Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Promo gratis


__ADS_3

Setelah dari rumah sakit untuk menjenguk ayah Zara. Jeje dan Fira melanjutkan perjalanannya ke untuk membeli parfum milik Adhi.


"Mana tokonya?" Tanya Jeje, yang mengedarkan pandangan mencari toko parfum milik Adhi.


"Kata Adhi, toko parfumnya baru buka cabang disini. Karena biasanya Adhi beli langsung dari luar negeri." Fira yang sama-sama mengedarkan pandangan, menjelaskan pada Jeje.


"Parfum murah saja, bilang beli di luar negeri," grutu Jeje.


"Itu," ucap Fira seraya menarik lembut tangan Jeje, melangkah menuju toko parfum milik Adhi.


"Selamat datang," sapa pelayan toko saat melihat Fira dan Jeje masuk ke dalam toko parfum. Fira pun mengangguk, dan tersenyum membalas sapaan pelayan toko.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau cari parfum yang seperti ini." Fira menunjukan foto parfum milik Adhi, yang di kirim Adhi ke ponsel Jeje tadi pagi.


"Silakan." Pelayan toko pun mempersilakan Jeje dan Fira masuk. Pelayan toko langsung mengambilkan parfum yang di minta yang di minta oleh Jeje dan Fira. "Ini silakan." Pelayan toko memberikan parfum.


Fira mengecek wangi yang di berikan oleh pelayan toko. Dan saat sudah yakin bahwa itu adalah parfum yang di maksud. Fira langsung menuju kasir untuk membayar parfum tersebut.


"Ini." Fira menyerahkan kartu pada kasir.


"Maaf Nona, parfum ini gratis," ucap kasir pada Fira.


Fira mengerutkan dalam dahinya. Dia merasa bingung saat mendengar, bahwa parfum yang di belinya gratis. "Maksudnya apa?"


"Iya, untuk Nyonya, parfum ini gratis."


Jeje yang melihat Fira masih belum selesai membayar, menghampiri Fira. "Kenapa sayang?"


"Kasir mengatakan parfum ini gratis. Padahal kamu tahu kan, kalau parfum ini lumayan mahal. Jadi aku sedikit bingung, saat mendengar ucapannya saat mengatakan bahwa parfum nya gratis." Fira yang bingung, menjelaskan pada Jeje.


Jeje pun di buat bingung. "Apa anda pikir saya tidak bisa membayar?" Tanya Jeje dengan suara tinggi.


"Bukan begitu Tuan." Kasir yang mendengar Jeje menaikan suaranya menjadi takut.


"Panggil manager kamu!"


Kasir itu pun pergi memanggil manager toko, sesuai perintah Jeje.


Manager toko pun datang menghampiri Fira dan Jeje. "Selamat sore Tuan dan Nyonya. Saya Afrian manager toko." Sapa manager toko. "Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya pada Jeje.


"Kasir Anda, bilang bahwa parfum yang saya beli gratis. Dan saya merasa tidak terima, karena saya mampu membelinya."


"Maaf Tuan. Bukan maksud kami menyingung. Tapi memang toko kami sedang ada promo, untuk membagikan parfum gratis sebagai hadiah pembukaan toko baru." Manager toko memberi penjelasan pada Jeje.


"Tapi.."


Belum selesai Jeje menolak tawaran parfum gratis, Fira sudah menarik lengannya. "Sudahlah terima saja. Kapan lagi dapat gratis," ucap Fira.


Jeje langsung menatap sinis ke arah Fira. Dalam hatinya berkata, bisa-bisanya istrinya menerima parfum gratis, seolah dirinya tidak bisa membeli.


"Baiklah. Kalau begitu terimakasih," ucap Fira pada Manager toko.


"Sama-sama Nyonya. Maaf bila ada penyampaian yang kurang berkenan dari kami." Manager toko pun menundukkan sedikit tubuhnya, saat meminta maaf. Dia langsung memberikan paper bag berisi parfum pada Fira.


