
"Fira, lima belas menit lagi, kamu ikut Tuan Edward ketemu klien ya," ucap Elen saat keluar dari ruangan Tuan Edward.
Fira yang mendengar perintah Elen sedikit bingung, Fira sudah yakin mengecek jadwal Tuan Edward untuk hari ini, dan menemukan bahwa tidak ada jadwal bertemu klien di luar, "Bukannya hari ini tidak ada jadwal ketemu klien?" tanya Fira memastikan.
"Aku juga baru di kasih tau fir, ya udah kamu siap-siap aja."
"Terus berkasnya mana?" Fira menatap bingung pada Elen yang tak memberi berkas seperti biasanya.
"Kata tuan Edward nggak perlu bawa berkas, karena hanya ingin bertemu saja, berkas-berkasnya akan menyusul nanti," jelas Elen pada Fira.
Elen yang melihah Fira masih bingung mendorong tubuh Fira lembut. "Sudah sana berangkat, jangan biarkan Tuan Edward menunggu."
"Dasar ibu hamil, pelan-pelan nanti kita bisa terjatuh, kalau kamu mendorong-dorong seperti itu," seru Fira yang di dorong oleh Elen.
"Aku melihat Tuan Edward terburu-buru Fir," bela Elen.
Akhirnya Fira pun terpaksa harus ikut acara bertemu klien yang di adakan secara tiba-tiba.
Fira juga tidak bisa menyalahkan Elen, sebagai sekertaris, mereka hanya bisa pasrah saat atasan meminta ikut keluar menemui klien tiba-tiba, atau mengubah jadwal tiba-tiba.
Fira langsung masuk ke dalam mobil, mengikuti Tuan Edward yang ingin bertemu dengan klien. Mereka berdua menuju sebuah restoran tempat bertemu klien.
Saat masuk ke dalam restoran, sejenak Tuan Edward mengedarkan pandangan, melihat kesekeliling mencari seseorang. Saat dia mendapatkan orang yang di cari, Tuan Edward berjalan menuju seorang pria.
Fira berjalan tepat di belakang Tuan Edward, Fira juga tidak bisa memastikan seperti apa klien Tuan Edward kali ini, karena klien Tuan Edward duduk membelakangi Fira dan Tuan Edward.
Tuan Edward berhenti tepat di belakang pria yang duduk membelakanginya. Dia langsung menyapa kliennya. "Selamat siang tuan Gajendra," ucap tuan Edward menyapa pria yang duduk membelakanginya.
Seketika tubuh Fira kaku mendengar nama yang disebut oleh Tuan Edward. Nama yang telah lama dia tidak dengar, karena nama itu hanya dia dengar waktu di kantor Jeje dulu
Fira ya berdiri di belakang tuan Edward, tidak bisa memastikan kalau nama yang di sebut Tuan Edward, adalah orang yang selama ini dia hindari.
Sampai saat dia membuka suaranya untuk menyapa balik tuan Edward. "Selamat siang juga Tuan Edward," sapa pria itu.
Saat pria itu menyapa Tuan Edwar, Fira mendengarkan dengan seksama, dan mengingat dengan benar suara yang dia dengar. "Jeje," batin Fira.
Di dalam hati, Fira hanya bisa meyakinkan dirinya sendiri, mungkin dia salah mendengar,
__ADS_1
Pria itu berdiri, dan tepat di hadapan tuan Edward. Tubuh Fira yang tertutup oleh tubuh Tuan Edward, membuatnya tak terlihat oleh pria itu.
Sampai saat pria itu mempersilahkan Tuan Edward duduk, dan Tuan Edward mengeser tubuhnya melangkah menuju kursi restoran.
Saat tuan Edward melangkah menuju tempat duduk, Fira melihat pria itu dengan jelas. Perawakannya yang terlihat dari belakang, sudah menjelaskan bahwa yang Fira kira dari tadi adalah benar. Gajendra yang di maksud dari Tuan Edward adalah Jeje.
Fira yang berdiri mematung benar-benar kehilangan tenaganya untuk ikut berjalan menuju kursi, dan ikut duduk bersama Tuan Edward. Dia benar-benar tidak menyangka bertemu Jeje di sini. Rasanya Fira belum siap bertemu dengan Jeje.
