Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Aku juga mau honeymoon


__ADS_3

Fira yang melihat Jeje membuka pintu, langsung lebih dulu masuk ke dalam apartemen. Satu tempat yang jadi tujuan utama Fira adalah dapur.


Jeje yang melihat Fira berlalu begitu saja, hanya bisa mengeleng kepala. Jeje sudah tahu, apa yang di cari Fira di dapur. Apa lagi kalau bukan cup cake. Fira yang harus buru-buru ke rumah Daffa tadi, harus menunda hasratnya untuk memakan cup cake nya.


Dengan bersemangat Fira melangkah menuju dapur. Membuka lemari pendingin, matanya langsung berbinar melihat cup cake miliknya. Dengan cekatan, tangannya meraih box berisi cup cake dan mengambilnya.


Fira melangkah menuju meja makan, dan membuka box berisi cup cake.


"Kamu sudah cuci tangan?" tanya Jeje yang melihat Fira membuka box berisi cup cake.


Fira langsung tersenyum, memamerkan deretan giginya, saat mendengar Jeje menegurnya. Dia pun berdiri dan menuju wastafel, untuk mencuci tangannya. Kembali ke meja makan, Fira sudah tidak sabar memakan cup cake nya.


"Hemm..." gumam Fira menikmati cup cake yang masuk ke dalam mulutnya. Fira memejamkan mata menikmati, sensasi manis dari cup cake.


Jeje hanya bisa menarik senyumnya, saat melihat Fira menikmati cup cake nya. "Apa sebegitu enaknya, sampai kamu mengekspresikan dirimu seperti itu?" Jeje melihat dengan jelas wajah Fira yang menikmati makan cup cake nya.


"Amu au, ni nak ckali," ucap Fira dengan mulut masih penuh dengan cup cake.


"Habiskan cake mu dulu, baru menjawab apa yang aku tanyakan," tegur Jeje Jeje melihat Fira bicara dengan mulut penuh cup cake. Jeje merasa, seperti melihat anak kecil di hadapannya. Jeje mengambil tisu, dan mengusap sisa remah cup cake yang menempel di bibirnya.


Fira hanya tersenyum, melihat Jeje mengusap sisa-sisa cup cake yang menempel di bibirnya. Fira melanjutkan mengunyah cup cake yang berada di dalam mulutnya. "Kamu tahu, ini enak sekali," ucap Fira, setelah menelan cup cake yang berada di dalam mulutnya, memperjelas ucapannya tadi.


"Lanjutkan makanmu, aku akan mandi lebih dulu," ucap Jeje. Sebelum berlalu, Jeje memberikan kecupan manis di pucuk rambut Fira.


Fira yang masih sibuk, dengan cup cake nya, hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Jeje.


Jeje berlalu meninggalkan Fira yang masih makan, dan masuk ke dalam kamarnya. Rasanya, tubuhnya sudah lengket beraktifitas seharian.


Setelah menghabiskan satu box berisi 12 cup cake, Fira masuk ke dalam kamar. Perasaan puas melingkupi hati Fira, saat bisa menikmati makanan yang sudah dia nanti dari tadi. Saat di rumah Daffa, pikiran Fira sebenarnya, memikirkan ingin segera pulang, karena ingin mencicipi *cup cak*e miliknya. Tapi karena ada acara Adhi, akhirnya dia harus bersabar.


Saat masuk ke dalam kamar. Fira melihat Jeje yang baru saja keluar dari kamar mandi. Bergantian Fira masuk, untuk mandi.


**


"Sini," ucap Jeje, seraya menepuk sisi kosong tempat tidur.


Fira yang baru keluar dari kamar mandi, melihat Jeje yang sedang duduk di tempat tidur. Fira merangkak, menyusul Jeje yang bersandar di headboard tempat tidur.


"Apa sudah habis cup cake mu tadi?" tanya Jeje. Jeje yang merentangkan tangannya, membawa Fira ke dalam pelukannya.


"Sudah." Fira menjawab di iringi anggukan.


Jeje hanya menarik senyum di ujung bibirnya, saat mendengar bahwa semua cup cake habis tanpa tersisa. Dalam hatinya, sungguh Fira bisa menghabiskan satu box berisi 12 cup cake dalam sekali makan.


"Aku senang melihat Adhi sudah mendapatkan cintanya." Seraya mengingat apa yang di lakukan Adhi tadi, Fira yang berada di dalam pelukan Jeje, memainkan dada Jeje, membuat pola abstrak di dadanya.


"Iya, paling tidak usahaku menukar dirimu dengan Zara tidak sia-sia."


Fira tertawa kecil, mendengar istilah Jeje yang menukar dirinya dengan Zara. "Apa kamu tahu, Adhi begitu romatis tadi menyatakan cintanya." Fira masih mengingat bagaimana Adhi menyatakan cinta pada Zara.


"Romatis apanya?" cibir Jeje.


Fira hanya mendegus kesal mendengar Jeje mencibir Adhi. "Memangnya kamu bisa melakukan seperti Adhi."


"Apa kamu lupa aku juga menyatakan cinta pada mu dengan suasana romantis." Jeje sedikit mengingatkan Fira, bagaiamana dirinya dulu menyatakan cinta.

