Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Menceritakan


__ADS_3

Fira mengerjap saat indera penciumannya merasakan bau berbeda di tempat tidurnya. Dia membuka matanya perlahan, dan mendapati dirinya berada di pelukan Jeje. Fira mengendus, mencari dari mana asal bau yang di ciumnya. Dan ternyata bau itu berasal dari baju yang di pakai oleh Jeje.


Perut Fira yang bergejolak, seketika membuatnya mual. Fira langsung menyibak selimutnya, dan melangkah menuju kamar mandi. Sesampai Fira di kamar mandi, Fira langsung memuntahkan isi perutnya ke wastafel kamar mandi.


Jeje yang mendengar suara muntah Fira, langsung membuka matanya. Dia menyibak selimutnya, dan menghampiri Fira ke kamar mandi. "Sayang, kamu kenapa?"


"Jangan masuk!"


"Kenapa?" Jeje merasa bingung, saat Fira melarangnya masuk.


"Ganti baju kamu dulu!" Suara Fira terdengar memerintah, dari dalam kamar mandi.


Jeje yang di minta untuk menganti baju, merasa bingung. Dalam pikirannya, dia tidak merasa memakai parfum miliknya, bagaimana Fira bisa muntah.


Akhirnya dia memilih mengendus bajunya. Matanya membulat saat mencium bau yang terdapat di bajunya. Sekarang Jeje menemukan jawaban, kenapa Fira mual mencium bau dari bajunya. Jeje buru-buru menuju lemari, mengganti bajunya, agar bisa mendekati Fira.


Setelah memastikan tidak ada bau yang menyengat, dia kembali menghampiri Fira yang masih di dalam kamar mandi.


"Sayang maaf," ucap Jeje seraya membelai punggung Fira.


Fira yang masih membungkukkan tubuhnya ke dalam wastafel, membasuh mulutnya, dan menegakkan tubuhnya kemudian.


Jeje yang melihat Fira sudah menegakkan tubuhnya, membantu Fira keluar dari kamar mandi, menuju tempat tidur. Dia beralih mengambilkan minum untuk Fira, dan memberikannya pada Fira.


"Sebenarnya bau apa yang menempel di bajumu?" Fira menatap tajam pada Jeje. Dia benar-benar merasa heran, dari mana Jeje mendapatkan bau itu, sedangkan Fira tahu betul, bahwa semalam suaminya berada di apartemen.


Jeje menghela nafasnya. Dia tahu bahwa bau yang di cium Fira adalah, perpaduan antara wangi parfum Celia dan bau alkohol dari Celia. Jeje berpikir, mungkin saat dia membantu Celia, mulut Celia menempel tepat di dadanya. Dan membuat bajunya terkena bau alkohol. "Itu bau parfum dan alkohol."


Fira mengerutkan dalam keningnya. Dia mencerna baik-baik kata-kata yang di ucapkan Jeje. Kebingungan masih begitu di rasakannya. "Bukannya semalam kamu tidak kemana-kemana?"


"Aku memang tidak kemana-kemana," jelas Jeje.


"Lalu bagaimana bau itu bisa menempel di bajumu?"


"Semalam aku mengambil paper bag yang berisi parfum, yang tertinggal di mobil. Saat aku kembali, aku melihat Celia yang tersungkur di lantai, karena mabuk. Karena tidak ada siapa pun, akhirnya aku mengantarkannya kembali ke apartemennya. Mungkin bau yang kamu cium adalah wangi parfum Celia yang tercampur dengan bau alkohol."


Rasa penasaran Fira seketika menghilang, saat mendengar penjelasan Jeje. Dalam pikirannya, memang dia sedikit mencium aroma manis parfum wanita, dan bau menyengat dari alkohol. "Kamu mengantarkannya sampai ke kamar?" tanya Fira ragu-ragu. Sebagai seorang wanita, ada terbesit rasa takut saat suaminya berada dalam satu ruangan dengan wanita lain.


