
Sesuai permintaan Mama Inan, pagi ini Fira dan Jeje bersiap untuk ke rumah Mama Inan. Jeje yang baru saja selesai memakai bajunya, menghampiri Fira yang sedang memoles wajahnya. Dengan duduk di meja rias, Fira memoles wajahnya di depan cermin. Mata Jeje seketika menajam, saat melihat Fira yang menguncir rambutnya berbentuk bun. Dengan di hiasi poni tipis di keningnya, membuat tampilan Fira nampak berbeda pagi ini. "Kamu cantik sekali hari ini?"
Fira yang mendengar pujian dari Jeje, membalas dengan senyumannya. Senyuman khas dengan lesung pipi milik Fira, terlihat jelas di wajahnya.
Jeje selalu tidak bisa menolak pesona, dari senyuman yang berhias lesung pipi milik Fira. Baginya senyuman itu adalah sumber energi, yang akan membuat harinya bersemangat.
"Apa kamu sudah siap?" Jeje yang berdiri di belakang Fira, melihat wajah Fira dari pantulan cermin.
"Sudah." Fira menatap Jeje dari pantulan cermin, seraya mengangguk.
Jeje menautkan jemarinya pada jemari Fira, dan menarik lembut tangan Fira. Dengan berjalan beriringan, Jeje dan Fira melangkah meninggalkan aparteman. Tujuan pertama mereka adalah rumah Zara, sebelum mereka berdua ke rumah Mama Inan.
Seperti biasa, Fira akan sarapan di mobil sambil melakukan perjalanan. Jeje yang selalu perhatian, selalu membuatkan sarapan khusus untuk Fira. Pikir Jeje, saat Fira bisa makan sesuatu dan tidak muntah, dia akan memanfaatkan moment itu.
Sesampainya di rumah Zara, Fira dan Jeje turun dari mobil dan melangkah menuju rumah Zara. Setelah mengetuk pintu, Zara membuka pintu sesaat kemudian.
"Ayah Abian sudah sembuh?" tanya Fira. Fira yang selalu memanggil ayah Zara dengan panggilan ayah, membuat hubungan mereka sangat dekat.
"Sudah sembuh, fir. Ayah sudah kuat lagi menjaga putri-putri ayah."
Fira tersenyum mendengar jawab ayah Zara. Dia juga merasakan senang, saat ayah sahabatnya itu sudah sembuh. "Sepertinya ayah harus mengalihkan tanggung jawab menjaga putri ayah yang besar, agar perkerjaan ayah lebih ringan." Fira yang berucap seraya melirik pada Zara.
"Tanyakan pada Zara, siapa dari dua pria yang datang kemarin yang akan di pilihnya." Abian pun menjawab Fira, dan sedikit mengoda Zara
"Wah ada dua pria yang datang kemari?" Fira yang terkejut memasang wajah kagetnya.
"Ayah, mereka hanya teman Zara," elak Zara. Zara yang mendengar perbincangan Fira dan ayahnya mencebikkan bibirnya. Rasanya dirinya benar-benar tidak suka saat mendengarkan Fira dan ayahnya membicarakan Atta dan Adhi.
"Memang siapa yang datang ra?" Fira yang penasaran pun bertanya.
"Yang satu namanya Adhi, dia yang menolong ayah, sedangkan yang satu bernama Atta, kebetulan kemarin dia mengantarkan ayah pulang dari rumah sakit." Abian menyebut nama pria-pria, sebelum Zara menjawab.
Zara yang melihat ayahnya menceritakan pada Fira, hanya bisa mengeleng kepala. Rasanya malu sekali jadi bahan perbincangan .
"Atta kemarin kemari ra?" tanya Fira.
"Iya , kebetulan kami bertemu Bang Atta di rumah sakit, saat Bang Atta sedang mengantarkan mamanya."
Fira mengangguk mengerti. "Lalu kamu pilih siapa?" Tanya Fira mengoda.
"Apa sih, fir," elak Zara, langsung membuat pipi Zara merona.
"Kalau Nadia, pilih Bang Adhi buat kak Zara." Nadia yang di depan televisi pun berteriak menjawab pertanyaan Fira.
"Nad, nggak sopan banget sih teriak-teriak," tegur Zara.
"Ich kan sama kak Fira." Nadia sudah menganggap Fira seperti kakaknya sendiri.
Zara hanya bisa mengeleng kepala, melihat ulah adiknya. Bagi adiknya mungkin sudah hal biasa bercanda dengan Fira, tapi dengan Jeje, Zara merasa sungkan.
"Santai ra," bela Fira.