__ADS_1


Fira mengingat bagaimana dulu Jeje menyatakan cinta. Memang semua adalay hap romantis yang Fira dapatkan dari Jeje. "Tapi bukannya Kak Daffa dan Adhi yang menyiapkan."


"Iya, tapi kan tetap aku yang menciptakan keromantisan." Jeje tidak mau kalah saat Fira mengatakan hal itu.


"Iya." Fira yang mendengarkan Jeje menyombongkan diri, memilih untuk mengalah, dari pada memperpanjang masalah. "Ayo kita tidur, aku sudah sangat mengantuk."


Fira mengakhir obrolan malam mereka dengan menarik selimut dan membenamkan tubuhnya ke dalam selimut. Mencari kehangatan di malam, yang akan membawanya ke dalam alam mimpi.


Jeje yang mendengar jawaban dari Fira, masih merasa tidak terima. "Kenapa jawabannya hanya iya." Jeje benar-benar berharap Fira memujinya, seperti yang dia lakukan pada Adhi.


Fira yang sudah mulai mengantuk, memaksa membuka matanya. "Memang apa yang harus aku jawab?"


Jeje merasa bingung mendengar pertanyaan Fira. Dirinya tidak mau terlihat, sedang meminta pujian dari Fira. "Lupakan." Jeje manarik selimut dan membenamkan tubuhnya ke dalam selimut. Rasanya kesal, saat Fira tidak memujinya.


Melihat Jeje yang sedikit kesal, Fira mendekatkan tubuhnya, dan memeluk Jeje. "Apa kamu tahu, kamu adalah orang paling romantis yang pernah aku temui. Setiap kata yang terucap dari bibirmu, membuatku melayang. Kata 'senang' tidak cukup mewakili, semua yang kamu berikan padaku." Fira mengeratkan pelukannya di tubuh Jeje.


Senyum terukir di wajah Jeje. Setelah penantiannya akan pujian dari Fira, akhirnya dia mendapatkannya juga. Jeje pun langsung mengeratkan pelukannya, pada Fira. Memberikan kecupan manis di pucuk rambut Fira, dan memejamkan mata. Menikmati malam panjang indah bersama orang yang begitu dia cintai.


**


"Berarti kita akan berkerja berdua saja ya?" tanya Fira saat memoles wajahnya di depan cermin. Fira menyapukan lipstik warna pink di bibir ranumnya. Sambil mengecap sedikit, dia memastikan bahwa lipstik terpoles rata di bibirnya.


Jeje yang sedang mengambil dasi di laci, menolah pada Fira, saat istrinya itu mengajaknya bicara. "Iya, untuk dua hari kedepan kita akan berdua saja. Karena Reza dan Valeria sedang honeymoon." Jeje melangkah menghampiri Fira, dan menyerahkan dasi berwarna biru dengan garis putih pada Fira.


Fira yang melihat Jeje dari pantulan cermin, sedang menyerahkan dasi padanya, tersenyum. Fira berdiri, dan membalikkan tubuhnya. Meraih dasi yang di berikan oleh Jeje, Fira melilitkan dasi, di kerah kemeja Jeje.


"Aku juga mau honeymoon," ucap Fira seraya mengerakkan tangannya memasangkan dasi, pada kerah kemeja Jeje. Senyum tipis tergambar di wajah Fira, saat mengucapka kata-katanya.


Senyum tertarik di ujung bibir Jeje, mendengar ucapan Fira. "Kita bukan honeymoon tapi babymoon."


"Iya, apa kamu mau?" Jeje berpikir, mungkin dirinya dan Fira butuh liburan, untuk menikmati waktu berdua, sebelum nanti mereka sibuk dengan baby mereka.


Fira langsung mengangguk dengan semangat, saat mendapat tawaran dari Jeje. Bersamaan dengan anggukan Fira, selesai juga tangan Fira memasangkan dasi di kerah baju Jeje.


"Tapi setelah aku dari luar negeri, bersama dengan Adhi." Jeje melingkarkan tangannya, pada pinggang ramping Fira, dan menatap lekat wajah Fira.


"Memang kapan kamu akan kesana?" Fira membalas dengan mengalungkan tangannya pada leher Jeje.


"Kemarin aku sudah berbincang dengan Adhi, dan memutuskan di hari Reza masuk berkerja."


"Berarti dua hari lagi?" tanya Fira, dan Jeje menjawab dengan anggukan.


"Iya," jawab Jeje. "Apa kamu jadi tinggal di rumah ibu?" Jeje mengingat bahwa Fira mengatakan bahwa dirinya akan tinggal di rumah ibunya selama Jeje ke luar negeri.


"Iya, aku akan tinggal disana selama kamu di luar negeri," jawab Fira. "Aku pasti sangat merindukanmu." Ini untuk pertama kalinya setelah menikah Jeje meninggalkan Fira untuk waktu yang lama.


Jeje tersenyum. "Aku akan jauh lebih merindukanmu," ucap Jeje. Jeje menatap lekat wajah istrinya. Pandangan penuh cinta, terlihat dari sorot mata Jeje. Jeje langsung membenamkan bibirnya pada bibir ranum yang terpoles lipstik pink milik Fira. Merasakan manis bibir Fira, yang selalu menjadi candu baginya.


