
Seminggu ini Jeje di sibukkan dengan perkerjaan yang begitu banyak. Jeje yang juga membantu Adhi, menjadikan perkerjaan berlipat ganda.
Saat sedang mengerjakan perkerjaannya, Jeje mendengar suara pintu ruanganya di ketuk. "Masuk!" seru Jeje.
Reza yang di persilahkan masuk oleh Jeje pun, membuka pintu. "Saya sudah menyeleksi beberapa orang yang melamar menjadi sekertaris anda dan hanya satu yang cocok, apa anda akan interview sendiri Pak?" tanya Reza saat sudah di ruangan Jeje.
"Oh iya aku akan interview sendiri, suruh dia masuk." pinta Jeje pad Reza.
"Baik Pak," ucap Reza. Reza pun berbalik melangkahkan kaki meninggalkan ruangan Jeje. Tapi langakhnya terhenti saat Jeje memanggilnya kembali. Dia pun berbalik kembali dan menghadap Jeje.
"Apa ysemua yang ku minta sudah kamu siapkan za?" tanya Jeje pada Reza, saat dia teringat akan permintaannya pada Reza, untuk menyiapkan persiapan berbulan madu.
"Sudah Pak, Pak Gajendra dan Nona Zhafira, bisa melaukan penerbangan untuk besok pagi, dan untuk hotel, juga sudah siap," jelas Reza.
"Baiklah, teramkasih za."
Reza pun keluar dan, setelah beberapa saat Reza memanggil calon sekertaris Jeje, untuk masuk ke dalam ruangan Jeje.
Reza dan Calon sekertaris Jeje masuk ke ruangan Jeje, setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk.
"Kamu," ucap Jeje terkejut saat melihat orang yang melamar menjadi sekertarisnya. Dia begitu kaget melihat wanita yang cukup dia kenal.
"Maaf Pak saya melamar kesini, saya benar-benar butuh perkerjaan," ucap wanita itu pada Jeje dengan penuh harapan.
Jeje menghela kasar, "Za, berikan dia posisi itu, aku tahu kwalitasnya tak perlu lanjutkan interviewnya." Jeje pun mengakhiri interview yang belum di mulai
"Kamu bisa berkerja setelah akhir pekan, keluarlah," ucapnya menatap pada calon sekertarisnya.
"Baik."
Calon sekertaris Jeje itu pun keluar bersama dengan Reza.
"Semoga aku tidak salah mengambil keputusan" batin Jeje.
**
Sore harinya seperi biasa Jeje menjemput Fira di kantor Adhi, setelah jam kerjanya selesai. Setelah Fira masuk ke dalam mobil, Jeje pun melajukan mobilnya menuju apartemen.
"Sayang besok pagi kita kan pergi ke salah satu pulau, untuk berbulan madu," ucap Jeje sesaat setelah Fira masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kenapa kamu baru mengatakan padaku hari ini, kalau besok pagi kita akan pergi," ucap Fira yang kesal saat baru mengetahui, kalau Jeje akan mengajaknya berbulan madu.
"Kejutan," ucap Jeje dengan semangat
Fira yang mendengar Jeje mengatakan kalau ini adalah kejutan merasa senang, tapi juga kesal, karena waktu untuk menyiapkan kepergian mereka terlalu sedikit, "Aku belum menyiapkan apa-apa," ucapnya bingung.
"Kita masih punya malam ini untuk menyiapkan."
Fira hanya bisa mengiyakan, untuk merapikan barang-barang yang akan di bawanya, malam ini. "Berapa hari kita akan disana?"
"Menurutmu?"Jeje menatap Fira sebentar, sebelum kembali ke fokus pada kemudinya.
"Perkerjaanku banyak, bisakah kita tidak lama disana?" Fira yang melihat kepindahan kantor baru, baru saja selesai, merasa berat harus berlama-lama berlibur.
Jeje benar-benar heran dengan Fira yang masih saja memikirkan perkerjaan dalam situasi ini. "Iya, kita tidak akan lama." Jeje tidak punya pilihan menuruti keinginan Fira.
"Apa yang akan kita lakukan disana?" tanya Fira antusias.
"Berbulan madu." jawab Jeje enteng.
