
"Fira," ucap Bu Ani yang melihat anaknya baru saja datang. Bu Ani yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat sesorang datang. Dan saat dia mencoba melihat, tenyata Fira di depan pintu. "Kamu sudah datang?" Bu Ani melangkah mendekat menghampiri Fira.
Fira yang melihat ibunya menghampirinya, langsung meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangan ibunya.
"Jeje mana?" tanya Bu Ani mengedarkan pandangan mencari menantunya, yang tidak terlihat bersama Fira.
"Tadi Fira yang minta Jeje untuk langsung ke Bandara, Bu. Agar tidak terlambat untuk melakukan penerbangan."
"Oh, ya sudah ayo masuk," ajak Bu Ani pada Fira.
Mata Fira masih memandang pria yang diam berdiri di depan pintu. Fira masih merasakan kebingungan kenapa ada pria asing di rumah ibunya. Seingat Fira, dirinya tidak mempunyai saudara laki-laki dewasa, dari kampungnya.
Tapi sejenak Fira merasa tak asing dengan wajah pria di hadapannya. Fira mencoba mengingat, tapi tidak menemukan jawaban dalam ingatannya.
"Ka, kamu diam saja," tegur Bu Ani pada pria yang berdiri di depan pintu.
"Iya, Bu. Aku sedang melihat Tuan putri yang baru saja datang," ucapnya di sertai senyuman.
Mendengar pria itu mengatainya Tuan putri, Fira menajamkan pandangan. "Siapa dia? mengatai aku Tuan putri," batin Fira kesal.
"Oh, ini Tuan putri kamu ya," ucap Bu Ani, mengacak rambut Fira.
"Ibu.." ucap Fira yang tidak suka di acak rambutnya oleh ibunya.
"Dia masih sama, Ka. Cuma kamu saja yang boleh mengacak rambutnya." Bu Ani tertawa pada pria di hadapannya.
"Emangnya siapa dia berani mengacak rambutku," grutu Fira tapi masih bisa terdengar.
Bu Ani langsung menoleh pada Fira. "Jangan bilang kamu tidak tahu, siapa dia?" tanya Bu Ani menatap pada Fira saat mendengar ucapan Fira.
"Tidak," ucap Fira di sertai gelengan.
"Ini Raka, Fir. Anak Bu Wati."
Fira terkejut saat mendengar nama pria di hadapannya. "Ini Kak Raka?" tanya Fira memastikan kembali. Fira memandang wajah Raka lekat. Rasanya Fira mendapati perubahan yang drastis dari Raka.
"Apa Tuan putri sudah lupa?" tanya Raka balik pada Fira.
Fira tersenyum saat Raka memanggilnya dengan sebutan Tuan putri. Dia ingat betul, waktu kecil, dirinya selalu ingin menjadi Tuan putri setiap bermain dengan Raka. "Aku sudah tidak pantas di panggil Tuan putri," ucap Fira mengerucutkan bibirnya.
Raka langsung mengacak rambut Fira. "Kamu akan jadi Tuan putri untuk aku." Raka memandang Fira lekat. "Apa kamu tidak mau memeluk kakakmu?" tanya Raka.
Fira tersenyum dan memberikan pelukan singkat pada Raka. "Kenapa Kakak bisa setampan ini?" tanya Fira setelah melepas pelukannya. Fira yang dari tadi memandangi wajah Raka, menemukan perubahan dari diri Raka.
"Apa aku setampan itu, hingga kamu tidak bisa mengenali aku?" Suara Raka penuh nada mengoda, di tujukan pada Fira. Dan Fira hanya mencebikkan bibirnya kesal.
"Sudah-sudah, sebaiknya kamu masuk lebih dulu." Bu Ani mencoba mengakhiri perdebatan Fira dan Raka.
Fira yang mendengar perintah ibunya, menarik kopernya ke dalam rumah.
"Biar Kakak yang bawa," ucap Raka pada Fira.
Dengan senang hati Fira pun menyerahkan kopernya, dan meninggalkan Raka mengejar ibunya, yang melangkah menuju meja makan. Raka yang melihat Fira berlalu begitu saja, menarik senyum di sudut bibirnya.
