Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Kamu mau apa?


__ADS_3

Setelah satu bulan lalu Raka menyiapkan acara pertunangan, hari ini acara pertunangan Raka dan Celia di adakan. Di adakan di salah satu hotel, acara pertunangan Raka dan Celia di adakan dengan meriah. Wajah bahagia terlihat dari Raka maupun Celia.


Dari pihak Celia di wakilkan oleh keluarga Atta, sedangkan dari pihak Raka di wakilkan oleh keluarga Nareswara.


Inan dan Rayhan Nareswara, baru tahu dari Jeje, jika Raka adalah anak dari asisten rumah tangganya dulu. Rayhan pun ikut senang saat melihat Raka bisa sesukses sekarang penjadi pengusaha di bidang retail.


Bu Ani yang selama ini sangat dekat dengan Raka pun tidak kalah senang saat Raka bertunangan. Baginya Raka sudah seperti anaknya.


"Selamat kamu sudah bertunangan, semoga nanti acara penikahan akan berjalan dengan lancar." Bu Ani memeluk Raka erat, menyalurkan rasa bahagianya.


"Terimakasih, Bu." Raka merasa senang dengan kehadiran Bu Ani. Selama dua minggu ini, Bu Ani selalu membantu dirinya menyiapkan semuanya.


Bu Ani pun beralih pada Celia. Wanita cantik yang sebentar lagi akan jadi menantunya itu. "Selamat sayang, semoga ke depan acara penikahan kalian lancar." Bu Ani memeluk Celia dan memberikan selamat.


"Terimakasih banyak, Bu." Senyum Celia pun tak surut terlihat di wajah cantiknya.


"Selamat Celia," suara Fira yang tak kalah bahagia terdengar merdu saat mengucapkan selamat pada Celia.


"Terimakasih, Fir," ucap Celia seraya menautkan pipinya pada pipi Fira.


"Kamu tahu, aku tidak sabar akan menjadi pendamping wanita nanti di pernikahanmu."


"Saat Celia dan Raka menikah, perutmu sudah tampak besar, aku rasa kamu sudah tidak cocok jadi penamping wanita." Suara dingin dari Jeje terdengar memberi sindiran pada istrinya.


Fira langsung melayangkan tatapan tajam pada Jeje saat mendengar ucapan Jeje.


Mendapatkan tatapan tajam dari Fira. Jeje menyadari, kesalahanya saat berucap. "Selamat Celia," ucap Jeje menguluran tangan pada Celia. Jeje mencoba mengalihkan pembicaraan agar Fira tidak melanjutkan kemarahannya.


"Terimakasih, Je." Celia menerima uluran tangan Jeje.


"Selamat Kak," ucap Fira. Pelukan singkat pun Fira berikan pada Raka.


"Terimakasih."


"Selamat Bro," ucap Jeje seraya mengulurkan tangannya.


"Ya sudah, ayo kita cari makanan," ucap Fira setelah memberikan ucapan pada Celia. "Aku pergi dulu ya Celia." Fira berpamitan dengan Celia, dan berlalu meninggalkan Celia dan Raka.


Menuju tempat hidangan berjajar, Fira dengan semangat mengambil di piring, dan mengisinya. "Em... kenapa enak sekali," ucap Fira saat menikmati makanan.


Jeje hanya bisa mengeleng saat Fira menikmati makananya. Jeje tidak habis pikir, Fira bisa sangat menikmati makanan di acara Raka dan Celia. Padahal Jeje melihat, makanan itu tampak biasa saja.


"Hai," sapa Zara yang menghampiri Jeje dan Fira yang sedang menikmati makanan.


"Hai, Ra," sapa Fira dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Kunyah dulu makannya, sayang," ucap Jeje yang melihat Fira menjawab sapaan Zara dengan mulut yang masih penuh.


"Kamu makan apa perang, Fir?" Adhi yang melihat piring Fira yang berisi berbagai makanan merasa sangat heran.


"Apa kamu lupa kalau Fira hamil," tegur Zara pada Adhi.


"Maaf aku lupa," ucap Adhi.


"Kalian baru sampai?" Jeje yang baru melihat Adhi dan Zara pun bertanya.


"Iya, tapi kami tadi sudah memberikan ucapan untuk Raka dan Celia," jawab Adhi.


"Aku ke toilet dulu ya," ucap Zara pada Adhi.


Adhi pun mengangguk mendengarkan ucapan Zara yang ingin ke toilet.


Zara langsung berlalu, mencari toilet, dan saat mendapati toilet, Zara masuk ke dalam. Keluar dari bilik toilet, Zara meliahat wanita yang tidak asih berdiri d depan wastafel.


"Tante Sarah," sapa Zara pada Sarah-mama Atta.


