
Jeje yang baru saja makan malam dengan Tuan Edward, Nyonya Ayu, Adhi, dan Zara kembali ke hotelnya.
Dirinya yang tadi melupakan ponsel saat ke rumah Tuan Edward, langsung mencari ponselnya. Ternyata Jeje meninggalkan ponselnya di atas nakas.
Jeje meraih ponselnya di atas nakas, dan langsung mengusap layar ponselnya. Matanya membulat sempurna, saat melihat ternyata Fira menghubunginya berkali-kali.
Jeje yang tadi juga menghubungi Fira berkali-kali, sebenarnya khawatir, karena Fira tidak mengangkat ponselnya. Tapi bukan niatnya untuk membalas. Karena kenyataanya, dirinya lupa membawa ponselnya sewaktu ke rumah Tuan Edward.
Jam sudah menunjukan pukul delapan dan di pastikan mungkin di tempat Fira sudah menjelang pagi. Tapi Jeje berpikir mungkin tidak ada salahnya, dirinya menghubungi Fira.
Cukup lama sambungan telepon tidak tersambung. Sampai saat terdengar sambungan telepon terhubung. "Halo, sayang, tadi aku makan malam di rumah Tuan Edward. Dan ponselku tertinggal, jadi aku tidak tahu jika kamu menghubungi aku." Jeje langsung berbica tanpa jeda dari sambungan telepon terhubung.
Tapi tidak ada balasan dari Fira sama sekali. Jeje menjauhkan sedikit ponselnya, untuk mengecek apa sambungan telepon masih terhubung. Dan ternyata sambungan telepon masih terhubung.
"Sayang," panggil Jeje untuk memastikan kehadiran Fira dari balik sambungan telepon.
"Fira sudah tidur." Suara pria terdengar dari sambungan telepon.
Jeje membulatkan matanya, saat mendengar seorang pria yang berbicara. Jeje menjauhkan kembali ponselnya, untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah menghubungi orang. Dan Jeje menemukan, bahwa dirinya benar bahwa menghubungi Fira.
"Siapa kamu?" Hati Jeje sudah bergemuruh saat ada seorang pria yang mengangkat sambungan telepon milik Fira.
"Aku kakaknya."
"Apa kamu kira aku bodoh." Suara Jeje sudah mulai meninggi. "Aku tahu, istriku anak tunggal, bagaimana bisa dirinya memiliki kakak." Jeje yang tahu persis kehidupan Fira merasa tidak percaya dengan ucapan pria dari sambungan telepon.
"Sepertinya dirimu belum mengenal baik segalanya tentang Fira." Suara penuh sindiran terdengar dari sambungan telepon.
Emosi Jeje mulai naik. Jeje mulai meradang, saat seseorang yang tidak di kenalnya mengangkat sambungan telepon milik Fira. "Jangan omong kosong, mana Fira?" teriak Jeje.
"Bisakah kamu tidak berteriak, rasanya gendang telingaku hampir mau pecah," grutunya. "Aku sudah bilang bukan, kalau dia tidur."
"Kamu..."
"Sudah besok saja kamu menghubungi Fira. Aku sudah mengantuk."
Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Jeje yang melihat sambungan terputus pun, merasakan geramnya. Perasaan Jeje tidak keruan. Dirinya membayangkan sedang apa Fira dengan seorang pria.
Jeje mengeleng kepalanya, menghilangkan pikiran buruknya. Dirinya yakin, Fira tidak akan melakukan di luar batasan. Tapi mengingat suara pria yang tadi mengangkat sambungan telepon Jeje meragukan.
Jeje masih terus saja menghubungi Fira kembali. Tapi tidak ada sama sekali sambungan teleponnya di angkat.
Lelah berkali-kali menghubungi Fira, akhirnya Jeje memutuskan untuk meletakkan ponselnya di atas nakas.
Jeje merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, berusaha untuk tidur. Tapi semakin dirinya berusaha, rasanya sulit dirinya memejamkan mata. Pikirannya masih melayang dengan apa yang sedang di lakukan oleh Fira dan pria yang menganggkat sambungan telepon.
**
Raka meletakkan ponsel Fira di atas nakas. Senyum tertarik di ujung bibir Raka. "Kami masih sama seperti dulu, Je."
Melihat Fira yang tertidur pulas, dan telepon yang terus berdering, akhirnya Raka menekan mode silent, agar tidak menganggu Fira tidur. Dirinya tahu, bahwa ibu hamil harus banyak istirahat, dan dirinya tidak mau Fira kurang istirahat.