Fira pun menerima, dan menarik lengan Jeje dengan lembut keluar toko parfum.


"Kenapa kamu terima parfum gratis ini." Jeje yang masih merasa tidak terima mengrutu, meluapkan kekesalannya.


"Sayang, ini namanya rejeki. Kan lumayan dapat promo gratis." Fira mencoba menenangkan Jeje.


"Kamu pikir aku tidak mampu beli. Beli seluruh parfum yang di jual di toko itu juga aku mampu. Tidak perlu kamu menerima promo gratis itu." Jeje menatap tajam pada Fira.


Kepala Fira langsung berdenyut merasakan pusing, menghadapi kekesalan Jeje. "Jangan marah-marah. Nanti baby kita takut," ucap Fira, seraya membawa tangan Jeje membelai perut rata miliknya.


Seketika emosi Jeje langsung menguap dan menghilang, saat mendengar ucap Fira. "Maafkan papa ya sayang," ucap Jeje membelai perut Fira.


Senyum kecil tertarik di ujung bibir Fira. Kini dia punya cara ampuh, untuk meredam emosi Jeje. "Mama sama baby nya mau makan, Papa." Dengan suara manja, Fira meminta pada Jeje.


"Mama sama baby mau makan apa?" Jeje menatap lekat wajah Fira. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya.

__ADS_1


"Disana." Fira menunjuk satu restoran di dalam mall.


"Ayo." Jeje menautkan jemarinya, pada jemari Fira. Menarik lembut tangan istrinya itu. Dan melangkah menuju restoran.


**


Saat Zara merapikan sisa makan malam ayahnya. Dia mendengar suara pintu ruang rawat ayahnya di ketuk. Saat pintu terbuka ternyata Adhi lah yang di sana.


"Malam om," sapa Adhi pada ayah Zara.


"Malam dhi, kamu baru pulang kerja?"


"Iya Om," ucap Adhi. "Bagaimana keadaan Om?"


"Seperti yang kamu lihat. Aku sudah jauh lebih baik."


"Kamu belum makan ra?" Tanya Ayah Zara.


"Nanti Zara akan makan yah." Zara meletakkan nampak sisa makan ayahmya di meja.


"Tolong ajak Zara makan ya dhi. Dari tadi dia belum makan," ucap Ayah Zara.


"Ayah." Zara yang merasa tidak enak pun memanggil ayahnya.


"Nggak apa-apa ra. Kebetulan aku juga belum makan." Adhi menatap Zara. "Ayo," ajak Adhi.


"Pergilah ra. Ayah juga mau istirahat."


Mendengar ucapan Ayahnya, akhirnya Zara ikut bersama Adhi untuk makan malam. Mereka memilih restoran terdekat, untuk makan malam.


"Dhi, apa bener kamu undur jadwal ke luar negeri karena aku?" Zara yang sedang menunggu pesanan datang pun, menanyakan hal yang dari tadi mengangguk pikirannya.


"Kamu tahu dari siapa?" Adhi yang merasa baru mengabari Jeje, tidak menyangka bahwa Zara sudah mendengar pengunduran jadwal ke luar negeri.


"Tadi Fira dan Pak Gajendra ke rumah sakit menjenguk ayah."


Adhi yang memahami dari mana Zara tahu pun mengangguk. "Iya."


"Ra, aku di luar negeri butuh kamu. Karena hanya kamu yang bisa bantu aku nanti, saat bertemu Om Edward. Kamu tahu bukan, kalau aku harus bisa membuat Om Edward yakin, bahwa perusahaan di bawah kepemimpinnan aku akan berhasil."


Zara yang mendengar penjelasan Adhi, mengerti kenapa Adhi menunda pertemuan dengan ayah tirinya. "Maafin aku ya dhi. Gara-gara aku kamu jadi susah."