"Ibu sudah masak?" tanya Fira yang melihat makanan begitu banyak di meja makan.
"Iya, ibu pikir anak dan menantu ibu akan datang, jadi ibu memasak untuk kalian."
"Sayang sekali Jeje tidak bisa mencicipi masakan ibu." Fira memandangi makanan yang begitu tampak lezat di meja makan.
"Besok saat dia menjemputmu, dia harus menginap disini, dan mencicipi masakan ibu." Bu Ani sebenarnya kecewa saat menantunya, tidak mampir ke rumah terlebih dahulu.
"Iya, Fira janji. Besok saat Jeje pulang Fira akan ajak dia menginap." Fira memeluk ibunya, mencoba meredakan kekesalan ibunya.
"Ya, sudah ayo makan." Bu Ani menepuk lengan Fira lembutm
Fira melepas pelukannya, dan menarik kursi di meja makan. Tampak Raka yang baru saja keluar dari kamar Fira, untuk menaruh koper Fira di kamar. Raka menarik kursi, dan duduk tepat di hadapan Fira.
"Kakak sejak kapan disini?" tanya Fira seraya mengambil nasi, dan meletakkannya di piring.
"Ternyata Raka sudah lama, Fir. Tinggal di negera ini. Tapi dia beru mengunjungi ibu seminggu yang lalu," potong Bu Ani menceritakan pada Fira. "Ingat tidak, saat ibu pulang karena ada tamu, ya Raka ini tamunya." Bu Ani menceritakan pada Fira.
Fira mencoba mengingat, sewaktu dirinya, Jeje dan Mama Inan akan ke mall, ibunya meminta untuk pulang karena ada tamu. "Fira ingat."
__ADS_1
"Maka dari itu, ibu suruh dia tinggal disini, dari pada dia tinggal di apartemen sendiri, tidak ada yang mengurusi." Bu Ani melirik kesal pada Raka, yang memilih tinggal di apartemen, dari pada tinggal dengannya.
"Jadi sekarang kakak jadi anaknya ibu ya," goda Fira di sertai senyuman.
"Iya. Sekarang aku jadi anak tersayang ibu," ucap Raka seraya memeluk Bu Ani.
"Mentang-mentang aku tidak ada, kakak menang ya." Fira mengerucutkan bibirnya mendapat godaan dari Raka.
Raka dan Bu Ani tertawa, saat melihat Fira kesal. Suasana di meja makan, di penuhi tawa bahagia saat semua berkumpul.
"Lalu bagaimana kabar Bu wati?" tanya Fira seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Bu Ani dan Raka seketika langsung diam, saat Fira menanyakan akan hal itu. "Ibu sudah meninggal, Fir." Raka memberitahu pada Fira. Raut wajah raka yang semula bahagia, berganti sedih saat mengingat ibunya.
Fira tersentak kaget, saat mendengar bahwa ibu Raka meninggal. Fira memang tidak terlalu dekat dengan ibu Raka, karena Bu wati tinggal di kediaman Nareswara, dan hanya seminggu sekali datang ke rumah. Fira langsung menatap Raka. "Maaf, Kak. Aku tidak tahu." Fira merasa bersalah pada Raka saat membahas tentang ibunya.
"Tidak apa-apa. Ibu juga sudah lama meninggal."
"Sudah lama?" tanya Fira memastikan.
"Iya, ternyata waktu Bu Wati berhenti berkerja di rumah Pak Rayhan dan Bu Inan karena sakit, fir." Bu Ani menjawab pertanyaan dari Fira.
Fira memang tahu, setelah ayahnya meninggal, Bu Wati juga berhenti berkerja dari kediaman mertuanya itu. Dan akhirnya ibunya lah yang mengantikan Bu Wati menjadi asisten rumah tangga di kediaman Nareswara. Raka yang memang tinggal bersama dengan Bu Ani dan Fira, selama ibunya berkerja di kediaman Nareswara, juga ikut dengan Bu Wati untuk pulang ke kampungnya. Dan sejak saat itu Fira tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Raka atau Bu Wati.
"Lalu selama ini kakak tinggal dengan siapa?" Rasanya Fira membayangkan, berada di posisi Raka, yang tidak memiliki saudara, dan harus di tinggal pergi untuk selama-lamanya oleh orang yang kita cintai.
