Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Pertunangan


__ADS_3

Setelah menerima tawaran mamanya untuk bertunangan dengan Ana, Jeje dan Ana bertunangan di hari ini. Jeje sudah meminta untuk tidak terlalu mengundang banyak orang, dan mamanya tidak keberatan dengan keinginan Jeje. Acara di adakan hanya di hadiri keluarga dekat, dan kerabat saja.


Bu Inan adalah orang yang pertama yang sangat bahagia. Usahanya untuk mengirim Fira ke luar negeri tidak sia-sia, karena sekarang Jeje menerima pertunangan yang di inginkan nya. Walaupun harus menunggu enam bulan, baginya tidak masalah.


Acara di mulai, dimana Jeje dan Ana saling bertukar cincin. Jeje memasangkan cincin di jari Ana, dan sebaliknya Ana memasangkan cincin di jari Jeje.


Ana sangat tampak bahagia saat bisa bertunangan dengan Jeje. Penantiannya atas Jeje, berakhri sekarang. Senyum bahagia terus mengembang di wajah Ana.


Tapi tidak dengan Jeje, Jeje yang memasang hanya memasang wajah datar. Tak ada senyuman dari wajahnya.


"Selamat ya sayang," ucap Bu Ani seraya menempelkan pipinya pada pipi Ana. Bu Inan begitu senang saat Ana sudah menjadi calon mantunya.


"Terimakasih, Tante," ucap Ana.


"Panggil 'mama' dong," ucap Bu Inan. Ana pun mengangguk mengiyakan permintaan Bu Inan.


Bu Inan beralih pada Jeje. Bu Inan tahu, anaknya memang tidak suka dengan pertunangan ini, tapi baginya tidak masalah. Dia yakin lambat laun Jeje akan menerima semuanya.


"Senyum je, jangan memasang wajah seperti itu," bisik Bu Inan saat mencium pipi Jeje saat mengucapakan selamat.


Setelah acara pertunangan Ana dan Jeje di laksanakan. Mereka berdua menyalami para tamu undangan.


Bu Inan langsung membawa Ana, untuk di kenalkan kepada teman-temannya. Sedangkan Jeje memilih berdiri sendiri sambil meminum minuman. Rasanya dia masih tidak percaya sudah bertunangan dengan Ana.


Saat sedang minum, dari kejauhan, Jeje melihat Daffa dan Atta menghampirinya.


"Selamat bro atas pertunangannya." Daffa memberi ucapan selamat, untuk Jeje yang melangsungkan pertunangan malam ini.


"Tega loe ninggalin gue tunangan duluan." Atta bukanya memberi selamat malah menyalahkan Jeje yang bertunangan.


"Makanya lo jangan main-main mulu," sindir Jeje datar.


"Bener it kata Jeje, serius jangan main-main terus, ta." Daffa menimpali sindiran juga.


"Sial, kalian mentang-mentang udah mau nikah semua." Atta kesal kepada sahabatnya yang terus mengodanya.

__ADS_1


Jeje yang mendengar ucapan Atta, teringat kalau Daffa juga akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini.


"Rencana pernikahan loe dah siap semua, fa?" tanya Jeje.


"Hampir selesai tinggal beberapa hal aja," jelas Daffa.


"Gue ikut bahagia loe dah bisa move on, je." Daffa menepuk bahu sahabatnya.


"Jujur gue belum bisa move on, loe tahu kan mama selalu memaksa pertunangan ini."


Paska insiden pemukulan yang di lakukan Adhi waktu itu, tidak membuat persahabatan Jeje dan Daffa renggang. Daffa masih tetap menjadi tempatnya mengeluh saat lelah mencari keberadaan Fira, Daffa juga tempatnya mengeluh perihal permintaan mama Jeje yang meminta pertunangan antara Jeje dan Ana.


"Gue tahu perasaan loe, tapi loe dah mengambil keputusan atas pertunangan ini, jadi jangan sampai loe menyesali keputusan loe sendiri." Daffa hanya bisa memberi dukungan pada sahabatnya.


Sebenarnya berat untuk Daffa berada di tengah-tengah antara Adhi dan Jeje. Mereka berdua sama-sama mencintai Fira, dan sama-sama mencari Fira tanpa henti.


