
"Adhi," ucap Fira saat melihat pria yang sedang mengangkat koper dari bagasi. Fira terkesiap melihat Adhi berada di rumah Nyonya Ayu. Walaupun Fira tahu Adhi adalah anak dari Nyonya Ayu, Fira tidak menyangka Adhi akan datang sekarang.
Adhi yang baru saja datang ke rumah mamanya, dan sedang mengangkat kopernya, di buat kaget saat melihat Fira berdiri di depan gerbang rumah mamanya, "Fira."
Adhi terperangah melihat Fira. Adhi melangkahkan kakinya menghampiri orang yang berdiri di depan gerbang, dia ingin memastikan bahwa yang di lihat bukan ilusi semata. Dia pikir karena kerinduannya akan Fira, dia seolah melihat orang lain sebagai Fira.
Dan saat Adhi berdiri tepat di hadapan Fira, Adhi menyakini dirinya bahwa itu adalah Fira. Adhi masih menatap tak percaya bahwa yang di hadapannya sekarang adalah Fira, wanita yang dia cari berbulan-bulan. Wanita yang membuat enam bulannya berantakan. Dan wanita yang begitu dia cintai.
Adhi yang begitu senangnya melihat Fira, dia langsung memeluk Fira erat. Rasanya Adhi begitu merindukan Fira yang sudah lama dia tidak temui. Berbulan-bulan dia mencari Fira, dan sekarang dia menemukannya disini. Di tempat yang tak pernah dia pikirkan sama sekali.
Hati Fira yang sedang tidak keruan, membuatnya tidak menolak saat Adhi memeluknya. Rasanya dia memang butuh sandaran untuk kesedihannya. Dan Adhi datang di saat dimana dia membutuhan orang lain. Luka di hatinya benar-benar tidak tertahan lagi, air matanya yang sempat terhenti pun, mengalir kembali di pipi Fira.
Fira menangis di pelukan Adhi, rasanya pelukan ini membuatnya lemah. Ingin rasanya dia mengatakan aku benar-benar terluka atas cintanya pada Jeje. Tapi yang keluar dari mulutnya, hanya isak tangis. Dia meluapkan kekecewaannya pada Jeje dalam pelukan Adhi, meluapkan rasa sakitnya di dekapan Adhi.
Adhi yang melihat Fira menangis, di buat bingung, dia tidak menyangka wanita yang di peluknya ini meluapkan rindunya dengan air mata, "Kenapa kamu menangis," tanya Adhi melepas pelukannya, dan melihat wajah Fira.
Setelah melihat tangisan Fira, dia yakin Fira amat merindukannya, "Apa sebegitu bahagianya kamu bertemu denganku?" tanya Adhi mengoda Fira.
Fira yang mendengar Adhi mengira dia merindukannya pun menjawab dengan mengeleng. Dirinya telah membuat Adhi salah paham.
Adhi yang mendapat jawaban tidak dari gelengan Fira, mencebik bibirnya, "Berarti kamu tidak merindukanku." regeknya pada Fira.
__ADS_1
Fira yang mendengar Adhi mengatakan dia tidak merindukan langsunh mengelak, "Bukan begitu, aku merindukanmu," ucap Fira. Jujur dalam hati Fira tidak hanya merindukan Jeje, tapi Fira juga merindukan teman-temannya. Merindukan kehidupannya di sana.
Adhi tersenyum mendapati jawaban Fira, bahwa dia juga merindukan Adhi. Hati Adhi menghangat, meraskan bahwa wanita di hadapannya juga merindukannya.
"Mana lesung pipimu, apa harus aku menekan dengan jariku dulu agar terlihat," goda Adhi yang ingin melihat Fira tersenyum.
Seketika Fira langsung tertawa mendapat godakan Adhi, yang mau menekan pipinya dengan jarinya, hanya untuk melihat lesung pipi dari Fira.
Adhi yang melihat Fira tertawa dan menunjukan lesung pipinya ikut tertawa senang. Rasanya sudah lama dia tidak melihat senyum manis, dengan hiasan lesung pipi. Senyum yang sanagt dia rindukan.
