Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Adhi lebih tahu


__ADS_3

Selama menonton hanya Adhi dan Fira yang menikmati film, sedangkan Daffa dan Jeje merasa bosan dengan menonton film drama.


Setelah keluar dari bioskop Jeje merasa lega, akhirnya mereka akan berpisah, dan Jeje bisa melanjutkan kencannya.


Dari awal kedatangan Daffa dan Adhi dirinya merasa kesal karena kencannya harus terganggu oleh dua orang itu.


"Kita makan dulu ya," ajak Fira menatap Jeje.


Fira yang sedari tadi menahan lapar, akhirnya mengajak untuk makan.


"Ya sudah, kita cari restoran disini saja." Jeje membelai lembut rambut Fira, dan menuruti keinginan Fira.


"Kak Daffa dan Adhi ikut juga ya," ajak Fira pada Daffa dan Adhi.


"Kenapa mereka ikut juga sayang." Jeje yang mendengar Fira mengajak Daffa dan Adhi merasa tidak suka.


"Biar rame, jadi lebih seru," jelas Fira, membayangkan keseruan jalan bersama-sama.


"Seru apanya?" batin Jeje kesal.


Jeje yang tadinya sudah merasa senang terbebas dari dua penganggu itu, harus menerima kenyataan bahwa Fira mengajak mereka.


"Kita nggak ikut aja ya fir, soalnya masih ada yang mau di kerjain," ucap Adhi yang tidak enak saat melihat Jeje yang tidak suka mereka menganggu acara makan bersama.


"Emang kita mau ngapain dhi, kita kan nggak ada kerjaan," ucap Daffa polos tidak mengerti kode yang di berikan Adhi.


"Abang nggak berperasaan banget, bang Jeje sama Fira kan mau makan berdua aja " Adhi hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, dia benar-benar heran dengan kakaknya yang tidak sadar bahwa Jeje tidak suka mereka ikut.


"Tu dhi, kata kak Daffa nggak ada kerjaan, udah yuk jangan kelamaan," ajak Fira yang sudah lapar dari tadi.


Adhi yang mendengarkan ucapan Fira, tidak punya pilihan selain mengiyakan permintaan Fira.


Akhirnya mereka memutuskan makan bersama, walaupun sebenarnya Jeje begitu kesal, tapi mau bagaimana lagi saat Fira yang meminta mereka untuk makan bersama.


Mereka menuju restoran yang ada di dalam mall. Sesampainya di restoran mereka memesan makanan, Fira dan Adhi memesan steak sedangkan Daffa dan Jeje memesan pasta.


"Yang satu steak medium, " ucap adhi pada pelayan restoran.


Setelah beberapa saat mereka menunggu makanan, akhirnya makanan pun datang.


"Fir, ini yang medium." Adhi menyodorkan piring steak yang tingkat kematangannya medium.

__ADS_1


"Terimakasih dhi."


"Jadi dia pesan yang steak medium untuk Fira." Jeje menatap Adhi, yang ternyata memesan makanan untuk Fira.


Mereka makan menikmati menu makanan yang di pesan, sambil mengobrol. Adhi dan Fira masih menceritakan tentang film yang mereka tonton tadi. Sedangkan Daffa dan Jeje hanya mendengarkan.


Sepanjang makan Jeje memperhatikan Fira dan Adhi yang begitu akrab, setiap obrolan yang mereka bicarakan seolah saling menyambung.


Setelah selesai makan Daffa dan Adhi lebih dulu meminta izin pulang, karena Adhi yang merasa tidak enak melihat Jeje yang sedari tadi merasa kesal.


Setelah Adhi dan Daffa pulang, Fira dan Jeje melanjutkan makan. Fira memesan es krim, dan melanjutkan kencannya dengan Jeje.


"Adhi begitu tahu ya tentang kamu," ucap Jeje di sela-sela Fira makan es krim.


Fira mengerutkan dahinya mendapati pertanyaan dari Jeje.


"Kamu kenapa?"


"Aku merasa tidak tahu banyak saja tentang kamu di banding Adhi, dari film makanan, minuman, dia begitu tahu semua tentang kamu." Jeje mengeluarkan isi hatinya yang begitu kecewa dengan dirinya sendiri.


