutlah denganku. Nanti aku sendiri yang akan mengantarmu ke rumah sakit." Jeje berpikir mungkin dia bisa mengajak Fira saja. Dari pada dia khawatir dengan Fira, yang akan pergi sendiri ke rumah sakit.

__ADS_1


Fira menarik senyumnya. "Baiklah." Akhirnya Fira melangkah keluar, dan melanjutkan perkerjaanya.


**


Karena jadwal bertemu klien di jam makan siang. Fira dan Jeje, berangkat ke restoran di mall, tempat bertemu klien sebelum jam makan siang.


Setelah mereka menuju ke restoran.


Jeje mengedarkan pandangan mencari klien baru. Saat dia sudah menemukan klien baru yang di carinya, Jeje melangkahkan kaki menuju ke meja dimana klien barunya duduk.


"Selamat siang," sapa Jeje pada pria yang duduk di kursi restoran.


Pria yang mendengar ada yang menyapanya, berdiri. "Selamat siang," sapanya kembali pada Jeje. "Perkenalkan saya Daniel," ucapnya seraya mengulurkan tangan.


"Gajendra." Jeje menerima ulurkan tangannya, dan menyebutkan namanya.


"Kenalkan ini sekertaris saya." Daniel mengenalkan seorang wanita di sampingnya.


"Clara." Wanita itu mengulurkan tanganya pada Jeje.


"Gajendra."


"Pak Gajendra datang sendiri?" tanya Daniel pada Jeje, yang melihat Jeje datang tanpa sekertaris.


"Kebetulan sekertaris saya sedang ke toilet." Fira yang baru sampai di restoran, meminta izin untuk toilet. Pertumbuhan janin di rahimnya, menekan kandung kemihnya, dan membuatnya sering bolak balik untuk ke toilet.


"Silakan duduk." Daniel mempersilakan Jeje untuk duduk.


"Terimakasih sudah mau berkerja sama dengan perusaahan saya, Pak Daniel."


"Sama-sama, saya juga senang bisa berkerja sama dengan Nareswara Grup," ucap Daniel. "Panggil saja Daniel. Sepertinya kita seusia," ucap Daniel yang merasa terlalu tua, saat di panggil pak.


"Baiklah Daniel." Jeje akhirnya menerima usulan panggilan untuk Daniel.


Akhirnya mereka berdua memulai pembicaraan mengenai kerja sama perusahaan, antara Gajendra dan Daniel.


Selama berbincang Jeje memikirkan, kemana Fira. Karena sudah cukup lama dia tidak kembali, dari toliet. Rasa khawatir mulai melingkupi perasaan Jeje, takut terjadi sesuatu pada Fira.


Sampai pembicaraan mengenai kerja sama berakhir pun, Fira belum kembali. Sebenarnya Jeje ingin sekali mencari Fira. Tapi dia merasa tidak enak meninggalkan Daniel.


Saat pembicaraan tentang kerjasama dengan Daniel selesai. Jeje melihat Fira melangkah menghampiri dirinya. Ada perasaan lega saat melihat wanita yang ada di pikirannya itu, sudah kembali.


"Kamu dari mana saja?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Jeje dengan penuh ke khawatiran.


Jeje yang mendengar ucap Fira, menurunkan sedikit emosinya. Dia menyadari keinginan Fira saat hamil, terkadang tidak terbendung.


"Ya sudah."


Daniel yang terkejut saat Jeje bertanya pada seseorang pun menoleh. Saat Daniel menoleh, dia mendapati Fira yang baru saja menghampiri Jeje. Daniel mengingat ucapan Jeje, bahwa sekertaris Jeje sedang di toilet. Dan Daniel menebak, Fira lah sekertaris Jeje.


Akhirnya Jeje beralih pada Daniel. "Sepertinya saya harus kembali lebih dulu." Jeje menatap Daniel, dan mengakhiri pertemuan mereka


"Oh ya, silakan."


Jeje langsung berdiri dan mengulurkan tangan pada Daniel.


Fira yang juga ingin mengulurkan tangan pada Daniel, memicingkan matanya melihat pria di hadapanya. Dia mengingat-ingat siapa pria di hadapanya.


