Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Menjadikanmu kekasihku


__ADS_3

Setelah memberikan selamat pada Daffa dan Tania. Semua tamu menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


"Tadi kenapa terlambat?" tanya Zara pada Fira.


Fira yang baru saja selesai memberi ucapan selamat pada Tania dan Daffa, mendapat pertanyaan dari Zara setelah berbalik. "Tadi aku harus balik ke apartemen, karena dress aku terkena cake," jelas Fira.


Zara mengerutkan dahinya. "Bagaimana bisa?" tanya Zara


Fira mencebikkan bibirnya saat harus mengingat kejadian tadi sebelum pergi ke rumah Daffa dan Tania. "Tadi aku beli cup cake sebelum kesini, dan saat aku makan di mobil, Jeje berhenti mendadak. Akhirnya cup cake yang berada di tangan aku dan di pangkuan aku tumpah."


Zara langsung tergelak. "Apa wajahmu terkena cup cake?"


"Iya," jawab Fira kesal.


Mendengar jawaban Fira, Zara langsung membayangkan wajah Fira terkena butter cream dari cup cake. Fira yang melihat Zara menertawakannya, hanya melirik tajam.


Saat Fira dan Zara berbincang, Jeje dan Atta datang menghampiri mereka.


Melihat tawa Zara, Atta tergerak untuk bertanya. "Tertawa kenapa, ra?"


"Tertawa membayangkan wajah Fira, yang terkena butter cream dari cup cake, Bang," jawab Zara.


"Kapan?"


"Tadi sebelum berangkat katanya," jawab Zara seraya melirik Fira.


Atta yang mendengar ucapan Zara, melirik ke arah Jeje. Akhirnya dia tahu apa yang membuat Jeje terlambat. "Apa Insiden mendebarkan, menegangkan, menyeramkan adalah cup cake yang tumpah di wajah istri mu?" tanya Atta sedikit berbisik.


Jeje langsung melirik tajam pada Atta. Dia takut Fira akan marah jika mendengar, bahwa kejadian tadi di mobil, dia namai Insiden mendebarkan, menegangkan, menyeramkan. "Tutup mulutmu!" sergah Jeje pada Atta.


Atta hanya menahan tawanya, saat ternyata dugaannya benar.


Saat Zara, Fira, Jeje, dan Atta, sedang berbincang, di seberang mereka ada Nayla yang sedang berbincang dengan Adhi juga.


Zara yang melihat Adhi dan Nayla merasa sedikit kesal. Tapi Zara berusaha mengontrol emosinya. Dia sadar betul bahwa Nayla menaruh hati pada Adhi, dan entah kenapa hatinya berkata, bahwa Nayla sedang berusaha mendekati Adhi.


"Ra, kamu kamu mau cake ini nggak?" tanya Fira. Fira yang mendapatkan cake dari Jeje, menawari Zara yang berdiri tepat di sampingnya.


Saat tidak ada jawaban dari Zara, Fira menoleh ke arah Zara. Mata Fira, langsung memperhatikan sorot mata Zara. Dan itu menunjukan ke arah dimana Adhi dan Nayla berbincang. "Saat kamu sudah mempercayakan hatimu padanya. Percayalah bahwa dia tahu bagaiamana menjaga kepercayaanmu," ucap Fira pada Zara seraya memegang lengan Zara, untuk mengalihkan fokusnya.


Saat lengannya di pegang oleh Fira, Zara langsung tersentak. Dan mendengar ucapan Fira, Zara mengangguk di sertai senyuman. Zara mencerna dengan baik ucapan Fira. Zara hanya berpikir, dirinya harus percaya pada Adhi.


**


Setelah para tamu sudah pulang, tinggallah teman Daffa dan Tania saja. Mereka semua berbincang dan bercengkrama, memanfaatkan waktu untuk saling bercerita.


"Permisi teman-teman, saya mau mengundang kalian semua untuk ke taman, karena acara akan di lanjutkan disana," ucap Daffa membuat semua teman-teman menfokuskan diri melihat ke arah Daffa.


Daffa pun mengarahkan teman-temannya untuk berpindah ke taman belakang.


"Acara apa lagi?" tanya Zara pada Fira, yang berjalan ke arah taman.


"Aku juga nggak tahu," ucap Fira. Fira beralih pada Jeje yang berjalan di sebelahnya. "Kamu tahu, sayang?" tanya Fira, dan Jeje hanya mengeleng menjawab pertanyaan Fira.


