
Semalaman Jeje memeluk Fira erat seakan tak mau melepaskan Fira sedetik pun. Fira yang di peluk sebenarnya sedikit risih, ini pertama kalinya dia di peluk oleh seseorang saat tidur. Semalaman beberapa kali Fira mencoba melepas pelukan Jeje, tapi beberapa kali juga Jeje menariknya ke dalam pelukannya kembali. Akhirnya Fira menyerah, dan menerima pelukan hangat dari Jeje.
Fira pelahan membuka matanya. Karena pelukan Jeje begitu erat membuat kepala Fira menempel di dada Jeje. Fira mencoba kembali melepas pelukannya, tapi Jeje malah mengeratkan pelukannya kembali.
Fira yang bosan menunggu Jeje melepaskannya, akhirnya memilih bermain-main di dada Jeje. Dia membuat pola-pola abstrak dengan satu tangannya. Fira menulis namanya, siluet love dan di ikuti nama Jeje di dada Jeje, dan Fira tersenyum membayangkan tulisannya sendiri, di dada Jeje.
Jeje yang merasakan ada sentuhan di dadanya membuka matanya perlahan, "Apa kamu sedang mengodaku?" tanya Jeje dengan suara khas bangun tidur.
"Tidak" elak fira, "Aku hanya bosan saja, kamu tidak melepaskanku semalaman," Fira mencebikan bibirnya mengingat akan pelukan Jeje
Cup
Jeje yang gemas melihat Fira mencebikakan bibirnya, dan langsung mengecup bibir Fira.
Fira yang mendapat ciuman membulatkan matanya. "Kenapa menciumku?" tanyanya kesal
"Itu bukan ciuman tapi kecupan," jawab Jeje enteng.
"Sama saja," jawab Fira sinis.
"Kalau ciuman itu seperti ini," Jeje berkata seraya mencium Fira dengan lembut, memberi gigitan kecil pada bibir Fira agar membuka mulutnya, Jeje mengakses setiap rongga mulut Fira dengan lembut.
Fira yang mendapati ciuman dari Jeje pun, perlahan membalasnya.
Jeje yang bergelora beralih ke leher Fira, memberi kecupan-kecupan yang akan meninggalkan bekas disana setelahnya nanti. Fira yang mendapat perlakuan seperti itu merasakan sesuatu di hatinya, entah rasa apa ini dia tidak pernah merasakannya.
Perlahan Jeje membuka kancing piyama Fira , disana Jeje menemukan dua benda kenyal milik Fira. Fira yang mendapati Jeje melihat seketika merona manahan malu. Untuk pertama kalinya ada orang yang melihatnya seperti ini, Jeje memberikan sentuhan-sentuhan lembut dengan bibirnya.
Fira yang mendapatkan sentuhan meloloskan sedikit erangan kecil. Jeje yang mendengarkan suara Fira menjadi lebih bergejolak, tapi seketika Jeje menghentikan kegiatannya ketika dia ingat wanita yang menjadi istrinya ini, sedang datang bulan dan bila Jeje melanjutkan aksinya akan buruk untuknya sendiri.
"Maaf sayang aku lupa," ucap Jeje seraya menutup kembali piyama Fira.
Fira yang mendapati maaf mengerti maksud dari Jeje, Fira hanya mengangguk dan membenamkan wajah malunya di dada Jeje, dan Jeje hanya memeluknya.
Jeje memeluk Fira dan membelai rambut fira
"Kapan selesai?" tanya Jeje.
__ADS_1
"Apanya?" tanya Fira tidak mengerti yang di tanyakan Jeje.
"Itu." Jeje seraya melirik ke arah bawah.
Fira yang mengerti hanya tersenyum sinis
"Datang bulan maksudnya?"
"Ya itu maksud aku" ucap Jeje tidak mau mengatakannya.
"7 hari"
"Hah!!" pekik Jeje seraya melepaskan pelukannya. "Apa selama aku harus menunggu?" tanya Jeje, dan Fira hanya tersenyum menampilkan lesung pipinya.
Jeje menghela nafasnya membayangkan selama 7 hari kedepan bagaimana dia akan menahannya nanti.
Fira beranjak meninggalkan Jeje yang masih gusar memikirkan 7 hari ke depan untuk ke kamar mandi, "Mau kemana?" tanya Jeje melihat Fira beranjak dari tempat tidur.
