
Gaffi yang beusia tujuh bulan sedang sangat lucu-lucunya, hingga terkadang membuat semua orang gemas. Mama Inan dan papa Rayhan tidak pernah absen untuk datang ke rumah Fira dan Jeje. Sebagai cucu pertama, Gaffi adalah raja di keluaraga Nareswara, hingga nenek dan kakeknya tidak mau melewatkan kesempatan itu.
Bu Ani yang memutuskam untuk tinggal di rumah Fira, selalu membantu Fira yang memang kesulitan dalam mengurus putra pertamanya. Pengalamam Fira yang kurang, akhirnya terbantu dengan kedatangan ibunya.
Jeje yang selalu merindukan anaknya pun selalu pulang lebih awal. Dia tidak mau pulang larut, dan melepaskan kesempatan melihat bayi mungil yang sekarang sudah menjadi sangat gembul itu.
Brrurrr....
Gaffi yang sedang di suapi Jeje menyemburkan makanan pada wajah papanya.
Mama Inan, Papa Rayhan, Bu Ani, dan Fira pun terkekeh melihat ulah Gaffi.
"Sayang, lihat wajah papa terkena bekas makan kamu," tegur Fira lembut.
"Kamu sengaja ya, mentang-mantang papa belum mandi." Jeje yang baru pulang pun langsung menyuapi Gaffi, jadi dirinya memang belum mandi.
"Sudah sana kamu mandi dulu!" perintah Fira pada Jeje.
Akhirnya Jeje pun berlalu untuk mandi dan membersihkan diri terlebih dulu.
***
Setelah makan malam, Semua anggota keluarga berkumpul.
"Besok mama mau bawa Gaffi tidur di rumah ya, Fir, jadi kamu siapi Asi untuk Gaffi."
"Oh, ya ma, besok Fira akan siapkan." Fira tahu, jika mama Inan selalu ingin dekat dengan cucunya, tapi memang Gaffi selalu sulit jauh dari Fira.
__ADS_1
Tapi kini saat Gaffi sudah cukup besar akhirnya mama Inan mengajak Gaffi, karena dia sudah mulai mau di ajak oleh neneknya.
"Kebetulan juga besok, iby mau ke rumah Raka, Fir." Bu Ani pun juga pamit dengan Fira.
"Kenapa semua jadi pergi?" Fira merasa bingung saat semua orang rumahnya pergi.
"Nggak apa-apa lagi, Fir, kamu sama Jeje bisa buat adiknya Gaffi lagi." Mama Inan mengoda Fira.
Wajah Fira langsung memerah saat merah saat mertuanya mengodanya.
Jeje yang mendengar godaan dari mamanya hanya senyum sendiri. Dia memang sangat merindukan Fira. Karena selama ini Fira belum siap untuk berhubungan, karena takut Gaffi terbangun saat melakukannya.
***
Pagi hari semua orang sudah bersiap. Fira sibuk menyiapkan perlengkapan untuk anaknya yang akan di bawa oleh mertuanya.
"Sayang, Gaffi sama mama, pasti dia akan aman." Jeje yang meliaht Fira begitu sedih hanya bisa mengeleng.
"Iya, aku tahu."
Akhirnya Gaffi ikut dengan mama Inan dan papa Rayhan untuk ke rumah mertuanya itu. Bu Ani pun ikut sekekalian untuk ke rumah Raka.
Fira yang tinggal sendiri benar-benar di buat bingung harus melakukan apa. Setelah merapikan baju-baju Gaffi di kamarnya, Fira kembali ke kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar, Fira di kejutkan dengab bunga yang bertebaan di atas tempat tidur.
"Apa-apa ini? Seperti penyambutan malam pertam saja," grutunya.
__ADS_1
"Memang iya, ini adalah malam pertama kita setelah Gaffi lahir." Suara Jeje terdengar tepat di telinga Fira.
Fira membalikkan tubuhnya. "Kamu yang menyiapkan?"
"Iya."
Jeje membenamkan bibirnya di bibir Fira. Rasanya dia begitu merindukan moment berdua dengan Fira.
"Aku merindukanmu." Suara Jeje sudah terdengar serak saat mengucapkan kata rindu.
Fira sudah tahu akan kemana akhir dari kata rindu dari Jeje. Mereka berdua pun akhirnya saling melepas rindu, dan berharap akan ada adik Gaffi di rahim Fira.
***
Jeje dan Fira datang ke Rumah sakit setelah diberikan kabar kalau Zara telah melahirkan. Semenjak kehamilan memasuki lima bulan Zara dan Adhi memang sudah kembali ke tanah air.
"Cantik sekali anak kamu, Ra," puji Fira.
Fira yang mengendong anak Zara dan Adhi melihat wajah cantik perpaduan wajah Adhi dan Zara. "Siapa namanya?"
"Kayla Diza," jawab Zara.
Saat mengendong Diza, Gaffi yang berada di gendongan Jeje mencoba meraih Diza yang berada di gendongan Fira.
"Lihalah Bang, putramu sudah tahu mana wanita cantik." Suara Adhi tetawa renyah mengoda Jeje.
Akhirnya mereka bersama-sama tertawa, saat melihat aksi Gaffi.
__ADS_1