Saat sampai di taman, Zara dan Fira di buat tercengang, saat melihat pemandangan taman yang di sulap begitu indah.


Di taman terdapat meja panjang, berada di tengah-tengah taman. Di atas meja tersusun rapi piring dan gelas. Lilin dan bunga pun menghiasi meja, menambah keindahan di atas meja. Lampu tumblr menjuntai membentuk tirai indah di depan meja, menyambut kedatangan mereka semua.


Di beberapa sudut taman terdapat lampu hias, yang bersinar terang, dan menyinari suasana malam yang gelap. Bunga-bunga di beberapa sudut pun, menambah kesan romatis.


Daffa mengarahkan para teman-taman untuk duduk di meja, dan menunggu acara di mulai. Daffa mengatur dimana mereka semua duduk. Di sisi kanan terdapat para pria duduk, dan di sisi kiri para wanita duduk.


Di kursi pertama ada Zara, duduk tepat di depan lampu tumblr berada. Di kursi kedua ada Tania, dan berhadapan dengan kursi kosong milik Daffa. Di kursi ketiga ada Fira, dan Jeje berhadapan. Selanjutnya di kursi keempat, ada Nayla dan Atta berhadapan.


Mereka semua sebenarnya bingung acara apa ini, tapi mereka menikmatinya saja tanpa ada yang bertanya.


Saat semua sudah duduk, tiba-tiba lampu mati. Kegelapan langsung terasa, dan membuat para wanita langsung panik saat mendapati di dalam kegelapan. Tapi masih beruntung lilin-lilin di atas meja masih menyala, dan memberikan sinar saat hanya kegelapan yang ada.


"Fa, kenapa mati lampunya?" tanya Jeje yang melihat lampu mati.


"Tenang-tenang, biar gue cek ya," ucap Daffa, menenangkan teman-temannya.


Tapi belum sempat Daffa pergi untuk mengecek lampu, lampu kembali menyala.

__ADS_1


Semua orang di meja saling pandang, saat melihat ada Zara dan Adhi di depan tirai lampu tumblr.


Zara yang tadi ikut panik, saat tiba-tiba lampu mati, merasa ada tangan mengenggamnya. Dari aroma parfumnya, Zara sudah menebak itu adalah Adhi.


"Ayo ikut aku," bisik Adhi.


Zara yang mendengar ajakaan Adhi berdiri, melangkah mengikuti kemana Adhi pergi. Sampai saat Adhi berhenti, dan lampu pun menyala.


Mata Zara membulat, saat melihat Adhi berada di depannya dan sedang berlutut. Mata Adhi memandang penuh damba ke arah Zara. Senyum tergambar di wajah Adhi, saat menatap Zara.


"Zara, di malam yang indah ini, bersama dengan disaksikan teman-teman kita. Aku Adhi Prasetyo, ingin menjadikanmu kekasihku," ucap Adhi seraya menyodorkan sebuket bunga pada Zara.


Zara masih mengatur deru nafasnya yang masih tidak beraturan. Kekagetannya dengan apa yang di lakukan Adhi, membuatnya diam dan hanya memandang Adhi. Matanya memandang lekat pada mata Adhi, saling mengunci untuk beberapa saat.


Zara teringat bahwa kemarin Adhi mengungkapkan cinta padanya. Dan sekarang Zara benar-benar tidak menyangka, Adhi melakukannya dengan romantis malam ini, di saksikan banyak orang.


"Terima, ra," teriak Fira, yang duduk di kursinya. Fira yang tadi melihat lampu menyala, begitu kaget saat melihat Adhi sedang berlutut di hadapan Zara.


Fira pun menebak, bahwa Adhi akan mengungkapkan isi hatinya sekarang, di hadapan semua orang.


Teriakan Fira, tiba-tiba menyadarkan Zara yang sedang memandang Adhi penuh keterkejutan.


Adhi masih berlutut, masih setia menunggu jawaban dari Zara.


"Aku mau," ucap Zara seraya menerima buket bunga dari Adhi. Zara menyadari, bahwa selama ini dirinya sudah berperang dengan perasaanya. Perasaan yang di sangkalnya, karena rasa pertemanan dengan Nayla. Tapi kini dia tidak mau terus menyangkal, perasaan kepada Adhi.


