Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Permen gulali


__ADS_3

Langkah kaki penuh semangat, membelah kerumunan karyawan yang berhamburan di loby kantor. Dengan semangat, dan senyum mengembang Nayla melangkah menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, dia masuk ke dalam mobil, memutar kunci dan menghidupkan mesin mobil.


Setelah menginjak pedal gas, dia melajukan mobilnya menuju restoran milik Daffa. Jalanan yang macet, karena jam pulang kantor, membuat dirinya tidak sabar untuk cepat sampai di restoran. Di dalam pikirannya, sudah banyak susunan kata, yang akan dia ucapkan pada Atta, dan itu membuat dirinya tidak sabar untuk sampai di tujuannya.


Sesampainnya di restoran, Nayla langsung turun dari mobil, dan melangkahkan kakinya menuju restoran. Nayla dorong pintu kaca, dan masuk ke dalam restoran. Dia mengedarkan pandangan, sesampainya tubuhnya di dalam restoran.


Saat kedua matanya menangkap sosok Atta, yang duduk di ruangan khusus untuk merokok , Nayla melangkahkan kakinya menghampiri Atta.


"Maaf Bang Atta, jalanan macet," ucap Nayla saat baru saja sampai. Nayla langsung menarik kursi, dan duduk tepat di depan Atta.


Atta yang sedang menghisap rokoknya, meniupkan ke udara. "Santai saja," ucapnya pada Nayla. Atta langsung mematikan rokoknya, di tempat yang sudah di siapkan pihak restoran. "Mau pindah atau disini?" Tanya Atta. Atta sadar betul bahwa wanita, tidak terlalu suka dengan bau rokok.


"Aku rasa tidak perlu," ucap Nayla seraya mengambil rokok milik Atta, dan menyelipkan di sela-sela jarinya.


Atta yang melihat wanita di hadapannya, tersenyum. Ternyata wajah polos milik Nayla, mampu menipu dirinya. Dia pikir wanita di depannya, adalah wanita pendiam yang jauh dari hal-hal negatif. Atta yang melihat Nayla, langsung menyalakan korek, dan mengarahkannya ke rokok milik Nayla.


Setelah rokok mulai menyala, Nayla memasukkannya rokoknya ke dalam mulut, dan mengapitnya di sela-sela bibirnya. Dia menghisap perlahahan rokok miliknya, dan menghembuskan ke udara setelahnya.


"Mau bicara tentang Zara apa?" Tanya Atta langsung pada inti pembicaraan.


"Rupanya, Bang Atta tipe yang tidak sabaran ya," goda Nayla.


"Aku tidak suka berbasa-basi," ucapnya seraya menghidupkan lagi rokok miliknya.


"Baiklah, kita langsung pada intinya," ucap Nayla. "Aku suka dengan Adhi, dan Bang Atta suka dengan Zara. Jadi aku ingin menawarkan kerja sama antara kita berdua." Nayla pun langsung mengatakan niatnya.


Atta mengerutkan dahinya, heran dengan ucapan Nayla. Atta tidak menyangka bahwa wanita di hadapannya ini begitu berani menawarkan kerja sama dengannya. "Apa yang kamu mau?"


"Aku mau Adhi bisa menjadi kekasihku, dan itu semua tergantung pada Zara. Jadi aku mau Bang Atta berusaha lebih untuk mendekati Zara. Aku tahu akan susah, tapi aku tahu apa yang akan membuatnya lebih mudah," ucap Nayla dengan senyum licik.


"Apa rencana yang kamu tawarkan akan berhasil?" Tanya Atta memastikan.


"Tergantung sebesar apa Bang Atta akan berusaha."


"Lalu yang berusaha keras disini, hanya aku begitu?" Tanyanya penuh sindiran pada Nayla.


Nayla menghebuskan asap rokoknya ke udara, dan tertawa. "Ayolah, bukannya pria lebih banyak berkerja dari pada wanita?" Tanyanya mengoda.


"Sepertinya kamu lebih ahli." Atta membalas godaan dari Nayla. "Oke deal," ucap Atta mengulurkan tangan.