"Siapa bilang aku susah. Aku tidak merasa susah." Adhi menatap lekat wajah Zara. Perasaan cinta yang tubuh begitu subur di hatinya. Membuatnya dirinya sudah tidak sabar menanti semua. "Aku akan bersabar sampai di hari itu ra. Dan aku akan jadikan kamu milikku seutuhnya."


Zara yang melihat Adhi menatapnya, merasa bingung. Tatapan Adhi baginya tampak lain, dari tatapan Adhi yang dulu. Sejenak dia mengingat ucapan Nayla, yang mengatakan bahwa Adhi menyukainya. Tapi dirinya masih tidak percaya.


Setelah makanan datang, Adhi dan Zara melanjutkan makannya, dan berbincang tentang kedatangan Fira dan Jeje tadi.


Adhi yang mendengar dari Zara, bahwa Fira akan pergi ke toko parfum, tertawa. Adhi benar-benar merasa salut pada Jeje. Kerena menurunkan egonya untuk memenuhi keinginan Fira.


Setelah makan malam, Adhi dan Zara kembali ke rumah sakit. Mereka melangkah bersama menuju ke ruang rawat ayahnya.


"Boleh aku tanya sesuatu ra?" Tanya Adhi menoleh pada Zara, yang sedang berjalan di sampingnya.


"Apa?"


"Selama ini aku hanya melihat ayah mu saja. Kemana ibumu?"


Zara tersentak, saat mendapat pertanyaan bahwa tentang ibunya. "Ibu aku pergi meninggalkan ayah aku dhi."


"Pergi bagaimana maksudnya?"


"Dia meninggalkan ayah, aku dan adik perempuan ku, untuk menikah dengan pria lain."


"Maaf ra, aku tidak bermaksud mengingatkan mu." Adhi yang merasa tidak enak pun meminta maaf.


"Santai dhi. Aku sudah tidak terlalu sakit hati seperti dulu," ucap Zara menatap Adhi dan tersenyum. "Dan kamu orang dua yang tahu setelah Fira."


Adhi melihat dengan jelas, bahwa senyum Zara, hanya untuk menutupi kesedihannya. "Ayahmu beruntung mempunya putri seperti dirimu." Adhi mengacak-acak rambut Zara, dan tertawa.


"Oh ya, apa aku juga akan beruntung mendapatkan pria seperti ayahku?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Zara.

__ADS_1


"Apa kamu ingin mendapatkan pria seperti ayahmu?"


Zara langsung mengangguk mendapat pertanyaan Adhi. Dengan senyum menghiasi wajahnya, memperlihatkan bahwa dia begitu berharap, akan mendapatkan pria seperti ayahnya.


"Seperti apa ayahmu di matamu?"


"Ayahku adalah pria yang penyayang. Dia selalu mengutamakan anak-anaknya, di atas keinginannya. Mungkin, bisa saja ayah menikah seperti ibuku. Tapi dia memilih untuk bersama kami, dan memberikan kebahagiaan untuk kami. Dan aku ingin pria seperti itu. Pria yang selalu ada untukku, dan tidak akan meninggalkan aku."


"Aku berharap kamu akan menemukannya," ucap Adhi. "Aku berharap bisa menjadi apa yang kamu inginkan ra."


Zara janya membalas ucapan Adhi, dengan anggukan dan senyuman.


Tidak terasa perbincangan mereka harus berakhir, karena mereka sudah sampai di depan ruang rawat ayah Zara.


"Sepertinya sudah terlalu malam. Titipin salam buat ayah kamu ya ra." Adhi pun berpamitan.


"Terimakasih ya dhi, sudah kesini, dan menemani aku makan malam."


"Iya." Adhi langsung meninggalkan rumah sakit, untuk pulang.


**


Jeje yang baru saja menyelesaikan, beberapa perkerjaan di ruang kerja, kembali ke kamarnya.


