
Jeje yang mendengar ucapan Fira, tersenyum. Selalu saja Fira bisa merubah mood nya seketika.
Fira yang melihat Jeje tersenyum merasa lega paling tidak emosi Jeje sudah mereda. Dia tinggal pikirkan nanti, apa yang akan di lakukan jika bertemu dengan Celia. Fira sadar betul bahwa dirinya masih akan sering bertemu dengan Celia, mengingat apartemen mereka yang berdekatan.
"Mau aku ambilkan minum?" tanya Jeje pada Fira.
Fira yang sedang sibuk dengan pikirannya, menoleh pada Jeje. "Mau," ucapnya di sertai anggukan.
"Baiklah, tunggu disini!" Jeje melangkah meninggalkan Fira, untuk mengambilkan minum.
Saat Fira sedang sendiri, dari kejauhan Fira melihat Zara. Fira pun memangil Zara, yang kebetulan sedang melihat ke arahnya.
"Kamu baru datang?" tanya Fira seraya menautkan pipinya pada pipi Zara.
"Sudah tadi, aku juga sudah menemui pasangan pengantin."
Fira melihat Zara yang seorang diri, dan tidak nampak Adhi di sampingnya pun bertanya, "kamu sendiri?"
"Iya, tadi aku naik taxi sendiri?"
Fira sedikit mengerutkan dahinya. "Kenapa tidak sama Adhi?" Fira tahu betul bahwa Adhi selalu berusaha mendekati Zara, dan harusnya dalam moment seperti ini Adhi akan mengajak Zara untuk datang ke acara Valeria.
Zara yang mendapatkan pertanyaan tentang Adhi, berubah gugup. Zara mengingat bagaimana kejadian di mobil, yang akhirnya membuat dirinya tidak berani melihat ke arah Adhi. Dan Zara memilih untuk berbicara pada Adhi hanya seperlunya saja saat di kantor. "Ya, aku hanya ingin berangkat sendiri saja," elak Zara pada Fira. Zara memaksakan senyumnya, dia tidak mau Fira menaruh curiga, bahwa Zara sedang menghindari Adhi.
Fira mengangguk mendengar alasan Zara. "Sudah sejauh apa hubunganmu dengan Adhi?" Fira menatap ke arah.
"Hubungan apa maksud kamu?"
Fira menghela nafasnya mendengar ucapan temannya itu. Ada rasa gemas saat Zara bertanya pada Fira. "Jangan bilang kamu nggak bisa lihat bahwa Adhi suka sama kamu?"
"Aku..."
"Kamu dulu bisa tahu, saat ada orang lain menyukai aku. Tapi saat ada orang yang menyukai kamu, jangan bilang kamu nggak tahu?"
"Bukan nggak tahu, fir. Tapi.." Zara menghentikan ucapannya. "Aku sendiri belum yakin sama perasaan Adhi," lanjut Zara menjelaskan.
Fira menatap tajam pada Zara. "Nggak yakin gimana?"
"Kamu tahu kan, bagaimana dia dulu menyukaimu?" Zara masih saja di bayang-bayangi oleh perasaan Adhi yang begitu mencintai Fira dulu. Rasanya sulit untuk Zara percaya bahwa Adhi menyukainya.
Kedua bola mata Fira membulat. "Kamu pikir Adhi masih menyukai aku?" tanya Fira memastikan.
Dengan ragu-ragu Zara mengangguk.
Fira benar-benar tidak percaya dengan ucapan Zara. "Ra, aku tahu dulu Adhi begitu mencintai aku, tapi bukan berarti dia nggak bisa jatuh cinta lagi. Aku melihat dari mata Adhi bahwa dia sudah tidak mencintaiku lagi. Dan sekarang giliran kamu melihat sendiri ke dalam mata Adhi, siapa yang di sukai Adhi."
Zara teringat dengan kejadian di mobil, saat Adhi menatapnya. Terlihat jelas bahwa sorot mata Adhi penuh cinta, saat menatapnya. Tapi dirinya sendiri belum yakin, karena Adhi belum pernah mengatakan cinta padanya.
