
Setelah menghabiskan gula kapas miliknya, Fira berdiri dan mengedarkan pandangan. "Kita main permainan lempar gelang terlebih dahulu ya," ucap Fira menatap Jeje, Adhi, dan Zara.
"Sayang, apa kamu tidak lelah?"
"Tidak, ayo," rengek Fira seraya berglayut manja di legan Jeje.
"Tapi ini sudah jam 8 malam, sebaiknya kita pulang." Jeje berusaha untuk membujuk Fira.
"Mungkin Bang Jeje takut kalah sama aku, Fir." Adhi yang mendengar perdebatan antara Fira dan Jeje memberikan sindiran.
"Siapa yang takut kalah?" tanya Jeje pada Adhi. "Aku?" tanyanya kembali seraya menunjuk ke arah dirinya. "Harusnya kamu yang takut melawan aku."
Adhi hanya tersenyum kecil. Dia sudah sangat hapal betul bagaimana sifat Jeje. Sekali dia menuang bensin, Jeje akan menyalakan apinya sendiri. Dan seketika kobaran api pun tercipta. Seperti sekarang, saat Adhi memancingn Jeje, langsung Jeje tidak terima.
"Ayo, kita lakukan pertandingan," ucap Jeje pada Adhi.
"Baiklah. Apa yang taruhannya?" Senyum licik, tertarik dari bibir Adhi.
"Yang kalah, akan mentraktir kita besok nonton, makan dan belanja." Suara merdu Fira membelah dua pria di hadapannya.
"Deal," ucap Adhi mengulurkan tangan.
"Deal." Jeje menerima uluran tangan Adhi.
Senyum Fira mengembang di wajahnya saat akan melihat pertandingan dua pria di hadapannya. Sedangkan Zara, hanya mengeleng melihat aksi mereka semua, tapi di iringi senyuman juga.
Akhirnya, mereka semua menuju pertandingan melempar gelang pada botol yang berada di pasar malam. Fira langsung memesankan beberapa gelang untuk Jeje dan Adhi.
Di team Jeje ada Fira yang mendukung, sedangkan di team Adhi, ada Zara yang mendukung. Meraka seperti sedang melakukan pertandingan besar.
"Ayo, sayang kalahkan Adhi," bisik Fira.
"Tenanglah, aku akan memenangkan semua ini?" Jeje dengan percaya diri menyakinkan Fira.
Pertandingan di mulai. Jeje memfokuskan diri pada botol di hadapannya. Dan tepat pada sasaran, Jeje bisa memasukkan satu gelang pada botol. Fira yang melihat aksi Jeje, bersorak senang.
Jeje melirik pada Adhi, dengan lirikkan penuh cibiran. Membanggakan diri karena bisa memasukan gelang ke dalam botol.
Adhi yang melit Jeje, dengan bangga bisa memasukkan gelangnya, hanya tersenyum meremehkan. Dengan tenang Ahdi memulai aksinya. Dia menajamkan pandangan melihat sasarannya. Dan saat Adhi dapat memasukkan gelang pada botol, Zara dengan senang bersorak.
Adhi yang melihat Zara bersorak, menarik senyumnya. Baginya melihat wanita yang di cintainya ikut senang, ada kebanggaan tersendiri.
Jeje yang tidak terima langsung melancarkan aksinya. Dan pertandingan menjadi lebih seru. Sektikar setengah jam mereka bermain. Teriakan serta sorakan dari Fira dan Zara mengiringi pertandingan sengit itu.
"Ye...kita menang," ucap Adhi memberikan tos pada Zara.
Setelah pertandingan sengit antara Jeje dan Adhi, akhirnya permainan di menangkan oleh Adhi. Adhi bisa mengalahkan Jeje dengan melempar 10 gelang, sedangkan Jeje satu gelang di bawahnya.
"Ye.." Fira pun ikut bersorak untuk Adhi. Fira merasa permainan ini sangat menyenangkan. Baginya siapa yang kalah atau menang bukan masalah.
Jeje yang melihat Fira bersorak untuk kemenangan Adhi, menajamkan pandangannya. "Kenapa kamu malah senang aku kalah?" tanya Jeje sedikit kesal.
Fira langsung tersadar dan menghentikan sorakannya. "Ayolah sayang, ini adalah permainan, jangan di anggap serius." Melihat Jeje yang kesal Fira mencoba menenangkannya.
