Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Bersemu merah


__ADS_3

"Bang, ini bunga di taruh dimana?" tanya Adhi, setelah menerima bunga dari penjual bunga yang mengantarkan ke rumah Daffa.


"Taruh di meja sana saja," ucap Daffa seraya menunjuk ke arah meja di taman belakang.


Adhi melangkah menuju meja yang di tunjuk oleh Daffa, dan langsung memindahkan bunga ke dalam vas bunga yang terdapat di meja. Menyusun dengan rapi bunga-bunga, yang di bawanya ke dalam vas


Setelah memastikan bunga sudah rapi dan cantik, Adhi kembali menghampiri Daffa yang sedang merapikan dekor. "Apa lagi yang harus aku bantu?"


Setelah semalam mengantarkan Zara pulang, Adhi memilih pulang ke rumah Daffa, karena Adhi berniat untuk membantu Daffa. Dan pagi ini, Adhi sudah sibuk membantu kakaknya untuk berbenah merapikan rumah Daffa, untuk acara 4 bulan kehamilan Tania.


"Sudah sepertinya," ucap Daffa.


"Oke kalau begitu."


"Kamu sendiri sudah selesai belum?"


"Sudah juga."


"Ingat pesan aku kemarin," Daffa melirik tajam pada Adhi.


Adhi memutar kedua bola matanya, malas dengan ucapan Daffa. "Iya, setelah acarakan?"


"Bagus kalau masih ingat," ucap Daffa sedikit menyindir.


"Kalau semua sudah selesai, aku pergi jemput Zara dulu."


Daffa melirik Adhi, dan senyum langsung tertarik di ujung bibirnya. Daffa merasa memaklumi adiknya, yang sedang begitu bersemangat menjemput Zara. "Pergilah!"


Adhi melangkah ke keluar, setelah sudah tidak ada perkerjaan yang di lakukan oleh dirinya. Mengendarai mobilnya, Adhi menuju rumah Zara.


Sesampainya di rumah Zara, Adhi mengetuk pintu rumah Zara. Dan saat pintu terbuka, nampak Nadia lah yang membuka pintu.


"Eh...Bang Adhi," ucap Nadia saat membuka pintu.


Adhi melihat Nadia tersenyum padanya, membalas dengan senyuman. "Zara ada, nad?"


"Kak Zara baru bersiap-siap," ucap Nadia. "Bang Adhi masuk dulu saja." Nadia melebarkan pintu rumahnya, dan mempersilakan Adhi, untuk masuk ke dalam rumah.


Melangkah ke dalam rumah Zara, Adhi duduk di ruang tamu. Adhi memperhatikan tidak nampak ayah Zara di rumah. "Ayah kamu kemana?" tanya Adhi pada Nadia.


"Ayah sedang pergi, katanya ada urusan," ucap Nadia. "Aku ambil minum dulu ya, Bang." Nadia berdiri dan hendak menuju ke dapur.


"Nggak perlu, Bang Adhi hanya menjemput Kak Zara," ucap Adhi, yang membuat langkah Nadia terhenti.


"Ya sudah kalau begitu, aku panggil Kak Zara aja ya," ucap Nadia, dan Adhi mengangguk.


Mendapat jawab anggukan dari Adhi, Nadia berlalu ke kamar Zara. Setelah mengetuk pintu, Nadia meraih handle pintu dan membuka pintu. Nadia memicingkan matanya saat melihat tumpukkan baju di atas tempat tidur. Nadia langsung mencari Zara yang tidak nampak di kamar. "Kak," panggil Nadia.


Zara yang sedang berdiri di depan lemari, membuat dirinya tertutup oleh pintu lemari. Saat dia mendengar suara Nadia memanggil, Zara memundurkan tubuhnya agar terlihat oleh Nadia. "Apa?" tanyanya saat melihat Nadia.


"Ada Bang Adhi di luar," ucap Nadia seraya melangkahkan kaki, masuk ke dalam kamar Zara.