Raka mengingat bagaiamana tadi dirinya menganggkat sambungan telepon dari Jeje.
Raka yang tadi baru saja pulang menemui Daniel, mendengar suara ponsel Fira yang berdering saat melewati kamar Fira. Awalnya Raka ingin mengabaikannya, tapi bunyi dering ponsel terdengar tidak berhenti.
Meraih handle pintu, Raka menemukan bahwa Fira tidak mengunci pintu kamarnya. Mendorong pintu kamar Fira, Raka melihat Fira yang tertidur pulas.
Raka merasa, dering ponsel Fira pasti akan sangat menganggu Fira tidur. Melangkah menuju tempat tidur Fira. Raka meraih ponsel Fira yang tergeletak di atas nakas.
Raka menarik sudut bibirnya saat melihat Jeje lah yang menghubungi Fira. Karena nama 'my husband ' tertera di layar ponsel Fira.
Melihat ponsel tidak berhenti berdering, akhirnya Raka mengangkat sambungan telepon. Dan saat Raka mengangkat sambungan telepon, Jeje tanpa jeda langsung berbicara.
Raka hanya mengeleng kepala, saat suara Jeje nampak menjelaskan kenapa Jeje tidak menghubungi Fira. Karena tidak mau berlama-lama akhirnya Raka memberitahu Jeje, bahwa Fira sudah tidur.
Tapi bukanya mengakhiri sambungan telepon, Jeje malah menanyakan siapa dirinya. Dan akhirnya perdebatan mereka terjadi.
Raka sangat malas, mendengar ocehan Jeje, akhirnya mengakhiri sambungan teleponnya.
"Apa kamu tahu, Fir. Suamimu itu sangat menyebalkan." Raka melihat ke arah Fira yang tertidur pulas. Berharap Fira mendengar ucapannya. Tapi nyatanya, tidur Fira yang pulas tidak memungkinkannya mendengar ucapan Raka.
Setelah meletakkan ponsel milik Fira. Raka langsung keluar dari kamar Fira. Dirinya yang lelah, karena Daniel mengajaknya ke bar sebentar, merasakan kantuk luar biasa sekarang.
__ADS_1
Melangkahkan kaki keluar kamar Fira. Raka menuju ke kamarnya, untuk mengistirahatkan tubuhnya.
**
Mata Fira mengerjap saat tiba- tiba perutnya bergejolak. Fira tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Menyibak selimutnya Fira menuju ke kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya.
Saat Fira sedang memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel, tangan kokoh memijat tengkuknya, berharap itu dapat meringankan Fira.
Fira yang merasa tangan seseorang memegang tengkuknya, menoleh. Dan mendapati Raka lah yang sedang berusaha untuk membantunya. Senyum kecil di berikan Fira pada Raka, sebelum akhirnya dirinya kembali muntah.
Raka yang keluar dari kamar, dan bersiap untuk olahraga sebentar, mendengar suara Fira yang muntah. Pintu kamar yang tidak tertutup sempurna, karena mungkin semalam dirinya tidak menutupnya sempurna, membuat suara muntah Fira terdengar keluar.
Masuk ke dalam kamar Fira, Raka menuju kamar mandi, dan mencoba memijat tengkuk Fira, berharap bisa meredakan apa yang sedang Fira rasakan.
"Terimakasih, Kak," ucap Fira pada Raka. Fira menegakkan tubuhnya, dan melangkah kembali ke kamar di bantu oleh Raka.
Raka membantu Fira untuk duduk di atas tempat tidur. "Aku akan ambilkan air minum." Raka keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Saat sampai di dapur Raka melihat sudah ada Bu Ani.
"Ini ibu sedang buatkan jahe hangat untuk Fira," ucap Bu Ani. Bu Ani yang mendengar Fira muntah, sudah hampir melangkah menghampiri, tapi di dari kejauhan dia melihat Raka sudah masuk ke dalam kamar. Jadi Bu Ani memutuskan untuk ke dapur membuatkan jahe hangat.
"Raka bawa, Bu." Raka meraih cangkir berisi jahe hangat, dan melangkah bersama Bu Ani menuju ke kamar Fira.
Sesampainya di kamar Fira, Bu Ani duduk di tepian tempat tidur, sedangkan Raka berdiri di samping tempat tidur.
"Ini, minum dulu." Sesampainya Raka di kamar, dia menyerahkan cangkir berisi jahe hangat pada Fira.