"Aku tahu, maksudku disana apa yang akan kita lakukan apa. Apa kita akan berenang di laut, atau main di pantai?" tanya Fira dengan membayangkan keseruan yang akan di lakukan saat berlibur nanti.
Fira membulatkan matanya mendengar ucapan Jeje, "Apa??" pekik Fira.
"Kenapa hanya di hotel?" tanya Fira yang tak terima, liburan mereka hanya akan di isi dengan di hotel saja
"Kita akan berbulan madu, jadi kita akan menikmati waktu berdua." Jeje menjawab dengan enteng.
"Kalau cuma waktu berdua kenapa jauh-jauh mengajakku, di rumah juga bisa"
"Aku tidak mau pergi kalau begitu," kesal Fira, dan membuang muka ke arah luar kaca mobil.
Jeje yang mendenga ucapan Fira langsung mengerutkan dahinya. "Kenapa," tanya Jeje yang panik, karena tiba-tiba Fira tidak mau pergi bersamanya berbulan madu.
"Kalau cuma berduaan di hotel, untuk apa kita jauh-jauh ke sana," ucap Fira malas, dan masih melihat ke arah luar kaca mobil.
Jeje menghela nafasnya. "Lalu kamu maunya bagaimana?" Jeje berusaha untuk Fira tidak membatalkan untuk pergi berbulan madu.
Fira langsung berbinar saat Jeje menanyakan keinginananya, dia langsung memutar tubuhnya menatap wajah Jeje. "Aku ingin jalan-jalan, main di pantai, dan berenang di laut," ucap Fira semangat.
__ADS_1
Jeje mengerutkan keningnya. "Lalu waktu berduannya bagaimana?" tanya Jeje saat Fira tak menyebutkan waktu untuk berduaan dalam ucapannya.
"Ya di sela-sela itu," jawab Fira lirih
"Jadi itu hanya selingan begitu?" tanya Jeje menatap tajam pada Fira. Dia merasa tidak terima kalau jadwa berduaan hanya lebih sedikit. "Tidak bisa," tolaknya tegas.
"Kita gunakan waktu berduaan, sisa waktunya untuk jalan-jalan dan yang kamu inginkan tadi, tidak ada penolakan." Perintah Jeje tegas.
"Lebih baik aku iyakan saja dulu, nanti sampai sana aku bisa pikirkan lagi bagaiman mencari waktu untuk bersenang-senang."
"Baiklah." Setelah memikirkan ide. Fira mengiyakan permintaan Jeje.
**
Sesampainya di apartemen Fira merapikan barang-barang yang akan di bawanya untuk berbulan madu. Dia sibuk memasukan baju dan barang-barang ke dalam koper.
Jeje yang baru saja masuk ke dalam kamar di buat heran melihat Fira yang sedang duduk bersimpuh menyusun baju di koper. Jeje juga melihat Fira mengeluarkan baju-bajunya dari lemari, dan memindahkan ke dalam koper. "Tidak perlu bawa banyak-banyak," ucap Jeje, saat melihat Fira sibuk menata baju di koper.
Fira yang mendengar Jeje berbicara menengadah. "Kenapa??" tanya Fira heran.
"Karena kita akan lebih banyak di hotel dan kamu tidak perlu baju," ucap Jeje dengan nada mengoda.
Fira hanya bisa menelan ludahnya, rasanya membayangkan hanya berdua di dalam kamar hotel akan jadi apa nanti.
**
Setelah merapikan bajunya ke dalam koper Fira merangkak menyusul Jeje yang sudah di tempat tidur.
"Sudah selesai?" tanya Jeje yang melihat Fira menghampirinya.
"Sudah." Senyum mengembang di wajah Fira, karena begitu senangnya membayangkan akan berlibur.
"Apa kamu sudah membatalkan rencanamu, yang tidak akan lama berlibur?"
Fira mengerutkan dahinya, "Kenapa aku membatalkan?" tanyanya bingung.
"Melihat baju yang kamu bawa begitu banyak, bukannya menjelaskan, bahwa kamu ingin lama berbulan madu."
Fira baru mengerti apa yang di maksud oleh Jeje. "Sebaiknya kita cepat tidur, agar besok kita tidak terlambat," ucap Fira mengalihkan pembicaraan, dan seraya menarik selimut.
__ADS_1
Jeje yang melihat Fira mengalihkan pembicaraan hanya tersenyum.