"Hah... Adhi sudah sampai," ucap Zara kaget. Zara langsung buru-buru mencari kembali dress yang akan di pakainya.


Nadia yang melihat kakaknya sibuk mencari dress, hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya. Nadia melihat Zara melemparkan dress ke atas tempat tidur, tidak habis pikir dengan kakaknya. "Sebenarnya kakak cari apa sih?"


"Ini cocok nggak?" tanya Zara menempelkan dress pink di tubuhnya.


Nadia yang di tanya oleh Zara, langsung mengeleng.


"Ini?" tanya Zara lagi menempelkan dress warna biru. Nadia masih mengeleng, dan seketika membuat Zara panik. "Lalu yang mana?" tanyanya bingung.


Nadia langsung memilih, dan mencari dress yang sudah bertebaran di atas tempat tidur. "Ini saja," ucap Nadia menunjukkan dress lace warna putih gading, dengan lengan sepertiga dan panjang selutut.


Sejenak Zara memperhatikan dress itu tampak cantik. Warnanya tidak mencolok, dan potongannya tertutup sehingga membuatnya lebih terlihat sopan, untuk datang ke acara 4 bulan.


Zara langsung meraih dress yang di tunjukkan oleh Nadia, dan berlalu mengantinya.


Setelah selesai, Zara keluar dari kamarnya menemui Adhi. Perasaan Zara, begitu berdebar saat ingin menemui Adhi, padahal biasanya dirinya biasa saja saat bertemu dengan Adhi. Walaupun belum ada kata jadian, tetap saja hubungan mereka lebih dari sekedar teman.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap Zara saat sampai di ruang tamu.


Adhi yang melihat Zara, menatap penuh pesona pada Zara. Walaupun Zara tidak memakai dress terbuka, tapi pesona Zara di mata Adhi sangat mengagumkan. Zara terlihat dengan lebih anggun dengan dress lace yang tertutup. "Tidak," ucapnya dengan senyum .


"Aku sudah siap, ayo," ajak Zara. Zara langsung beralih ke arah Nadia. "Kakak berangkat dulu ya. Kamu langsung kunci pintunya saja," ucap Zara pada adiknya.


Nadia mengerti yang di ucapkan oleh kakaknya. Dia akan mengunci pintu mengingat ayah dan kakaknya memiliki kunci rumah sendiri. Jadi dirinya tidak perlu membukakan nanti saat mereka datang.


Setelah berpamitan dengan adiknya, Zara dan Adhi berangkat menuju rumah Daffa. Di dalam perjalanan, Adhi tanpa henti mencuri-curi menatap Zara, saat menyetir.


"Kamu kenapa? memangnya ada yang salah ya sama aku?" Zara yang dari tadi memperhatikan Adhi pun, bertanya.


Adhi hanya tersenyum. "Aku hanya terpesona denganmu."


Pipi Zara langsung bersemu merah, saat mendengar ucapan Adhi. Dalam hatinya, baru kali ini dirinya di puji oleh seorang pria. Zara sadar betul, bahwa selama ini dirinya, tidak pernah dekat dengan pria lain selain Adhi. Dan dulu kedekatannya dengan Adhi, hanya sebatas teman karena Adhi menyukai Fira.

__ADS_1


Adhi yang melihat pipi Zara merona, melebarkan senyumnya. Melihat rona merah alami yang tercipta dari kehangatan yang terasa di hati, membuat Adhi begitu senang.


Untuk pertama kalinya, perasaan bahagia melingkupi hati Adhi, saat cintanya terbalas dengan manis.


Adhi ingat, bagaiamana sakitnya saat dirinya harus kalah dengan Jeje, untuk mendapatkan Fira. Dan kali ini, Adhi tidak melepas kesempatan keduanya.


Sesampainya di rumah Daffa, Zara dan Adhi turun dari mobil. Mereka berdua melangkah ke dalam rumah berdampingan.


Saat Adhi dan Zara sampai disana, ternyata sudah ada Nayla, yang sedang duduk menunggu acara di mulai.