Sedari tadi dia merasa dirinya jauh berbeda dengan Adhi, yang lebih tahu segalanya tentang Fira.


"Aku berteman dengan Adhi sejak awal kuliah, bisa di bilang aku sering bertemu dengannya, jadi wajar dia tahu banyak."


Fira mengengam tangan Jeje erat.


"Kita masih punya banyak waktu bukan, untuk saling mengenal." Fira menatap Jeje dengan lembut.


Jeje yang mendengar ucapan Fira, menarik garis senyum di wajahnya. Ada perasaan lega karena Fira, tahu apa yang di rasakan oleh Jeje.


Mungkin benar kata Fira, dirinya masih punya waktu untuk saling mengenal.


"Aku juga tidak tahu banyak tentangmu." Fira mencebikan bibirnya, mengingat bahwa dia juga sama tidak tahunya.


"Baiklah, mari kita mengenal lebih dekat" ajak Jeje, dan Fira mengangguk tanda setuju.


Mereka saling menceritakan beberapa hal yang disuka atau tidak suka. Jeje dan Fira menghabiskan waktu di restoran dengan berbagi cerita.


Sampai tidak terasa waktu sudah malam, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen.


Sepanjang perjalanan pulang mereka asik dengan cerita masing-masing. Fira berusaha untuk membuat Jeje tidak merasa Adhi lebih tahu segalanya ,dengan memberi tahu banyak tentangnya.

__ADS_1


Mereka berdua menyadari, perkenalan mereka yang singkat hingga membuat mereka menjalin hubungan, membuat mereka harus banyak memahami satu sama lain.


Karena asik bercerita mereka tidak menyangka sudah sampai di parkiran apartemen. Mereka berdua turun dari mobil dan menuju lift.


Jeje menautkan jemarinya pada jemari Fira, mengenggam erat tangan Fira, menyalurkan rasa bahagia yang sedang mereka rasakan


Mereka berdua merasa sangat bahagia, bisa menghabiskan akhir pekan mereka bersama. Dan ini menjadi moment yang berharga bagi mereka.


Jeje berharap hubungannya dengan Fira lebih baik. Jeje juga berniat akan memberi tahu orang tuannya secepatnya. Dia tidak mau terus-terusan menyembunyikan hubungannya dengan Fira. Apa lagi mamanya memaksanya menikah dengan Ana.


Lift apartemen terbuka, mereka berdua melangkahkan kaki menuju apartemen Jeje.


Dengan menautkan jemari mereka, mereka keluar dari lift. Tapi langkah mereka terhenti saat mereka melihat seorang wanita paruh baya berdiri di depan apartemen Jeje.


Wanita paruh baya itu menatap tajam pada Jeje dan Fira. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya. Melihat Jeje dan Fira mengenggam erat tangan mereka.


Fira berhenti di tempat dia berpijak, hatinya seketika takut. Kakinya seolah kaku, tak mampu untuk melangkah. Pikirannya terus berputar, bagaimana caranya menghadapi semua ini. Perlahan dia melepas tautan jemarinya pada jemari Jeje.


Fira tidak menyangka, setelah dia baru saja mendapat kebahagiaan, sekarang dia harus menghadapi kenyataan pahit.


Jeje yang merasakan ketakutan pada Fira menyadari kenapa Fira melepas genggaman tangannya. Jeje dapat melihat wajah Fira yang berubah, saat melihat wanita yang berdiri di depan apartemennya.


Tapi sayangnya, dari kejauhan wanita paruh baya itu sudah melihat saat Fira dan Jeje saling mengenggam. Emosinya begitu memuncak mendapati dua orang di hadapannya bergandengan. Dia bisa menebak, jika Jeje dan Fira memiliki hubungan.


Mereka berdua menyadari, bahwa hari ini adalah hari terakhir mereka menutupi hubungan mereka berdua.


"Semua akan baik-baik saja," ucap Jeje lirih menguatkan Fira yang begitu takut.


.


.


.


.


Jangan lupa berikan like dan vote🄰


Mampir juga ke karya lain ku


dan mampir juga ke instagram aku Myafa16

__ADS_1


__ADS_2