"Tapi tetap saja kan ada taruhannya. Dan saat aku kalah, aku harus mentraktir besok." Wajah Jeje sudah sangat kesal, melihat dirinya kalah dari Adhi.
Fira hanya mendegus kesal. "Apa kamu tidak rela besok mentraktir aku?" tanya Fira penuh sindiran.
Jeje terkesiap mendengar ucapan Fira. "Bukan begitu maksud aku, sayang."
"Tadi kamu bilang begitu." Fira melipat tangannya di dada, dan membuang muka.
"Iya aku rela, untuk mentraktir kalian semua besok, uang Gajendra Nareswara tidak akan habis, hanya untuk mentraktir kalian." Jeje mutar kepala Fira, agar dapat melihat wajah Fira. "Jangan marah lagi, besok apapun yang kamu mau, aku akan berikan." Jeje berusaha membujuk Fira.
"Benarkah?" tanya Fira memastikan, dan Jeje mengangguk menjawab pertanyaan Fira.
"Terimakasih," ucap Fira seraya memeluk Jeje. Wajah Fira yang di leher Jeje, tidak dapat membuat Jeje melihat wajahnya. Dengan senyuman, Fira mengedipkan mata pada Adhi dan Zara. Tanda bangga, bahwa dia bisa membujuk suaminya.
Adhi dan Zara seketika saling pandang dan tersenyum, melihat aksi Fira mengelabuhi Jeje.
Dalam hati Adhi, seorang Gajendra Nareswara hanya takluk pada istrinya. "Apa kamu akan mengelabuhiku seperti yang Fira lakukan?" tanya Adhi pada Zara.
__ADS_1
"Tentu saja, jika di butuhkan," ucap Zara di sertai tawa kecil.
Adhi yang gemas melihat Zara mencubit hidung Zara. "Rasa aku sudah tidak sabar, melamarmu dan menikahimu."
Zara hanya bisa tersenyum, saat mendengar ucapan Adhi. Rona merah langsung menghiasi pipi putihnya.
"Ayo kita naik biang lala," ucap Fira.
Adhi dan Zara yang sedang menimati romatismenya, seketika menoleh pada Fira. Adhi hanya memutar bola matanya malas, saat Fira menganggu kesenangannya.
Adhi dan Zara pun akhirnya, mengangguk menuruti keinginan Fira. Dan mengikuti Fira menuju ke wahana permainan biang lala.
Sesampainya di permainan biang lala. Jeje dan Fira naik terlebih dahulu ke dalam gondola. Sedangkan Adhi dan Zara berada di godola, tepat di belakang Jeje dan Fira.
"Apa kamu bahagia hari ini?" tanya Jeje. Jeje yang duduk di depan Fira menautkan jemarinya pada jemari Fira.
Fira yang sedang melihat pemandangan indah kota pun menoleh pada Jeje. "Rasanya kata bahagia saja tidak bisa mewakili perasaanku." Fira mengeratkan genggaman jemarinya.
Mendapatkan jawaban Fira, Jeje menarik lembut tangan Fira, dan mendaratkan kecupan manis di punggung tangan Fira. Jeje membenarkan ucapan Fira. Jika kata bahagia saja tidak bisa mengambarkan apa yang mereka rasakan.
Fira tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari Jeje. "Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Fira saat dia mengingat apa yang ingin dia katakan pada Jeje.
"Apa?"
"Aku ingin berhenti berkerja, setelah kamu kembali dari luar negeri." Fira sudah mempertimbangkan baik-baik keputusannya. Dan kali ini dia sangat yakin, untuk berhenti berkerja.
"Apa kamu yakin?" Jeje tahu betul kebosanan yang Fira hadapi saat di rumah, dan itu yang membuat dirinya mempertimbangakan untuk berkerja.
"Aku yakin. Aku ingin menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Menunggumu pulang di rumah." Fira menatap teduh pada Jeje. Senyum tipis, dengan hiasan lesung pipi mengiringi pandangannya pada Jeje.
"Apa kamu tidak akan bosan?" tanya Jeje memastikan kembali.
Fira langsung mengeleng, dengan penuh keyakinan. "Aku akan membuat kegiatan di rumah lebih menyenangkan nanti. Aku bisa belajar memasak, atau mengisi dengan kegiatan lainnya," ucap Fira dengan semangat.
