
Fira merasakan tidurnya malam ini begitu nyenyak. Bagaimana tidak nyenyak, jika kehangatan di berikan Jeje sepanjang malam. Tangan kekar yang melingkar di tubuh Fira, membuat dirinya berada di dekapan cinta seorang Gajendra.
Perlahan Fira mengangkat tangan Jeje, memindahkannya agar Fira bisa bangun. Fira benar-benar dengan perlahan memindahkan tangan Jeje, agar pria yang sedang tertidur pulas itu tidak terbangun. Setelah dia dapat memindahkan tangan kekar milik suaminya itu, Fira menyibak selimutnya. Fira pun berlalu menuju kamar mandi, membersihkan dirinya dan menyegarkan tubuhnya.
Setelah selesai menyegarkan tubuhnya. Fira keluar dengan membawa pakaian kotornya. Dengan masih memakai kimono, Fira melangkah menuju keranjang kotor di dekat lemari.
Fira memasukkan baju kotor miliknya, dan membawa baju kotornya untuk di cuci. Di depan mesin cuci, Fira memilih-milih baju terlebih dahulu, memisahkan warna baju, agar tidak merusak warnanya saat nanti dalam pencucian. Tapi saat sedang asik memilih baju kotor, indra penciuman Fira, mencium wangi lain yang tidak pernah dia cium. Dan wangi itu berasal dari tumpukan baju yang ada di hadapannya.
Karena penasaran bau yang mengelitik indera penciumannya. Akhirnya Fira memilih mengendus satu persatu baju kotor itu. Sampai dimana, dia menemukan dari mana wangi itu berasal.
Fira sedikit memicingkan matanya. Mengingat dengan benar, baju yang dia pegangnya sekarang. Batinnya hanya berkata, bahwa ini adalah baju Jeje yang di pakai semalam, untuk pergi menemui teman-temannya.
Saat dia memegang baju Jeje, wangi parfum wanita, menyeruak dari sisi depan baju. Fira mencoba mengendus ulang baju yang dia pegang, memastikan bahwa dia tidak salah mengira bahwa yang dia cium adalah wangi parfum wanita.
Fira merasakan dalam-dalam, wangi yang di ciptakan dari parfum yang dia hirup. Wangi lembut dan sedikit manis, menunjukan bahwa ini parfum wanita.
Seketika dia menarik nafasnya perlahan, merasakan sesak yang tiba-tiba mulai menyelimuti dadanya. Pikirannya melayang jauh, dengan dugaan yang tak pasti. Parfum siapa ini, dengan siapa Jeje pergi, kenapa bisa parfum wanita menempel. Pertanyaan-pertanyaan itu terlintas di pikirannya saat itu juga.
Tapi Fira mencoba menepis semua kecurigaannya. Rasanya tidak adil, jika dia tidak menanyakan terlebih dahulu pada Jeje.
Akhirnya Fira memilih melanjutkan perkerjaanya, memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Dan menekan tombol untuk mulai mencuci. Seraya menunggu mesin cuci berkerja, Fira kembali ke kamar, untuk bersiap ke kantor.
Saat dia masuk ke dalam kamar, Fira melihat Jeje yang baru saja keluar dari kamar mandi. Fira mematung di depan pintu kamar, saat melihat Jeje. Sejenak dia teringat, dengan wangi parfum wanita, yang menempel di baju Jeje.
"Kamu dari mana?" Jeje mengosok-gosok rambut basahnya seraya melangkahkan kakinya menghampiri Fira.
Fira yang mendengar Jeje bertanya pun masih asik dengan pikirannya.
"Kamu dari mana sayang, kenapa pagi-pagi sudah menghilang dari pelukanku." Jeje mengulung pertanyaannya. Saat berucap Jeje langsung melingkarkan tangannya, merengkuh tubuh Fira.
"Aku baru saja memasukkan beberapa pakaian kotor ke mesin cuci." Dengan gejolak rasa curiga di dalam hatinya, Fira tetap berusaha tersenyum saat menjawab pertanyaan Jeje. "Aku akan ganti baju terlebih dahulu." Fira mencoba melepas pelukan Jeje.
