Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Kenangan indah


__ADS_3

Tok..tok...


Suara pintu apartemen Jeje di ketuk.


Suara pintu di ketuk seketika membuyarkan mimpi indah Fira. Dia mulai membuka perlahan matanya, mengedarkan pandangan mencari jam dinding. "Jam enam."


Ketukan pintu tak terhenti terdengar, membuat Fira membangunkan Jeje yang masih pulas tertidur. Fira mengoyang-goyangkan lengan Jeje, yang melingkar di tubuhnya. "Sayang, bangun."


Jeje yang di bangunkan oleh Fira hanya melenguh saja. Fira mencoba mengoyang-goyang lengan Jeje. "Sayang bangun." Fira mengulang kata-katanya lagi.


"Aku masih ngantuk sayang," ucap Jeje. Jeje yang semalam menemani Fira yang tidak bisa tidur, dan baru tidur menjelang pagi.


"Ya sudah, biar aku yang buka." Fira menyingkirkan lengan kokoh, yang dari semalam memeluknya.


Jeje yang merasakan Fira menyingkirkan tangannya, langsung membuka matanya sempurna. "Biar aku saja." Jeje yang tidak mau Fira lelah pun, bangun dan menuju pintu apartemen. Sambil melangkahkan kaki untuk membuka pintu apartemen, Jeje mengrutu siapa yang pagi-pagi datang bertamu.


Di pegangnya gagang pintu dan membukanya. "Mama." Jeje yang membuka mendapati mamanya yang pagi-pagi datang bertamu.


"Mana Fira?" Mama Inan langsung masuk ke dalam apartemen, tanpa di persilahkan masuk lebih dulu.


"Fira di kamar.."


Belum selesai Jeje melanjutkan ucapannya, Mama Inan sudah melangkahkan kakinya meninggalkan Jeje, dan menuju kamar Fira.


Jeje yang melihat mamanya berlalu, hanya bisa memutar bola mata malas. Akhirnya dia pun melangkah, menyusul mamanya ke kamar.


"Fira." Suara Mama Inan, mengisi keheningan apartemen, yang hanya di huni oleh Fira dan Jeje.


Fira yang masih di tempat tidur mendengar suara mertuanya. Dia langsung menyibak selimutnya dan berdiri melangkah keluar kamar. Tapi belum sempat dia keluar, Mama Inan sudah di depan pintu.


"Sayang, kamu mau kemana?" Mama Inan langsung menghampiri Fira.


"Fira mau temui mama." Fira benar-benar merasa malu, di jam segini dia baru saja bagun tidur.


"Nggak perlu, biar mama aja yang kesini." Mama Inan pun membawa Fira, untuk duduk di atas tempat tidur.


Fira hanya bisa mengikuti perintah mamanya, dan ikut duduk.


"Kamu beneran hamil?" Mama Inan memperjelas kembali, berita yang di dengar kemarin dari Jeje.


"Iya ma."


Mama Inan tersenyum, dan langsung memeluk Fira. "Padahal mama mau bawa kamu ke dokter kandungan, untuk program hamil."


"Buat Fira hamil nggak perlu program-program ma," potong Jeje, yang baru saja masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Mama Inan langsung menoleh pada putranya, "Iya mama percaya, anak mama emang jago," puji Mama Inan sambil tersenyum.


Jeje yang mendengar ucapan Mamanya memberikan kerlingan mata, dan senyum kemenangan. Kebanggaan tersendiri baginya, bisa membuat Fira langsung hamil.


"Tapi inget ya je, Fira sedang hamil muda. Kamu jangan sering-sering, apa lagi membuat Fira jadi lelah. Ibu hamil nggak boleh terlalu lelah." Mama Inan menasehati Jeje.


Jeje yang mendengar kata jangan sering-sering, langsung lemas. Rasanya dia belum bisa membayangkan seberapa kuat dirinya, menahan diri untuk tidak sering bergumul dengan Fira.


Pipi Fira merona, mendengar ucapan mertuanya. Dia malu saat pembahasan mengarah kesana.


"Mama kenapa datang pagi-pagi?" protes Jeje


"Mama sudah nggak sabar, mau ketemu Fira, jadi mama bangun lebih awal dan langsung kesini."


Fira yang mendengar merasa sangat senang, tidak menyangka reaksi mertuanya akan sampai seperti itu.


"Mama tadi juga masak buat kalian." Mama Inan memamerkan tas berisi masakan.


Jeje yang mendengar mamanya memasak merasa kaget. "Mama masak?" tanyanya memastikan.


