
Fira yang di beritahu Jeje, kalau nanti malam akan ada makan malam dengan Adhi, menyiapkan diri. Membuka lemarinya, Fira mencari dress yang pas untuknya pergi makan malam.
"Dress apa yang akan aku pakai?" Fira yng memilih-milih dress, mencari dress untuk di pakai.
"Sayang," ucap Jeje seraya membuka pintu. Jeje yang baru saja pulang, tidak mendapati Fira menyambutnya. Mencari Fira di kamar, Jeje memenemukan Fira yang sedang mengacak-acak lemari.
"Apa yang sedang kamu kerjakan?" Jeje yang melihat dress berserakan di atas tempat tidur, merasa sangat bingung.
"Aku sedang mencari dress untuk makan malam."
Jeje mengerutkan keningnya saat mendengar, bahwa Fira sedang mencari baju. "Sayang, kita hanya akan makan malam dengan Adhi. Kenapa harus sibuk memakai baju apa. Jangan terlalu formal."
Fira langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Jeje. Entah kenapa hari ini, Fira memang ingin sekali memakai dress. Tapi saat mendengera ucapan Jeje, mood Fira seketika berubah. " Ya, sudah aku tidak ikut saja."
Fira mulai merapikan pakaian yang tergeletak di atas tempat tidur. Dengan perasaan kesal, Fira mengembalikan dress yang dia keluarkan dari lemari.
Jeje yang melihat Fira marah, hanya bisa menelan salivanya kasar. Sejenak Jeje lupa kalau istrinya sedang hamil. "Sayang bukan maksud aku seperti itu." Jeje mencoba membujuk Fira.
Mendengar Jeje membujuknya, Fira sama sekali menghiraukan Jeje. Dia malas harus berdebat dengan Jeje. Apa lagi hanya untuk masalah dress.
"Memang kamu mau pakai dress apa sayang?" Jeje membujuk Fira yang masih terus marah padanya.
"Tidak, aku tidak jadi ikut," jawab Fira ketus.
Jeje semakin di buat bingung dengan kemarahan Fira. Entah apa yang harus dia lakukan lagi, agar istrinya itu tidak marah. "Bagaimana jika yang ini?" Jeje mengambil satu dress berwarna biru yang tergeletak di atas tempat tidur, dan menunjukan pada Fira.
"Tidak." Suara Fira masih terdengar ketus saat menjawab pertanyaan pada Jeje.
"Bagimana jika yang ini?" Jeje menunjukan dress warna pink pada Fira.
"Tidak."
"Yang ini?" Tangan Jeje membawa dia dress dan menunjukan dress warna kuning untuk Fira.
"Tidak."
Rasanya Jeje sudah kehilangan ide untuk membujuk Fira. "Yang ini." Jeje menunjukan dress warana merah pada Fira, dan itu adalah dress terakhir yang Jeje tunjukan pada Fira.
"Iya."
Mata Jeje langsung membulat mendengar jawab Fira. Seperti mendapat oase di gurun pasir, Jeje seolah mendapatkan jawaban luar biasa. Dirinya yang sudah pasrah mencari dress untuk Fira, akhirnya mendapatkan jawaban 'iya' dari Fira di akhir.
"Baiklah, cepat pakailah," ucap Jeje seraya menyerahkan dress yang di pilih Jeje.
"Aku juga akan bersiap." Jeje berlalu ke kamar mandi, dan membersihkan diri terlebih dulu, sebelum pergi makan malam bersama Adhi.
Fira yang menerima dress dari Jeje, langsung menganti bajunya dengan dress. Setelah selesai, Fira memoles sedikit wajahnya.
"Apa yang kamu kerjakan saat aku pergi tadi?" tanya Jeje saat keluar dari kamar mandi.
"Aku hanya menonton film, dan membaca beberapa artikel, setelah itu bersiap saat kamu menghubungi aku."
Jeje yang mendengar penjelasan Fira, mengerti jika setengah hari di rumah, Fira pakai untuk menonton dan membaca artikel. Paling tidak Jeje merasa lega, saat Fira tidak terlalu lelah seharian.
"Apa Zara akan ikut?"
"Pertanyaanmu sepertinya tidak perlu aku jawab." Jeje yang mememakai kemejanya, melihat ke arah Fira.
Sebenarnya Fira membenarkan ucapan Jeje. Tanpa dirinya bertanya pun, dirinya tahu Zara akan ikut atau tidak. Tapi tetap saja, Fira ingin jawab Jeje yang melegakan.
Melihat Fira yang tampak kesal, pun mendekat pada Fira. Memeluk Fira dari belakang, Jeje berusaha membujuk Fira. "Apa anakku di dalam perutmu ini sedang sensitif?" tanya Jeje. Membenamkan kepalanya di ceruk leher Fira, Jeje mencium leher Fira yang tertutup rambut.