Nayla pun menerima uluran tangan Atta, dan tersenyum. Batinnya hanya berkata, semudah itu membuat Atta mau berkerja sama denganya.


Akhirnya mereka berdua memutuskan, untuk merencanakan bagaiamana mendekati Zara.


**


Setelah jam kerja berakhir Fira dan Jeje pun kembali ke apartemennya. Setelah masuk ke dalam mobil, Jeje langsung melajukan mobilnya.


"Apa kamu lelah?" tanya Jeje saat mereka melakukan perjalanan menuju rumah.


"Tidak," ucap Fira tersenyum.


"Sepertinya tadi pagi kamu tidak muntah."


Fira yang mendengar ucapan Jeje, mengerutkan dahinya dan menaikan bola matanya ke atas, berpikir dengan apa yang di katakan oleh Jeje. "Iya," jawabnya saat dia mengingat. "Apa karena aku sarapan di mobil tadi?" Tanya Fira menoleh pada Jeje.


"Entah." Jeje pun tidak tahu sebabnya Fira tidak muntah.

__ADS_1


"Bagiamana kalau besok kita mencoba lagi." Dengan semangat Fira memberikan ide pada Jeje.


"Baiklah, kita coba besok. Aku akan membuatkan sarapan, dan kamu bisa memakannya di mobil." Bagi Jeje membuat istrinya bisa makan di pagi hari adalah satu kebahagian, paling tidak anaknya dalam rahim Fira, tidak akan kekurangan nutrisi karena ibunya tidak bisa makan.


Fira pun membalas senyuman ucapan Jeje. Fira merasakan sangat bahagia, saat Jeje begitu perhatian padanya.


Saat menikmati perjalanan menuju apartemennya. Fira melihat sesuatu dari dalam mobil. Ekor matanya memperhatikan sesuatu yang berada di balik kaca mobil, hingga membuat kepalanya pun, ikut menoleh saat mobil melaju menjauh dari apa yang di lihatnya. "Sayang berhenti," ucapnya seraya menepuk-nepuk lengan Jeje.


Jeje yang kaget pun langsung menepikan mobilnya. "Kamu kenapa?" tanyanya yang panik melihat istrinya, yang tiba menepuk lengannya.


"Aku melihat penjual permen gulali," ucap Fira.


"Apa?" Jeje menautkan kedua alis tegasnya, saat mendengar ucapan Fira. "Permen gulali seperti apa?" tanyanya tidak tahu.


"Jadi permen itu terbuat dari gula, dan biasanya penjualan akan memasaknya menjadi caramel. Penjual permen gulali itu akan membentuk caramel menjadi permen, saat ada yang beli. Permen akan di buat dengan berbagai macam bentuk. Ada bentuk bunga, bentuk burung dan macam-macam bentuk, tergantung keahlian penjualnya." Fira menjelaskan dengan semangat.


Jeje semakin bingung, dengan permen apa yang di maksud oleh Fira.


"Sudah ayo putar balik, aku mau," rengek Fira saat menunggu Jeje berpikir.


Jeje tidak punya pilihan lain, selain menuruti keinginan Fira. Dia langsung memutar stir mobilnya, kembali ke tempat yang di maksud oleh Fira.


Sesampainya di tempat yang di tuju, Jeje melihat penjual permen gulali dari dalam. Matanya membulat, saat melihat penjual permen itu membentuk sebuah adonan caramel, menjadi beberapa bentuk. "Kamu mau makan makanan seperti itu?" tanya Jeje seraya menarik kembali tubuh Fira, yang sedang hendak membuka pintu mobil.


Fira yang merasa tubuhnya di tarik oleh Jeje menoleh penuh keheranan. "Memangnya kenapa?"


"Coba kamu lihat bagaimana penjual permen itu membuat permennya. Dia mengunakan kedua tangannya untuk membuat permennya." Jeje yang melihat sedikit bergidik ngeri membayangkan makan permen, dengan bekas sentuhan dari tangan penjualnya.


