
Setelah lelah berjalan-jalan. Fira langsung masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Seraya memijat kakinya, Shea mengambil ponselnya. Seharian ini memang Fira sengaja mematikan sambungan telepon. Karena dirinya sedang malas, berdebat dengan Jeje.
Melihat layar ponselnya, Fira melihat panggilan telepon bukan hanya dari Jeje, melainkan dari Adhi juga. Entah kenapa pikiran Fira melayang, memikirkan hal buruk. Tidak mau hal buruk terjadi pada Jeje, Fira memutuskan menghubungi Adhi.
Cukup lama Adhi mengangkat sambungan teleponnya. "Halo, dhi," ucap Fira saat sambungan telepon terhubung.
"Halo, Fir."
"Apa kamu tadi menghubungi aku?"
"Oh, iya."
"Ada apa?" tanya Fira. Hati Fira sudah berdebar-debar membayangkan apa yang terjadi pada Jeje.
"Aku tadi menghubungi Bang Jeje, tapi tidak di angkat. Apa kamu bisa menghubunginya, karena tadi dia kelihatan pucat saat ke kantor."
Mendengar penjelasan Adhi, hati Fira semakin tidak karuan. "Baiklah, aku akan menghubunginya." Setelah dapat jawab dari Adhi. Fira mematikan sambungan teleponnya. Fira beralih mencari nomer ponsel Jeje di daftar kontaknya.
Entah Jeje kemana, karena cukup lama Fira menghubungi tapi panggilan tak tersambung. Sampai saat Fira ingin mematikan sambungan telepon, dan hendak mengulang lagi, sambungan telepon terhubung.
"Halo." Suara bass terdengar dari sambungan telepon.
Fira menghela napasnya. Perasaan lega seketika menyelimuti hatinya. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Fira dengan suara lirih.
"Aku baik."
Mendapati jawaban singkat Jeje, Fira tahu Jeje masih marah padanya. Dirinya sebenarnya masih marah juga pada Jeje, tapi saat mendengar Jeje sakit, Fira tidak tega melanjutkan marahnya. Apa lagi jauh disana, Fira tidak bisa menjaga Jeje.
"Adhi bilang, kamu tadi terlihat pucat, apa kamu sakit?"
"Aku hanya kurang tidur saja," ucap Jeje.
"Kenapa kamu bisa kurang tidur?"
"Apa panggilan teleponku tidak menjawab, kenapa aku tidak bisa tidur."
Mendengar ucapan Jeje. Fira tahu Jeje sedang menyindirnya. "Untuk apa menghubungi aku, jika hanya ingin menuduhku."
"Aku tidak menuduh, tapi..." Jeje langsung mematikan sambungan teleponnya.
Fira yang melihat Jeje mematikan sambungan teleponnya, langsung mengerutkan keningnya. Fira merasa bingung kenapa Jeje mematikan sambungan teleponnya.
Tapi dalam hitungan detik, Fira tersenyum, saat melihat panggilan vidio terdapat di layar ponselnya. Fira menyusap layar ponselnya, mengangkat sambungan telepon.
Hal pertama yang di lihat Fira adalah wajah Jeje yang nampak lelah. Lingkaran hitam juga terlihat di bawah matanya. Rasanya Fira menyesali, karena membuat Jeje tidak tidur dan sibuk menghubungi dirinya.
"Maafkan aku," ucap Jeje menatap Fira dari sambungan vidio.
Fira yang melihat Jeje meminta maaf, merasa sedih. Sebagai pasangan suami istri maaf memaafkan akan hal biasa, selama dalam kesalahan kecil.
Air mata Fira mengalir. Rasanya kondisinya yang memang selama kehamilan, membuatnya muda menangis. "Kenapa kamu tidak percaya kemari," ucap Fira. Sebenarnya Fira masih sangat kecewa dengan Jeje.
"Maaf sayang. Tolong pahami posisiku. Suami mana yang tidak marah, saat pria lain yang mengangkat teleponnya."
"Aku tahu, tapi..."
"Maaf, maafkan aku. Aku akan mencoba percaya," ucap Jeje pada Fira. "Rasanya aku ingin pulang dan membawamu ke pelukanku."
Fira tertawa kecil di sela-sela tangisannya, saat mendengar Jeje ingin memeluknya. "Cepatlah pulang, dan aku akan memelukmu seharian."