"Hai cantik, kamu disini," ucap Sarah pada Zara.


"Iya." Zara menyadari jika kehadiran Sarah, karena Sarah adalah tante dari Celia.


"Kamu apa kabar?" tanya Sarah.


"Baik, Tante. Tante sendiri apa kabar?"


"Baik," ucap Sarah. "Mau kembali ke pesta?" tanya Sarah dan mendapat anggukan dari Zara.


Melangkah bersama Zara dan Sarah kembali ke acara pesta.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan ayah kamu?" tanya Sarah.


"Ayah sudah jauh lebih baik, setelah keluar dari rumah sakit."


"Syukurlah."


"Ma..."


Saat Sarah dan Zara sedang berjalan bersama untuk kembali ke acara Raka dan Celia, mereka berdua menghentikan langkah saat mendengar suara seseorang memanggil, dan saat mereka menoleh, Sarah dan Zara mendapati Atta yang memanggil.


Atta yang mencari mamanya mendapati mamanya dari kejauhan bersama dengan Zara. Melangkah menghampiri mamanya dan Zara, mata Atta masih terus terpaku pada Zara.


Sudah cukup lama Atta tidak bertemu dengan Zara. Terakhir kali Atta bertemu dengan Zara, adalah di saat Adhi mengunggapkan isi hatinya, dan disana Zara menerimanya.


"Kamu disini, Ra?" tanya Atta.


"Iya, Bang," jawab Zara di sertai senyuman.


"Kamu apa kabar?" Atta menatap lekat wanita di hadapannya. Tampil dengan gaun berpotongan A membuat Zara tampak cantik.


"Aku baik, Bang Atta sendiri apa kabar?"


"Aku juga baik-baik aja."


"Ya sudah kalian lanjutkan dulu mengobrol mama mau menemui Celia lagi," ucap Sarah memotong pembicaraan Atta. Dengan kedipan mata, Sarah memberi kode untuk Atta mendekati Zara.


"Iya, Ma."


"Iya, Tante." Sebenarnya Zara ingin segera kembali dan menemui Adhi, tapi rasanya Zara merasa sungkan dengan Atta yang sedang ingin berbincang dengan dirinya.


"Kamu kemari dengan siapa?" tanya Atta berbasa-basi.


"Dengan Adhi, Bang."


"Oh ya, aku lupa kalau kamu sudah menjadi kekasih Adhi," ucap Atta dengan tertawa kecil. Rasanya mengingat akan hal dimana Zara adalah kekasih Adhi adalah hal menyakitkan bagi Atta.


Zara bingung harus menjawab apa ucapan Atta. Dari raut wajah Atta, Zara melihat senyum yang di paksakan oleh Atta.


"Apa hubungan kalian sudah jauh?" tanya Atta.


"Maksudnya?" Zara yang tidak mengerti pun bertanya.


Zara baru mengerti maksud dari Atta. "Iya, kami sudah berpikir untuk melanjutkan hubungan kami lebih jauh lagi."


"Kepernikahan?" tanya Atta memastikan. Walapun hatinya bergemuruh, Atta berusah untuk bertanya.


"Iya."


"Kapan?"


"Setelah Adhi ke luar negeri," jelas Zara.


"Ke luar negeri? untuk apa Adhi ke luar negeri?" Rasanya keingin tahuan Atta benar-benar mendorongnya untuk tahu segalanya yang terjadi pada Adhi.


"Mama Adhi ingin menemani Kak Tania melahirkan, jadi Ashi akan mengurus perusahaan bertukar dengan Tuan Edward."


Atta mengangguk mengerti dengan apa yang di ucapkan Zara.


"Ra..." panggil Adhi seraya melangkah mendekat pada Zara. Adhi melihat Zara tidak sendiri, melainkan bersama dengan Atta.


"Hai, Bang," sapa Atta.


"Hai..." Atta membalas sapaan Adhi.


"Aku pikir kamu kemana," ucap Adhi pada Zara. Adhi tadi yang menunggu Zara menunggu cukup lama. Tapi Zara tidak kunjung datang.


"Zara mengobrol dengan ku sebentar, Dhi. Jangan khawatir, nggak akan hilang," ucap Atta memotong ucapan Adhi.


"Iya, Bang." Sebenarnya ada rasa was-was di hati Adhi saat Zara dan Atta mengobrol. Tapi dirinya tidak bisa berbuat apa -apa. "Tadi Fira mencarimu," ucap Adhi beralih pada Zara.


"Ya, sudah ayo." Zara pun mengajak Adhi untuk menemui Fira.


"Kami pergi dulu ya, Bang," ucap Adhi pada Atta.


"Iya," ucap Atta di sertai anggukan.


Setelah meninggalkan Atta, Adhi dan Zara menghampiri Fira.