Entah ini egois atau tidak bagi Nayla. Tapi bagi Zara, mencintai Adhi sejak lama membuatnya tersiksa saat harus memendam rasa.


Dan sekarang memang saatnya dirinya mengalah dengan perperangan batinnya, yang mengatakan bahwa dirinya juga mencintai Adhi.


Bak gayung bersambut, membuat Adhi merasa senang. Perasaan cintanya yang selama ini dia perjuangkan, berbuah manis dengan jawab Zara yang mau menerimanya.


Adhi berdiri, dan mengambil cincin yang berada di kantungnya. Membukanya, Adhi mengambil cincin itu untuk di pakaian pada Zara. "Ini tanda cintaku, bahwa aku bersungguh-sungguh mencintaimu," ucap Adhi seraya memakaikan di jari manis Zara.


Tidak ada penolakan sama sekali dari Zara. Dan hanya senyum merekah yang tergambar di wajah Zara. Zara melihat dengan jelas cincin yang melingkah pas di jarinya, seolah Adhi sudah benar-benar memperkirakan ukurannya.


Di padangnya lekat cincin di tangannya. Cincin dengan warna silver, dengan hiasan diamond di tengah memberi kesan cantik pada cincin itu.


"Terimakasih sudah menerimaku," ucap Adhi dan membubuhi kecupan manis di kening Zara. Tak ada yang bisa mengambarkan lagi bagaiamana bahagianya Adhi. Kebahagiaan mendapatkan wanita yang di inginkan.


Adhi dan Zara yang mendengar tepuk tangan, langsung menoleh pada teman-temannya.


Rona merah di pipi Zara seolah menandakan betapa malunya dirinya, saat pernyataan cinta Adhi di saksikan oleh teman-temannya.


Adhi yang mendengar tepuk tangan, langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping. Dia membawa Zara melangkah menuju ke meja makan, bergabung dengan yang lain.


"Selamat ya, untuk kalian sudah resmi menjadi sepasang kekasih," ucap Tania, yang begitu senang saat adik iparnya, mendapatkan cintanya.


Tania memang sudah tahu sejak awal rencana Adhi, karena Daffa sudah memberitahunya. Jadi tadi dia tidak panik saat lampu tiba-tiba mati.


"Terimakasih, Kak," ucap Zara dan Adhi bersama-sama.


"Selamat ya, kalian sudah resmi menjadi sepasang kekasih," ucap Fira. Fira merasakan sangat bahagia, saat melihat kedua temannya sekarang menjadi kekasihnya. "Kamu romantis sekali, dhi, aku baru tahu," goda Fira yang melihat Adhi yang menyiapkan semuanya.


"Terimakasih," ucpa Adhi. Adhi yang mendengar ucapan Fira yang memujinya hanya tersenyum.


"Apa lampu mati tadi juga kamu yang siapin?" Pertanyaan datang dari Jeje.


"Iya," jawab Adhi.


"Aku pikir Daffa belum bayar tagihan listrik," ucap Jeje dengan nada sedikit menyindir.


Semua tergelak mendengar ucapan Jeje. Di moment romantis, Jeje masih bisa menyelipkan candaannya. Kebahagiaan yang di rasakan Adhi dan Zara seolah menular pada teman-temannya, tawa bahagia pun juga terdengar mengisi keheningan malam.


Dan di tengah-tengah kebahagiaan antara Adhi dan Zara, terdapat dua orang yang diam dan tidak merasakan bahagia. Mereka adalah Atta dan Nayla. Mereka berdua memang memasang senyum, tapi senyuman mereka adalah senyuman terpaksa.


"Sudah-sudah, ayo kita nikmati acara perayaan hari jadi antara Adhi dan Zara," ucap Daffa menghentikan tawa teman-temannya.


"Iya, ayo kita rayakan, semoga hubungan kalian bisa sampai kejenjang selanjutnya," timpal Tania.


Daffa menganggkat gelas. "Cheers," ucap Daffa, dan di ikuti teman-temannya menganggkat gelas yang sudah berisikan minuman.


Mereka semua melanjutkan acara dengan berbincang dan makan malam. Di iringi candaan kecil pada pasangan baru, membuat suasana malam begitu hangat.

__ADS_1


Hingga waktu sudah menujukan cukup malam, akhirnya mereka semua memutuskan untuk membubarkan diri. Dan membiarkan tuan rumah untuk istirahat. Mengingat juga ada wanita hamil, mereka tidak ingin membuat lelah para ibu hamil.