Jeje yang mendengar pertanyaan Fira, tersenyum. "Aku hanya mengantarkan Celia sampai di sofa." Jeje tahu, bahwa mengantar Celia sampai ke kamar, akan menjadi masalah. Dan tebakannya benar.


Ada perasaan lega di hati Fira. Ternyata suaminya tidak melebihi batasnya, saat mengantar Celia.


"Ya sudah sekarang istirahatlah sebentar. Aku akan mandi lebih dulu." Jeje membantu Fira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Fira merebahkan tubuhnya, mengistirahatkan tubuhnya sebentar, sesuai perintah Jeje. Energinya yang terkuras karena muntah, memang membuatnya sedikit lemas. Jadi dia tidak menolak perintah suaminya.


Sebelum Jeje berlalu ke kamar mandi, dia memberikan kecupan hangat di kening Fira. Ada rasa bersalah di hati Jeje, karena membuat Fira muntah pagi ini. Padahal beberapa hari ini, dia merasa sangat senang, saat Fira tidak muntah.


Hati Fira menghangat, saat Jeje mencium keningnya. Di limpahi cinta yang begitu besar dari Jeje, membuatnya bahagia. Tak bisa dia bayangkan, bagaimana hidupnya tanpa Jeje.


Jeje yang keluar dari kamar mandi, melihat mata Fira terpejam. Rasanya, dia benar-benar tidak tega membangunkan Fira. Akhirnya Jeje memilih berlalu menuju lemari pakaian, mengambil jasnya dan bersiap.


"Aku tertidur," gumam Fira, saat dia menyadari bahwa dirinya tertidur saat menunggu Jeje.


"Kamu sudah bangun?" Jeje yang baru saja selesai memakai jasnya, melihat Fira terbangun.


"Iya," jawab Fira. "Biar aku yang pakaikan," ucap Fira, saat melihat Jeje membawa dasi di tangannya.


Jeje menarik senyumnya. "Baiklah."


Fira langsung bangkit dari tempat tidur, dan melangkah menghampiri Jeje. Setelah Jeje menyerahkan dasinya, Fira langsung memasangkan pada kerah kemeja Jeje. "Selesai," ucap Fira saat menyelesaikan memasang dasi Jeje.


"Terimakasih." Jeje mengecup kening Fira.


Tubuh Fira yang tertarik, saat Jeje menciumnya, membuat dirinya menghirup aroma parfum baru milik Jeje. Dia menghirup aroma maskulin yang tercipta dari parfum yang dipakai oleh Jeje. "Aku suka wanginya," ucap Fira mengendus jas yang di pakai Jeje.


Jeje hanya bisa mengelang saat Fira dia menyukai parfum milik Adhi. Walapun sebenarnya Jeje sendiri tidak suka, harus memakai parfum yang sama dengan orang lain. "Bagaimana kamu bisa membedakan antara aku dan Adhi, jika kami memakai parfum yang sama," ucap Jeje seraya melingkarkan tangannya di pinggang Fira


Mendengar pertanyaan Jeje, langsung membuat Fira menengadah. Matanya menatap mata Jeje, mengunci pandanganya. "Saat aroma tubuh bercampur dengan wangi parfum, dia akan menciptakan wangi tersendiri. Jadi walaupun wangi parfum milikmu dan milik Adhi sama. Akan berbeda saat di pakai dua orang yang berbeda," jelasnya pada Jeje. "Aku sudah hapal wangi tubuhmu, jadi tanpa aku melihat pun, aku bisa tahu itu dirimu," ucap Fira seraya mengalungkan tangannya pada leher Jeje.


Mendengar ucap Fira, membuat Jeje tidak bisa menjawab. Rasanya dia benar-benar di buat gila dengan rasa cintanya. Jeje langsung mencium lembut bibir Fira, meluapkan perasaannya.