Fira yang mendapatkan ciuman dari Jeje pun, membalasnya dengan gerakan lembut. Tangannya yang berada tepat di leher Jeje pun, tergerak untuk menarik tengkuk Jeje. Membuat ciuman mereka lebih dalam.


"Ayo kita berangkat," ucap Jeje mengakhiri ciuman singkat, tapi penuh kenikmatan yang di rasakan oleh keduanya.


Jeje dan Fira langsung bersiap, dan keluar dari apartemen. Mereka berdua melangkah menuju lift apartemen, untuk menuju ke parkiran mobil.


Saat pintu lift hendak tertutup, ada seseorang yang berteriak, meminta untuk menahan pintu lift yang hendak tertutup. Mendengar teriakan itu, tangan Fira langsung menekan tombol lift, agar terbuka kembali.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap Celia. Celia yang melihat Fira dan Jeje, terkesiap. Dirinya tidak menyangka, bahwa yang berada di dalam lift adalah Fira dan Jeje.


Fira hanya menjawab dengan anggukan, sedangkan Jeje memilih untuk tidak menjawab. Fira tidak menyangka bahwa Celia lah yang hendak masuk ke dalam lift.


Di dalam lift hanya keheningan yang terdapat. Fira sebenarnya ingin menyapa Celia, tapi dia ingat bahwa Jeje sudah memperingatkan dirinya, untuk tidak terlalu dekat dengan Celia. Dan melihat Jeje diam saja, akhirnya Fira pun memilih diam saja.


Sampai lift terbuka dia parkiran mobil pun, tidak ada yang membuka mulutnya. Jeje dan Fira keluar dari lift, dan menuju ke mobilnya. Sedangkan Celia melangkah bertolak arah dari Jeje dan Fira, menuju mobilnya.


Dalam hati Celia sebenarnya merasakan begitu dinginnya Jeje padanya. Sebagai orang yang pernah dekat dengan Jeje, Celia merasakan baru kali ini tersiksa dengan sikap Jeje.


Celia masuk ke dalam mobilnya, dan menunggu Jeje dan Fira, untuk pergi lebih dulu dari parkiran mobil. Saat melihat mobil Jeje sudah pergi, Celia melajukan mobilnya.


Mata Celia terus memandang mobil Jeje, hingga mobil hilang dari pandangannya. Celia merasa Jeje sudah jauh sekali dari jangkauannya, hingga dirinya tidak bisa menggapainya kembali.


Dalam hati Celia, dia benar-benar menyesali dulu meninggalkan Jeje, untuk mengejar karirnya.


Celia mulai memutar kunci mobilnya, dan menginjak pedal gas perlahan, melajukan mobilnya menuju tempat pemotretannya. Sepanjang perjalanan, dia masih sibuk memikirkan tentang Jeje. Melihat sikapnya yang dingin, Celia mulai merasa tidak betah untuk tinggal di apartemen bersebelahan dengan Jeje.


Sesampainya di tempat pemotretan Celia langsung masuk ke dalam studio foto. Mata Celia membulat melihat, pria tampan pemilik perusahaan yang sedang mengunakan jasanya berada di tempat pemotretan.


"Apa bos besar sedang mengecek kerja kami?" tanya Celia mengoda temannya.


Pria itu hanya tertawa mendengar Celia mengodanya. "Aku ingin melihat model produk milikku, sedang bergaya di depan kamera," balasnya mengoda.


"Tenanglah, aku akan membuat semua produk milikmu laku di pasaran. Saat semua orang memakai produk milikmu, mereka akan merasakan aroma yang sama dengan yang aku pakai."


"Oke pergilah memulai perkerjaanmu."Memilih Celia sebagai model perusahaanya, akan membuatnya menaikan penjualannya, dan semua itu tidak akan di sia-siakannya.


**


Sesampai di kantor, Fira dan Jeje melangkah masuk ke dalam kantornya. Dengan menaiki lift Presdir, Jeje dan Fira menuju ruangannya.


"Apa sikap kita tidak berlebihan dengan Celia?" tanya Fira mengisi keheningan di dalam lift menuju ruangan Jeje.


Jeje langsung menoleh pada Fira. "Aku rasa tidak."


Fira merasa memang Jeje sudah menjaga jarak, sejauh mungkin dengan Celia. Dan Fira harusnya menghargai, keputusan suaminya.


"Apa Adhi dan Zara akan kemari?" tanya Fira mengalihkan pembicaraan. Fira tahu Jeje tidak suka membahas tentang Celia.


"Iya, dan untuk dua hari ini aku dan Adhi akan menyiapkan beberapa berkas untuk di serahkan pada Tuan Edward. Jadi saat Reza masuk, kami sudah siap."


Fira mendengar merasakan senang, karena dua hari ini dia akan ada teman, saat Valeria sedang cuti.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca


Jangan lupa berikan like🄰


Mampir juga ke karya terbaru ku

__ADS_1


My Baby CEO


__ADS_2