Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Kekasih Adhi


__ADS_3

Setelah berpisah dengan Jeje di Bandara. Adhi dan Zara menuju ke rumah mamanya. Sepanjang perjalanan, hati Zara di liputi rasa takut. Entah kenapa rasanya Zara takut untuk bertemu dengan mama Adhi. Mungkin kalau dirinya hanya sekertaris biasa saja, mungkin dirinya tidak akan setakut ini. Tapi dirinya adalah sekertaris sekaligus kekasih Adhi.


"Kamu kenapa?" Adhi yang memperhatikan Zara diam saja dari tadi, merasakan perubahan pada Zara. Adhi mengenggam tangan Zara, berharap bisa menenangkan Zara


Saat mengenggam tangan Zara, Adhi merasakan tangan Zara yang dingin. Dan Adhi menyadari apa yang membuat tangan Zara begitu dingin. "Apa kamu takut?"


Zara menoleh pada Adhi. Matanya sejenak menatap dalam pada Adhi. "Iya." Zara menjawab di sertai anggukan.


Adhi menarik bibirnya, membuat lengkungan senyum. "Mama akan menerima dirimu, tenanglah." Adhi tahu apa yang membuat Zara ketakutan.


"Apa dia tidak akan melihat aku karena aku hanya sekertarismu saja?" Rasanya Zara tergerak untuk menanyakan status sosial yang ada di antara mereka.


"Mama tidak seperti itu. Apa lagi dia sudah tahu kisah Fira yang berpisah karena status sosial." Adhi tahu, mamanya berkaca dari kisah Fira, yang terpisah karena status sosial. Dan Adhi yakin, mamanya tidak akan melakukan apa yang di lakukan oleh mama Jeje.


Saat nama Fira di sebut, Zara mengingat bahwa dulu Fira pernah tinggal di rumah mama Adhi. Dan Fira juga menceritakan kalau mama Adhi sangat baik.


Adhi mengeratkan genggamannya, dan memberikan ketenangan pada Zara. Zara yang merasakan genggaman tangan Adhi pun, langsung merasakan ketenangan.


Saat taxi memasuki rumah mamanya, dan berhenti di parkiran rumah mamanya. Adhi mengajak Zara keluar dari taxi, setelah taxi berhenti.


Mencoba menyakini, bahwa semua akan baik-baik saja, Zara keluar dari mobil. Menunggu Adhi mengeluarkan koper dari bagasi taxi, Zara mengedarkan pandangan melihat suasana rumah mama Adhi.


Hal yang pertama yang di lihat Zara, adalah rumah dengan tanaman yang asri. Tampak bunga-bunga tersusun rapi di taman, dan menambah keindahannya rumah.


"Ayo," ajak Adhi membuyarkan pikiran Zara yang sedang melihat rumah mama Adhi. Zara menarik kopernya, yang sudah di turunkan oleh Adhi, dan melangkah ke arah pintu rumah milik mama Adhi.


Adhi menekan bel, dan menunggu sesaat pintu di buka. Sejenak Adhi menatap Zara, dan tersenyum. Tatapan menenangkan di berikan pada Zara.


"Adhi," ucap Nyonya Ayu, saat membuka pintu. Nyonya Ayu langsung memeluk putranya.


Terakhir bertemu dengan Adhi adalah saat Fira masih berada di rumah Nyonya Ayu. Jadi sudah cukup lama Nyonya Ayu tidak bertemu dengan Adhi.


Sebenarnya Nyonya Ayu tidak terkejut dengan kedatangan Adhi, karena suaminya sudah menjelaskan kedatangan Adhi. Tapi sebagai orang tua yang merindukan putranya, reaksi yang di berikan oleh Nyonya Ayu tetaplah terlihat berbeda.


"Kamu apa kabar?" tanya Nyonya Ayu, seraya melepaskan pelukannya.


"Adhi baik-baik saja, ma."