"Baiklah, tapi berjanjilah kegiatan mu tidak akan membuat dirimu lelah." Jeje membelai pipi Fira, menyalurkan rasa senangnya. Jeje sebenarnya lebih senang saat Fira memilih di rumah, mengingat kegiatan di kantor pasti menguras tenanga Fira.
Belum lagi seperti kejadian di restoran tempo hari, dimana Jeje harus mengenalkan Fira sebagai sekertarisnya. Dan dia harus menerima hal buruk dari statusnya itu. Jeje tidak mau semua itu terulang kembali. Kalau pun ada kesempatan, Jeje lebih senang mengenalkan Fira sebagai istrinya.
Jeje langsung tertawa. "Aku pikir kamu lupa," ucap Jeje seraya mencubit pipi Fira yang sekarang sudah mulai gembul.
Fira yang mendapatkan cubitan pun mengerucutkan bibirnya sedikit.
"Iya kita akan pergi, tapi kita hanya di dalam negeri saja. Atau lebih tepatnya ke luar kota. Karena kamu sedang hamil. Tidak baik melakukan perjalan jauh."
"Tidak masalah, yang penting kita pergi babymoon," ucapnya dengan senyum.
Saat mereka sedang asik berbincang. Fira melihat Zara melambaikan tangannya pada Fira. Dan Fira pun membalasnya.
"Kamu seperti anak kecil saja, melambaikan tangan pada ibunya," goda Adhi yang melihat Zara melambaikan tangan pada Fira.
Zara menatap pada Adhi. "Itu keasikan saat kita menaiki biang lala. Melambaikan tangan dari ketinggian," ucap Zara. "Dan aku dulu sering melakukan dengan ibuku," ucap Zara.
Wajah Zara yang tadinya ceria berubah sedih, saat mengingat ibunya.
"Apa kamu merindukannya?" tanya Adhi pada Zara.
"Iya, aku merindukannya. Aku sendiri tidak tahu kenapa dia memilih untuk meninggalkan aku. Dan memilih bersama pria lain."
"Kita sebagai anak berpikir mereka jahat, tapi kadang kita tidak tahu kenapa dia melakukan itu semua." Adhi sadar bahwa semua sudah dia alami. Keputusan mamanya membuatnya terluka dulu. Tapi sekarang dia mencoba menerima kenyataan ini.
"Apa berat saat kamu memaafkan mama mu?" Zara tahu, Adhi mengalami hal yang sama dengannya, di tinggal mamanya.
"Emm..awalnya berat. Tapi saat melihat mama bahagia, aku merasa bahagia juga. Dan bagiku itu sudah cukup."
Zara menghela nafasnya. "Semoga aku bisa melakukan hal yang sama dengan mu." Senyum kembali terukir di wajah Zara.
Melihat senyum Zara, rasanya sangat senang. "Apa kamu lihat bulan itu," ucap Adhi seraya menunjuk pada langit malam.
Zara langsung melihat ke arah langit malam. Tampak bulan sedikit meredup, karena tertutup dengan awan.
"Dia meredup, karena malu sinarnya kalah dari sinar dari wajahmu yang di hiasai senyuman." Adhi melihat ke arah Zara.
__ADS_1
Zara yang tadinya fokus pada langit malam, di buat menoleh saat mendengar ucapan Adhi.
Sejenak mata mereka saling beraduh, mengunci satu dengan yang lain. Sorot mata penuh cinta, terlihat nyata dari pandangan mereka.
Ingin rasanya Adhi membenamkan bibirnya pada bibir Zara, saat melihat bibir ranum dengan warna pink merekah indah di hadapannya. Tapi kesadarannya masih lah sangat tinggi, jadi dia urung melakukannya. Dia akan menyimpannya nanti, saat dia sudah memiliki Zara sepenuhnya.
Satu kecupan di pipi di loloskan Adhi untuk Zara. Sebagai rasa cintanya yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. "Teruslah tersenyum," ucap Adhi sesaat melepas kecupan manisnya pada Zara.
Zara merona, dan menjawab dengan senyuman untuk Adhi. Rasanya tak ada yang lebih bahagia, mendapat perhatian kecil dari Adhi.