"Aku dapat beasiswa untuk sekolah di luar negeri. Dan aku tinggal disana."
Fira memang tahu, bahwa Raka adalah anak yang pandai. Jadi wajar saja Raka mendapatkan bea siswa.
Ibu dan Raka menceritakan, bagaimana seminggu ini Raka tinggal di rumah. Fira yang mendengar pun merasa senang, saat ibunya begitu senang ada yang menemani.
Fira tahu, bahwa kedekatan Raka dan ibunya sudah seperti ibu dan anak. Bu Wati yang harus berkerja di keluarga Nareswara, harus menitipkan Raka pada Bu Ani. Dan Bu Ani dengan tangan terbuka menerima Raka. Menjadikannya bagian dari keluarga kecilnya, dan Raka tubuh bersama Fira. Jarak tiga tahun dari Fira, membuat Raka hadir sebagai kakak untuk Fira.
Obrolan mereka di meja makan tampak seru, berbagi cerita lama, yang mengelitik saat di ingat. Bagiamana dulu Fira kecil, pun tak luput dari cerita mereka.
Bernostalgia adalah hal menyenangkan. Karena kita membuka lembaran-lembaran usang, yang terdapat cerita menarik di dalamnya. Walaupun terkadang terselip cerita perih. Hidup ini selalu lah seimbang, saat cerita tentang kesedihan mengimbangi sebuah kebahagiaan.
Obrolan mereka berakhir, bersamaan dengan berakhirnya makan malam mereka. Fira dan Raka membantu Bu Ani membersihkan meja makan, sebelum akhirnya kembali ke kamar masing-masing.
**
Fira mengerjap saat terdengar dering ponselnya. Tangan Fira langsung meraih ponselnya, dan mengangkat sambungan telepon. "Halo," ucap Fira dengan suara terdengar masih mengantuk.
"Halo, sayang." Suara bass yang terdengar lembut dari sambungan telepon.
"Sayang," ucap Fira. Fira yang tadinya masih berat membuka matanya, langsung melebarkan matanya, saat mendengar suara pria yang dia nanti semalaman. "Kamu sudah sampai?"
"Iya, baru saja pesawatku mendarat. Jadi aku langsung menghubungimu."
"Apa kamu sedang perjalanan ke hotel?"
"Iya, aku sedang perjalanan menuju hotel, untuk beristirahat terlebih dahulu, dan baru besok kami akan mulai meetingnya."
"Apa kamu sendiri?"
"Iya, karena Adhi dan Zara tinggal di rumah Tuan Edward," ucap Jeje. "Kalau begitu aku akan menghubungimu nanti, sekarang lanjutkan istirahatmu." Jeje sadar bahwa di tempat Fira sangatlah terlalu pagi.
Fira melihat jam, dan ternyata jam menunjukan pukul lima pagi. "Disini sudah jam lima pagi," ucap Fira.
"Lalu kamu sudah tidak mengantuk?"
"Iya."
"Tapi aku sangat mengantuk, sayang."
Fira menyadari perjalanan Jeje pasti sangat melelahkan. "Baiklah, aku akan membantu ibu saja, kamu lanjutkan istirahatmu ya."
Setelah mendengar jawaban Jeje, Fira mematikan sambungan telepon. Dan meletakkan di atas nakas. Fira langsung menyibak selimutnya, dan keluar dari kamarnya. Tenggorokannya yang kering, ingin rasanya, segera di redakan.
Melangkah ke dapur, Fira sudah melihat ibunya sudah berkutat di dapur. "Ibu sudah bangun?"
Ibunya yang sedang memasak, menoleh pada Fira saat mendengar suara Fira. "Iya, Raka selalu sarapan sebelum berangkat kerja. Jadi ibu memasak untuk dia."
__ADS_1
"Ibu sekarang punya kegiatan baru, semenjak ada Kak Raka?" tanya Fira di iringi senyuman.
Bu Ani balas tersenyum. "Iya, ibu merasa tidak sepi saat ada Raka di rumah."
Mendengar ibunya senang, Fira juga ikut senang. Fira tahu, semenjak dirinya menikah jarang sekali ke rumah ibunya. Dan saat ada Raka di rumah, paling tidak ada yang menemani ibunya.