Jeje tersenyum, melihat aksi manja Fira. Kali ini dia tidak mau membahas hal tentang pria itu saat seperti ini. Dirinya tidak mau, perasaan yang sedang senang berubah jadi perdebatan lagi. Pikirnya nanti sana saat dirinya pulang, akan mencari tahu.
"Apa hari ini kamu mual?" tanya Jeje mengalihkan pembicaraan.
"Iya, tadi aku mual. Tapi ibu memberiku jahe hangat, jadi mualnya tidak terasa."
"Syukurlah," ucap Jeje.
Fira menanyakan pada Jeje, tentang perkerjaanya disana. Bagiamana tadi pertemuan dengan Tuan Edward tidak luput dari cerita Jeje.
Setelah puas bertukar suara, Jeje mematikan sambungan teleponnya. Rasanya Jeje lega, saat keadaan kembali baik. Walaupun dirinya belum tahu siapa pria itu, dirinya tidak perduli. Yang dia perdulikan adalah hubunganya dengan Fira.
__ADS_1
Meletakkan ponselnya Jeje merebahkan tubuhnya. Meeting yang selesai lebih cepat memang membuatnya cepat kembali ke hotel.
Baru saja Jeje meletakkan ponselnya di atas nakas, ponselnya sudah berdering kembali.
Tangan Jeje meraih ponselnya, dan menjawab panggilan telepon. "Ya, dhi?" tanya Jeje pada Adhi. Ternyata Adhi lah yang menghubungi Fira.
"Fira sudah menghubungi Bang Jeje?" tanya Adhi.
"Sudah."
"Aman?" tanya Adhi memastikan.
"Terimakasih sudah membantu," ucap Jeje pada Adhi.
"Hish.. aku tidak mau kalau di minta berdrama lagi," ucap Adhi kesal.
"Kamu, tenang saja, Fira tidak tahu."
"Semoga saja." Adhi yang di minta Jeje, untuk menghubungi Fira, merasa kesal harus berdrama. Tapi akhirnya Adhi mengalah, mengingat Jeje begitu terlihat kacau memikirkan Fira. "Dan semoga anak Bang Jeje tidak akan seperti Bang Jeje yang suka berdrama," lanjut Adhi menyindir.
"Kalau anakku suka berdrama, nanti aku akan jodohkan dengan anakmu. Jadi biarkan anakmu membantu anakku berdrama." Tawa Jeje mengelengar memenuhi kamar hotel.
"Malas sekali berbesan dengan Bang Jeje," ucap Adhi ketus.
"Jangan suka seperti itu, biasanya akan dapat kebalikannya." Kali ini Jeje benar-benar puas mengoda Adhi. Biasanya dirinya lah yang di goda oleh Adhi.
Adhi yang mendengar ucapan Jeje, merasa kesal. "Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya," ucap Adhi.
"Oke, sekali lagi terimakasih."
Adhi yang menerima ucapan terimakasih dari Jeje pun mengiyakan.
"Kamu kenapa kesal?" tanya Zara pada Adhi.
"Bang Jeje bilang, dia akan menjodohkan anak kita. Agar nanti saat anaknya berdrama, anak kita yang akan membantu, seperti aku," jelas Adhi pada Zara.
Zara seketika tercengang dengan ucapan Adhi. Dia merasa ucapan Adhi begitu jauh membahas tentang anaknya dan Zara. Hingga Zara tidak tahu harus menanggapi apa.
"Tidak." Zara mengelak
"Karena aku membahas anak?" tanya Adhi memastikan.
Zara hanya tersenyum kecil. Rasanya dia malu membahas hal itu dengan Adhi.
"Apa kamu tidak suka?"
"Bukan begitu, aku hanya takut saja jika berharap terlalu jauh."
Adhi menatap dalam pada Zara. "Aku janji semua itu bukan hanya harapan."
Zara tersenyum, rasanya dia beruntung di cintai oleh Adhi. Adhi begitu mencintainya.
"Ayo masuk," ajak Adhi. Adhi dan Zara yang sedang asik menikmati pemandangan taman, pun mengakhirinya.
Masuk ke dalam rumah Adhi dan Zara bertemu dengan Nyonya Ayu. "Kalian dari mana?"
"Dari taman, ma."
"Ayo kita di ruang keluarga." Nyonya Ayu mengajak Adhi dan Zara untuk ke ruang keluarga.
Adhi dan Zara pun mengikuti untuk ke ruang kelurga. Adhi tahu, mamanya tidak mau kehilangan kesempatan untuk menghabiskan waktu dengannya.