"Hai Fira," sapa Daniel yang membuyarkan pikiran Fira, yang mengingat siapa pria di hadapannya itu.


"Emm...maaf aku lupa namamu." Fira akhir mengingat bahwa pria di hadapannya adalah teman Celia. Tapi dirinya tidak ingat nama pria di hadapanya itu.


"Daniel. Namaku Daniel." Danile tersenyum pada Fira, saat Fira melupakan namanya.


"Oh ya.. aku baru ingat. Maaf aku benar-benar lupa namamu," ucap Fira tersenyum mengingat kebodohannya melupakan nama Daniel.


Daniel mengangguk dan tidak mempermasalahkan Fira yang lupa mengingat namanya. Mata daniel seketika tertuju pada senyum yang di hiasi lesung pipi milik Fira. Rasanya, dia benar-benar terhipnotis dengan senyuman wanita di hadapannya.


Jeje yang melihat interaksi antara Daniel dan Fira, menjadi kesal. Dia hanya berpikir, bagaimana dua orang di hadapannya ini bisa saling mengenal. Jeje juga melihat dengan jelas bagaimana Daniel memandang Fira. "Ayo, aku sudah selesai," ucap Jeje seraya menautkan jemarinya pada jemari Fira.


Kedua bola mata Fira langsung beralih pada Jeje, saat dia merasa jemari Jeje bertaut dengan jemarinya. "Ayo." Fira tidak punya pilihan lain selain menerima ajakan Jeje.


"Terimakasih Daniel. Saya permisi," ucap Jeje pada Danile, seraya melangkah meninggalkan Daniel.


Daniel yang melihat keterkejutan Fira, menangkap ketidak nyamanan saat Jeje menautkan jemarinya pada Fira.


"Apa dia sekertaris yang pergi ke toilet, yang di maksud Pak Gajendra?" tanya Clara pada Daniel.


Daniel yang mendengar pertanyaan Clara, menoleh pada teman dan sekaligus sekertarianya itu. "Kenapa memangnya?"


"Dia lebih terlihat kekasih atau istrinya dari pada sekertaris," ucap Clara dengan nada sarkatis.

__ADS_1


"Itu bukan urusan kita." Tatapan tajam di berikan Daniel pada Clara, saat mendengar ucapan Clara, yang bernada menyindir itu. Daniel merasa tidak suka dengan pertanyaan Clara.


"Ayo kembali ke kantor." Daniel berdiri, dan melangkah berniat kembali ke kantor.


Clara hanya acuh saja saat mendengar ucapan Daniel. Dia akhirnya memilih melangkah mengekor Daniel, untuk kembali ke kantor.


**


Jeje dan Fira yang berada di mobil, akhirnya menuju rumah sakit untuk mengunjungi ayah Zara. Selama perjalanan ke rumah sakit. Fira melihat Jeje yang diam tidak berbicara padanya.


"Apa Daniel adalah klien mu yang dari luar negeri itu?" tanya Fira memecah keheningan di dalam mobil.


Jeje yang mendengar pertanyaan Fira, tentang pria lain, langsung membuat dia menepikan mobilnya. "Ada hubungan apa kamu dengan Daniel?" tanya Jeje menatap tajam kedua bola mata Fira.


Fira mengerutkan dalam dahinya, bingung dengan pertanyaan Jeje. "Hubungan apa yang kamu maksud?"


"Jangan pura-pura bodoh. Aku melihat dengan jelas kamu mengenalnya. Padahal dia adalah klien ku dari luar negeri. Dan aku pastikan dia tidak tinggal disini." Jeje benar-benar kesal, saat tahu istrinya mengenal Daniel klien barunya.


"Aku tidak mengerti dengan ucapamu. Bisakah kamu lebih menyederhanakan pertanyaanmu." Fira yang di buat bingung dengan ucapan Jeje pun tak kalah kesal.


Mendengar ucapan Fira yang sudah dengan nada kesal. Jeje menurunkan emosinya. "Darimana kamu mengenal Daniel?" Akhirnya pertanyaan sederhana yang di minta Fira, di lontarkan oleh Jeje.


