Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Temani untuk melupakan


__ADS_3

Keheningan terjadi di mobil satunya. Zara yang biasanya cerewet tiba-tiba berubah diam. Adhi yang memperhatikan Zara hanya heran kenapa Zara diam saja.


"Kamu kenapa diam saja?, sakit gigi?" Tanya Adhi pada Zara.


"Nggak, hanya ingin diam saja" jawab ketus Zara.


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Adhi.


Zara mengingat apa yang membuatnya marah pada Adhi.


Saat di kantor Nayla menceritakan kalau Adhi tidak menghubunginya sama sekali, setelah meminta nomer ponsel Nayla. Zara yang melihat raut kecewa Nayla, menjadi tidak tega dan menghubungi Adhi untul menanyakan alasannya.


"Halo dhi," ucap Zara saat sambungan telepon tersambung.


"Ya ra, ada apa kamu telepon aku?"


"Kamu tidak hubungin Nayla ya?" Tanya Zara langsung tanpa basa-basi.


"Iya."


"Kenapa?"


"Ya nggak kenapa-kenapa."


"Nggak bisa gitu dong dhi, dia kan berharap sama kamu," kesal Zara.


"Justru aku tidak menghubunginya, jadi aku tidak memberi harapan."

__ADS_1


Zara sedikit berfikir apa yang Adhi bilang ada benarnya. "Benar juga kalau Adhi menghubungi Nayla, pasti Nayla berharap lebih dari sekarang," batin Zara


Zara yang malu akhirnya mengakhiri sambungan teleponnya.


Akhirnya Zara mengatakan kepada Nayla, kalau Adhi tidak menghubunginya karena tidak mau memberi harapan untuk Nayla. Nayla pun mengerti kalau ternyata Adhi tidak menyukainya, dan Nayla berhenti berharap pada Adhi.


"Aku cuma kesel saja, aku dah coba mendekatkan kamu dengan Nayla, tapi kamu tidak mau berusaha untuk deket dengan nayla. Aku itu tidak tega melihat kamu merana karena di tinggal Fira menikah." Zara mengungkapkan kekesalannya pada Adhi.


Adhi yang melihat Zara sudah mulai banyak bicara, hanya tertawa di tambah dengan setiap kata yang diucapkan oleh Zara.


"Merana?, dia pikir aku tampak merana begitu," batin Adhi.


"Kamu kasihan denganku?" Tanya Adhi.


"Iya," lirih Zara.


"Aku belum pernah di tinggal menikah," ucap Zara sedikit tak terima.


"Pacaran saja belum ada, bagaimana bisa di tinggal menikah," gumam Zara tapi masih bisa di depan oleh Adhi.


Adhi tertawa mendengar ucapan Zara. "Aku bilang andai, ya kamu bayangkan saja."


"Apa kamu akan langsung mencari orang lain untuk pengantinya?" Lanjut Adhi.


"Aku nggak akan langsung cari pengganti, tapi aku akan berusaha melupakan dulu"


"Pinter," puji Adhi.

__ADS_1


"Kalau kamu jadi aku, bagaimana kamu melupakannya?"


"Aku...." Zara berfikir apa yang akan di lakukan. "Aku akan jalan sama teman-teman aku, nonton, makan, pokoknya bersenang-senang."


"Sayangnya aku tidak punya teman," ucap Adhi seray melirik Zara.


"Kamu tidak menganggap aku teman?" Tanya Zara dengan tatapan tajam.


"Ya, aku sih menganggap kamu teman, tapi kamu menganggap aku teman atau tidak aku tidak tahu."


"Aku menganggap kamu teman, dhi."


"Kalau kamu menganggap aku teman, berarti kamu mau menemani aku seperti yang kamu katakan tadi, apa tadi?" Tanya Adhi pura-pura lupa


"Jalan, nonton, makan." Zara menyebutkan satu-satu tanpa sadar.


"Ya itu maksud aku, kamu mau?"


"Kok jadi aku yang harus menemani?" Tanya Zara tidak terima.


"Tadi kamu bilang kamu menganggap aku teman, tadi kamu bilang melupakan harus dengan jalan sama teman."


Zara mengerti maksud Adhi. "Jadi kamu minta aku buat temenin buat lupain Fira?" Tanya Zara memastikan lagi


"Sip pinter, itu maksud aku"


"Mau?" Tanya Adhi menatap sejenak Zara penuh harap.

__ADS_1


Zara menghela nafasnya, mengingat bahwa dia tidak tega terhadap Adhi, yang belum bisa melupakan Zara. "Oke," jawab Zara.


__ADS_2