"Kenapa memangnya?"
"Karena mamanya dari tadi sensitif," Jeje mencoba mengoda Fira.
Fira yang di goda malah semakin kesal, dan Jeje memahami itu, karena dari pantulan cermin terlihat jelas jika Jeje melihat Fira kesal. "Jangan marah, aku hanya bercanda." Jeje memberikan satu kecupan di pipi Fira.
Melihat apa yang di lakukannya, untuk membuat dirinya tidak marah, Fira tersenyum. Fira sediri tidak tahu, kenapa dirinya terlihat kesal dari tadi. "Maaf," ucap Fira menyadari jika dirinya bersalah.
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf, cukup tersenyumlah padaku. Tunjukan lesung pipimu." Jeje melihat Fira dari pantulan cermin tersenyum, menanti senyum Fira yang di hiasi dengan lesung pipi.
Fira pun langsung tersenyum dan menghiasi senyumaya dengan lesung pipinya.
"Cantik." Jeje memberikan kecupan di pipi dan menegakkan tubuhnya. Kembali bersiap Jeje mengancingkan kemejanya.
Setelah melalui drama, akhirnya Fira dan Jeje keluar dari apartemen, dan menuju ke restoran milik Daffa.
Sesampainya di restoran Daffa, Fira dan Jeje melihat sudah ada Adhi, Zara, Daffa, dan Tania.
"Kenapa kamu tidak bilang jika ada Tania juga?"
Jeje yang mendapat pertanyaan dari Fira pun, bingung menjawab apa. Karena setahu Jeje, Adhi tidak mengatakan tentang kedatangan Daffa. Tapi mengingat Daffa adalah kakak Adhi, wajar saja, jika Adhi mengundang Daffa, untuk merayakan kesuksesannya. "Apa kamu lupa Daffa kakak Adhi, aku rasa wajar Adhi mau berbagi kebahagiaan.
"Iya juga." Fira yang menyadari hal yang sama dengan ucapan Jeje, mengangguk mengerti dengan ucapan Jeje.
"Hai," sapa Fira pada Zara dan Tania sesampainya di meja restoran. Fira langsung menautkan pipinya pada pipi Zara, dan bergantian menautkan pada pipi Tania seraya menyapa dua wanita di hadapannya.
"Hai, Bro." Jeje menjabat tangan Daffa seraya menyapa Daffa. Beralih pada Adhi, Jeje menyapa Adhi. "Hai, Dhi."
"Ayo, duduk." Adhi mempersilakan Jeje dan Fira duduk.
"Selamat ya, Dhi. Akhirnya sekarang sukses menjadi CEO," ucap Fira.
"Terimakasih," ucap Jeje. "Ini semua juga berkat Bang Jeje yang mau mengajari aku."
"Jangan berlebihan, aku tidak melakukan apa pun. Kamu memang berbakat, dan semua karena keahlianmu."
"Terimakasih Je, loe udah bantuin Adhi." Suara Daffa terdengar juga berterimakasih.
"Jangan berterimakasih, guea nggak melakukan apa-apa." Jeje tidak habsi pikir temannya itu pun ikut berterimakasih.
"Sudah-sudah, tidak ada kata terimakasih untuk teman. Semua di lakukan karena kasih sayang." Fira mengakhir pembicaraan Jeje dan Daffa.
"Iya kita kemari untuk merayakan, jadi mari kita menikmati makan malam." Tania pun ikut berbicara.
"Rencananya aku akan ke luar negeri bertukar dengan Om Edward." Di sela-sela makan
"Kenapa?" tanya Daffa yang sedikit kaget.
"Mama ingin menunggui Kak Tania melahirkan."
Tania yang mendengar merasa sangat terharu. Tenyata mertuanya itu sangatlah perduli denganmu, hingga mau tinggal bersama dengannya, hanya untuk menunggu dirinya lahiran. "Apa kamu tidak keberatan?" Tania yang merasa tidak enak dengan Adhi pun bertanya.
Sebenarnya Adhi merasa sangat berat, apa lagi meninggalkan Zara. Tapi mengingat kesempatan mamanya hanya sekali saja. Dirinya masih bisa meredam egonya. "Aku tidak apa-apa." Adhi mencoba menenangkan Tania.
"Tenang saja, nanti aku akan bantu jaga Zara," goda Fira pada Adhi.
Semua yang di meja makan pun tertawa, mereka semua tahu, hubungan mereka yang baru saja terjalin, membuat mereka berat untuk berpisah.
Adhi menatap Zara lekat. Tatapan penuh cinta, tersorot dari mata keduanya.
Mungkin benar kata Fira. Dirinya harusnya tenang, karena di kelilingi orang-orang yang begitu menganyanginya. Mereka pun juga akan menjaga Zara untuk dirinya.
