
"Apa perlu aku temani dhi, untuk ke kantor Pak Gejendra?" Zara yang sedang makan siang bersama Adhi, bertanya pada Adhi.
Adhi pun menatap Zara, dan tersenyum. "Nggak perlu ra, lagi pula nanti setelah selesai meeting dengan Bang Jeje, aku sekalian pulang. Kalau kamu temani, nanti kamu repot harus meninggalkan motor kamu di kantor."
Zara berpikir apa ya di katakan Adhi ada benarnya, kalau dia ikut lalu besok dia berangkat kerja naik apa, kalau motornya di kantor. "Baiklah."
"Oh ya dhi, sepertinya akhir pekan ini, aku nggak bisa jalan sama kamu." Zara yang tiba-tiba mengingat permintaan Adhi untuk jalan berdua, akhirnya memilih menolak.
"Memangnya mau kemana kamu?"
Zara yang tidak menyangka Adhi akan menanyakan, dia akan kemana, menjadi bingung. "Kenapa aku nggak pikir sekalian alasan aku menolak." Zara merutuki kebodohannya tidak memikirkan sekalian alasannya pada Adhi.
"Aku ada acara keluarga dhi," ucap Zara saat terlintas alasan itu di pikirannya.
"Ya sudah, kita cari waktu lain saja."
Setelah mereka selesai makan siang, mereka berdua kembali ke ruang kerjanya.
Adhi yang memiliki jadwal meeting dengan Jeje pun, kembali ke ruangannya mengambil beberapa berkas. Setelah semua berkas siap, dia langsung menuju kantor Jeje.
Sesampainya di kantor Jeje, Adhi langsung menuju ruangan Jeje.
"Hai kak Val," sapa Adhi yang melihat Valeria sedang mengerjakan perkerjaannya di meja kerjanya.
Valeria yang mendengar suara sapaan menengadah, "Hai dhi, kamu sudah datang?" Valeria memang sudah tahu, kalau hari ini Adhi ke kantor untuk meeting.
"Iya, apa Pak Gejendra ada?"
"Pak Gajendra sedang tidak ada di kantor, jadi meeting hari ini akan di gantikan oleh Pak Reza," jelas Valeria. Adhi yang mendengar penjelasan Valeria pun mengangguk mengerti.
"Ayo aku antar ke ruangannya." Valeria pun melangkahkan kakinya menuju ruangan Reza. Setelah mengetuk pintu ruangan Reza, Valeria mempersilahkan Adhi untuk masuk.
"Siang Pak Reza," sapa Adhi mengulurkan tangan.
"Siang juga Pak Adhi," Reza menerima uluran tangan seraya membalas sapaan Adhi. Reza pun langsung mempersilahkan Adhi untuk duduk.
"Sebelumnya saya minta maaf karena Pak Gajendra tidak bisa hadir, jadi saya mewakili Pak Gejendra untuk meeting hari ini." Jeje yang mengabari baru saja, kalau dia tidak bisa datang ke kantoran. Dan membuat Reza mengambil alih meeting siang ini dengan Adhi.
"Apa Pak Gejendra juga cuti?" tanya Adhi yang mengingat bahwa Fira memperpanjang masa cutinya.
"Sebenarnya tadi pagi dia mengabari tidak bisa datang karena mau ke rumah sakit, tapi saat siang Pak Gajendra mengabari tidak datang hari ini, dan beberapa hari ke depan."
Adhi mengangguk mengerti penjelasan Reza. Saat Reza menjelaskan bahwa Jeje ke rumah sakit, Adhi sudah bisa menebak untuk apa Jeje dan Fira ke rumah sakit.
Akhirnya mereka melanjutkan meeting pembahasan kerja sama baru yang akan di kerjakan Adhi dengan perusahaan asing.
__ADS_1
**
Tepat di jam kerja selesai, meeting antara Adhi dan Reza juga selesai. Setelah berpamitan Adhi langsung keluar dari ruangan Reza menuju parkiran.
Saat dia masuk ke dalam lift, dia bertemu dengan Nayla dan beberapa karyawan lain.
"Kamu disini dhi?" tanya Nayla saat melihat Adhi ada di kantor.
"Iya, tadi aku ada meeting."
"Zara mana, kenapa kamu sendiri?" Nayla yang melihat Adhi sendiri pun tergerak untuk bertanya.
"Zara sedang di kantor, mengerjakan beberapa perkerjaan."