"Gue harap gue nggak akan menyesal suatu saat nanti." Jeje hanya bisa berharap keputusannya tidak lah salah. Demi orang tuanya dia mengambil langkah ini.


Mereka bertiga melanjutkan mengobrol banyak hal. Sesekali Jeje dan Daffa mengoda Atta yang belum memiliki kekasih, karena Atta masih suka main-main dengan wanita.


Atta memang terkenal playboy di antara mereka bertiga, hubungan dengan wanita hanya untuk jalan-jalan, dan ke pesta saja. Setelah bosan dia akan mencari yang baru lagi.


Atta berjalan mengambil minum, matanya mengedarkan pandangan mencari wanita-wanita cantik yang bisa di ajakanya berkenalan.


Tapi saat Atta sibuk mengedarkan pandangan, dia tidak sengaja menyenggol seorang wanita. Atta melihat minuman yang di bawa wanita itu sedikit tumpah.


"Maaf Nona, saya tidak sengaja," ucap Atta saat melihat minuman tumpah di baju wanita itu.


"Lain kali harusnya Tuan bisa lebih berhati-hati, di keramaian seperti ini jangan berjalan lah dengan benar, jangan menatap ke arah lain," kesal wanita itu pada Atta.


"Pakai ini Nona untuk membersihkan," Atta menyodorkan sapu tangannya pada wanita itu.


"Terimakasih," wanita itu menerima, dan membersihkan tumpahan minuman di bajunya.


"Cantik" gumam Atta saat melihat wanita di depannya itu. Mata Atta terus saja memperhatikan wanita yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Apa kata Tuan?" Wanita itu sedikit kesal saat Atta bergumam, dan dia tidak mendengar apa yang di gumam kan pria di depannya.


"Tidak Nona," jawab Atta salah tingkah, saat ketahuan bergumam.


Atta menatap lekat wanita yang sedang membersihkan bajunya, dengan sapu tangan yang dia berikan.


"Ra, kamu kenapa?" tanya seseorang berjalan menghampiri wanita yang sedang membersihkan tumpahan air di bajunya.


"Bang Atta?" seru Adhi melihat Atta. Adhi yang berniat untuk menghampiri Zara, melihat Atta berada di tempat yang sama dengan Zara.


"Adhi," Atta kaget saat Adhi menghampiri dirinya, dan lebih kaget lagi saat Adhi ternyata mengenal wanita yang di tabraknya itu.


"Kamu kenal sama dia dhi," tanya Zara pada Adhi. " Dia baru aja menumpahkan minuman ke baju aku," adu Zara ke Adhi yang masih terlihat sangat kesal.


"Sekali lagi maaf Nona," Atta masih terus berusaha meminta maaf.


"Bang Atta nggak sengaja mungkin ra, maafin lah," mohon Adhi pada Zara.


Zara hanya memutar bola mata matanya, malas sekali sebenarnya dia memaafkan pria yang di kenal Adhi itu, "Yaudah aku maafin," ucapnya.


"Terimakasih," ucap Atta.


"Aku ketoilet dulu ya dhi, mau bersihin ini." Zara mentap Adhi, dan berlalu meninggalkan Atta dan Adhi.


Atta yang melihat Zara pergi, terus memperhatikan Zara, sampai Zara tidak nampak dari jangkauannya, "Dia teman kamu dhi?" tanya Atta mencari tahu.


"Ya Bang, teman kuliah aku namanya Zara," jelas Adhi.


"Namanya Zara," batin Atta


"Kalau dia temen kuliah kamu kok dia disini, emang dia kenal Jeje?" tanya Atta yang bingung mendapati teman kuliah Adhi datang ke pertunangan Jeje.


"Oh dia kerja di kantor Bang Jeje, makanya dia kesini"


Atta hanya mengangguk-angguk mengerti ucapan dari Atta.

__ADS_1


"Yaudah ya Bang aku mau temuin Bang Jeje dulu, aku belum mengucapkan selamat."


Adhi berlalu menemui Jeje untuk memberikan ucapan selamat atas pernikahannya.


__ADS_2