Setelah makan malam selesai, Jeje, Adhi, Daffa, Fira, Zara, dan Tania berpisah. Dafa dan Tania lebih dulu pulang, di susul Jeje dan Fira. Tinggal Adhi dan Zara yang terakhir pulang.
Naik ke dalam mobil, Adhi melajukan mobilnya ke rumah Zara.
"Apa kamu sudah siap aku tinggal ke luar negeri?"
Zara yang mendengar ucapan Adhi pun menoleh. "Siap atau tidak, kamu harus kembali. Lagi pula kamu akan kembali, jadi kenapa aku harus tidak siap."
Adhi tersenyum pada Zara. "Jika kamu yang siap, aku yang tidak siap."
"Dhi..." panggil Zara.
Adhi langsung tertawa, saat Zara menegurnya. "Iya, aku akan siap," ucap Adhi menenangkan Zara. Adhi meraih tangan Zara, dan mengenggamnya.
"Aku akan baik-baik saja, tenanglah." Zara mengeratkan genggaman tangannya yang di genggam oleh Adhi.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Zara turun dari mobil. Menunggu mobil Adhi pergi Zara masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke dalam rumah, Zara berpapasan dengan ibunya.
"Kamu dari mana, Ra?" tanya Bu Intan pada Zara yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Dari makan malam bersama teman," jawab Zara datar. Sejak ibunya tinggal di rumah. Zara belum sempat berbicara sama sekali dengan ibunya. Dirinya juga belum sempat bertemu dengan ayahnya, untuk menanyakan kenapa ibunya di rumah.
"Di antar pacar kamu?" Bu Intan sadar jika Zara sedang menjauhinya. Mencoba mengakrabkan diri, Bu Intan bertanya pada Zara.
"Iya."
"Kenapa tidak di ajak masuk?"
"Sudah malam."
Mendapat jawaban ketus dari Zara, Bu Intan tidak berani bertanya kembali pada Zara. "Ya sudah kamu istirahat dulu."
Tanpa menjawab ucapan ibunya, Zara berlalu begitu saja meninggalkan ibunya.
Bu Intan yang melihat sikap Zara, menyadari jika sebenarnya dirinya yang salah. Meninggalkan anak-anaknya demi pria lain, mungkin menyisakan luka di hati anak-anaknya.
"Kamu kenapa?" tanya Abian yang baru saja pulang kerja.
Menghapus air matanya Bu Intan mencoba menutupi dari mantan suaminya itu. "Tidak apa-apa."
Abian tahu telat terjadi sesuatu. "Apa Zara sudah pulang?"
"Sudah."
"Aku akan menemuinya, siapkan saja makan malamku." Abian berucap seraya melangkah menuju kamar Zara.
Mengetuk pintu kamar Zara, Abian meraih handle pintu saat terdengar suara Zara mempersilakan masuk.
"Ayah," ucap Zara saat tahu kalau ayahnya lah yang mengetuk pintu.
"Sedang apa kamu?" tanya Abian.
"Baru mau mandi, Yah."
"Sejak kamu pulang dari luar negeri ayah belum bertemu kamu."
"Ayah sibuk sekali, sampai pulang larut malam. Jadi Zara jarang bertemu dengan ayah."
"Iya, di bengkel banyak sekali perkerjaan." Ayah Zara memiliki bengkel kecil, yang sudah dia kelola sendiri sejak lama.
"Ayah jangan terlalu lelah." Zara yang menyadari, jika ayahnya memiliki riwayat jantung, merasa khawatir.
"Iya," ucap Abian pada putrinya. "Apa ada yang ingin kamu tanyakan?"
Zara tahu ayahanya sengaja mengatakan akan hal itu pada dirinya. "Kenapa ibu disini?" Rasanya pertanyaan itu sudah berada di dalam kepalanya beberapa hari yang lalu. Hingga dia tidak bisa menebak apa yang di kerjakan ibunya di rumah ayahnya.
"Ibumu di ceraikan oleh suaminya, selama belum ada tempat tinggal dia akan tinggal disini."
"Kenapa..."
"Ra, dia juga ibumu. Ayah hanya merasa kasihan, jika dia tinggal terlantar di jalan. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa."
"Tapi yah, aku belum bisa menerimanya."
"Ayah tahu, tapi setidaknya belajarlah untuk menerima dan memaafkan dia. Ayah yakin, kamu lebih pahan bagaimana sakit hati ayah, tapi ayah berlapang dada menerimanya kembali.
Zara tidak habis pikir kenapa ayahnya bisa berpikir seperti itu. Dirinya saja ssbagai anak terluka, apa lagi ayahnya. "Zara tidak bisa janji, yah."
"Tidak apa-apa, tapi berusahalah."
Zara hanya bisa memilih mengangguk menenangkan ayahnya.
Setelah ayahnya pergi, Zara hanya bisa memikirkan bagaimana dirinya bisa berusaha memaafkan ibunya.
__ADS_1