Fira menerima cangkir berisi jahe hangat dan meminumnya. Menyesap perlahan, Fira merasakan hangat di perutnya. Dan perlahan rasa mualnya mereda.
"Nanti juga akan hilang kalau sudah masuk trimester kedua," ucap Bu Ani seraya membelai punggung Fira menenangkan Fira. Bagi Bu Ani yang sudah pernah hamil, tentulah tahu, bahwa yang terjadi pada Fira adalah hal biasa.
"Iya, Bu."
"Ya sudah, Ibu akan siapkan sarapan." Bu Ani berdiri, dan berlalu meninggalkan Fira dan Raka.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Raka dengan wajah khawatir.
"Sudah, Kak." Fira meletakkan cangkir berisi jahe hangat yang sudah tersisa separuh.
Raka duduk di tepi tempat tidur. "Tidak terasa kamu sudah akan jadi ibu." Terasa berat saat Raka mengatakan hal itu. Tapi dirinya berusaha untuk iklas menerima semuanya. Baginya kebahagiaan Fira adalah kebahagiaannya juga. Walaupun Raka tahu dengan siapa Fira menikah.
"Emm... belum ada yang cocok," ucapnya tersenyum pada Fira.
"Memang seperti apa calon istri yang kakak mau?"
"Seperti kamu." Raka menatap Fira lekat. Mungkin kalau Raka bisa memilih, mungkin Fira saja yang menjadi istrinya.
Wajah Fira langsung berubah, saat Raka mengatakan bahwa dia menginginkan wanita seperti dirinya. Dan Fira merasa tatapan yang Raka berikan padanya, terasa berbeda.
"Sudah istirahatlah," ucap Raka membelai rambut Fira. Raka menyadari perubahan raut wajah Fira saat dirinya mengatakan hal tadi.
Raka berdiri dan melangkah keluar dari kamar Fira. Tapi langkahnya terhenti, saat dia mengingat sesuatu. Raka membalikkan tubuhnya. "Semalam telepon milikmu berdering, karena tidak berhenti berdering aku mengangkat teleponnya," ucap Raka.
Fira mengerutkan dalam keningnya. "Oh ya? apa sepulas itu tidur? hingga tidak mendengar suara telepon berdering," tanya Fira seraya tertawa kecil. "Siapa yang telepon malam-malam?" tanya Fira yang penasaran.
"Suamimu," ucap Raka seraya berlalu meninggalkan kamar Fira.
Fira membeku, saat mendengar bahwa Jeje lah yang menghubunginya. Fira mengingat kalau semalam dirinya menghubungi Jeje, dan pasti Jeje menghubungi balik dirinya karena panggilan tak terjawab darinya pasti banyak sekali.
Meraih ponselnya di nakas, Fira langsung menyusap nomer Jeje. Dan beberapa saat sambungan telepon terhubung. "Sayang," sapa Fira pada Jeje, saat sambungan telepon terhubung.
"Sayang, kamu dimana?" Hal pertama yang di ucapkan Jeje, saat mendengar suara Fira.
Fira heran kenapa Jeje bertanya dimana dirinya, padahal dari awal Jeje pergi, dirinya sudah mengatakan bahwa dia tinggal di rumah ibunya. "Di rumah ibu."
"Jangan bohong." Suara Jeje sedikit meninggi, mendengar jawaban Fira.
"Bohong?" batin Fira bingung. "Aku tidak berbohong," bela Fira saat Jeje menuduhnya berbohong.
"Tidur dengan siapa kamu semalam?" Suara Jeje masih belum sama sekali merendah.
"Kamu sebenarnya bicara apa? aku benar-benar tidak tahu." Fira semakin heran dengan ucapan Jeje.
"Jawab saja pertanyaanku."
__ADS_1
Fira sudah sangat kesal, dengan nada suara Jeje yang meninggi. Fira tidak habis pikir kenapa Jeje tidak bisa bicara pelan dengannya. "Aku tidur sendiri, memangnya dengan siapa harus aku tidur?"
"Jelas-jelas semalam ada pria di kamarmu, dan kamu bilang jika kamu tidur sendiri?" Jeje mengingat dengan benar, jika semalam yang mengangkat sambungan telepon adalah seorang pria.
Fira mencerna baik-baik ucapan Jeje, seraya mengingat jika Raka lah yang memberitahu dirinya tadi. Pikir Fira mungkin yang di maksud Jeje adalah Raka. "Kak Raka maksud kamu?" tanya Fira memastikan.