"Aku mengenalnya saat bertemu dengan Celia di restoran. Dan Celia yang mengenalkan aku padanya, karena dia teman Celia."


"Celia?"


"Iya. Waktu aku bertemu Zara dan Adhi. Aku tidak sengaja bertemu dengan Celia dan Danile. Dan Celia mengenalkannya." Fira mengulang menjelaskan pada Jeje.


"Berapa kali kamu bertemu dengannya?"


Fira mengerutkan dahinya, dia hanya bisa mengelang mendengar pertanyaan Jeje. " Bukannya aku sudah bilang jika aku bertemu saat dengan Celia. Berarti aku hanya bertemu sekali. Dan lagi pula, aku saja hampir lupa namanya, karena baru sekali bertemu." Fira merasa kesal mendapat pertanyaan dari Jeje. "Kamu kenapa sih?"


"Aku tidak suka kamu mengenal pria lain," ucapnya lirih seraya melihat Fira.


"Cemburu?" tanya Fira memastikan.


Jeje hanya diam dan tidak menjawab. Tapi Fira tahu bahwa jawabannya adalah iya. Fira langsung menangkup pipi Jeje, dengan kedua tangannya. "Aku tidak akan jatuh cinta pada pria lain. Karena aku selalu jatuh cinta padamu." Fira membubuhi kata-katanya dengan senyuman di wajahnya. Mengungkapkan betapa dia selalu jatuh cinta, dengan semua yang Jeje berikan padanya.


Hati Jeje seketika menghangat. Perasaan di cintai, begitu dia rasakannya. Tatapan Fira yang penuh cinta, tak perlu dia ragukkan lagi. "Maaf, aku hanya cemburu," ucapnya jujur pada Fira.


"Asal tidak berlebihan aku tidak masalah." Fira yang merasa bahwa perasaan cemburu yang di berikan Jeje adalah ungkapan rasa takut kehilangan. Jadi baginya tidak akan jadi masalah, jika di lakukan dalam batasan yang wajar.


**


Setelah tadi melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Fira dan Jeje tiba di rumah sakit, dan langsung menuju ruang rawat ayah Zara.


"Ra," panggil Fira saat melihat Zara di depan ruang rawat ayahnya.


"Fira." Zara yang baru saja dari kantin di kagetkan dengan kedatangan Fira dan Jeje. Zara langsung menautkan pipinya pada pipi Fira, sesaat setelah Fira berjalan ke arahnya.


"Pak Gajendra," sapa Zara. Jeje hanya menjawab dengan anggukan, sapaan Zara.


"Bagaiamana kamu bisa tahu ayah aku sakit?"


"Aku tahu saat, Adhi menghubungi Jeje, kalau dia menunda kepergian ke luar negeri, karena ayahmu sakit."


Zara terkesiap mendengar ucapan Fira. Rasanya dia benar-benar tidak enak saat Adhi membatalkan kepergiannya ke luar negeri, karena dirinya. Zara langsung beralih ke Jeje. "Maaf Pak Gajendra, karena saya perjalanan ke luar negeri harus tertunda," ucap Zara yang merasa tidak enak pada Jeje.


"Tidak apa-apa. Bertemu dengan Tuan Edward belum terlalu urgent."


Zara merasa sangat lega, saat mendengar ucapan Jeje.


"Bagaimana bisa ayahmu sakit?"


"Ayah terkena serangan jantung. Setelah Adhi mengantarmu, Adhi mengantar aku pulang. Dan sesampainya di rumah aku melihat ayah tergeletak di lantai. Kami langsung membawanya kemari," jelas Zara.


"Bersyukur ada Adhi ra," ucap Fira.


"Iya fir." Zara sendiri juga menyadari, bahwa kehadiran Adhi, adalah keberuntungan untuknya. Karena kalau saja Adhi tidak ada, Zara bisa saja kehilangan ayahnya.


"Ya sudah ayo masuk." Zara mempersilakan Fira dan Jeje masuk, untuk menjenguk ayahnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa berikan like dan vote🄰


Mampir juga ke karya istagram aku Myafa16


__ADS_2