Nyonya Ayu beralih pada wanita cantik di samping Adhi. Hal pertama yang di lihat Nyonya Ayu, adalah wanita dengan tampilan sederhana tapi cantik.


Ingatan Nyonya Ayu kembali pada sosok Fira. Fira juga sama halnya dengan wanita yang di hadapannya. Terlihat sederhana dan cantik alami.


"Siapa ini?" tanya Nyonya Ayu, menatap sejeanak pada Adhi.


"Ini kekasih Adhi, sekaligus sekertaris Adhi, ma." Adhi menjelaskan dengan senyum di wajahnya. Tatapannya tak beralih dari wajah Zara.


"Saya Zara, Tante." Zara memperkenalkan diri, dan mengulurkan tangan pada Nyonya Ayu.


"Saya Ayu-mama Adhi," ucap Nyonya Ayu pada Zara, dan menerima uluran tangan Zara. Senyum Nyonya Ayu mengiringi saat berkenalan. Nyonya Ayu tidak menyangka, anaknya sudah memiliki kekasih. Rasa bahagia melingkupi hati Nyonya Ayu, melihat wanita cantik di hadapannya adalah kekasih putranya.


"Ayo masuk." Nyonya Ayu melebarkan pintu, agar Adhi dan Zara dapat masuk ke dalam rumah.


Adhi dan Zara melangkah mengikuti Nyonya Ayu. Dengan menarik koper mereka berdua masuk ke dalam rumah.


"Sebaiknya kalian istirahat dan bersihkan diri terlebih dahulu saja," ucap Nyonya Ayu.


"Iya, ma." Adhi juga sebenarnya merasakan sangat leleh, setelah perjalanannya. Dan istirahat adalag hal pertama yang di butuhkannya.


"Bibi Cristina akan mengantar Zara ke kamarnya," ucap Nyonya pada Zara.


"Terimakasih, Tante."


Zara pun melangkah beriringan bersama Adhi, dan juga Bibi Cristina-asisten rumah tangga mama Adhi, menuju ke kamarnya di lantai dua.


"Ini silakan," ucap Bibi Cristina pada Zara, saat sampai di sebuah kamar.


"Terimakasih." Zara tersenyum pada Bibi Cristina. Dan Bibi Crtiatina pun meminta izin untuk berpamitan.


"Kamar ku ada di sebelahmu, jika kamu membutuhkan apa-apa, kamu bisa mengetuknya," ucap Adhi. Tangan Adhi pun seraya menunjuk kamar yang berada tempat di sebelah Zara.

__ADS_1


"Iya."


Adhi dan Zara langsung menarik kopernya, masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Zara membuka kamar yang di tempatinya, kamar dengan dominasi warna putih, berkesan minimalis menurut Zara.


Sesampainya di kamar, hal pertama yang di lakukan Zara adalah membersihkan diri. Rasa lengket di badannya seusai perjalan, ingin segera dia hilangkan.


Setelah Zara membersihkan diri, Zara langsung mengambil poselnya untuk menghubungi ayahnya. Dia tidak mau ayahnya khawatir karena tidak mendapatkan kabar dari dirinya.


Ada perasaan lega di hati Zara, saat dirinya sudah menghubungi ayahnya. Paling tidak, ayahnya akan tenang saat anaknya jauh di negeri seberang.


Mata Zara yang sudah mulai berat, akhirnya membuat Zara tertidur. Perbedaan waktu, dan perjalanan panjang memang sangat melelahkan.


Sama halnya yang di lakukan oleh Adhi, dia langsung membersihkan diri dan setelahnya mengistirahatkan dirinya.


Sepajang perjalanan, dirinya tidak bisa tidur. Hingga akhirnya rasa kantuk menderanya sekarang. Dalam hitungan menit Adhi sudah tertidur sesaat merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


**


Adhi yang sudah merasa segar, setelah mengunakan waktunya untuk tidur, bangkit dari tempat tidurnya.