Saat lift terbuka, semua karyawan termasuk Adhi keluar dari lift. Adhi melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Tapi belum sempat dia melangkah jauh, langkahnya terhenti saat Nayla memanggil.
"Ada apa nay?" tanya Adhi sesaat setelah berhenti.
"Bisa kita bicara sebentar?" Nayla yang ragu-ragu, akhirnya memberanikan diri.
"Bicaralah."
"Em..maksud aku, bukan di sini."
Adhi yang mengerti kalau ini di kantor, tahu maksud Nayla. "Kebetulan aku mau ke restoran Bang Daffa, kita bisa kesana," ucap Adhi memberi ide tempat, untuk Nayla berbicara dengannya.
"Baiklah."
Akhirnya mereka berdua menuju restoran Daffa, dengan mengunakan mobil masing-masing.
Setelah sampai di restoran, Adhi dan Nayla masuk ke dalam restoran.
Saat mereka masuk, Nayla melihat seseorang disana. "Ada Zara juga, dhi disini," ucap Nayla seraya menunjuk ke sudut restoran pada Adhi.
Adhi yang mendengar Nayla mengatakan ada Zara di restoran, langsung melihat ke arah Nayla tunjuk. Dari kejauhan Adhi melihat Zara sedang duduk berdua dengan Atta. Seketika dadanya bergemuruh, dia merasa sangat kesal melihat pemandangan itu.
Nayla yang melihat raut wajah Adhi berubah, tahu apa alasannya. "Zara sama siapa, bukannya itu teman yang sering mengobrol dengan Zara ya?"
Adhi yang mendengar ucapan Nayla, langsung menatap Nayla, dan mengacuhkan pertanyaan Nayla.
"Ayo kita bergabung." Adhi pun mengajak Nayla menghampiri Zara, tanpa menanyakan dahulu apakah Nayla mau atau tidak.
"Aku kan kesini mau bicara berdua, kenapa harus gabung sama mereka." Kesal Nayla tapi tetap melangkahkan kakinya menghampiri Zara.
"Hai Bang Atta, hai ra," sapa Adhi sesaat setelah menghampiri meja Zara.
__ADS_1
Zara yang mendengar ada yang menyapa langsung menengadah, "Adhi," Zara begitu kaget ternyata Adhi lah yang menyapanya. Tapi lebih kaget lagi, saat melihat ada Nayla di belakang Adhi.
"Hai dhi," sapa Atta.
"Boleh gabung?"
"Boleh, silakan."
Setelah Atta mempersilahkan Adhi. Dia pun menarik kursi dan ikut duduk. Sedangkan Nayla yang melihat Adhi duduk, mau tidak mau ikut duduk juga.
"Kamu sudah selesai meetingnya dhi?" tanya Zara.
"Sudah." Adhi menatap Zara, sebenarnya di merasa kesal, karena melihat Zara dengan Atta. Tapi saat Zara bertanya rasanya tidak bisa dia tidak menjawab. "Kalian janjian makan disini?" tanya Adhi yang sudah tidak tahan menahan rasa ingin tahunya.
"Nggak." jawab Zara. "Tadi aku bertemu dengan Bang Atta, karena motor aku mogok," jelas Zara.
"Jadi mereka nggak sengaja ketemu." Rasanya Adhi lega, mendengar Zara dan Atta tidak sengaja bertemu.
"Kenapa kamu nggak kabarin aku?"
"Sebegitu perdulinya pada Zara," batin Nayla.
"Tadi aku sibuk dorong motor dhi, nggak terpikir untuk menghubungi siapa-siapa," jawab Zara sedikit kesal. "Yang ada orang yang aku hubungi pertama, ya tukang bengkel, kenapa harus dia." batin Zara aneh dengan pertanyaan Adhi.
"Terus kenapa kalian disini? bukan di bengkel?" tanya Adhi seolah tidak terima melihat Zara dan Atta berduaan.
"Aku capek dorong-dorong motor, terus Bang Atta tawarin untuk minum disini," Zara melirik kesal pada Adhi.
"Lagian motor udah gue urus dhi, tadi gue dah nyuruh orang buat bawa ke bengkel," timpal Atta, yang mendengar pertanyaan Adhi untuk Zara.
Adhi pun hanga mengangguk mengerti penjelasan dari Atta dan Zara.
Mereka berempat pun memesan makanan dan menikmati makan bersama.
.
.
.
.
.
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
__ADS_1
Mampir juga ke karya lain ku dan instagram aku Myafa16