"Aku ke atas sebentar ya, menemui Bang Daffa," ucap Adhi pada Zara, dan Zara pun mengangguk.


Zara yang melihat Adhi berlalu, menghampiri Nayla. "Sudah lama, nay?" tanya Zara.


"Belum."


Karena di kursi di sebelah Nayla kosong, akhirnya Zara memilih duduk bersebelahan dengan Nayla.


"Apa kamu lupa dengan janjimu menjauhi Adhi, ra?" tanya Nayla dengan suara rendah, hampir berbisik.


Zara yang mendengar ucapan Nayla, melirik ke arah Nayla sejenak. "Aku nggak lupa nay, tapi aku memang segaja melupakannya," ucap Zara tenang.


Nayla hanya bisa mengepalkan tangannya, rasanya lawannya sekarang sudah berani. "Apa kamu sadar bahwa kamu hanya alat untuk melupakan Fira, dan aku yakin Adhi akan mencampakanmu begitu saja nanti."


Tak di pungkiri Zara, hubunganya dengan Fira adalah persahabatan, tapi saat nama Fira masih di sebut beriringan dengan nama Adhi, masih meninggalkan keraguan.


Tapi sejenak dia mengingat, bahwa Fira sudah mengatakan Adhi mencintai dirinya. Dan dari sorot mata Adhi, Zara melihat dengan jelas cinta Adhi. "Sepertinya kamu salah orang, jika kamu ingin membuatku terpengaruh."


Nayla sudah seakan kehilangan akal, membuat Zara meragukan Adhi. Harapannya hanya tinggal pada Atta. Dan entah apa yang kan di lakukan pria itu, Nayla sendiri tidak tahu.


Saat Zara dan Nayla, masih dalam situasi ketegangan, Adhi menuruni tangga, menghampiri Zara dan Nayla. "Hai, nay, sudah lama tadi datang?" Adhi yang langsung naik untuk menemui kakaknya, tidak sempat menyapa Nayla.


"Belum," jawab Nayla tersenyum pada Adhi.


"Apa, Bang Daffa dan Kak Tania sudah siap?" tanya Zara pada Adhi.


"Sebentar lagi mereka akan turun, dan acara akan di mulai," jelas Adhi seraya duduk di samping Zara. "Apa kamu mau minum?" Adhi menoleh, menatap Zara disertai senyuman.


"Nanti saja, aku belum haus." Zara membalas senyuman Adhi dengan senyuman.


Nayla yang melihat pemandangan itu menahan gemuruh di dalam hatinya. Rasanya Nayla benar-benar kesal pada Zara yang tidak menuruti keinginannya untuk menjauhi Adhi.


**


Akhirnya acara 4 bulanan Tania di mulai, dipimpin pemuka agama. Semua tamu memanjatkan doa, untuk kehamilan Tania.


Zara yang mengikuti semua proses, seraya mengedarkan pandangan. Dirinya melihat tidak tampak Fira, Jeje dan Atta di sepanjang acara. Dan Zara pun mencari keberadaan mereka.


Adhi yang melihat Zara tampak mencari sesorang pun bertanya. "Kamu cari siapa?" tanya Adhi.


"Aku nggak lihat, Fira, Pak Gajendra dan Bang Atta," ucap Zara.


Di saat bersamaan, terlihat Fira, Jeje dan Atta baru saja datang. Mereka melangkah menghampiri Adhi, Zara dan Nayla. Dan duduk tepat di belakang mereka.


"Hai," sapa Fira lirih, disertai lambaian tangan. Karena proses acara masih berlangsung, Fira tidak mau menganggu acara.


Semua pun melanjutkan, mengikuti proses doa untuk kehamilan Tania hingga selesai.


Setelah selesai, semua menghampiri Tania dan Daffa untuk memberikan ucapan selamat, serta doa.


Secara bergantian mereka mengucapkan seraya mengulurkan tangan pada Tania dan Daffa.


"Loe kenapa ta, telat datang?" tanya Jeje pada Atta.