"Kenapa buru-buru," ucap Jeje. Jeje menarik tubuh Fira kembali ke pelukannya. Jeje langsung membenamkan bibirnya di ceruk leher Fira. Menikmati aroma sabun yang menyeruak dari tubuh Fira. Rasanya tidak cukup untuk Jeje hanya mencium aroma tubuh Fira, dia mulai memberi kecupan-kecupan kecil di leher istrinya.
Fira yang merasa sentuhan lembut dari bibir Jeje, menikmati setia kecupan yang di berikan oleh Jeje. Tapi sejenak dia teringat kecupan-kecupan dari Jeje, biasanya selalu meninggalkan bekasnya. "Hentikan, nanti akan berbekas," ucap Fira seraya mendorong lembut tubuh Jeje.
Jeje langsung tertawa. "Sudah terlanjur berbekas."
Fira langsung mencebikkan bibirnya, merasa kesal dengan ulah Jeje, yang membuat bekas kecupannya di lehernya.
Jeje yang melihat Fira kesal langsung mengecup bibir Fira. "Jangan marah, aku hanya tidak tahan melihat dirimu."
Rasanya Fira tidak bisa marah dengan pria di hadapannya ini. Di langsung tersenyum. "Ya sudah ayo cepat bersiap," ucap Fira, dan Jeje mengangguk.
Akhirnya Fira dan Jeje bersiap. Fira yang selesai berganti baju, memoles wajahnya di depan cermin. Dia memiringkan kepalanya mencari bekas-bekas kecupan dari Jeje. Setelah melihat dimana letak bekas kecupan itu, Fira langsung mengoleskan foundation miliknya.
"Coba kamu lihat apa di belakang juga ada bekas kecupan kamu?" tanya Fira pada Jeje.
Jeje yang sedang sibuk mengancingkan kemeja navy miliknya, menoleh pada Fira. Dia langsung melangkahkan kakinya, menghampiri Fira yang sedang duduk di depan kursi meja rias.
"Mana foundation nya?" Jeje mengulurkan tangannya, meminta foundation yang di pegang oleh Fira.
"Ini." Fira langsung memberikan pada Jeje foundation yang di bawanya.
Jeje memperhatikan sisi kanan dan kiri leher Fira, mencari sisa bekas kecupan darinya. Tapi ternyata, dia tidak menemukan bekas kecupan yang telah di buatnya. Akhirnya Jeje menyibak rambut Fira, untuk mencari bekas kecupan di tengkuk milik Fira.
"Memangnya tadi kamu mengecup sampai kesana?" tanya Fira sedikit heran saat Jeje menyibak rambut Fira.
"Kamu terlalu menikmati, hingga tidak tahu mana saja yang tempat yang aku kecup," elak Jeje.
Fira hanya mengerutkan dahinya. Dalam hatinya hanya berkata, sefokus apa dia menikmati setiap sentuhan lembut bibir Jeje, tetap saja dia sadar dimana saja Jeje mengecupnya.
Setelah menyibak rambut Fira. Jeje memperhatikan dengan seksama, setia sisi leher belakang Fira. Setelah menemukan tempat yang pas, Jeje mendekatkan bibirnya mengecup tengkuk Fira. Menghisap sedikit kulit yang terdapat di tengkuk Fira.
Fira yang merasakan tengkuknya di hisap lembut oleh bibir Jeje, memejamkan matanya menikmati, kenikmatan yang di ciptakan oleh Jeje. Bulu halus di tubuh Fira pun, ikut berdiri memberi sensasi hawa dingin seketika di tubuhnya
"Ini baru ada," ucap Jeje melihat bekas kecupan baru miliknya di kulit Fira. Jeje langsung mengusap bekas basah yang terdapat di leher Fira. Kemudian dia mengoleskan foundation, untuk menutupi bekas kecupannya.
Fira yang melihat Jeje dari pantulan cermin di depannya, hanya bisa menggeleng melihat aksi jahil suaminya itu.
__ADS_1
"Sudah selesai." Jeje merapikan rambut Fira kembali, setelah tadi dia menyibaknya. Jeje langsung membungkuk, meletakkan kepalanya di samping kepala Fira, menatap Fira dari pantulan cermin. "Sekarang pakaikan aku dasi," pintanya pada Fira.