Setelah cukup berbincang, ayah Zara izin untuk istirahat ke dalam kamar. Sedangkan Jeje dan Fira menunggu Zara yang sedang membantu ayahnya ke dalam kamar.
Saat sedang menunggu Zara, Jeje dan Fira mendengar suara ketukan pintu dan salam, dari pintu rumah Zara. Dan saat Jeje dan Fira menoleh, mereka mendapati Adhi lah yang datang.
"Masuk dhi," ucap Fira pada Adhi.
Adhi yang di persilakan masuk, langsung masuk dan duduk di samping Jeje.
"Kalian sudah lama?" tanya Adhi pada Fira dan Jeje.
"Ya sudah lumayan, sehabis ini kita juga sudah pulang," jawab Fira.
"Kemarin jadi beli parfum, Bang?" Adhi yang teringat akan permintaan parfum dari Fira pun bertanya.
"Sudah," jawab Jeje. Sebenarnya Jeje malas sekali, membahas parfum lagi.
"Bagaimana wanginya, suka?" tanya Adhi sedikit melirik Jeje. Adhi ingin sekali melihat reaksi dari Jeje.
"Suka." Sebelum Jeje menjawab, Fira sudah menjawab lebih dulu pertanyaan Adhi.
Jeje yang mendengar Fira yang menjawab hanya bisa pasrah, karena memang hanya Fira yang suka. Sedangkan dirinya tidak suka sama sekali parfum Adhi.
Adhi yang melihat ekspresi Jeje yang nampak tidak suka, bisa menebak kalau Jeje sebenarnya tidak mau memakai parfum itu.
Tapi demi Fira, Jeje rela memakainya.
"Malah kemarin kita dapat promo gratis." Fira menceritakan dengan semangat, yang di dapatnya kemarin.
Adhi yang mendengar ucapan Fira langsung mengerutkan dahinya. "Promo apa?"
"Promo pembukaan toko." Fira menjawab sesuai info yang dia dapat dari manager toko.
"Toko itu buka sudah hampir dua bulan yang lalu. Bagaimana mereka bisa memberikan promo pembukaan toko?" Adhi yang tahu betul pun bertanya pada Fira.
"Tapi managernya yang bilang sendiri." Fira yang merasa info itu valid, menjawab ucapan Adhi.
Jeje yang mendengar ucapan Adhi sedikit heran. Dia merasa curiga dengan promo yang di berikan.
"Ya, mungkin benar kalau manager toko sendiri yang mengatakannya."
Akhirnya setelah obrolan singkat mereka. Jeje dan Fira memutuskan untuk berpamitan, karena mereka harus segera ke rumah Mama Inan.
"Apa kamu tidak curiga mendengar cerita Adhi? " Jeje yang sedang menyetir menoleh sebentar pada Fira.
"Em... sedikit sih. Tapi untuk apa di permasalahkan lagi, jika kita sudah dapat parfumnya."
Jeje membenarkan ucapan Fir. Untuk apa dirinya mempermasalahkan lagi.
Sesampainnya di rumah Mama Inan, Fira dan Jeje masuk ke dalam rumah. Saat mereka baru Fira dan Jeje masuk, mereka sudah di sambung oleh Mama Inan dan Bu Ani.
Fira benar-benar merasa terkejut saat melihat ibunya juga ada dirumah mertuanya. Fira langsung berhambur ke pelukan ibu dan mertuanya secara bergantian.
"Ibu disini?"
"Ya, tadi pagi ibu di jemput oleh Bu Inan buat kemari."
Fira yang mendengar ucapan ibunya beralih pada mertuanya.
__ADS_1
"Mama mau merayakan kehamilan kamu, bersama-sama, jadi mama jemput Bu Ani ke rumah." Mama Inan yang mengerti sorot mata Fira pun, mencoba menjelaskan.
"Terimakasih ma," ucap Fira. Fira patut bersyukur bahwa Mama Inan mau menjemput ibunya ke rumah.
Jeje yang di belakang Fira langsung menyalami mama dan ibu mertuanya. Dirinya yang kemarin hanya di beritahu bahwa, mamanya ingin bertemu Fira tidak menyangka mertuanya juga di rumah.
Mama Inan mengajak Fira, untuk duduk di ruang keluarga. Dia tidak mau menantunya sampai terlalu berdiri dan akan membuat lelah.
"Gimana sayang kehamilan kamu, apa kamu muntah terus?" Mama Inan menatap menantunya, dengan penuh rasa khawatir.
"Masih ma."
"Ya sudah, memang begitu jika hamil muda. Ya terpenting usahakan tetap makan," ucap Mama Inan pada Fira. "Kamu sudah nyidam apa saja?" tanya Mama Inan.