"Biasa, tadi ada teman gue datang, jadi gue telat," jelas Atta. "Loe sendiri tadi kenapa telat?"


Jeje yang di tanya kenapa dirinya datang terlambat, hanya menghela nafasnya. Jeje mengingat apa yang membuat dirinya terlambat datang ke acara Daffa dan Tania.


Fira dan Jeje yang bersiap datang untuk ke acara Daffa dan Tania, melajukan mobilnya menuju rumah Daffa.


Tapi di tengah-tengah perjalanan Fira meminta berbelok ke toko kue, untuk membeli cup cake terlebih dahulu.


Jeje pun menuruti Fira, dan melajutkan mobilnya menuju toko kue.


Sesampainya di toko kue, Fira sangat antusias melihat banyak kue. Mata Fira langsung berbinar, saat melihat cup cake dengan berbagai bentuk, dan butter cream warna warni.


Akhirnya Fira membeli beberapa cup cake, dan berniat memakannya sepanjang perjalanan ke rumah Daffa.


Di dalam mobil, Fira membuka box berisi cup cake miliknya, dan mengambil satu cup cake. Fira begitu tidak sabar, merasakan sesasi manisnya cup cake di dalam mulutnya. Fira pun, langsung memasukkannya ke dalam mulutnya.


Tapi belum sempat Fira menikmati cup cake nya, tanpa di duga Jeje menghentikan mobilnya tiba-tiba.


Jeje yang hendak keluar dari parkiran toko kue, melihat ada kucing di depannya. Dan akhirnya membuatnya menghentikan tiba-tiba mobilnya. "Sayang maaf," ucap Jeje menoleh pada Fira


Kedua mata Jeje membulat saat melihat wajah Fira penuh dengan butter cream yang terdapat di cup cake. Seketika Jeje langsung tergelak saat melihat hidung dan mulut Fira terkena butter cream.

__ADS_1


Fira langsung menatap tajam pada Jeje, saat Jeje menertawakan dirinya.


Jeje yang melihat Fira menatap tajam padanya, langsung menelan ludahnya kasar. Seketika ketakutan menyelimuti hatinya. "Sayang," ucap Jeje seraya meraih tangan Fira.


"Jangan sentuh aku," ucap Fira kesal. Bagiamana Fira tidak kesal, saat bibir dan hidung Fira terkena butter cream, dari cup cake yang hendak di makannya.


Di tambah lagi cup cake di dalam box yang berada di pangkuannya, juga ikut tumpah, merosot ke kakinya, dan mengenai dress panjangnya.


Fira yang mendapati kejadian itu pun langsung menangis. "Cup cake ku," ucapnya sudah berderai air mata.


"Sayang maaf, aku tidak sengaja, tadi ada kucing," jelas Jeje seraya menenangkan Fira.


Fira terus saja menangis. "Cup cake ku tumpah," ucapnya memandangi cup cake yang berada di kakinya.


Dalam keadaan seperti ini Jeje benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Apa lagi melihat istrinya menangis, tanpa menoleh padanya. Jeje langsung mengusap wajah Fira yang terkenal butter cream cup cake, yang tadi hendak di makan Fira dengan tisu. "Sayang, aku belikan lagi ya cup cake nya, sehabis itu kita pulang dan menganti baju mu ya," ucap Jeje.


Fira masih terus saja menangis, dan tidak menjawab ucapan Jeje.


Akhirnya Jeje kembali ke toko kue, dan membeli cup cake sesuai variant yang Fira beli tadi. Setelah mendapatkan cup cake nya, Jeje langsung kembali ke dalam mobil. "Sayang ini aku sudah membeli cup cake lagi, jangan menangis lagi," ucap Jeje, sesaat setelah masuk ke dalam mobil.


Fira menoleh melihat Jeje yang mengatakan, bahwa dirinya sudah membeli cup cake lagi. Fira meraih box berisi cup cake dari Jeje, merasakan kelegaan saat mendapatkan cup cake kembali.