Mendengar permintaan Jeje. Fira mengangguk dan berdiri. Dia membalikkan tubuhnya, menghadap Jeje. Setelah menerima dasi dari Jeje. Fira langsung memasangkan dasi di kerah kemeja milik Jeje.
Saat memakaikan dasi pada Jeje. Fira teringat dengan wangi parfum yang terdapat di baju Jeje. Akhirnya Fira memilih bertanya pada Jeje. " Semalam kamu bertemu siapa saja?" Fira memulai pertanyaan pertamanya.
"Dengan Atta dan Daffa," ucap Jeje seraya menengadah, karena tangan Fira tepat berada di bawah dagunya.
"Hanya mereka berdua?" tanya Fira kembali.
"Ada sepupu Atta."
"Wanita?" tanya Fira langsung menebak. Dan Jeje pun mengangguk menjawab pertanyaan Fira.
Fira terkesiap saat melihat anggukan dari Jeje. Saat bersamaan dengan keterkejutannya. Fira telah selesai memakaikan dasi pada Jeje. "Selesai," ucapnya.
"Terimakasih," ucap Jeje seraya mengecup pipi Fira.
Fira yang mendapatkan ciuman pun, langsung memeluk Jeje. Rasanya masih banyak pertanyaan yang ingin di tanyakan oleh Fira. Tapi mulutnya seakan kelu saat ingin memberikan pertanyaan pada Jeje.
Sesak di yang melingkupi dadanya pun tak bisa di hindari oleh Fira. Dia berharap memeluk Jeje, bisa mengurangi sakit di hatinya.
Mendapatkan pelukan dari Fira, membuat senyum Jeje mengembang di wajahnya. Jeje begitu senang saat istrinya begitu manja padanya. Akhirnya Jeje pun membalas, dan mengeratkan pelukan pada Fira.
Setelah cukup lama memeluk Jeje. Fira melepaskan pelukannya pada Jeje. Fira langsung mengendus jas yang di melekat di tubuh Jeje. Fira mengendus, merasakan dan mencari aroma yang terdapat di jas milik Jeje. Saat dia mendapati wangi parfum miliknya yang tercium dari jas Jeje. Fira membulatkan matanya.
"Kamu kenapa mencium jas ku seperti itu, apa aku bau karena tidak pakai parfum?" Jeje yang heran dengan aksi Fira yang mengendus jasnya pun, akhirnya bertanya.
"Aku hanya ingin memastikan, apa saat aku memelukmu, wangi parfum milikku akan menempel di bajumu," jawabnya pada Jeje. "Dan ternyata wangi parfum ku, menempel di jasmu." Fia menahan gemuruh di hatinya. Kekesalan yang tak bisa di ungkapkan hanya bisa di tahannya.
"Apa kamu memakai parfum?" tanya Jeje yang heran. Jeje ingat betul bagaimana kemarin Fira muntah mencium wangi parfum miliknya.
"Aku hanya mual saat mencium parfum milikmu, bukan milikku," jelas Fira pada Jeje.
Jeje yang mendengar ucapan Fira, hanya bisa mendesis. Rasanya tidak adil sekali saat Fira hanya muntah karena parfum miliknya. "Kalau memang wangi parfum milikmu menempel di jas ku, berarti kamu harus memelukku. Jeje aku bisa wangi." Jeje langsung memeluk Fira.
Jeje yang menyadari bahwa dia tidak bisa memakai parfum miliknya, tidak mau menyianyiakan kesempatan, agar parfum yang menempel di baju Fira bisa menempel di bajunya juga.
Jeje yang melihat Fira yang berubah seperti sedang marah, hanya bisa terheran. Kenapa lagi Fira batinnya bertanya. Tapi Jeje yang mengingat bahwa Fira sedang hamil, hanya berpikir ini mungkin hormon ibu hamil.
**
Fira merasa kesal, tidak mau sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Akhirnya Fira memilih berlalu keluar apartemen lebih dulu, menuju parkiran mobil, meninggalkan Jeje.
