Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Mempercepat pernikahan


__ADS_3

Fira bersiap-siap merapikan meja kerjanya. Hatinya begitu senang, saat mengingat dia akan pergi dengan Jeje setelah pulang kerja. Senyum mengembang di wajahnya.


"Kamu kenapa fir, kok senyum-senyum sendiri?" tanya Adhi saat kelaur dari ruangannya, dan melihat Fira aneh.


"Hah," Fira begitu kaget mendengar suara Adhi yang tiba-tiba di depannya, "Siapa yang senyum-senyum sendiri," elak Fira.


"Oh aku pikir kamu kenapa, ya sudah ayo pulang."


"Em.. dhi aku nggak pulang bareng kamu dulu ya,.aku ada sedikit urusan" Fira sebenarnya bingung untuk memberi alasan apa pada Adhi.


"Memangnya kamu mau kemana?" Adhi mengerutkan keningnya tidak seperti biasanya, Fira menolak ajakan pulang bersama dengan dirinya.


"Aku ingin ke rumahku dhi, melihat keadaan rumah, apa sudah bisa di tempatin atau belum." Fira memilih alasan itu untuk di berikan pada Adhi.


"Oh ya sudah kalau gitu aku duluan ya, bye fir." Adhi yang mengerti alasan Fira pun, tidak menyanggah lagi.


"Bye dhi"


Ada perasaan lega di hati Fira, saat Adhi tidak menaruh curiga padanya. "Apa yang di bayangkan Adhi, kalau tahu aku jalan dengan Jeje " batin Fira.


Akhirnya Fira menuju loby dan menunggu Jeje, untuk bersiap ke mall. Sesuai renvana mereka akan menonton.


"Apa kamu lama menunggu?" tanya Jeje saat Fira sudah masuk kedalam mobil.


"Belum," jawab Fira dengan senyumannya.


Sepanjang perjalanan Fira memikirkan, apa langkah yang dia pilih ini, tidak akan berakibat buruk untuknya. Dalam hatinya dia merasakan kalau dia menikmati semuanya. Tapi egois kah kalau dia harus menyakiti orang lain.


"Kamu kenapa?" tanya Jeje yang memperhatikan Fira diam sesaat masuk ke dalam mobil.


"Aku hanya takut akan menyakitkan orang lain dengan yang kita lakukan, bisakah kita berhenti melakukan ini je." Fira merasa apa yang dilakukannya salah, dan Fira tak mau terjebak lebih dalam dalam permainannya.

__ADS_1


"Selama kamu merasa nyaman, aku rasa tak ada yang tersakiti bukan?" Jeje menatap lekat wajah Fira.


"Bukan aku atau kamu yang akan tersakiti, tapi Nona Anastasya yang akan tersakiti." Fira mulai terisak, dia benar-benar membayangkan, bila dia jadi Ana mungkin dia akan sakit hati, melihat calon suaminya menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya.


Jeje menghela nafasnya, tidak tega saat melihat Fira menangis, "Baiklah, tapi untuk sisa hari ini bisakah kita lanjutkan dulu, aku janji besok tidak akan ada pertemuan lagi diam-diam dengan mu," pinta Jeje penuh pengharapan.


Fira mengangguk mengiyakan, Fira pikir tidak ada salahmya menyelesaikan untuk hari ini saja. Akhirnya Fira dan Jeje menuju ke mall untuk menonton. Dari mulai turun dari mobil Jeje menautkan jemarinya pada jemari Fira.


Mereka berjalan ke arah bioskop dengan tak melepas genggaman mereka. Saat mereka berjalan ke arah bioskop, langkah kaki Jeje terhenti.


"Kenapa??" tanya Fira yang melihat Jeje berhenti secara tiba-tiba.


Fira memperhatikan ke arah pandangan Jeje. Fira tersentak, dengan apa yang di lihatnya. Dari kejauhan terlihat Anastasya sedang bersama teman-temannya, mungkin dia juga berniat menonton. Seketika Fira panik melihatnya, Fira langsung menarik tangan Jeje untuk bersembunyi.


Fira bersembunyi di balik dua pilar, Jeje menutupi tubuh Fira hingga tak terlihat.Tanpa mereka sadari posisi mereka seperti sedang berpelukan, menempel tanpa jarak.