Fira yang mendengarkan pertanyaan mertuanya bingung. Dia merasa tidak menginginkan apa-apa selain parfum, soto, dan itu permen gulali yang tanpa segaja dia lihat. "Belum terlalu banyak nyidam ma," jelas Fira.
"Sayang sekali kamu belum nyidam banyak, harusnya kamu memanfaatkan suami kamu untuk mencari keinganan kamu."
Jeje yang mendengar mamanya sedang mengajari Fira membulatkan matanya. "Kenapa mama mengajari Fira seperti itu?" Jeje yang merasa tidak terima melakukan protes pada mamanya.
"Kamu harus merasakan susah orang nyidam, jangan mau enaknya aja," cibir Mama Inan.
"Sekarang kamu mau apa sayang?" tanya Mama Inan pada Fira.
Fira yang di tanyakan mamanya memikirkan apa yang dia inginkan. "Mangga muda ma," ucap Fira. Fira membayangkan cuaca siang ini akan enak sat dia makan mangga dengan sambal rujak.
"Je, kamu dengarkan kalau Fira mau mangga kuda." Mama Inan beralih pada Jeje.
Kening Jeje langsung berkerut dalam saat mendengar ucapan mamanya. "Bukannya tadi mama yang menawarkan, kenapa jadi Jeje yang cari?"
"Emang ini anak siapa?" Mama Inan menatap Jeje tajam.
"Ya anak aku lah." Jeje dengan nada sedikit sombong memamerkan anak yang di kandung Fira adalah anaknya.
"Ya sudah, kalau ini anak kamu, sana pergi cari mangganya!" Peritah Mama Inan.
Jeje hanya bisa berdesis kesal mendengar ucapan mamanya yang menjebak. "Ya sudah, aku beli di supermarket dulu." Jeje langsung membalikkan tubunnya melangkah.
"Sayang," panggil Fira, yang menghentikan langkah Jeje.
Jeje yang menoleh pun mendengar Fira memanggil. "Apa?" tanya Jeje dengan memberikan senyum.
"Aku mau mangga muda yang baru di petik dari pohonnya." Fira mengatakan keinginannya seraya tersenyum memamerkan giginya.
Kedua bola mata Jeje membulat. "Cari dimana sayang mangga muda dari pohonnya?" tanya Jeje bingung.
"Ya carilah je. Pokonya harus dapat. Mama nggak mau cucu mama nanti ileran," ucap Mama Inan.
Kepala Jeje langsung berdenyut mendengar keinginan Fira. Dirinya tidak punya pilihan, selain mencarikan untuk Fira. Pikirannya melayang membayangkan mulut anaknya penuh dengan air liur. Jeje langsung bergidik ngeri membayangkan semua itu. "Iya, Jeje cari." Jeje pun berbalik dan melangkahkan kakinya mencari mangga pesanan Fira.
Sesampainnya di luar rumah Jeje memikirkan harus kemana dia mencari pohon mangga. Akhirnya dia memilih untuk berkeliling, untuk mencari pohon mangga sepanjang jalan yang dia lalui.
***
Sesaat setelah Jeje dan Fira pergi. Adhi dan Zara pun juga pergi. Sesuai pesan yang di kirim Zara kemarin pada Atta, Zara dan Atta akan bertemu di restoran Daffa.
"Denger ya, nggak perlu bicara banyak dengan Bang Atta, langsung kasih uangnya saja." Adhi yang baru saja memarkirkan mobilnya menatap Zara dan memperingatkan Zara.
"Ya nggak bisa begitu juga dong dhi. Aku juga harus berterimakasih."
"Iya." Zara yang tidak mau berdebat lagi memilih untuk menjawab.
"Aku tunggu di ruangan Bang Daffa, kalau kamu dah selesai langsung hubungi aku." Adhi membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya, dan keluar dari mobil sesaat setelahnya.
Adhi dan Zara keluar dari mobol dan melangkah ke dalam restoran. Adhi yang sampai di depan restoran berbelok untuk ke kantor Daffa, lewat pintu utama kantor. Sedangkan Zara langsung masuk ke dalam restoran.
Seraya mengedarkan pandangan, Zara mencari keberadaan Atta. Saat dia menemukan dimana Atta duduk, Zara melangkah menghampiri Atta. "Hai Bang," sapa Zara, saat baru sampai di meja Atta. Zara langsung menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Atta.
"Hai ra," sapa Atta tersenyum. Atta yang semalam menerima pesan singkat dari Zara, merasa sangat senang. Dirinya tidak menyangka jika Zara ingin mengajaknya bertemu, walapun Atta tidak tahu untuk apa Zara bertemu.