__ADS_1


Fira yang mendapati ciuman dari Jeje. Menarik leher Jeje, dan membuat ciuman mereka semakin dalam.


Tapi perlahan Jeje melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Fira. "Bisakah, hari ini kita tidak ke kantor," ucap Jeje berbisik tepat di telinga Fira. Suara yang terdengar berat menandakan Jeje tidak bisa menahan hasrat dalam dirinya. Permainan yang sudah di mulai, rasanya tidak nyaman, jika tidak di selesaikan.


Fira tahu apa yang terjadi pada Jeje. Hasrat dalam diri Jeje, pastinya ingin dia salurkan. "Kita akan tetap ke kantor," jawab Fira.


Mendapati jawaban Fira, rasanya membuat tubuh Jeje lemas. Dia hanya bisa menghela nafasnya, menahan semua hasrat dalam dirinya. "Baiklah." Jeje hanya bisa pasrah, saat istrinya meminta untuk tetap ke kantor. Pelahan dia menarik bibirnya menjauh dari telinga Fira.


"Tapi kita akan ke kantor lebih siang." Fira yang sengaja menjeda ucapnya, ingin melihat reaksi apa yang akan di tunjukkan oleh Jeje. Dan dari helaan nafasnya Jeje, menandakan bahwa dia tidak memaksakan kehendakanya, walaupun mungkin dirinya merasakan tersiksa.


Mendengar ucapan Fira, membuat mata Jeje membulat sempurna. Jeje langsung menatap wajah Fira. Terlihat jelas rona merah di wajah istrinya. Dia bisa membaca, bahwa Fira sengaja menjeda ucapanya, untuk mengodanya


Tanpa berlama-lama, Jeje langsung meraup tubuh Fira. Membawanya dalam gendongan, dan melangkah menuju tempat tidur. Perlahan-lahan Jeje meletakkan tubuh Fira di atas tempat tidur.


Dengan bersusah payah, Jeje harus membuka jas dan semua yang melekat di tubuhnya. Setelah sebelumnya melepas baju yang melekat di tubuh Fira.


Walaupun sedikit lama untuk menyingkirkan penghalang antara mereka berdua. Semua terbayar dengan kenikmatan yang mereka dapat.


**


Setelah penyatuan mereka pagi ini. Mereka berdua masih enggan beranjak dari tempat tidur. Fira yang masih menikmati pelukkan hangat dari tubuh polos Jeje. Masih sibuk memainkan dada Jeje, dengan membuat pola-pola abstrak di dada milik Jeje.


"Ada yang ingin aku katakan," ucap Jeje saat teringat sesuatu.


"Apa?" Fira menengadah menatap wajah Jeje.


"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak mau kamu mendengar dari orang lain tentang diriku. Yang berakibat akan merusak hubungan kita." Jeje memulai ucapannya pada Fira.


Sebenarnya Fira merasa bingung dengan apa yang di ucapkan Jeje. Tapi Fira memilih diam, dan menunggu Jeje melanjutkan ucapannya.


"Celia dulu adalah mantan kekasihku."


Mendengar ucapan Jeje Fira tersentak. Kedua bola matanya membulat sempurna. Dia mencerna baik-baik ucapan Jeje. Memahami setiap kata yang terucap dari bibir Jeje.


"Kami berpacaran waktu kuliah. Dan dia memilih melanjutan kuliah di luar negeri, karena dia ingin mengejar mimpinya menjadi model. Dan dia meninggalkan aku."


Fira mendengar ucapan Jeje, teringat dengan cerita Valeria, yang mengatakan bahwa Jeje menjadi kekasihnya, karena ingin terlihat move on dari mantan kekasihnya. "Dan kamu menjalin hubungan dengan Valeria?" Tanya Fira memastikan.