"Jangan di makan di mobil lagi ya," ucap Jeje, saat melihat Fira meraih box berisi cup cake.


"Memangnya aku yang salah makan di mobil. Yang salahkan kamu, kenapa berhenti tiba-tiba," ucap Fira meluapkan kekesalannya.


"Maaf sayang tadi ada kucing lewat. Jadi aku berhenti tiba-tiba." Jeje mencoba menjelaskan kembali.


Fira tetap masih meraka kesal, membayangkan mukanya seperti badut dengan mulut dan hidung terkena butter cream yang kebetulan warnanya merah.


Jeje hanya bisa menghela nafas, melihat Fira masih begitu kesal. Akhirnya Jeje melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemen.


Sesampainya di apartemen Jeje langsung membantu Fira, untuk turun dari mobil. "Kamu duluan ya, aku bersihin sebentar mobilnya," ucap Jeje pada Fira.


Fira pun melangkah ke apartemen, setelah mendengar permintaan Jeje untuk lebih dulu ke apartemen. Sesampainya di dalam apartemen, Fira langsung membasuh mukanya, menghilangkan rasa lengket dari butter cream yang menempel.


Menganti dress nya, Fira melanjutkan memoles make up di wajahnya kembali. Saat sedang asik merias wajahnya kembali di depan cermin, Fira melihat Jeje masuk ke dalam kamar.


Melangkah masuk ke dalam kamar, Jeje menghampiri Fira. "Maaf." Jeje yang berdiri tepat di belakang Fira, sedikit menundukkan tubuhnya tepat di atas bahu Fira. Menatap Fira dari pantulan cermin, Jeje pun meminta maaf.


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja," ucap seraya Jeje mengecup pipi Fira.


"Apa kamu tadi tidak lihat aku sudah seperti badut tadi," ucap Fira, mengingat kejadian tadi.


Sebenarnya tadi Jeje ingin sekali tertawa, tapi melihat Fira mentap tajam padanya, Jeje langsung menghentikan tawanya. Dan saat melihat Fira menangis rasanya dirinya menjadi tidak tega. "Mana ada badut cantik seperti ini." Jeje mengarahkan matanya melihat Fira dari dalam cermin.


Pipi Fira langsung bersemu merah, mendengar rayuan Jeje.


"Lihatlah butter cream cup cake tadi masih ada," ucap Jeje.


Seketika Fira panik, dan mendekatkan wajahnya, melihat dengan jelas dari pantulan cermin. "Tidak ada," jawab Fira, saat tidak menemukan butter cream di wajahnya.


"Oh ya, lalu warna merah di pipimu ini apa?" tanya Jeje seraya menunjuk pipi Fira dengan telunjuknya.


Fira langsung tersenyum, melihat Jeje sedang mengodanya. Fira tahu, Jeje sedang menyindir roma merah di pipinya.


Jeje yang melihat senyum Fira dengan lesung pipinya, meras lega. Paling tidak istrinya sudah tidak marah lagi. "Ayo kita berangkat." Jeje pun mengajak Fira melanjutkan rencananya ke tempat Tania dan Daffa.


"Ada insiden sedikit tadi," ucap Jeje pada Atta, sesaat setelah mengingat apa yang membuatnya terlambat.


"Insiden apa?" tanya Atta.


"Insiden mendebarkan, menegangkan, menyeramkan," ucap Jeje, dengan penuh ekspresi


"Sejak kapan loe jadi aneh gitu?" Atta yang melihat Jeje menceritakan penuh ekspresi merasa heran.


Jeje hanya mengangkat bahunya, tidak tahu sejak kapan dirinya berubah. Rasanya hidup Jeje, memang berubah drastis sejak adanya Fira dalam hidupnya. Tapi perubahan itu adalah perubahan yang menyenangkan, bagi Jeje.


.


.


.


.


Jangan lupa like ya🥰


Mampir juga ke karya baru ku


My Baby CEO


Bakal banyak cerita seru juga di sana. Jangan lupa tinggalkan like juga di sana.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2