Sampai saat tuan Edward menyadarkan atas keterkejutannya. "Fira kamu masih diam disana," tegur Tuan Edward pada Fira.
Fira mengerjap mengembalikan kesadarannya.
"Perkenalkan ini sekertaris saya Fira." Tuan Edward menatap Fira, dan memperkenalkan pada rekan bisnisnya.
Jeje yang tersentak saat Tuan Edward menyebut nama Fira sontak langsung menoleh. Betapa kagetnya dia saat menoleh, karena mendapati wanita yang dia cari selama ini berdiri tepat di hadapannya.
"Fira," gumam Jeje.
Jeje yang masih duduk, dan hanya memutar kepalanya untuk melihat orang yang ada di belakangnya masih terpaku. Dia benar-benar tak menyangka akan bertemu Fira disini. "Dia disini."
Jeje yang selama enam bulan mencari Fira, tidak menyangka akan menemukan dia di luar negeri.
Fira yang di minta duduk oleh Tuan Edward perlahan berjalan, melewati Jeje dan menarik kursi. Fira duduk tepat di hadapan Jeje, dia masih tetap menunduk, tanpa menatap Jeje sama sekali. Fira hanya merasakan ketakutan yang luar biasa saat bertemu dengan Jeje.
Jeje yang tak berhenti menatap Fira yang berjalan melewatinya, dan menarik kursi tepat di hadapannya, hanya di penuhi dengan beribu pertanyaan.
Sampai saat Tuan Edward memulai perbincangan dengan Jeje. "Tuan Gajendra terimakasih sudah mau datang kemari, dan mempertimbangkan pembicaraan kita waktu di pernikahan Daffa."
"Jadi Tuan Edward bertemu di pernikahan kak Daffa." Akhirnya Fira menemukan jawaban bagaimana Tuan Edward dan Jeje bisa bertemu.
Jeje yang sudah mulai di ajak bicara oleh Tuan Edward masih menatap Fira. Fira yang di tatap Jeje pun memilih menunduk.
Tuan Edward yang melihat Jeje diam saja, mencoba memanggilnya kembali. "Tuan Gajendra."
Jeje yang keget di panggil langsung menoleh ke arah suara. Sebenarnya Jeje mendengar saat Tuan Edward berbicara, tapi fokusnya dari tadi hanya menatap Fira.
"Maaf Tuan Edward, memang benar saya kemari untuk mempertimbangkan tawaran dari Tuan Edward." Jeje mengingat pertemuannya dengan Tuan Edward di pernikan Daffa.
__ADS_1
" Om perkenalkan ini Gajendra teman Daffa, yang waktu itu Daffa ceritakan," ucap Daffa pada Tuan Edward.
"Perkenalkan Gajendra." Jeje mengulurkan tangannya menjabat tangan ayah tiri Daffa.
"Edward." Tuan Edward menerima uluran tangan Jeje.
"Kalian lanjutin mengobrolnya ya, aku mau menyapa tamu undangan yang lain." Daffa pun berlalu meninggalkan Tuan Edward dengan Jeje.
"Senang bisa bertemu dengan Tuan Gajendra, saya sudah mendengar banyak tentang anda, seorang pengusaha muda yang sangat sukses." Tuan Edward memuji Jeje setelah mendengar cerita Daffa, dan beberapa informasi yang dia cari.
"Tuan Edward terlalu melebihkan, saya masih harus banyak belajar dari anda yang sudah lama terjun ke dunia bisnis," elaknya yang merendah.
"Kebetulan sekali, saya ingin sekali berinvestasi di negara ini, jadi sepertinya saya bertemu dengan orang yang tepat."
"Oh Tuan Edward ingin berinvestasi di sini?"
"Iya Tuan."
"Dengan senang hati saya akan menerimanya,"
"Baiklah, kalau anda bisa, mohon luangkan waktu untuk melihat perusahaan saya," pinta Tuan Edward pada Jeje.
"Baiklah, saya akan cari waktu untuk datang, dan melihat perusahaan anda, dan membantu anda untuk berinvestasi di negara ini."
"Terimakasih Tuan Gajendra."
"Jangan terlalu sungkan Tuan Gajendra."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa likeš„°