Senyumnya terangkat, saat melihat wanita yang begitu di cintainya itu, sedang tertidur pulas. Dia mengingat bagaimana seharian Fira di luar kantor, dan pasti itu membuat lelah dirinya.


Melihat selimut Fira yang tersingkap. Jeje merapatkan kembali celah-celah yang tersingkap. Dia tidak ingin udara dingin masuk, merusak kehangantan dari selimut milik Fira. Jeje menatap lekat wajah Fira. Sejenak dia teringat, bagaimana Fira yang sangat senang, saat mendapatkan parfum yang sesuai keinginnanya, dan mendapatkan promo gratis.


Mata Jeje pun langsung beralih, mencari paper bag yang berisi parfum. Rasanya dia sudah tidak sabar memakainya esok hari. Tapi saat matanya mencari paper bag berisi parfum. Dia tidak menemukan paper bag berisi parfum di sekitar kamarnya.


Jeje beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju ruang tamu. Tapi sampai di ruang tamu. Dia juga tidak menemukan parfum yang baru saja dirinya dan Fira beli. Akhirnya Jeje mengambil kunci mobil. Pikirnya jika di apartemen tidak ada, mungkin parfum itu masih berada di mobil.


Setelah sampai di parkiran mobil. Jeje membuka pintu mobil, dan mencari paper bag yang berisi parfum. Saat matanya menemukan parfum itu berada di mobil, Jeje langsung mengambilnya, dan kembali ke apartemen.


Jeje yang baru saja menunggu lift, melihat seorang wanita yang berjalan sempoyongan menuju arah lift. Dirinya tahu betul siapa wanita itu. Tapi dirinya berusaha menghindari. Dia benar-benar berharap lift segera terbuka, sebelum Celia sampai di depan lift.


Saat lift terbuka, Jeje buru-buru masuk ke dalam lift, dan menutup lift. Tapi sayangnya sebelum lift tertutup Celia sudah berlari menuju lift.


Jeje yang melihat Celia memilih menunduk, agar wajahnya tidai terlihat. Jeje pikir, dengan keadaan Celia yang sedang mabuk, pasti akan sulit mengenali dirinya.


Lift begitu terasa lama, saat Jeje berada dalam satu lift dengan Celia. Dan setelah menunggu, akhirnya lift terbuka. Saat lift terbuka, Jeje buru- buru keluar dari lift. Tapi baru saja Jeje melangkah beberapa langkah, Jeje mendengar suara sesuatu jatuh di belakangnya. Jeje pun menoleh ke belakang, dan mendapati Celia sudah yang tidak mampu membawa tubuhnya, karena terlalu mabuk.


Jeje mengedarkan pandangan melihat mungkin ada orang yang bisa membantu Celia. Tapi sayangnya, hanya dirinya saja yang berada di situ. Akhirnya mau tidak mau dia membantu Celia.


Dengan memapah Celia, Jeje mengantarkan Celia ke unit apartemennya. "Berapa kode apartemenmu," tanya Jeje menoleh keseamping dimana Celia berada.


Dengan keadaan setengah sadar, Celia menyebutkan angka. Dan Jeje langsung menekannya angka itu, untuk membuka pintu apartemen Celia.


Jeje yang masuk ke dalam apartemen Celia, merebahkan Celia di sofa ruang tamu. Dirinya tidak mau mengantar Celia sampai ke dalam kamar. Karena tidak mau terjadi hal-hal buruk, akibat dirinya yang masuk ke dalam kamar Celia.


Dengan tega, Jeje meninggalkan Celia yang tidur di sofa, dan keluar dari apartemen Celia.


Jeje pun kembali ke apartemennya, meletakkan paper bag berisi parfum, dan menyusul Fira.


.


.


.


.


.


Hari ini up lagi ya☺️


Jangan lupa like terus karya ku


Terjebak Cinta Majikan.


Biar author semangat terus🥰

__ADS_1


__ADS_2