Adhi keluar dari kamarnya, berniat untuk ke dapur. Tenggorokannya yang kering, minta segera di redakan. Tapi saat keluar dari kamar, mata Adhi melihat ke sisi kamar Zara. Adhi berpikir mungkin Zara masih mengunakan waktunya untuk istirahat.


Melewati kamar Zara, Adhi menuju ke dapur. Saat di dapur, Adhi melihat mamanya yang sedang sibuk, memasak untuk makan siang.


"Kamu sudah bangun?" tanya Nyonya Ayu yang melihat Adhi berada di dapur.


"Iya ma, aku haus," ucap Adhi seraya mengambil Air minum di gelas.


Adhi melangkah membawa gelas berisi air putih, ke meja makan. Menarik kursi, Adhi mendudukan tubuhnya di kursi.


Menegak air putih yang di bawanya. Adhi meredakan rasa hausnya.


"Sejak kapan kamu punya kekasih?" tanya Nyonya Ayu pada Adhi. Nyonya Ayu pun ikut menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Adhi.


"Sudah seminggu ini, ma." Adhi mencoba menghitung sejak kapan dirinya menjalin hubungan dengan Zara.


"Iya, tapi kami sudah lama kenal, ma."


"Dia sekertatis kamu, tapi kenapa kamu kenal sudah lama?" Nyonya Ayu tahu persis, bahwa perusahaan belum lama berdiri. Dan posisi Zara sebagai sekertaris juga belum lama.


"Dia teman aku kuliah, ma."


Nyonya Ayu baru mengerti penjelasan dari Adhi. "Teman Fira juga?"


"Iya," ucap Adhi di sertai anggukan.


"Pantas cantiknya sebelas dua belas sama Fira." Nyonya Ayu, memang masih terpesona dengan kecantikan Fira. Dan terkadang Fira menjadi tolak ukurnya dalam menilai kekasih Adhi.


"Yang jelas sama baiknya, ma."


"Iya, mama yakin, anak mama pasti cari yang terbaik dari yang baik," ucap Nyonya Ayu. "Bagaimana keadaan kehamilan Tania, kemarin baru ada acara empat bulanan ya?"


"Iya, baru dua hari yang lalu Bang Daffa dan Kak Tania mengadakan acara."


Raut wajah Nyonya Ayu berubah sedih saat mengingat kehamilan Tania. "Mama sedih tidak bisa hadir." Sebagai orang tua, Nyonya Ayu merasa sedih saat tidak bisa menemani menantunya dalam kehamilannya.


"Nanti mama bisa kesana bukan," ucap Adhi mencoba menenangkan mamanya.


"Iya tapi Edward sangat sibuk, hingga mama tidak bisa meninggalkannya."


Adhi menyadari, walaupun sebagai pemilik perusahaan besar, Tuan Edward tidak semudah itu meninggalkan perkerjaanya. "Mama bisa kesana saat Om Edward ada waktu kosong."


"Iya, mama juga berencana untuk tinggal disana menjelang Tania melahirkan."


Adhi mengangguk, menyakinkan jika mamanya bisa menganti kedatanganya dengan menunggu kakak iparnya melahirkan.


**

__ADS_1


Zara mengerjap, saat di rasa tidurnya sudah cukup lama. Melihat ponselnya, Zara mengirim pesan pada Adhi.


Sebenarnya dia ingin langsung keluar dari kamar, tapi merasa asing, Zara memilih mengirim pesan menanyakan Adhi dimana.


Saat mendapat pesan di ponselnya, Zara baru mengetahui kalau ternyata Adhi sedang di meja makan mengobrol dengan mamanya.


Zara pun memberanikan diri untuk menyusul Adhi menuju ke meja makan. Rasanya dirinya tidak mungkin berdiam diri di kamar sepanjang hari.


Keluar dari kamar, Zara menuruni anak tangga dan melangkah menuju ke meja makan.


Dari kejauhan, Zara melihat Adhi yang sedang berbincang dengan mamanya. Raut wajah mama Adhi dan Adhi tampak senang, saat bertukar cerita.