"Memang begitu cara membuatnya," jawab Fira.


"Iya, tapi coba bayangkan bagaimana kalau tangan penjual itu kotor. Atau tangan penjual itu penuh kuman, setelah menerima uang dari pembeli." Jeje memberikan alasan pada Fira, untuk mencegah Fira melanjutkan niatnya membeli permen itu.


Jeje tidak bisa mengelak saat mendenga ucapan Fira. "Tapi itu beda, tangan mereka penjual kue pasti sudah di cuci bersih, sedangkan....."


"Sedangkan penjual gulali tidak begitu?" Tanya Fira, dan langsung membuat Fira membuang muka ke arah luar kaca mobil.


Jeje memijat keningnya, menghadapi keinginan ibu hamil sangatlah sulit. Tapi dirinya tidak bisa membiarkan Fira makan, makanan tidak higienis. "Oke tapi aku yang akan membuatnya," ucap Jeje pada Fira. Dirinya tidak punya pilihan lain, selain menuruti keinginan Fira.


Fira memutar kepalanya menatap Jeje. Dirinya bingung dengan ucapan Jeje. Tapi dia mengingat bahwa dirinya, begitu ingin makan permen gulali. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran Jeje. "Baiklah."


Jeje dan Fira keluar dari mobil. Dengan membawa tisu, hand sanitizer dan air mineral Jeje keluar dari mobil.


Sampai di depan penjual permen gulali Jeje berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan penjual permen gulali. "Maaf Pak, bolehkah saya membuat permennya sendiri. Kebetulan istri saya sedang hamil, dan ingin saya membuat permen gulali sendiri." Jeje yang meminta izin, memberi alasan pada penjual gulali.


Fira yang mendengar ucapan Jeje, membulatkan matanya. Dalam hatinya dia tidak merasa meminta hal itu pada Jeje, justru Jeje lah yang meminta untuk membuat permennya.


Penjual gulali itu pun menengadah menatap Fira. Fira yang di tatap oleh penjual gulali pun tersenyum. "Jadi inget istri, kalau lagi hamil mintanya juga aneh-aneh," ucap penjual gulali. "Silahkan buat sendiri permennya." Penjual gulali pun mempersilakan Jeje untuk membuat permen sendiri.


Mendapat izin dari penjual gulali, Jeje langsung berdiri menjauh sedikit. Jeje memanggil Fira, untuk ikut dengannya. "Bawa," ucapnya menyerahkan tisu, hand sanitizer dan air mineral pada Fira. "Tuangkan airnya di tanganku." Jeje menyodorkan kedua telapak tangannya pada Fira.


Fira yang di minta untuk menuangkan air ke telapak tangan Jeje, langsung membuka tutup botol, dan menguyurkan air mineral ke telapak tangan Jeje. Fira memberikan tisu pada Jeje, dan Jeje langsung mengeringkan telapak tangannya.


Jeje lanjut meminta Fira menuangkan hand sanitizer ke telapak tangan Jeje. Setelah hand sanitizer di telepak tangan, Jeje menautkan kedua telapak tangannya, dan mengosok hand sanitizer, agar menjagkau semua sisi telapaknya.


Saat di rasa cukup bersih, Jeje mencium tangannya. Tapi sejenak dia berpikir, bahwa permennya akan bau hand sanitizer kalau dia membuatnya nanti. Akhirnya dia meminta Fira kembali menguyurkan air, pada telapak tangannya.


Fira hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hatinya aturan dari mana setelah memakai hand sanitizer harus di cuci lagi. Tapi dirinya memilih menuruti apa yang di minta oleh Jeje.

__ADS_1


Setelah selesai, Jeje kembali pada penjual gulali. Jeje berjongkok agar bisa menjagkau adonan caramel milik penjual gulali. "Kamu mau bentuk apa?" tanya Jeje seraya mengambil tusukan, untuk gagang permen.


"Apa saja," ucap Fira.