Sedangkan Jeje, masih di dalam apartemen, menyiapkan sarapan untuk di bawanya. Dirinya yang tidak tega pada istrinya, memilih membuat susu ibu hamil, dan memasukkan ke dalam tumbler. Jeje juga mengupas apel, dan membuat roti dengan olesan selai untuk Fira.
Fira yang sudah keluar, melangkah menuju lift apartemen. Fira berdiri di depan lift, untuk menunggu lift terbuka. Saat sedang menunggu lift, Fira mendengar namanya di panggil. Fira pun membalikkan tubuhnya, dan mendapati Celia yang memanggilnya. Celia yang berjalan menuju lift melihat Fira di depan lift.
"Kamu mau berangkat kerja?" tanya Celia saat sudah sampai di depan lift bersama Fira.
"Iya," jawab Fira. "Kamu sendiri, mau pergi?" Fira juga balas bertanya pada Celia, saat melihat wanita di hadapannya ini, sudah sangat rapi dan cantik.
"Aku ada pemotretan pagi ini."
Akhirnya Fira dan Celia masuk ke dalam lift, saat lift terbuka. Keadan yang sepi membuat lift hanya di isi oleh Fira dan Celia.
"Jadwal pemotretan pasti sangat padat ya?" Tanya Fira mengisi keheningan di dalam lift.
"Iya, kadang waktunya juga tidak tentu. Terkadang bisa pagi sekali seperti sekarang, terkadang siang hari saat terik matahari begitu panas, atau terkadang sampai malam," Celia pun menjelaskan dengan semangat.
"Tapi sepertinya, kamu sangat menyukainya perkerjaanmu?"
"Iya, aku sangat menyukainya. Karena ini adalah impianku."
Fira bisa melihat dengan jelas wajah ceria Celia saat bercerita. Dia bisa menyimpulkan, bahwa Celia menjalani perkerjaannya karena memang itu passion nya.
Saat hanya berdua di dalam lift dengan Celia. Indera penciuman Fira, mencium wangi parfum yang mirip sekali dengan wangi parfum yang terdapat di baju yang di pakai Jeje semalam.
"Wangi parfum mu enak sekali." Keingin tahuan Fira, akhirnya membuat dirinya bertanya pada Celia.
__ADS_1
"Oh parfum ini. Kebetulan teman ku adalah pemilik perusahaan parfum. Dan dia membuatkan ku khusus untuk ku," jelas Celia.
"Berarti hanya ada satu wangi yang seperti ini?" tanya Fira memastikan.
"Sepertinya begitu."
Fira yang mendengar ucapan Celia terkesiap. "Rasanya tidak mungkin kalau parfum yang aku temukan di baju Jeje, sama dengan milik Celia. Mungkin hanya wanginya saja yang mirip. Lagi pula Celia baru saja pindah kesini, dan tidak mengenal Jeje," batin Fira menepis semua dugaanya.
Saat lift terbuka. Fira dan Celia keluar dari lift. Mereka berpamitan, dan berpisah menuju mobil masing-masing.
Fira yang berdiri di samping mobil Jeje, menunggu Jeje datang. Selang beberapa saat, Jeje melangkah menuju mobilnya dengan membawa tas kecil.
Saat Jeje sudah datang, dia langsung membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobil, dan di ikuti Fira selanjutnya yang masuk ke dalam mobil.
"Ini," Jeje menyerahkan tas kecil pada Fira. "Kamu bisa makan selama perjalanan ke kantor."
Fira yang menerima tas kecil dari Jeje, langsung membukanya. Dia menemukan dua kotak makan transparan dan satu tumbler di dalamnya. Fira bisa melihat dua kotak makan itu berisi potongan apel, dan roti tawar dengan selai yang sudah di potong-potong kecil. Sedangkan tumbler, Fira bisa menebak bahwa pasti itu berisi susu ibu hamil.
Melihat sebegitu besar perhatian Jeje. Rasanya Fira benar-benar merasa bersalah. Dia merasa kekesalnya sudah terlalu berlebihan. Fira hanya bisa membatin, sudah jelas Jeje begitu menyanyanginya, jadi mana mungkin Jeje menghianati dirinya.