Saat Fira dan Zara sedang berbincang, Fira melihat Jeje melangkah ke arahnya, bersama Daffa dan Tania. Fira melihat perut Tania yang sudah sedikit terlihat, karena dia memakai dress dengan potongan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ada rasa senang di hati Fira, saat melihat perut Tania yang sudah membuncit. Fira membayangkan bagaiamana rasanya dirinya juga akan seperti itu nantinya.
"Hai Tania, apa kabar?" tanya Fira seraya menautkan pipinya pada pipi Tania.
"Baik," ucap Tania saat melepas tautan pipinya. Tania pun beralih pada Zara, dan menyapa Zara seperti yang di lakukannya pada Fira.
"Tania perutmu sudah terlihat membesar ya, terakhir kali kita bertemu belum sebesar ini," ucap Fira senang melihat perubahan pada Tania.
"Iya, rasanya cepat sekali ya." Tania tertawa menjawab ucapan Fira.
"Kamu juga akan merasakan nanti," ucap Jeje melingkarkan tangannya pada pinggang Fira. Jeje pun menatap Fira, memberikan keyakinan bahwa Fira akan merasakan hal yang sama dengan Tania.
"Iya, aku sudah tidak sabar menantinya." Fira membalas menatap Jeje, dan tersenyum pada suaminya.
Jeje yang melihat Fira begitu semangat menanti moment-moment itu pun, juga merasakan hal yang sama. "Minumlah ini!" Jeje memberikan minuman yang tadi di ambilnya untuk Fira.
__ADS_1
Fira menerima gelas yang di bawa oleh Jeje, dan meminumnya. Rasanya memang tenggorokannya sudah mengering sejak datang di acara pernikahan Valeria.
"Aku dan Daffa, akan menemui teman-temanku, kamu tunggulah disini," ucap Jeje pada Fira.
Fira pun mengangguk mengizinkan Jeje menemui teman-temannya. Fira tahu, bahwa Valeria adalah teman kuliah Jeje, jadi beberapa teman Valeria adalah teman Jeje dan Daffa. Dan ini seperti ajang reuni untuk mereka.
"Bagaimana kehamilanmu, apa masih mual?" tanya Tania pada Fira.
"Masih, tapi tidak terlalu parah."
"Syukurlah kalau tidak terlalu parah, tidak seperti akau yang benar-benar tidak bisa makan." Tania menceritakan bagaimana kehamilannya yang membuatnya kehilangan nafsu makan.
Fira yang mendengar cerita Tania merasa bersyukur, paling tidak dirinya tidak berlebihan saat mual, dan malah masih bisa berkerja saat di masa-masa kehamilan ini.
Fira dan Tania, bercerita tentang kehamilan mereka, berbagi pengalaman yang mereka miliki.
Zara yang ada di sana hanya mendengarkan saja dan tidak bisa berkomentar, karena memang tidak mengerti dengan obrolan tentang kehamilan yang sedang Fira dan Tania bicarakan. Akhirnya Zara memilih untuk izin ke toilet pada Fira dan Tania.
Setelah dari toilet, Zara berencana untuk menghampiri Fira kembali, tapi saat dia melangkah, Zara merasa seseorang menariknya.
Zara yang ketakutan ingin berteriak, tapi saat dia melihat ke arah orang yang menariknya, dan dia tahu siapa yang menariknya, hingga akhirnya dia urung melakukannya. "Dhi, kenapa kamu menarikku seperti ini?"
Adhi yang sedang menarik Zara langsung berhenti, dan menoleh pada Zara. Tanpa bicara, Adhi menatap tajam pada Zara. Dan kembali melanjutkan langkahnya.
Zara melihat dengan jelas tatapan dari Adhi begitu tajam. Rasanya Zara tidak pernah melihat, Adhi menatapnya dengan cara seperti itu. Zara hanya bisa pasrah saat Adhi membawanya keluar dari hotel.
"Masuk!" perintah Adhi, menyuruh Zara masuk ke dalam mobil.
"Mau kemana kita?" tanya Zara.