"Tuan dan Nona, apa kalian akan berdiam disitu hingga pasar malam ini tutup?" Suara Fira membuyarkan adengan romantis mereka. Fira yang berniat keluar dari area permainan. Tidak melihat Zara dan Adhi keluar. Hingga akhirnya dia tergerak untuk melihat apa yang di lakukan dua insan yang sedang di mabuk cinta itu.
Adhi dan Zara terkesiap, saat mendengar suara merdu milik Fira. Mereka tidak menyangka, kalau biang lala yang mereka naiki sudah berhenti. Akhrinya Zara dan Adhi keluar dari gondola biang lala.
Malam tidak menyurutkan langkah Jeje, Adhi, Fira, dan Zara. Setelah turun dari biang lala, mereka menuju ke parkiran mobil.
Mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu, sebelum kembali ke rumah.
Akhirnya mereka memutuskan untuk ke restoran Daffa, mengingat jarak restoran Daffa tidak terlalu jauh dari pasar malam.
Sesampainya di restoran, Fira dengan semangat memesan makanan. Rasa laparnya sudah sangat mendera.
Saat sedang menunggu pesanan makanan, Jeje dan Fira melihat Daffa keluar dari ruangannya bersama dengan Celia. Dan mengantarkan Celia keluar dari restoran.
Saat Daffa masuk, dia melihat dua pasangan yang dia kenal. Dengan tersenyum, dia mengahampiri Jeje, Adhi, Fira, dan Zara. "Pasangan baru, dan pasangan lama sedanga ada disini, malam-malam?" godanya.
Fira langsung tertawa, mendengar godaan Daffa. "Aku juga masih baru, kalau sudah lama, berarti aku sudah nenek-nenek," ucap Fira tidak terima.
"Oke, aku akan selalu kalah jika harus berhadapan dengan ibu hamil." Dalam hati Daffa, mengingat bahwa di rumah dirinya selalu mengalah dengan Tania yang sedang hamil. Dan sekarang dia harus mengalah dengan satu ibu hamil di hadapannya.
Fira hanya menarik senyum kemenangan di wajahnya, saat mendengar ucapan Daffa.
"Untuk apa Celia kesini?" tanya Jeje yang memecah pebincangan Fira dan Daffa.
"Dia kemarin memberikan kado untuk Tania, dan meminta maaf karena tidak bisa datang ke acara empat bulanan kemarin," ucap Daffa. Daffa langsung menarik kursi, untuk duduk bergabung. "Sebenarnya sejauh apa pertengkaran kalian?" Daffa yang mendengar alasan Celia yang tidak bisa datang berusaha mencari tahu dari Jeje.
"Tempo hari dia datang dan menuduh Fira selingkuhanku. Dan menyiram Fira dengan minuman, saat aku dan Fira bertemu klien." Jeje menjelaskan pada Daffa.
"Kenapa bisa dia berpikir seperti itu?" Daffa masih tidak mengerti.
"Valeria bilang, dia mengira aku suami Valeria. Jadi dia salah menduga Fira selingkuhanku."
Daffa baru mengerti saat Jeje menjelaskan. "Hanya salah paham saja, kenapa kamu semarah itu?"
Jeje menatap tajam pada Daffa. "Dia mengatakan pada klien ku waktu aku di restoran, bahwa Fira bisa di tukar dengan proyek kerjasama." Jeje mengingat kejadian itu menjadi sangat geram.
"Kapan? kenapa aku tidak pernah tahu? klien mana?" Fira yang tidak tahu kejadian itu pun memberi Jeje beberapa pertanyaannya.
"Proyek kerja sama dengan Adrian," ucap Jeje. "Aku langsung memukulnya, dan membatalkan kerja sama."
Fira baru tahu alasan Jeje membatalkan kerja sama dengan Adrian. Rasanya Fira merasa senang, saat Jeje begitu mencintai dirinya, dan rela melepas kerja samanya, untuk membelanya.
Dan mendengar alasan ini, Fira memahami kenapa Jeje begitu kesal dengan Celia, hingga tidak mau memaafkan Celia sama sekali.
Daffa yang mendengar pun terkejut. Kalau pun dirinya yang di posisi Jeje, mungkin dirinya akan melakukan hal yang sama.
.
.
.
.
Jangan lupa like🥰
.
Mampir juga ke My Baby CEO
Ketemu Shea yang begitu tangguh menjalani hidupnya☺️
__ADS_1