__ADS_1


"Kamu tadi mengobrol apa?" tanya Adhi yang ingin tahu.


"Dia hanga menanyakan kabar saja," jelas Zara.


Mendengar penjelasan Zara terasa masih terasa kurang yakin. Adhi tahu persis, jika Atta juga menyukai Zara.


"Jangan bilang kamu cemburu," ucap Zara. Tangan Zara langsung memegang lengan Adhi. "Aku tadi hanya tidak sengaja bertemu dengan Bang Atta, dan dia juga hanya menanyakan kabar saja," ucap Zara.


Melihat sorot mata Zara, Adhi merasa bersalah karena tidak percaya dengan Zara. "Maafkan aku, aku hanya takut saja."


"Iya aku tahu, tapi percayalah aku tidak akan berpaling darimu," ucap Zara di sertai senyum manis di wajahnya.


"Iya, aku percaya." Adhi memandang Zara lekat. Memberikan sebuah kepercayaan adalah hal penting dalam sebuah hubungan, dan kini itulah yang harus dia lakukan.


***


Fira yang begitu kekenyangan, hanya memengangi perutnya selama perjalanan pulang. Makanan yang di perutnya, begitu menyesakkan, karena mungkin terlalu banyaknya dirinya makan.


Jeje yang melihat Fira memegangi perutnya hanya bisa mengelengkan kepala. Jeje tahu betul, pasti Fira sangat kekenyangan. Karena Fira tadi di acara Raka dan Celia, Fira makan terlalu banyak.


Sesampainya di rumah, Fira buru-buru ke toilet. Perutnya yang kenyang, membuat perutnya begitu sakit.


Melihat Fira yang buru-buru ke toilet, Jeje merasa khawatir. Berlalu ke dapur, Jeje membuatkan minuman hangat untuk Fira.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jeje yang melihat Fira keluae dari kamar mandi.


"Perutku sakit," ucap Fira seraya sedikit meringis kesakitan.


"Minumlah ini!" Jeje menyerahkan secangir teh hangat untuk Fira, dan Fira pun menerimanya.


"Aku sudah bilang bukan, jangan makan banyak-banyak," grutu Jeje mengingat bagaimana tadi dirinya memberitahu Fira.


Fira hanya melirik saja saat terdengar Jeje mengrutu. Sebenarnya Fira sadar betul, kalau dirinya terlalu berlebihan makan.


"Sekarang gantilah bajumu, aku akan carikan minyak oles, agar perutmu hangat," ucap Jeje seraya melangkah menuju ke nakas untuk mencari minyak.


Di minta untuk menganti baju, Fira langsung menganti bajunya. Melangkah menuju ke lemari, Fira mengambil baju, dan mengambilnya.


Selesai menganti baju, Fira langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Angkat bajumu ke atas?" ucap Jeje pada Fira.


Fira mengerutkan dahinya mendengar perintah Jeje. "Mau apa kamu?"


"Menurutmu?" tanya Jeje mengerlingkan matanya.


"Sayang, apa kamu tidak kasihan, aku sedang sakit?" tanya Jeje dengan wajah sudah memelas.


Jeje langsung tergelak saat mendengar ucapan Jeje. "Apa kamu pikir akan akan melakukannya denganmu dalam keadaan kamu sakit?"


"Iya," jawab Fira. "Lalu kalau bukan itu, lalu mau apa kamu meminta mengangkat baju?"


"Aku hanya akan mengolesi minyak ini, agar kamu perutmu lebih enak," jelas Jeje.


Fira sangat malu, saat mengira Jeje sedang akan mengajaknya melakukan hubungan suami istri. Ternyata Jeje hanya ingin mengolesi minyak di perut Fira.


Menarik bajunya ke atas sampai di bawah dadanya. Fira membuat perutnya terlihat. Perut Fira yang sedang hamil hampir empat bulan sudah terlihat membucit.


Jeje yang melihat perut Fira terlihat, langsung menuangkan minyak, dan mengoleskan di atas perut Fira.


"Perutmu sudah terlihat membunci," ucap Jeje seraya mengoleskan minya di perut Fira.


"Iya, aku juga merasa perutku sudah membesar." Fira tersenyum melihat ke arah Jeje.


"Aku sudah tidak sabar, melihat perutmu semakin besar." Jeje menutup baju Fira dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Fira. "Terimakasih sudah memberikan kebahagiaan," ucap Jeje seraya mencium pipi Fira.


Fira memiringkan tubuhnya dan menangkup wajah Jeje. "Ini kebahagian kita bersama, jadi jangan mengatakan terimakasih."


"Iya." Jeje memeluk tubuh Fira. "Tidurlah!" ucap Jeje.


Di dalam dekapan Jeje. Fira memejamkan matanya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2