"Iya. Akhirnya aku menjalin hubungan dengan Valeria agar aku tidak terlihat terluka. Tapi sayangnya, perasaan kami hanya perasaan sayang antara teman. Karena aku dan Valeria mencintai orang lain. Hingga akhirnya kami memutuskan hubungan kami. Valeria memilih orang yang dia cintai untuk menjadi suaminya. Dan aku memilih sendiri, dan sibuk dengan perkerjaan ku."


"Apa kamu menceritakan semua ini, karena Celia tinggal di apartemen sebelah?"


"Benar," ucap Jeje. "Tadinya aku pikir aku tidak akan menceritakannya padamu, karena bagiku itu tidak penting lagi untuk di bahas. Tapi saat dia adalah orang yang membeli apartemenku. Aku mulai berpikir, akan jadi salah paham jika kamu tahu dari orang lain."


Ada rasa senang di hati Fira saat Jeje menceritakan semua padanya. Sikap jujur Jeje menunjukan, bahwa dia tidak mau Fira tahu dari orang lain. "Terimakasih sudah menceritakan padaku," ucap Fira mengeratkan pelukkannya pada Jeje.


"Aku yang harusnya berterimakasih, karena dirimu tidak marah saat tahu kenyataanya ini." Jeje merasa kelegaan dalam hatinya. Saat tidak ada yang dia sembunyikan lagi dari Fira. Baginya kejujuran akan membawa kebahagiaan, dan dia ingin selalu bahagia bersama Fira.


**


Setelah membersihkan diri, Fira dan Jeje bersiap untuk ke kantor. Jam yang sudah menunjukan pukul 11 membuat mereka berencana makan dulu sebelum ke kantor.


"Aku ambil kunci mobil, dulu di kamar." Jeje yang meninggalkan kunci mobil di kamar, melangkah masuk ke dalam.


"Aku tunggu di luar ya," ucap Fira berteriak agar terdengar oleh Jeje. Fira melangkah menuju pintu apartemen, dan membuka pintu apartemen.


"Hai fir," sapa seseorang saat Fira baru saja keluar dari apartemen.


Fira yang mendengar ada yang menyapanya menoleh, dan mendapati Celia yang menyapanya. Ada perasaan aneh di dalam hati Fira, saat melihat Celia. Dirinya yang sudah mengetahui bahwa Celia adalah mantan kekasih Jeje, membuat Fira sedikit canggung. "Hai Celia," sapa Fira kembali.


"Jam segini baru berangkat kerja?" tanya Celia berbasa-basi.


"Iya, tadi sedikit ada urusan," ucap Fira.


"Ayo sayang,'' ucap Jeje seraya membuka pintu.


Melihat ada seorang pria keluar seraya memanggil Fira sayang, membuat Celia menatap ke arah pintu apartemen milik Fira. Kedua mata Celia seketika membulat sempurna, melihat siapa pria itu. "Jeje," gumamnya.


Jeje yang keluar melihat Fira sedang bersama dengan Celia sedikit kaget. Tapi dia bersikap tenang, dan menutupi kekagetannya. "Ayo," ucapnya menatap Fira, dan mengajak Fira untuk berangkat berkerja.


Fira yang mendengar Jeje mengajaknya untuk berangkat, beralih pada Celia. "Aku duluan ya Celia," ucapnya pada Celia.

__ADS_1


Celia yang masih dengan kekagetannya melihat Jeje, tersentak saat Fira berbicara padanya. "Oh.. iya.." ucapnya pada Fira.


Jeje langsung menautkan jemarinya pada jemari Fira, dan menarik lembut tangan Fira, menuju lift apartemen. "Kita cari makan terlebih dahulu ya," ucap Jeje saat melangkah menuju lift. Fira yang merasakan perutnya lapar pun mengangguk, menyetujui ide Jeje.