Mama Inan langsung tersenyum. "Bu idah yang masak, bukan mama," elaknya malu.


Jeje sudah bisa menebak, kalau bukan mamanya yang memasak. Jeje tahu betul, dari Bu wati, Bu Ani, dan sekarang Bu Idah, mamanya jarang sekali memasak, karena asisten rumah tangganya lah yang memasak.


Sedangkan Jeje dan Fira, berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jeje memilih kamar mandi, yang terletak di kamar sebelah, agar tidak terlalu lama menunggu Fira.


***


Setelah mereka selesai, mereka berdua menuju meja makan. Dan sudah ada Mama Inan yang sudah menunggu. Mereka memulai makan, setelah Fira dan Jeje menarik kursi untuk duduk.


"Kamu harus banyak makan sayur," ucap Mama Inan, seraya mengambilkan sayur dan memasukannya ke piring Fira.


Fira hanya bisa menerima, dan memakan apa yang di berikan mertuanya.


"Apa Bu Ani sudah tahu kamu hamil?" Mama Inan menatap Fira dan bertanya.


"Sudah ma, kemarin Fira sudah mengabari ibu," ucap Fira, dan Mama Inan mengangguk mengerti penjelan Fira.


"Apa kalian tidak tinggal di rumah saja, jadi mama bisa menjaga Fira." Mama Inan menatap Jeje dan Fira, meminta jawaban atas pertanyaannya.


Jeje yang mendengar permintaan mamanya, memikirkan bagaimana cara menolak tapi tidak menyakiti mamanya. "Jeje rasa Fira belum terlalu merepotkan ma, sampai sekarang juga Fira masih normal dan belum banyak perubahan. Jadi Jeje rasa kami masih bisa tinggal disini."


"Ya tapi tetap saja, tidak selamanya kalian akan tinggal di apartemen ini kan. Apa lagi nanti saat anak kalian lahir, mereka perlu rumah yang luas."


Jeje hanya tersenyum mendengar kekawatiran mamanya. "Jeje sudah siapkan semua ma. Jeje juga sudah siapkan rumah untuk kami tinggal bersama anak-anak," jelasnya pada mamanya.

__ADS_1


Fira yang mendengar ucapan Jeje, langsung menatap Jeje. Selama ini, dia tidak tahu kalau Jeje menyiapkan rumah.


"Ya sudah kalau begitu."


Setelah selesai makan, Fira menemani mamanya mengobrol. Mama Inan juga berbagi pengalaman selama kehamilan Jeje dulu.


"Mama pulang dulu ya, nanti kabari kalau kalian butuh apa-apa." Mama Inan pun berpamitan. "Ingat ya je, jangan buat Fira lelah." Satu peringatan tegas dari Mama Inan.


"Iya," jawab Jeje malas.


Fira dan Jeje mengantarkan mamanya sampai depan pintu apartemen. Dan menutup pintu setelah mamanya pergi.


"Benar kamu sudah siapkan rumah?" tanya Fira pada Jeje yang sedang menutup pintu.


Jeje yang mendengar Fira bertanya, berbalik setelah menutup pintu. "Iya, tapi belum sepenuhnya rampung."


"Kenapa kamu nggak pernah bilang?"


Jeje melihat istrinya tersenyum kecil. Dia tahu istrinya sedang sedikit kesal, karena dia tidak memberi tahu. "Tadinya aku mau memberi kejutan, tapi karena mama meminta kita tinggal bersama, akhirnya aku harus mengatakannya." Jeje melangkahkan kakinya mendekat pada Fira. Dia memeluk pinggang istrinya dengan lembut, dan menatap pada wajah Fira. "Aku akan mengajakmu nanti kesana. Dan kamu bisa menentukan untuk


furniture yang kamu suka."


Kekesalan Fira pun mereda, dia mengangguk, menerima penjelasan Jeje. "Lalu apartemen ini dan apartemen sebelah?" Fira teringat dua apartemen milik Jeje.


"Apartemen sebelah akan aku jual, tapi apartemen ini tidak akan aku jual."


"Kenapa?"


"Karena di apartemen ini, cinta kita di pertemukan. Dan aku tidak mau menghilangkan kenangan indah kita," ucapnya membelai wajah Fira.


Fira tersenyum mendengar ucap Jeje. Dia membenarkan, cinta mereka di mulai dari apartemen ini. Dan di juga tak mau kenangan itu hiang begitu saja.


.


.


.


.


.


Jangan lupa berikan like dan vote🄰


Mampir juga ke karya istagram aku Myafa16

__ADS_1


__ADS_2