Saat melihat kedekatan Adhi dan mamanya, Zara teringat dengan ibunya. Ada perasaan rindu Zara pada ibunya. Tapi sampai saat ini Zara masih belum bisa memaafkan mamanya.


"Zara, kemarilah." Nyonya Ayu yang melihat Zara yang baru saja menuruni anak tangga, memanggilnya, untuk bergabung dengan Adhi dan dirinya.


Dengan melengkungkan senyum di bibirnya, Zara melangkah menghampiri Adhi dan mamanya


"Maaf saya terlalu lama tertidur." Sebagai tamu, Zara merasa tidak enak pada Nyonya Ayu, karena tidur di pagi sampai siang.


"Kalian kan baru saja melakukan perjalanan, jadi wajar saja." Nyonya Ayu tersenyum pada Zara.


"Kalau begitu mama akan siapkan kalian makan siang." Nyonya Ayu berdiri dan ingin menuju dapur.


"Zara bantu, Tante," ucap Zara pada Nyonya Ayu.


Nyonya Ayu yang mendapatkan bantuan dari Zara, dengan senang hati menerimanya. "Ayo," ucap Nyonya Ayu menarik lembut tangan Zara.


Adhi yang melihat pemandangan dua wanita yang di cintaintnya, merasakan senang di dalam hatinya. Dia merasa sangat lega, saat mamanya dapat menerima Zara dengan baik.


Di dapur Zara membantu Nyonya Ayu memindahkan beberapa sayur, dan lauk ke piring saja.


"Apa kamu bisa memasak?" tanya Nyonya Ayu pada Zara.


"Bisa, Tante. Sedikit-sedikit," jawab Zara.


"Wah Adhi sepertinya dapat paket komplit dari kamu. Selain cantik ternyata kamu juga pandai memasak," puji Nyonya Ayu.


"Karena sudah terbiasa saja, Tante." Zara memang menyadari, sebagai wanita paling dewasa di rumah, dirinya di tuntut untuk bisa memasak. Di tambah lagi, keadaan ekonomi mereka yang pas-pasan, membuat mereka harus berhemat.


"Iya, terlepas apa pun alasannya. Tapi wanita harus bisa memasak," ucap Nyonya Ayu. "Karena dari perut naik ke hati. Jadi nanti kalau kalian menikah, Adhi akan lebih betah di rumah," imbuh Nyonya Ayu.


Zara hanya membalas dengan senyuman ucapan Nyonya Ayu. Rasanya hubungannya dengan Adhi, sudah nampak mendapatkan. lampu hijau dari Nyonya Ayu.


**


Jeje yang menghabiskan waktu untuk beristirahat, mengerjap saat perutnya mulai terasa meronta minta di isi.


Saat Jeje membuka matanya sempurna, Jeje melihat ponselnya untuk melihat jam di ponselnya.


Mata Jeje memicing saat mendapati jam sudah menunjukan jam dua siang.


Jeje mengingat dirinya yang tadi sampai di hotel. Langsung membersihkan diri dan beristirahat. Rasa lelahnya akibat perjalanan jauh, membuatnya mengistirahatkan tubuhnya.


Saat merasa perutnya lapar begitu mendera, akhirnya Jeje memilih untuk keluar dari hotel dan mencari restoran.


Keluar dari kamarnya, Jeje menuju restoran yang terdapat di hotel. Rasanya dia malas sekali jika harus keluar dari hotel.


Sesampainya di restoran, Jeje memesan makanan, dan memakan makananya setelah makanan datang.


Sejenak dia teringat dengan istrinya. Untuk pertama kali Jeje harus berjauhan dengan Fira. Dan saat makan, rasanya Jeje berat membayangkan makan tidak ada Fira di sampingnya.


Buru-buru menghabiskan makannya, Jeje berniat untuk menghubungi Fira. Rasa rindunya yang sudah mulai hadir, membuatnya ingin segera mendengar suara Fira.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like🄰


__ADS_2