Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Kegelisahan


__ADS_3

Setelah jam makan siang selesai, Jeje melanjutkan kembali perkerjaanya.


Fira yang melihat Jeje sudah mulai berkerja, bingung apa yang harus di kerjakan nya. Akhirnya dia memilih untuk bertanya pada Jeje. "Sayang, apa tidak ada perkerjaan yang bisa aku kerjakan?"


Jeje yang sedang fokus pada laptopnya pun menoleh. Bukannya tidak ada perkerjaan, tapi Jeje memang tidak ingin membuat Fira lelah. "Istirahatlah, agar tubuhmu tidak lelah."


Fira mencebikkan bibirnya. Dalam hatinya mengrutu, bukankah dirinya sudah cukup tidur tadi di ruangan Jeje. Fira yang malas pun memilih membaca novel di ponselnya.


Fira merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tanpa terasa matanya perlahan mulai terpejam saat sedang asik membaca novel. Ponsel yang tadinya berada di tangannya tiba-tiba terjatuh tepat di dadanya.


Jeje yang sudah tidak mendengar suara Fira yang bertanya-tanya lagi pun menatap Fira. Jeje langsung menarik senyum di ujung bibirnya, saat melihat istrinya itu tertidur.


Saat sedang sibuk dengan perkerjaanya. Jeje mendengar suara pintu di ketuk. Setelah Jeje mempersilahkan masuk. Orang di balik pintu itu masuk ke dalam ruangan Jeje.


Arman yang ingin menyerahkan laporan penjualan bulan ini, masuk ke dalam ruangan Jeje, setelah Jeje mengizinkan masuk. Arman langsung melangkah menuju meja kerja Jeje. Tapi saat dia melangkah, ekor matanya menangkap sesorang yang tidak asing, yang sedang tertidur di atas sofa.


Arman yang merasa salah saat melihat, mencoba menoleh untuk memastikan apa benar yang di lihatnya. Dan ternyata benar yang di lihatnya sama dengan dugaanya. Dia melihat Fira yang sedang asik tertidur di sofa ruangan Presdirnya.


Jeje yang melihat Arman melihat Fira merasa geram. Bisa-bisanya karyawannya menatap istrinya seperti itu. Jeje bukan tidak tahu, kalau mantan atasan Fira ini, menaruh hati pada Fira. "Apa Pak Arman masih betah berkerja disini?" Tanya Jeje penuh dengan ancaman.


Arman yang mendengar pertanyaan dari Jeje, langsung menoleh ke arah Jeje duduk. Arman yang melihat Jeje menatap tajam, tahu kenapa Jeje itu menatapnya seperti itu. "Saya masih betah Pak," jawab Arman gugup.


"Kalau Pak Arman masih betah, tolong jangan menatap istri saya sedikit pun. Kalau sampai itu terjadi, anda akan saya kelurkan dengan tidak hormat." Jeje menetap tajam dan memberi peringatan keras pada Arman.


Arman yang mendengar ancaman dari Jeje terperangah. Dirinya tidak menyangka mendapat peringatan keras dari atasannya. Dalam hatinya, apalah dayanya jika harus bersaing dengan atasannya sendiri yang lebih segalanya dari dirinya. Lebih baik dia simpan rapi di sudut hatinya, rasa sukanya pada Fira. "Baik Pak." Arman pun hanya bisa menuruti perintah Jeje.


Mendengar jawaban Arman, Jeje langsung meminta Arman untuk keluar dari ruanganya. Arman pun keluar tanpa melirik atau melihat ke arah Fira yang tertidur di sofa.

__ADS_1


Jeje melangkah menuju sofa dimana Fira tertidur. Dia berjongkok di depan Fira, agar bisa menjagkau wajah istrinya. "Saat aku sudah memiliki dirimu pun, masih banyak pria yang berusaha menyukaimu. Aku tidak akan tahu bagaimana jadinya, jika ada yang mengambilmu dariku." Jeje membelai wajah Fira lembut


Fira membuka matanya perlahan saat dia merasa sentuhan lembut di pipinya. " Aku ketiduran," ucapnya saat membuka mata dan melihat Jeje di depannya.


"Apa perkerjaanmu sudah selesai?" Fira bangun dari tidurnya dan duduk di sofa.


"Perkerjaanku tidak akan ada habisnya. Jadi tidak akan ada kata selesai," ucapnya pada Fira. "Tapi untuk hari ini cukup disini, sekarang kita pulang." Jeje pun akhirnya mengajak Fira untuk pulang.


**


Sesampainya di apartemen, Jeje memasak dan menyiapkan makan malam untuk Fira dan dirinya. Jeje pun melarang Fira untuk membantunya memasak. Akhirnya Fira hanya bisa menunggu saja di meja makan.


Setelah Jeje selesai, dia pun menyajikan makanan, dan mereka berdua makan bersama.


"Sepertinya kita butuh asisten rumah tangga." Jeje yang sedang makan pun membahas soal ini pada Fira. Jeje berpikir untuk tidak membebani perkerjaan pada Fira.