"Je kita pulang saja, jangan sampai Nona Ana melihat kita," panik Fira saat mengingat kalau Ana disekitarnya.


"Tidak je, aku tidak mau ambil resiko sampai dia melihat kita berdua," ucap Fira menengadah meyakinkan Jeje untuk memilih pulang.


Jeje memperhatikan wajah Fira yang ketakutan, ada rasa bersalah yang Jeje rasakan. "Baiklah kita pulang saja, aku rasa lebih baik kita pulang kalau kamu tidak nyaman." Jeje tidak punya pilihan saat tidak tega melihat Fira ketakutan.


Fira dan Jeje pun memutuskan untuk pulang, karena mereka tidak mau sampai Anastasya, melihat Fira dan Jeje sedang berduaan.


"Bagaimana kalau kita nonton saja di apartemen," ajak Jeje saat mereka sudah sampai di loby apartemen.


"Ide yang bagus." Fira pikir kalau dia hanya bertemu dengan Jeje di sekitaran apartemen mungkin akan lebih aman. Dan memilih menonton di apartemen tidak akan membuat Ana tahu.


Mereka pun melangkahkan kakinya ke dalam lift. Sepanjang keluar dari mobil, Jeje tidak melepas tautan jemarinya pada jemari Fira. Saat pintu lift terbuka, mereka melangkah menuju apartemen. Tapi langkah mereka terhenti saat melihat dua orang berdiri di depan unit apartemen mereka.


"Mama." gumam Jeje.

__ADS_1


"Nyonya Inan." gumam Fira.


Fira begitu kaget, kaki Fira seolah mati rasa. Seketika kakinya terasa berat, dan tidak bisa di gerakan sama sekali. Ingin rasanya Fira lari dari tempat yang dia pijak sekarang, tapi semua hanya angan belaka.


"Aku yang akan menjelaskan, ayo.." Jeje menarik lembut genggaman tangan Fira, melangkahkan kaki menuju pintu apartemen.


Pandangan Nyonya Inan tidak lepas sedikit pun dari Fira, pandangan dengan sorot mata yang entah Fira tidak bisa tahu artinya.


"Aku bisa jelaskan ma." satu kalimat yang keluar dari mulut Jeje, untuk meluruskan semuanya.


"Mama, tidak butuh penjelasan, mama akan percepat pernikahanmu besok." Inan menatap lekat anaknya.


"Ma.." Jeje mulai cemas dengan keputusan mamanya, dia tidak menyangka mamanya akan mengatakan itu.


Nyonya inan beralih menatap Fira, "Aku sudah mengirimmu ke negara lain, tapi apa kamu belum bisa melupakan putraku?" tanya nyonya Inan pada Fira dengan nada tenang.


Fira benar-benar tak menjawab. Rasanya berat untuk Fira mengeluarkan suara dari mulutnya.


"Apa aku harus mengirimmu lebih jauh?"


"Tante, saya harap anda jangan melebihi batas," ucap Adhi kesal. Dari tadi dia memilih mendengarkan Inan berbicara, tapi dia merasa Inan sudah berlebihan.


Dari tadi memang ada dua orang di depan apartemen Jeje dan Fira. Inan yang mau mengunjungi Jeje, bertemu Adhi yang juga disana menunggu Fira.


Nyonya Inan beralih pada Adhi yang sedang mengajaknya berbicara. "Apa kamu tahu, anakku besok akan menikah?, dan aku tidak akan siapapun menghalanginya."


Fira yang mendengar kata menghalangi, sunguh membuat hatinya terluka. Kenapa seperti ini perjalanan cinta yang di laluinya, kenapa dia yang harus menjadi penghalang.


"Tante tenang saja besok juga Fira akan menikah, dan dia tidak akan menghalangi." ucap Adhi dengan tegas.


"Ayo fir masuk ke apartemenmu, ku pastikan kamu akan menikah besok, dan orang-orang tak akan menuduh mu menghalangi siapapun." Adhi menarik Fira untuk masuk ke dalam apartemennya, dan Fira hanya mengikuti saja saat Adhi menariknya.

__ADS_1


__ADS_2