Saat mereka sedang menikmati moment itu, ternyata ada sepasang mata yang sedang memperhatikan Fira dan Adhi dari jauh, orang itu adalah Jeje.
Jeje mengejar Fira dari restoran menuju kediaman Tuan Edward. Dan saat dia turun dari mobil, dia mendapati pemandangan bahwa Fira sedang di peluk oleh seorang pria. Dan Jeje tahu siapa pria itu, dia adalah Adhi.
Dari kejauhan Jeje mendengar dengan jelas, bahwa Fira mengatakan, bahwa dia merindukan Adhi. Seketika hatinya begitu sakit, mendengar ucapan itu keluar dari mulut Fira.
Sejenak dia mengingat alasan Fira, yang di lontarkan Fira kemarin, "Ini alasanmu sebenarnya, tapi kamu menyalahkan orang lain," geram Jeje, rasanya dia masih tidak terima Fira membohonginya.
Jeje membenarkan semua tuduhannya pada Fira, bahwa Adhi lah yang membawa Fira kemari. Jeje juga membenarkan dalam hatinya, jika kedua orang yang di lihatnya itu memang memiliki hubungan di belakangnya.
Tangan Jeje mengepal, menahan amarahnya yang bergemuruh dia dalam dadanya.
__ADS_1
Di saat Jeje masih termenung melihat pemandangan dua orang yang sedang melepas rindunya, ada mobil yang hendak masuk ke dalam rumah.
Jeje yang berdiri tepat di depan gerbang sedikit menghalangi mobil untuk masuk. Orang di dalam mobil turun pun, untuk melihat siapa yang berdiri di depan gerbang rumahnya, dan ternyata dia melihat Jeje.
Tuan Edward menghampiri Jeje yang berdiri di depan gerbang, "Tuan Gajendra, anda disini," tanya tuan Edward seraya menepuk bahunya.
Jeje yang melihat ada yang menepuk bahunya terperanjat, dan menoleh. Saat menoleh, dia mendapati Tuan Edward. Jeje sedikit bingung menjawab pertanyaan dari Tuan Edward, "Ya tuan, tadi saya mengantar sekertaris anda untuk pulang" akhirnya alasan itu yang diberikan Jeje pada tuan Edward.
Tuan Edward yang mendengar penjelasan dari Jeje mengerti. Tuan Edward pun mempersilahkan Jeje masuk ke dalam. Mereka berjalan bersama ke dalam rumah. Tapi langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan Adhi dan Fira.
"Bang Jeje," ucap Adhi yang kaget mendapati Jeje juga disini, di negara yang sama dengan Fira. Rasanya dia benar-benar tak percaya dengan apa yang di lihat, setelah melihat Fira, sekarang dia melihat Jeje.
Jeje yang melihat Adhi dengan tatapan tajam, rasanya dia ingin sekali melayangkan satu pukulan untuk dia.Tapi dia urung lakukan, saat melihat dia bersama Tuan Edward
"Oh ya Tuan Gajendra kebetulan juga Adhi baru sampai disini," Tuan Edward menjelaskan pada Jeje saat melihat Adhi.
Sebenaranya Jeje tidak kaget saat melihat Adhi, karena dari tadi dia sudah melihatnya. Apa lagi di tambah dia melihat Adhi sedang memeluk Fira dengan erat.
Jeje sinis pada Adhi, padangannya menajam seolah dia benar-benar tidak suka melihat pria di hadapannya, "Kamu baru datang dhi, kalau tahu kamu juga kesini, aku mungkin akan menunggumu untuk berangkat bersama, dan tidak lebih dulu kemari," ucap Jeje dengan santai untuk menutupi kemarahannya di depan Tuan Edward.
Mungkin untuk Jeje itu hanya kata-kata biasa dan tak berarti apa-apa, tapi untuk Adhi itu bermakna dalam. Dengan Jeje mangatakan bahwa lebih dulu kemari, berarti dia sudah lebih dulu bertemu Fira.
__ADS_1
"Bang Jeje lebih dulu kemari, berarti bang Jeje sudah menemui Fira lebih dulu dari pada aku " batin Adhi