"Masuk!" Suara Adhi sudah lebih lembut dari sebelumnya, hingga akhirnya membuat Zara menuruti keinginan Adhi untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah Zara masuk Adhi pun masuk ke dalam mobilnya. Adhi langsung menyalakan mobilnya, dan menyalakan AC dalam mobilnya.
Adhi memutar tubuhnya ke arah Zara, dan menatap Zara. "Kenapa berangkat sendiri?" tanya Adhi memecah keheningan di dalam mobil.
"Apa kamu tadi ke rumah?" tanya Zara polos. Sebenarnya, tanpa Zara bertanya pun jawabannya adalah 'iya'. Zara tahu betul Adhi akan menjemputnya, maka dari itu dia memilih untuk berangkat sebelum Adhi datang.
"Apa kamu sedang menghindariku?"
Zara benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, beberapa hari ini memang dirinya sedang menghindari Adhi. Tapi rasanya Zara tidak mungkin mengatakan iya.
Tidak mendapatkan jawaban dari Zara. Adhi mendekatkan tubuhnya. "Apa kamu sedang menghindari aku?"
Zara yang melihat Adhi mendekat, memundurkan tubuhnya, hingga dia menempel pada kaca pintu mobil, dan terkunci denga tubuh Adhi. "Aku tidak sedang menghindar," ucap Zara terbata.
"Lalu kenapa saat aku sampai di rumah kamu sudah tidak ada?" Adhi yang tadi berniat menjemput Zara, tidak mendapati Zara di rumah. Adik Zara-Nadia mengatakan bahwa Zara sudah berangkat dengan naik taxi.
Jarak yang terlalu dekat, membuat aroma nafas mint milik Adhi menyeruak. Deru nafas Zara semakin tercekat, saat jarak Adhi berbicara terlalu dekat. Detak jantung Zara seketika berpacu dengan cepat, tak terkendali. Ini untuk pertama kalinya Zara berada dekat dengan seorang pria. "Aku tadi lama sekali menunggu mu, jadi aku berangkat sendiri," ucap Zara sedikit mendorong Adhi berpura-pura kesal, karena menunggu Adhi lama. Sebenarnya Zara berusaha mengatur debaran dalam hatinya.
Adhi menyadari memang dirinya tadi terlambat menjemput Zara, karena terlalu lama memilih jas mana yang akan di pakainya. "Tapi kamu bisa menghubungi aku kan?"
"Aku tidak terpikir menghubungimu," ucap Zara seraya memutar bola matanya malas.
"Lalu kenapa beberapa hari ini kamu menghindari saat di kantor?" Adhi yang masih tepat hadapan Zara menatap ke arah Zara.
Walaupun jarak Adhi sudah tidak sedekat tadi, tapi tetap saja debaran di hati Zara masih begitu terasa. di tambah lagi tatapan Adhi seakan menusuk hingga ke jantungnya. "Aku tidak menghindar," elak Zara
"Apa karena kejadian di mobil kemarin?" tanya Adhi memperjelas.
Zara hanya diam tidak bisa menjawab, rasanya dia bingung mengartikan kejadian di mobil tempo hari.
"Kalau iya, kita lanjutkan," ucap Adhi.
__ADS_1
Kening Zara berkerut dalam, mendengar ucapan Adhi. "Melanjutkan apa?"
"Kemarin kamu bertanya bukan, 'apa aku masih mencintai Fira'?" Adhi kembali memajukan tubuhnya perlahan mendekat pada Zara. "Jawabannya tidak,
"Karena aku mencintaimu," ucap Adhi, tepat setelah wajahnya sejajar dengan Zara. Adhi menatap ke dalam bola mata Zara, mengungkapkan apa yang sudah di pendamnya selama ini. Rasa yang dia simpan cukup lama.
Adhi ingat betul, saat dirinya mencari Fira, disanalah awal dirinya menaruh hati pada Zara. Wajah ceria Zara, perdebatan dengan Zara, membuat dirinya begitu merindukan Zara setiap saat. Dan saat Adhi bertemu Fira sewaktu di luar negeri, Adhi baru sadar bahwa dirinya sudah tidak mencintai Fira, melainkan mencintai Zara.