"Oh ya dhi, mama ada yang mau di bicarakan dengan kamu." Nyonya Ayu yang teringat tentang sesuatu.
"Apa?" Adhi yang baru saja duduk langsung bertanya.
"Rencananya mama mau temani Tania saat melahirkan. Tapi.." Nyonya Ayu berhenti saat ingin menjelaskan pada Adhi.
"Tapi apa, ma?"
"Tapi Edward mau ikut, jika kamu mau bertukar mengurus perusahaan disini," ucap Nyonya Ayu ragu-ragu.
__ADS_1
"Maksud mama apa?" Adhi masih belum mengerti apa yang di jelaskan oleh mamanya.
"Jadi untuk sementara mama tinggal menunggu Tania, mama mau kamu bertukar dengan Edward untuk mengurus perusahaan. Selama mama menunggu Tania, kamu mengurus perusahaan disini dan Edward mengurus perusahaan disana."
Adhi terkejut mendengar ucapan mamanya. Entah harus menjawab apa. Tapi satu hal yang Adhi tahu, bahwa mamanya ingin sekali hadir saat cucu pertamanya lahir.
"Kamu bisa pikirkan terlebih dahulu. Masih ada empat bulanan lagi." Nyonya Ayu memahami keterkejutan Adhi. Tapi dirinya tidak bisa memaksakan.
"Adhi akan pikirkan, ma." Adhi tidak mau mengecewakan mamanya. Jadi untuk sementara dia akan pikirkan baik-baik ucapan mamanya.
Nyonya Ayu pun mengalihkan dengan pembicaraan yang lain. Melanjutkan obrolan Adhi, Zara, dan Nyonya Ayu bercerita banyak hal.
Setelah selesai mengobrol, Nyonya Ayu pamit untuk ke kamar. Dan meninggalkan Adhi dan Zara.
"Apa yang kamu memikirkan ucapan Tante Ayu?" Zara yang melihat raut wajah Adhi berubah, menebak apa yang membuatnya berubah.
"Iya," jawab Adhi berat.
"Aku rasa membantu Tante Ayu tidak ada salahnya, mengingat Kak Tania melahirkan hanya sekali."
Adhi membenarkan ucapan Zara, jika kesempatan mamanya untuk menemani Tania melahirkan adalah kesempatan langka.
"Apa yang membuatmu berat?"
"Kamu." Yang di pikiran Adhi adalah meninggalkan Zara. Dan itu adalah hal berat baginya.
"Aku?" tanyanya memastikan. Zara tertawa saat Adhi mengatakan dirinya lah yang menjadi alasan.
Adhi melirik Zara tajam. Saat dirinya serius, Zara menganggap hanya lelucon.
"Oke, maaf." Zara yang melihat Adhi terlihat kesal saat tertawa, akhirnya menghentikan tawanya. Zara mulai serius, dan menatap Adhi. "Aku akan baik-baik saja, saat kamu jauh nanti. Jadi tidak perlu khawatir." Zara mencoba menenangkan Adhi.
Bagi Adhi, selama Zara belum menjadi miliknya, dia tidak akan tenang. Tapi melihat Zara meyakinkannya. Rasanya tidak ada salahnya, dirinya memberikan kesempatan pada mamanya.
"Baiklah." Adhi tersenyum pada Zara.
**
Fira yang hendak keluar dari kamar, di kejutkan dengan kehadiran Raka di depan pintu. "Kakak," ucap Fira yang tersentak kaget.
"Maaf mengagetkanmu." Raka yang sedang ingin memanggil Fira, berhenti di depan pintu.
Fira yang tadi melihat pintu tidak menutup sempurna, meyakini, jika Raka mendengar pembicaraannya. "Kakak dengar?" tanya Fira ragu-ragu.
"Sedikit," ucap Raka. "Maafkan aku membuat kamu dan Jeje bertengkar." Raka yang mendengar Fira dan Jeje membahas dirinya, baru tahu jika mereka berdua bertengkar karena dirinya yang mengangkat telepon Fira.
"Sudah, jangan merasa tidak enak. Aku dan Jeje sudah baik-baik saja." Fira tidak terlalu mempermasalahkan, karena dirinya dan Jeje sudah baik-baik saja.
"Nanti saat Jeje kembali, aku akan menjelaskannya."
Fira mengangguk dan di iringi senyum. Pikirnya mungkin, jika Raka ikut menjelaskan Jeje akan mengerti.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa berikan likeš„°
__ADS_1