"Mungkin begitu," ucap Fira pada Jeje. Fira yang melihat Jeje benar-benar kewalahan mengerjakan perkerjaan kantor dan rumah, merasa, mereka memang butuh adanya asisten rumah tangga di apartemennya.


Setelah makan malam, mereka berdua pergi mengosok giginya dan bersiap untuk tidur. Mengistirahatkan tubuh mereka, dan menyiapkan tenaga untuk hari esok.


***


Mata Fira mengerjap, saat gerakan di tempat tidur membuatnya terbangun. Fira membuka matanya perlahan, mengedarkan pandangan mencari jam dinding yang terpasang di dinding kamarnya. "Jam tiga," gumamnya saat melihat jarum jam menunjukan angka tiga dan dua belas dini hari.


Seketika mata Fira beralih melihat Jeje yang tidur membelakanginya. Dari tadi Fira merasakan gerakan dari tubuh Jeje di atas tempat tidur. Jeje yang tidur berbalik arah berkali-kali, membuat tempat tidur sedikit bergoyang. "Sayang." Fira mencoba memanggil Jeje. Rasanya dia ingin tahu apa yang terjadi pada suaminya.


Jeje yang di panggil oleh Fira, membalikkan tubuhnya menghadap pada Fira. Jeje sedikit kaget saat mendapati Fira terbangun. Dia melihat dengan jelas, dua bola mata Fira yang masih menyipit, yang menandakan bahwa Fira masih begitu mengantuk. "Kamu bangun?" Tanya Jeje ragu-ragu.

__ADS_1


"Kamu kenapa?, Apa kamu sakit?" Fira menatap penuh curiga. Fira tahu, bahwa Jeje selalu tidur tanpa banyak bergerak. Dan saat mendapati Jeje berbalik-balik saat tidur, membuatnya bertanya-tanya.


"Tidak aku tidak sakit," elaknya pada Fira.


Fira memperhatikan wajah Jeje yang nampak gelisah. Entah apa yang terjadi pada suaminya itu. Apalagi jam menunjukkan masih dini hari. Dan di jam segini, semua orang sedang tertidur pulas. "Lalu kenapa jam segini kamu belum tidur, apa kamu tidak bisa tidur?"


"Iya," jawabnya. Kegelisahan di dalam dirinya begitu membuatnya tidak bisa memejamkan matanya.


Fira mengeser sedikit tubuhnya, mendekat pada Jeje.Dia mencoba melingkarkan tanganyanya di perut Jeje, memberikan kehangatan agar suaminya bisa tertidur. "Ayo tidur, aku akan memelukmu," ucapnya seraya mengeratkan pelukan. Fira hanya bisa berharap, setelah mendapat pelukan Jeje akan bisa tertidur.


"Apa kamu mengantuk?" Suara Jeje ragu-ragu bertanya. Fira yang mulai memejamkan mata hanya mengangguk sedikit, menjawab pertanyaan Jeje. "Apa kamu lelah?" Tanya Jeje lagi pada wanita yang ada di pelukannya itu. Fira masih mengangguk untuk menjawab.


Jeje menghela nafasnya, rasanya dia tidak bisa menahan diri, saat Fira berada tepat di pelukannya. Tapi melihat Fira yang begitu nyaman, rasanya tidak tega untuk memintanya menyingkir. "Baiklah tidurlah." Jeje hanya bisa pasrah dan ikut memejamkan matanya.


Fira menarik garis senyumnya. Dia mulai merangkak naik, mengecup dada Jeje dan menyusuri menuju leher Jeje. "Asalkan lembut, aku rasa tidak apa-apa," ucapnya berbisik tepat di telinga Jeje.


Mata Jeje yang tadinya terpejam, langsung terbuka sempurna mendengar bisikan dari Fira.


Matanya beradu dengan dua bola mata Fira. Senyum kecil yang di tunjukkan Fira menandakan, dia tahu apa yang dari tadi membuat suaminya itu gelisah. "Apa kamu yakin?" Tanyanya memastikan lagi, dan Fira mengangguk.


Jeje langsung membalikkan tubuh Fira. Membuatnya berada di bawa kungkungannya. Dia langsung membenamkam bibirnya di bibir Fira. Mencium dengan lembut bibir Fira. Menyusuri setiap inci tubuh istrinya yang beberapa hari dia tidak sentuh.


Dengan lembut Jeje memulai penyatuan mereka. Gerakannya di buat selembut mungkin, agar bayi dalam perut Fira tetap aman. Walaupun dengan gerakan lembut, tetap saja tidak mengurangi kenikmatan yang di dapat oleh mereka berdua.


**


"Terimakasih," ucap Jeje mengecup kening Fira setelah penyatuan singkat tadi. Fira yang tertidur pun sudah tidak merasa saat Jeje menciumnya. Senyum masih mengembang di wajah Jeje, walaupun hanya sebentar agar Fira tidak terlalu lelah, tapi setidaknya bisa mengobati rasa rindunya pada tubuh Fira.

__ADS_1


Jeje yang melihat Fira tertidur pulas hanya bisa berharap keadaan Fira akan baik-baik saja, setelah penyatuan mereka.


Akhirnya Jeje merasa tidurnya kali ini akan pulas karena kegelisahannya telah hilang.


__ADS_2