"Terimakasih Bang Atta, sudah mau menerima ajakan aku untuk bertemu." Zara menatap Atta tersenyum pada Atta.
Melihat senyum dari Zara, membuat dirinya terpesona dengan kecantikan alami dari wanita yang ada di hadapannya. "Nggak apa-apa ra. Aku juga senang bisa bertemu denganmu."
Zara menyusun kata-kata di otaknya, untuk menyampaikan uang yang dia pinjamnya dari Atta. ''Aku kemarin ingin memberikan ini Bang.'' Zara menyodorkan amplop berisi uang yang di pinjamnya.
"Ini apa ra?" Atta yang bingung memilih bertanya.
''Ini uang yang aku pinjam kemarin Bang," ucap Zara. ''Aku kemari untuk mengembalikan uang yang aku pinjam dari bang Atta.
Atta terkejut saat mendengar bahwa kedatangan Zara bertemu dengannya adalah untuk mengembalikan uang yang di pakainya untuk biaya rumah sakit ayahnya. ''Memangnya kamu sudah ada ra?" Atta tahu persis, kemarin Zara begitu kebingungan mencari kekurangan biaya rumah sakit ayahnya.
''Sudah Bang."
"Kamu dapat uang dari Adhi ya?" Atta yang mendengar kemarin Zara menghubungi Adhi, menebak darimana Zara mendapat uang.
"Memang lewat Adhi Bang, tapi aku meminjam uang itu dari kantor, dan aku akan mengantinya tiap bulan."
"Aku membantumu tanpa berharap kamu membalasnya. Jadi aku rasa kamu tidak perlu sampai meminjam ke kantor."
"Terimakasih untuk kebaikan Abang, tapi maaf aku tidak bisa menerima."
Atta merasa heran, di saat semua wanita yang mendekatinya hanya mengincar uang, Zara memilih mengembalikan uang miliknya. Rasa Atta benar-benar salah, jika menarik perhatian Zara dengan uang. "Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan. Aku akan menerima uang ini."
***
Adhi yang menunggu Zara, memilih untuk menunggu di ruangan Daffa. Setelah menyapa Daffa, Adhi langsung duduk di hadapan Daffa.
"Kamu tumben kesini?''
"Ya Bang, lagi antar Zara ketemu Bang Atta."
"Atta?" Daffa memang sudah tahu bahwa Atta datang ke restoran, untuk bertemu dengan wanita. Tapi dirinya tidak tahu bahwa Zara lah yang di temui Atta.
''Iya.''
"Zara pacar Atta?" tanya Daffa.
Adhi tersentak mendengar pertanyaan Daffa. ''Bukan.''
''OH.. Abang kira Zara pacar Atta, soalnya tadi Abang lihat Atta nampak senang menunggu seseorang datang."
__ADS_1
"Iya, Bang Atta kelihatanya memang menaruh hati sama Zara.'' Adhi yang mengingat bahwa Atta menyukai Zara, sedikit merasa gundah. Dirinya tahu bagaiamana pesona casanova macam Atta.
Daffa yang melihat raut wajah Adhi bisa menebak, jika Adhi menyukai Zara. "Kamu suka Zara?'' Tanya Daffa memastikan.
''Iya Bang.''
"Wah bersaing lagi sama teman Abang?'' Daffa mengingat bahwa sebelum dengan Zara, adiknya menaruh hati dengan Fira, dan harus bersaing dengan Jeje. Sedangkan sekarang, adiknya di hadapkan dengan temannya kembali, untuk mendapatkan wanita.
''Tapi kali ini, aku nggak akan biarin teman Abang, mendapatkan wanita yang aku suka.''
"Kalau nggak mau kalah, gerak cepat. Jangan sampai terlambat, baru menyesal."
''Iya Bang.''
Saat Daffa dan Adhi sedang berbincang, mereka mendengar suara pintu ruangan Daffa di ketuk. Dan saat pintu terbuka, terlihat Jeje dari balik pintu.
"Elo je,'' ucap Daffa.
''Iya.'' Jeje melangkah menuju meja kerja Daffa, dan menari kursi, duduk tepat di sebelah Adhi.
''Ketemu lagi Bang,'' goda Adhi saat bertemu Jeje.
"Kamu kenapa disini.''
''Lagi ada perlu Bang."
Jeje hanya mengangguk mengerti. Dia langsung beralih pada Daffa. ''Gue mau nanya sesuatu sama loe.''
''Apa.'' Daffa menatap balik Jeje, dan bertanya.