Fira langsung menangis saat melihat tas berisi makanan di hadapannya. Dia tidak menyangka Jeje begitu perhatian. Padahal tadi dirinya sudah meninggalkannya.
Melihat Fira menangis Jeje langsung menepikan mobilnya. Dia membuka seatbelt yang berada di tubuhnya, dan langsung mengeser tubuhnya untuk menghadap Fira. "Kamu kenapa?" tanya Jeje panik.
"Maafkan aku, tadi meninggalkanmu keluar apartemen lebih dulu," ucap Fira dengan menangis.
Jeje yang mendengar ucapan maaf dari Fira hanya tersenyum. "Tidak apa-apa," ucap Jeje. Jeje langsung melepas seatbelt Fira, dan membawa Fira ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan Fira yang menangis.
"Aku hanya kesal pada mu tadi, karena itu aku pergi berlalu lebih dulu."
"Kesal dengan diri ku?" tanya Jeje, menjauhkan Fira dari pelukannya, dan melihat wajah Fira.
"Iya."
Jeje menautkan kedua alus tegasnya. Dia merasa heran kenapa bisa Fira kesal. Padahal dirinya tidak merasa membuat kesalahan. "Kenapa?"
"Aku menemukan wangi parfum wanita di bajumu, dan aku mengira bahwa parfum itu ada karena sebuah pelukkan. Sama halnya yang aku lakukan tadi padamu. Aku memelukmu, dan membuat parfum di bajuku menempel di jas mu." Fira menjelaskan dengan terisak.
Jeje terkesiap mendengar ucapan Fira. Jeje mengingat bahwa semalam Celia memeluknya, dan mungkin itu lah yang membuat parfum di baju Celia menempel di bajunya. Jeje juga tidak menyangka Fira bisa menyimpulkan dan mempraktekkan bagaimana parfum itu bisa menempel.
"Semalam aku menabarak sepupu Atta di bar. Jadi mungkin itu yang membuat parfum nya menempel di bajuku." Jeje yang melihat Fira menangis, tidak tega untuk menceritakan perihal Celia pada Fira saat itu juga. Emosi ibu hamil yang begitu labil, pasti akan membuat Fira lebih kacau pagi ini.
"Benarkah?" tanya Fira menatap Jeje.
"Iya sayang," ucap Jeje mengusap wajah Fira, menghapus air mata Fira. "Apa kamu mengira aku selingkuh?" tanya Jeje. Dan Fira mengangguk menjawab pertanyaan Jeje.
Jeje langsung membawa Fira ke dalam pelukkannya. "Jika aku selingkuh darimu, aku adalah pria paling bodoh di dunia ini. Karena meninggalkan permata berharga seperti dirimu." Jeje membelai punggung Fira, mencoba menenangkan tangisan Fira. "Sedikitpun tidak ada niatan untuk aku selingkuh darimu, karena aku begitu mencintaimu," ucap Jeje. "Apa lagi disini ada Jeje junior," ucap Jeje lagi seraya membelai perut Fira.
Fira yang mendengar ucapan Jeje tersenyum dan mengangguk. Rasanya dia menyesal telah berburuk sangka dengan Jeje.
"Sudah sekarang kita lanjutkan perjalanan kita ke kantor. "Jeje melepaskan pelukkannya, dan membernarkan duduknya. " Makanlah bekalmu, dan jangan biarkan anak kita kelaparan karena mamanya begitu mencintai papanya, hingga takut papanya selingkuh." Jeje menatap Fira dan mengodanya.
Senyum langsung mengembang di wajah Fira, dan seketika menampilkan lesung pipi milik Fira. Fira begitu senang saat Jeje memanggil diri mereka, dengan sebutan mama dan papa.
Akhirnya Fira membuka kotak berisi buah. Menusukkan garpu yang sudah di siapkan Jeje, dan memasukkan ke dalam mulut. Fira juga menyuapi potongan apel yang di tusuknya dengan garpu, pada Jeje yang sedang menyetir.
Jeje pun menerima suapan dari Fira, dan mereka berdua menikmati sarapan berdua di mobil.
.
.
.
.
.
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
__ADS_1
Mampir juga ke karya lain ku dan instagram aku Myafa16