Celia yang masih diam di tempat dia berpijak, masih mengembalikan kesadarannya. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dia pikir semalam sewaktu dia mabuk, dia mendengar suara Jeje. Tapi nampaknya semalam memang benar suara Jeje lah yang dia dengar. Celia berpikir mungkin Jeje juga lah, yang mengantarkan dirinya ke apartemen.


Suara dering ponsel milik Celia, seketika membuyarkan pikiran Celia. Dia melihat ponselnya, dan melihat nama Daniel lah yang tertera di layar ponselnya. Celia langsung mengangkat panggilan telepon dari Daniel.


"Celia kamu dimana?" Tanya Daniel dari sambungan telepon.


"Iya aku akan segera kesana." Celia yang memiliki janji makan siang dengan Daniel, bergegas melangkah ke parkiran untuk menuju restoran yang di pilih oleh Daniel.


**


Sesampainya di restoran, Celia keluar dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam restoran. Matanya memindai mencari keberadaan Daniel di dalam restoran. Saat dia menemukan Daniel, dia langsung melangkahkan kakinya menghampiri Daniel. "Maaf lama," ucap Celia seraya menarik kursi restoran.


"Kenapa lama?"


"Semalam aku ke bar, dan sedikit mabuk jadi kepalaku pusing tadi pagi."


"Sedikit?" Tanya Daniel. "Aku tidak yakin kamu minum hanya sedikit," cibir Daniel. Daniel tahu betul temannya ini tidak bisa minum jika hanya sedikit. Mengenal Celia selama kuliah sudah membuat Daniel hapal betul tabiat Celia.


Celia langsung tertawa mendengar ucapan Daniel. Sekalipun dirinya berbohong, jika dia hanya minum sedikit, tidak mungkin Daniel percaya.


"Aku akan kembali besok," ucap Daniel.


"Apa urusanmu sudah selesai?"


"Belum, tapi aku tidak bisa menetap disini terlalu lama. Jadi aku akan kembali lagi nanti."


"Baiklah."


"Kemarin aku bertemu Fira." Daniel yang teringat dengan pertemuannya dengan Fira menceritakannya pada Celia.


Celia terkesiap mendengar nama Fira. Dirinya juga langsung teringat pertemuannya dengan Fira sebelum dirinya ke restoran. "Aku juga bertemu dia tadi."


Daniel langsung tertawa mendengar ucapan Celia. "Kamu tetangganya, jadi jelas saja kamu bertemu dengannya."


Celia hanya mendesis sebal mendengar ucapan Daniel. "Bukan begitu maksudku."


"Lalu?"


"Aku bertemu Fira saat dia bersama mantan kekasihku."


"Gajendra?" tanya Daniel menebak.


Kening Celia langsung berkerut dalam, mendengar nama Jeje di sebut oleh Daniel. "Bagaimana bisa kamu tahu?" tanya Celia bingung.


"Aku hanya menebak, karena kemarin aku juga bertemu Fira dengan Gajendra."


"Untuk apa kamu bertemu mereka?"


"Gajendra adalah rekan bisnisku. Dan dia bertemu denganku, bersama Fira sekertarisnya."


Celia membulatkan matanya, mendengar ucapan Daniel. "Jadi Fira sekertaris Jeje?" Tanya Celia memastikan pada Danie.


"Iya," jawab Daniel di sertai anggukan.


Saat melihat Fira dan Jeje tadi di apartemen, Celia memang berpikir mungkin benar Fira sekertaris Jeje. Tapi dia belum memiliki bukti kuat, untuk membenarkan pikirannya. Dan sekarang dia sudah yakin bahwa Fira memang benar adalah sekertaris Jeje, setelah Daniel mengatakannya.


Sejenak Celia memutar ingatannya, dan menemukan jawaban dari semua pertanyaannya selama ini.


"Kamu kenapa?" Tanya Daniel.


Celia tersentak mendengar pertanyaan Daniel. "Tidak."


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa berikan like dan vote🄰


Mampir juga ke karyaku dan instagram aku Myafa16


__ADS_2