Daffa dan Tania sebagai tuan rumah mengantarkan teman-temannya sampai ke pintu. "Terimakasih kalian sudah mau datang ke acara 4 bulanan Tania, sekaligus acara Adhi," ucap Daffa mengakhiri pertemuan mereka.


"Sama-sama," ucap Jeje dan Fira.


Atta dan Nayla pun juga menjawab hal yang sama pada Daffa.


Mereka semua pulang. Jeje dan Fira langsung masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya. Di susul Adhi yang mengantar Zara, dia pun juga melajukan mobilnya. Dan di terakhir ada Atta dan Nayla yang melajukan mobilnya.


"Bang Atta nggak sakit hati, melihat mereka?" tanya Nayla saat dalam perjalan pulang. Nayla memang tadi tidak membawa mobil, dan akhirnya meminta menumpang di mobil Atta.


"Memangnya harus apa?" tanya Atta.


Nayla mengerutkan keningnya, saat mendengar ucapan Atta. Rasanya Nayla sudah kehilangan harapan, saat jawaban Atta seakan sudah menyerah. Apa lagi tadi Nayla yang melihat keromantisan antara Adhi dan Zara, merasa gemuruh di hatinya.


Zara mengingat apa yang di katakan Adhi padanya tadi sebelum dia memberi kejutan pada Zara.


Nayla yang melihat Adhi ingin menghampiri Zara, mencoba memanggilnya. "Dhi," panggil Nayla.


Adhi pun mendekat pada Nayla. "Kamu nggak gabung sama Fira dan Zara, nay?" tanya Adhi yang melihat Nayla berdiri sendiri.


"Iya, ini juga mau gabung," ucap Nayla. " Dhi, apa hubunganmu dengan Zara sudah sangat dekat?" tanya Nayla ragu-ragu.


Adhi yang mendengar pertanyaan dari Nayla, merasa ini adalah kesempatan untuk dirinya mengatakan pada Nayla. "Iya nay, dan aku harap kamu berhenti berharap sama aku," ucap Adhi. "Maaf nay, aku belum bisa membalas perasaan kamu. Dan aku harap itu tidak merubah pertemanan kita," lanjut Adhi.


Rasa sakit langsung melingkupi hati Nayla. Dirinya sudah tidak bisa lagi mendekati Adhi, di saat Adhi sendiri yang meminta. "Iya dhi. Maaf sudah mencintaimu."


Adhi tersenyum pada Nayla. "Semoga kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik lagi dari aku, nay." Adhi mencoba memberi semangat.


"Semoga."


"Biarkan saja mereka bahagia," ucap Atta menyadarkan lamunan Nayla yang mengingat ucapan Adhi.


Nayla hanya melirik tajam pada Atta. Rasanya malas sekali membalas ucapan Atta.


***


Adhi yang mengantarkan Zara masih di liputi rasa bahagia. Dia tidak menyangka sekarang mereka resmi menjadi kekasih.


"Apa kamu menyiapkan semua sendiri?" tanya Zara menoleh pada Adhi yang sedang menyetir.


"Iya," ucap Adhi. "Apa kamu suka?" tanyanya kembali.


"Iya," ucap Zara di sertai senyuman.


"Aku tidak menyangka bahwa kamu menyiapkan sendiri."


"Apa kamu lupa, kalau aku yang menyiapkan untuk Bang Jeje dan Fira," sombong Adhi.


Zara hanya memutar kedua bola matanya malas mendengar kesombongan Adhi, yang dulu menyiapkan acara Fira dan Jeje.


"Dan saat nanti kita menikah, aku akan menyiapkan lebih romantis dari ini."


Mata Zara langsung menatap ke arah Adhi. Dirinya belum bisa membayangkan sejauh itu hubungannya dengan Adhi. "Apa tidak terlalu cepat membicarakan pernikahan? aku rasa aku ingin kita menikmati pacaran kita."


"Iya, aku akan menunggumu hingga kamu siap." Adhi sadar bahwa memang tidak seharusnya dia membahas pernikahan, disaat jalinan cintanya saja baru mulai.


Zara pun tersenyum membalas ucapan Adhi.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like terus🥰


Mampir juga ke karya terbaru ku

__ADS_1


My Baby CEO


__ADS_2