"Aku mau kamar mandi, rasanya sudah tidak enak, aku harus ganti pembalut" ucap Fira seraya berjalan ke kamar mandi.
Jeje hanya bergidik dan mengiyakan
**
Setelah menyelesaikan membersihkan diri ke kamar mandi, Fira melangkahkan kaki keluar menuju dapur. Saat di dapur Fira melihat ibunya yang sedang sibuk memasakan.
"Pagi bu," sapa Fira.
"Pengantin baru kenapa sudah bangun jam segini," goda Bu Ani yang melihat Fira sudah keluar dari kamar.
Pipi Fira seketika merona mendapat godaan dari ibunya, "Memangnya apa yang akan aku lakukan jika bangun siang."
Fira pun langsung membantu ibunya, menyiapkan sarapan di meja makan.
"Apa kamu senang sekarang sudah menikah dengan orang yang kamu cintai?" Bu Ani yang sibuk menyiapakan sarapan pun bertanya pada putrinya.
"Iya Bu, Fira merasa senang, dan tidak menyangka bisa menikah dengan Jeje," senyum manis terukir di wajah Fira.
__ADS_1
"Ibu turut senang kamu bisa bahagia."
"Kenapa ibu tidak mengatakan kalau Mama Inan datang ke rumah Nyonya Ayu?" tanya Fira saat mengingat cerita Jeje bahwa Mama Inan datang untuk meminta maaf.
"Iya, maaf kan ibu tidak memberitahu padamu, lagian ibu fikir Jeje sudah memberitahumu."
"Dia tidak memberitahuku, malah dia membuat drama untukku"
Fira ingat betul, bagaiamana dirinya di buat percaya janjo kebahagiaan, dan berpura-pura bersama Jeje dalam seminggu. Ternyata dia sengaja untuk mendekati dirinya. Fira hanya tertawa membayangkan kebodohannya.
"Ya sudah, bagiamana pun caranya, yang penting kalian sudah menikah."
Mendengar ucapan ibunya, Fira hanya mengangguk, membenarkan.
"Sudah sana panggil Jeje untuk sarapan."
Fira yang mendapat perintah untuk memanggil Jeje pun, melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Saat Fira membuka pintu kamarnya, dia tidak mendapati Jeje di kamar.
"Apa dis sedang mandi," gumam Fira seraya berjalan ke arah kamar mandi. Fira pun menempelakan telinganya pada pintu, untuk mendengar suara dari dalam. Karena dari kejauhan tadi Fira tidak mendengar gemricik air sama sekali.
Tapi saat Fira menempelkan telinganya, pintu kamar mandi terbuka, dan membuat Fira terjatuk ke dalam kamar mandi. Beruntungnya tubuh Fira di tangkap oleh tangan kekar Jeje.
"Apa yang kamu lakukan di depan kamar mandi?"tanya Jeje menatap Fira yang berada di tangan Jeje.
Fira menatap Jeje yang tepat berada di atasnya, karena tubuh Fira tersanga dengan tangan Jeje, "Aku mencarimu, tapi tadi di kamar mandi, aku tidak mendengar suara air, makanya aku mendekat."
"Apa kamu merindukanku?" tanyanya seraya mendekat pada Fira. Rambut Jeje yang basah menetes tepat di wajah Fira.
"Tidak.." jawab Fira gugup.
"Lalu?" Jeje mendekat wajahnya lebih dekat.
"Ibu menunggu kita untuk sarapan," ucap Fira seraya mendorong tubuh Jeje dan membenarkan posisinya.
Jeje yang melihat Fira gugup hanya tersenyum, walau pun dirinya sudah bukan sekali saja menciumnya, tapi Fira tetap saja malu saat menatap wajah Jeje.
"Aku akan keluar sebentar lagi."
__ADS_1
Fira pun memilih keluar lebih dulu, dan membiarkan Jeje untuk bersiap. Setelah selesai bersiap Jeje melangkah keluar menuju meja makan. Jeje pun menyapa Bu Ani, dan duduk di samping Fira sesampainya di meja makan.
Saat makan Jeje memberitahu bahwa sore ini, mereka akan kembali ke apartemen, dan tinggal disana sampai mereka mendapatkan rumah. Bu Ani pun mengiyakan permintaan mereka untuk pulang hari ini.