Fira yang tadi ingin mengambil minum, berlalu mengambil minum. Mengambil gelas, Fira mengisinya dengan air putih. Meminumnya, Fira merasakan kelegaan di tenggorkannya. "Kak Raka kerja dimana, Bu?" tanya Fira seraya menaruh gelas.
"Dia bilang di salah satu mall."
"Mall kan banyak, Bu, yang mana? dan di toko atau dimana?" Fira yang tidak mengerti penjelasan ibunya, meminta penjelasan lebih jelas pada ibunya.
"Ibu juga tidak tahu. Raka hanya mengatakan mall saja," ucap Bu Ani. "Nanti kamu tanya sendiri saja."
"Iya, nanti Fira tanya sendiri," ucap Fira. "Ada yang bisa di bantu, Bu?" Fira mengintip apa yang di masak ibunya.
"Pergilah mandi saja, ibu sudah mau selesai."
Di minta ibunya mandi, akhirnya Fira memilih berlalu dan meninggalkan dapur.
Langkah Fira yang sedang menuju kamarnya terhenti, saat melihat Raka di depan rumah. Rasa penasarannya, akhirnya membuat Fira berbelok menghampiri Raka.
Saat Fira sudah dekat, dia melihat Raka sedang berolah raga. "Wah pantas badan Kakak sekarang lebih berisi, ternyata hasil dari berolah raga." Fira mendudukkan tubuhnya di tangga yang berada di teras rumahnya.
Raka yang sedang melakukan push up, menghentikan kegiatannya, saat mendengar ucapan Fira. "Ini hanya nilai plus saja dari hasil olah raga. Niatku olah raga, hanya untuk kesehatan." Raka melangkah menghampiri Fira yang sedang duduk di teras.
"Ya, dan nilai plusnya lagi, akan ada banyak wanita yang menyukai, Kakak," ucap Fira di iringi tawa.
"Kamu!" seru Raka seraya mengacak-acak rambut Fira.
"Kakak," ucap Fira mengelak dari tangan Raka. "Sana pergi mandi," usir Fira seraya mendorong Raka.
**
Setelah membersihkan diri, Fira keluar dari kamar untuk sarapan bersama ibunya dan Raka. Saat keluar dair kamar, Fira melihat sudah tampak Raka dan ibunya duduk manis menunggu Fira di meja makan.
Tampil dengan kemeja, Raka tampak berbeda dengan tadi pagi. Tampilannya pun lebih berwibawa.
"Kakak, kerja dimana?" tanya Fira saat sudah di meja makan.
"Di salah satu toko di mall."
"Pasti Kakak bosnya."
Raka tertawa saat mendengar ucapan Fira. "Aku hanya manager saja, bukan bos," elak Raka.
"Manager juga jabatan oke, Kak."
"Kamu sendiri?"
"Aku sudah berhenti berkerja."
"Kamu sudah berhenti berkerja, Fir?" tanya Bu Ani memastikan, saat mendengar ucapan Fira.
"Iya, Bu. Fira sudah berhenti berkerja."
"Baguslah, Fir, dalam kondisi kamu hamil. Kamu tidak boleh terlalu lelah." Bu Ani yang selalu khawatir keadaan Fira, merasa kelegaan saatn mendengar putrinya sudah tidak berkerja.
Raka yang mendengar obrolan Fira dan Bu Ani, hanya memilih diam, dan tidak menanggapi.
"Iya, bu." Fira sudah menebak, akan banyak yang suka jika Fira berhenti berkerja. Dan itu termasuk ibunya. Tapi bagi Fira, bukan hanya menyenangkan orang lain saja. Tapi senua di lakukannya untuk Jeje juga. "Kakak naik apa ke sana?" Fira beralih pada Raka.
"Nanti ada supir kantor yang akan menjemput."
Setelah sarapan Raka berangkat berkerja, sedangkan Fira menikmati hari pertamanya di rumah. Mungkin kali ini berbeda, karena ada ibunya yang akan menemani. Tapi nanti saat dia sudah di apartemen akan terasa kebosanan mendera Fira.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa likeš„°