Setelah melihat bagaimana penjual itu membuat, Jeje mengikuti cara penjual itu. Jeje mengambil adonan caramel, dan memegangnya untuk membuat bentuk, yang di inginkan.


"Ini," ucapnya menyerahkan dua permen pada Fira.


Fira yang melihat bentuk permen itu tersenyum. "Terimakasih," ucapnya pada Jeje.


Jeje hanya mengangguk, dan tersenyum bangga, saat bisa membuat permen untuk Fira. Jeje langsung berdiri, mengambil dompetnya. "Ini Pak," ucap Jeje seraya menyerahkan uang pada pemjual gulali.


"Saya tidak punya kembalian, Pak, kalau uangnya sebesar itu."


"Ini semua untuk, Bapak," ucap Jeje.


"Benar Pak?" tanya penjual gulali memastikan.


"Iya, dan terimakasih sudah mengizinkan saya untuk membuat permen dan membuatnya," ucap Jeje pada penjual permen.


"Sama-sama Pak, semoga bayi di perut ibunya sehat terus ya Pak," ucap penjual gulali.


"Terimakasih untuk doanya." Jeje tersenyum pada penjual permen gulali.


Jeje beralih pad Fira, menautkan jemarinya menarik lembut tangan Fira, dan mengajaknya kembali ke mobil. Jeje membukakan mobil dan mempersilakan Fira untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah masuk ke dalam mobil, Jeje melangkah memutari mobilnya, beralih ke kursi kemudi. Jeje masuk ke dalam mobil dan memutar kunci mobilnya, melajukan mobilnya kembali untuk pulang ke apartemen.


Sepanjang perjalanan Fira hanya memandangi permen gulali yang di buat oleh Jeje. Walaupun bentuknya tidak secantik, seperti yang di buat oleh penjual gulali, tapi cukup membuat Fira senang. Dua permen dengan bentuk hati dan bunga yang tidak beraturan, sebenanrnya membuat Fira senyum-senyum sendiri. Tapi dia tetap menghargai Jeje, yang sudah berusaha membuatkan untuk dirinya.


"Kenapa tidak di makan?" tanya Jeje yang melihat Fira hanya memandangi permennya.


"Rasanya sayang sekali kalau di makan," ucapnya dengan masih memandangi permennya. "Kalau di pajang di aparteme bagaiamana?" Fira memutar kepalanya, dan menatap Jeje.


Jeje membulatkan matanya. "Kamu mau mengudang semut untuk berkunjung ke apartemen kita?" tanyanya dengan nada menyindir.


Fira hanya mencebikkan bibirnya, kesal mendengar sindiran Jeje.


"Jangan marah seperti itu," goda Jeje saat melihat Fira mencebikkan bibirnya. "Makanlah! Nanti aku akan membuatkan lagi untuk mu."


"Baiklah," ucap Fira seraya membuka bungkus peremen gulali. Dia langsung memasukkan permen ke dalam mulut. Menikmati sensasi rasa manis yang tercipta dari larutan gula yang sudah menjadi caramel itu. Seketika rasa manis itu, membuat dirinya tersenyum, karena merasakan senang.


"Apa kamu mau?" tanyanya pada Jeje seraya menyodorkan permennya, dan menawari Jeje. "Tapi ini sudah masuk ke dalam mulutku, aku akan membukakkan yang satunya saja," ucapnya saat teringat bahwa permem itu adalah sisa dari mulutnya. Fira langsung menarik kembali tangannya, dan berniat mengambil permen baru.


Tapi belum sempat dia menarik tangannya, Jeje sudah langsung menahannya. Dan langsung menarik tangan Fira lembut. Jeje memasukkan permen yang di bawa Fira itu, ke dalam mulutnya. "Permen ini lebih manis, setelah masuk ke dalam mulutmu," ucap Jeje saat sudah mengeluarkan permen dari mulunya.


Fira yang mendengar, tersipu malu. Dan langsung ikut memakan permen sisa dari mulut Jeje.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa berikan like dan vote🄰


Mampir juga ke karyaku dan instagram aku Myafa16


__ADS_2