"Jadi benar ada pria semalam denganmu." Entah kenapa mendengar nama pria di sebut oleh Fira, membuat darah Jeje semakin mendidih.
"Iya, tapi dia hanya mengangkat sambungan teleponmu, karena sambungan teleponmu berdering terus."
"Memangnya kamu kemana? hingga tidak menganggkat telepon dari aku." Jeje bertanya dengan nada ketus.
"Apa kamu lupa kalau semalam kamu telepon sudah dini hari, jelas saja aku sudah tidur."
"Alasan!" Suara Jeje penuh dengan sindiran.
Fira membulatkan matanya mendengarkan tuduhan Jeje. "Apa maksud kamu mengatakan aku beralasan?"
"Iya, apa lagi jika tidak beralasan. Tidur dengan seorang pria. Dan pria itu mengangkat telepon dariku."
Rasanya Fira bak di sambar petir, saat Jeje menuduh dirinya tidur dengan pria lain. "Jaga ucapanmu, atas dasar apa dirimu menuduhku seperti itu?"
"Apa lagi jika bukan karena ada pria di kamarmu."
"Kenapa kamu tidak meminta penjelasan dulu sebelum menuduhku seperti ini?" Air mata Fira sudah mulai mengalir. Sakit mungkin yang di rasa oleh Fira, saat Jeje bukannya meminta penjelasan tapi malah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Memangnya apa yang akan kamu jelaskan, tentang keberadaan pria itu." Suara Jeje sudah sangat malas menanggapi apa yang di ucapkan Fira.
"Dia kak.."
"Kakak," potong Jeje. "Apa kamu pikir aku bodoh, aku tahu kamu anak tunggal, dan tidak mempunyai saudara," lanjut Jeje penuh dengan nada sindiran.
Fira semakin geram mendengar Jeje memotong ucapannya saat dirinya ingin menjelaskan. "Terserah padamu, jika menurutmu itulah yang kamu pikirkan." Fira langsung mematikan sambungan telepon. Dia merasa sangat terluka, mendengar suaminya sendiri menuduhnya. Terlebih lagi suaminya tidak mau mendengarkannya sama sekali.
**
Jeje yang melihat Fira mematikan sambungan teleponnya, mencoba menghubunginya. Rasa kesalnya belumlah hilang. Sebenarnya Jeje sudah berusah untuk mendengar penjelas Fira, tapi rasa cemburunya membakarnya begitu saja.
Bagaimana dirinya tidak berpikir Fira berada satu kamar dengan pria lain, jika dia sendiri mendapati semalam pria asing yang mengangkat sambungan teleponnya. Semalaman dirinya menunggu telepon dari Fira, hingga membuatnya tidak bisa tidur. Dan saat mendengar ponselnya berdering, Jeje merasa ingin sekali meluapkan kekesalannya.
Jeje memijat keningnya. merasakan kepalanya berdenyut. Jeje melihat jam di ponselnya, dan jam masih menunjukan dini hari. Mengambil air putih yang terdapat di nakas, Jeje mencoba meredakan amarahnya.
Tapi amarahnya semakin memuncak, saat Fira tidak mengangkat sama sekali sambungan teleponnya. Melempar ponselnya di atas tempat tidur Jeje meluapkan kekesalannya.
**
Fira yang masih terus menangis, mencoba menghentikan air matanya. Dia tidak mau ibunya tahu, masalah rumah tangganya. Apa lagi hanya masalah salah paham.
"Fir, sarapan dulu," ucap Raka membuka pintu kamar Fira sedikit.
"Oh, iya Kak."
Dari kejauhan, Raka melihat wajah Fira yang memerah, dan sedikit basah. Dan Raka menebak, jika Fira baru saja menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Raka seraya melangkah mendekati Fira.
Mendapatkan pertanyaan dari Raka, rasanya Fira tidak mau memperkeruh keadaan dengan menceritakan masalahnya. Pikirnya ini adalah masalahnya, dan tidak perlu orang lain tahu. Apa lagi, yang jadi permasalahan adalah adanya Raka. Fira tidak mau membuat Raka merasa tidak enak padanya nantinya.
"Aku hanya bosan saja di rumah."
Raka tersenyum. "Astaga, ibu hamil memang sensitif ya," goda Raka.
Fira hanya tersenyum menanggapi godaan Raka. Agar tidak membuat Raka curiga dengan apa yang sedang terjadi padanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa likeš„°