"Istri lo nyidam mangga muda yang baru di petik nggak?" Jeje yang di minta Fira mencari mangga yang baru di petik, sudah berkeliling kota untuk mencari pohon mangga. Tapi sayangnya dia tidak mendapatkannya. Sampai akhirnya dia terpikir untuk menanyakan pada Daffa, karena istri Daffa juga sama- sama sedang hamil.
Daffa yang mendengar pertanyaan Jeje langsung tertawa. "Fira minta mangga muda yang baru di petik?"
''Iya.''jawab Jeje frustasi.
''Sama kayak Tania."
Mendengar ucapan Daffa bahwa Tania juga meminta mangga muda yang baru di petik, Jeje serasa mendapatkan angin segar. ''Terus loe dapat dimana?"
''Nggak tahu,'' jawab Daffa.
Jeje mengerutkan dahinya. ''Kenapa nggak tahu."
''Karena bukan gue yang cari.''
''Terus siapa?"
Daffa memberi jawaban dengan isyarat mata menatap Adhi. Jeje yang meliht Daffa menjawab dengan isyarat mata, melihat kemana arah mata Daffa. ''Kamu yang cari mangga buat Tania, dhi?''
Adhi yang mendengar pembicaraan tentang mangga, memilih untuk diam dari tadi. Dirinya ingat betul, bagaimana susahnya memanjat pohon mangga. ''Iya Bang,'' jawab Adhi malas.
''Kamu metik dimana?"
''Di rumah tetangga Zara Bang."
''Ya, sudah ayo antarkan aku ke rumah Zara." Jeje dengan semangat, langsung berdiri, dan mengajak Adhi.
Dalam hati Adhi, kesal dengan ajakan Jeje. Dirinya yang berniat mengajak Zara jalan, harus terganggu dengan ide Jeje. Tapi melihat Jeje yang bersemangat, dirinya merasa tidak tega. "Zara ada di restoran Bang, kita temui dia dulu, baru kita ke rumah Zara.''
''Ya udah, gue balik dulu ya fa,'' pamit Jeje pada Daffa.
"Selamat berjuang bro.." Daffa tertawa mengoda Jeje.
Adhi dan Jeje pun akhirnya keluar dari ruangan Daffa dan menghampiri Zara. ''Dia sama Atta?'' Tanya Jeje saat melihat Zara dan Atta dari kejauhan.
''Zara ada perlu sama Atta, Bang."
''Kamu kalau suka Zara, jangan gerak lambat.'' Jeje yang melihat Atta mendekati Zara merasa Adhi menyianyiakan kesempatan
''Iya Bang.''
''Jangan sampai kamu menyesal,'' ucap Jeje seraya melangkah menghampiri Zara dan Atta.
''Sebenarnya aku juga nggak mau lama Bang, tapi aku masih mau lihat perasaan Zara padaku.'' Adhi pun melangkah menyusul Jeje yang menghampiri Atta dan Zara.
''Je...'' ucap Atta yang kaget dengan kedatangan Jeje.
"Hai bro,'' sapa Jeje.
'Lo ada apa kesini?'' Atta menatap Jeje menanti jawaban Jeje.
''Gue ada perlu sama Zara.''
''Saya Pak?'' tanya Zara memastiskan.
''Iya, saya denger Adhi dulu mencari mangga di rumah tetangga kamu. Jadi saya mau meminta tolong kamu, untuk mengantar saya.''
''Buat Fira ya, Pak?" tanya Zara dan dapat anggukkan dari Jeje. ''Kemarin memang Adhi mencari mangga muda di rumah tetangga saya. Tapi saya tidak tahu, masih ada atau tidak.'' Zara yang merasa sudah lama sekali ke rumah tetangganya meminta mangga muda, merasa tidak yakin bahwa masih ada buah tersisa.
''Di coba dulu ra," potong Adhi.
''Ya sudah ayo.'' Zara berdiri dan mendorong mundur kursinya. Sejenak Zara beralih pada Atta. ''Aku duluan ya, Bang.''
''Iya ra.'' Atta yang tadinya mau mengajak Zara untuk jalan, harus kandas saat Jeje meminta tolong mencari mangga muda untuk Fira.
''Aku sama Zara ya Bang, nanti bertemu di rumah Zara,'' ucap Adhi, dan Jeje mengangguk setuju. Mereka bertiga pun melangkah menuju parkiran mobil
Atta yang mendengar bahwa Zara akan pergi dengan Adhi, bukan dengan Jeje menahan kesalnya. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. ''Ternyata dia benar-benar ingin bersaing.''
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca.
__ADS_1
Jangan lupa berikan like kalian☺️
Mampir juga ke instagram aku Myafa16