Zara yang mendengar ungkapan cinta Adhi, hanya diam membeku. Zara mengingat ucapan Fira, bahwa giliran dirinyalah yang melihat cinta di hati Adhi. Dan sekarang dirinya melihat sorot mata Adhi penuh cinta menatapnya. "Apa kamu sedang mengatakan cinta padaku?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Zara.
Adhi membulatkan matanya, mendengar pertanyaan Zara. "Memangnya kamu pikir aku sedang apa?"
Zara hanya mendesis kesal. "Kamu bisa menyiapkan hal romantis untuk Pak Gajendra dan Fira. Tapi untuk dirimu sendiri, kamu mengatakan di mobil," sindir Zara.
Adhi tersenyum mendengar nada kesal dari Zara.Tadinya Adhi berniat mengatakan pada Zara dengan suasana lebih romantis, tapi melihat Zara menghindarinya beberapa hari membuat dirinya, tidak tahan untuk mengatakannya sekarang. "Apa kamu mau aku melakukannya seperti itu?"
Zara langsung mengangguk, dengan penuh semangat.
"Jawab dulu pertanyaan aku tadi?"
"Pertanyaan yang mana? bukannya tadi kamu tidak memberiku pertanyaan."
Adhi menghela nafasnya, entah kenapa hari ini seperti biasa Zara menjadi Zara yang begitu menyebalkan. Padahal dirinya sedang benar-benar berusaha untuk romantis. "Tadi aku bilang kalau aku mencintaimu."
"Itu pernyataan bukan pertanyaan," sanggah Zara yang tidak kalah.
Adhi hanya bisa mengeleng. "Oke aku yang salah." Adhi membenarkan ucapan Zara bahwa tadi itu bukanlah pertanyaan. "Sekarang aku tanya, apa kamu mencintaiku?"
"Apa kamu tidak bisa melihat dari kedua bola mata aku?" tanya Zara seraya mendekatkan tubuhnya pada Adhi.
Adhi yang melihat Zara mendekat, merasakan debaran di hatinya lebih kencang. Mendapati wajah Zara tepat di wajahnya, membuatnya melihat kecantikan Zara dari dekat.
Seketika Zara tertawa melihat wajah Adhi yang berubah. "Sepertinya kita tidak cocok untuk bersikap romantis, seperti Pak Gajendra dan Fira."
Adhi yang tadinya sudah mulai serius pun mendegus kesal. "Kamu pikir aku tidak bisa romantis seperti Bang Jeje?"
Zara menganggkat bahunya, tanda tidak tahu.
"Aku juga bisa romantis," ucap Adhi mendekat pada Zara.
Zara yang melihat Adhi mendekat memundurkan tubuhnya hingga menempel ke kaca pintu mobil.
Mata Adhi seketika melihat ke arah bibir ranum milik Zara. Adhi mulai mendekatkan wajahnya.
Melihat Adhi mendekat, Zara memejamkan matanya. Hatinya benar-benar berdebar, dengan apa yang akan di lakukan Adhi.
Tapi seketika dia merasakan bibir Adhi menempel tepat di pipinya. Walaupun hanya di pipi, ciuman itu membuat Zara membeku. Cukup lama bibir Adhi, berada di pipi Zara. Perlahan Zara merasakan bibir Adhi sudah melepaskan ciumannya, dan akhirnya Zara membuka matanya.
"Aku tidak akan menciummu di sini, sampai saat kamu menjadi milikku seutuhnya," ucap Adhi seraya menunjuk bibir Zara.
Zara tersenyum pada Adhi. Zara tidak menyangka bahwa Adhi tidak akan mencium bibirnya sebelum menikah. Dan bagi Zara itu adalah hal romantis dari Adhi.
.
.
.
Terimakasih buat kalian yang sudah baca
Tunggu kelanjutannya ya, karena kisah Jeje dan Fira belum selesai.
Jangan lupa like ya🥰
__ADS_1
Kalau vote aku nggak maksa, buat aku kalian dah like aja aku udah senang banget