Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Sekali lagi


__ADS_3

"Pagi pak Reza," sapa sekertaris baru.


"Pagi."


"Kamu pindahkan beberapa berkas ini ya," perintah Reza pada sekertaris baru.


"Apa Pak Gajendra hari ini tidak masuk?" tanya sekertaris baru Jeje.


"Pak Gajenda sedang keluar kota," bohong Reza. Reza terpaksa mengatakan kalau Jeje hanya keluar kota, karena Jeje belum mengumumkan pernikahannya. Jadi hanya keluarga dan orang-orang terdekat saja yang tahu kalau Jeje sudah menikah.


**


Di kamar hotel terlihat baju berserakan di lantai kamar. Semua menyebar ke samping tempat tidur. Pemilik baju pun masih menikmati tidurnya. Lelah yang begitu terasa membuat tubuh polka mereka masih terbungkus rapi selimut


Jeje mengerjap, membuka matanya pelahan. Pertama kali saat membuka matanya, dirinya mendapati wanita yang ada di depannya sedang tertidur pulas.


"Kamu tahu mungkin bagi sebagian orang aku nampak bukan pejuang cinta saat kamu pergi, memilih untuk bertunangan dengan Ana, membuatku seolah melupakanmu. Tapi tau kah kamu, tak sedetik pun aku melupakanmu, dan aku mencarimu tanpa henti. Aku berharap ke depan kamu tidak akan berpergi , aku benar-benar bisa gila tanpamu," ucap Jeje seraya membelai pipi Fira.


Fira yang merasa ada sentuhan di wajahnya mulai membuka matanya.


"Pagi," sapa Jeje pada Fira.


"Pagi sayang, apa kamu sudah bangun dari tadi?" tanya Fira dengan suara khas bangun tidur.


"Iya, aku bangun dan melihat wajah cantikmu saat tidur"


"Kamu mengodaku, mana ada orang bangun tidur cantik ,yang ada aku seperti singa saat bangun tidur."


"Singa?" Gumam Jeje


Jeje teringat pertemuannya dengan Fira pertama kali. Dulu Fira mengatainya singa dan itu adalah hal yang sangat mengesankan bagi Jeje. Fira yang seperti itu membuatnya selalu tersenyum dan bahagia.


"Mana ada singa cantik," Jeje mengeratkan pelukan pada Fira.


"Jangan lagi. "


"Apa kita akan pulang besok, aku ingin membeli beberapa oleh-oleh hari ini." Fira mencoba mengalihkan.

__ADS_1


"Iya kita akan pulang besok, dan mencari oleh -oleh hari ini, tapi setelah sekali lagi," pinta Jeje yang mulai menyusuri leher Fira.


"Ayolah, sekali yang kamu bilang bukan dalam artian sebenarnya," ucap Fira tapi tak mampu membuat Jeje berhenti.


**


Setelah perdebatan yang di menangkan oleh Jeje, Fira harus mengalah dan menuruti Jeje


Benar yang di bilang Fira, kalau yang di bilang sekali yang di masud Jeje, bukan sekali dalam artian sebenarnya, karena sampai siang kegiatan itu baru selesai.


"Kamu mau beli oleh-oleh buat siapa?" tanya Jeje saat Fira sedang memilih-milih oleh-oleh.


"Untuk ibu, untuk mama, zara dan adhi" jelas Fira menyebut satu persatu siapa saja yang akan dia beri oleh-oleh.


"Adhi?" Jeje mengerutkan keningnya saat mendengar nama Adhi, "Kenapa kamu membelikan Adhi juga?"


"Memang kenapa, Adhi kan teman dan sekaligus atasan aku, nggak ada yang salah aku membelikannya." Fira menjawab dengan santai dan memilih-milih barang.


"Nggak usah beli, aku nggak suka kamu membelikan untuk orang lain," ucap Jeje melarang Fira.


Fira menautkan kedua alisanya, merasa aneh dengan ucapan Jeje. "Pokoknya aku tetap mau beli buat Adhi," ucap Fira dengan tegas.


Fira membulatkan matanya mendengar ucapan Jeje. "Kenapa kamu mengancam?"


"Biar saja," ucap Jeje acuh dan tak mau tahu.


Fira tidak kehilangan akal, "Sayang, aku hanya memberikan Adhi oleh-oleh sebagai teman," ucap Fira mencoba merayu. "Lagi pula kenapa kamu takut aku dekat dengan Adhi, bukannya kamu sendiri tahu Adhi sudah tidak mencintai aku."


Jeje mengingat dengan benar, kalau di mata Adhi memang dia melihat Adhi sudah tidak mencintai Fira. "Ya tapi aku tidak mau laki -laki lain senang atas pemberianmu."


"Baiklah, kalau begitu oleh-olehnya atas nama kamu, jadi anggap saja kamu yang membelikan." Fira tidak hilang akala untuk membujuk Jeje.


"Mana bisa begitu?" Jeje merasa tidak terima, harus dia yang memberi hadiah untuk Adhi.


"Bisalah, anggap saja ucapan terimakasih karena sudah ikut berdrama dengan mu waktu itu." Fira mengucapkan drama waktu itu dengan penuh penekanan.


"Ya sudah terserah kamu saja." Jeje tak mau membuat Fira mengingat drama yang dia buat sebelum pernikahan, dan Jeje memilih untuk mengiyakan saja.

__ADS_1


Fira pun memilih beberapa oleh-oleh dan membelinya.


**


Setelah membeli oleh-oleh Jeje dan Fira pun kembali ke hotel. Fira begitu lelah setelah seharian berjalan-jalan ke pusat oleh-oleh.


"Sebaiknya kamu bersihkan diri lebih dulu, setelah ini kita makan malam," ucap Jeje yang melihat Fira duduk di sofa kamar.


"Baiklah." Fira pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Setelah selesai, Jeje pun bergantian masuk ke dalam kamar mandi.


Merek berdua menuju restoran yang terdapat di hotel. Pemandangan pantai pun masih terlihat dari restoran ini. Angin pantai yang berhembus pun mengisi dinginya malam.


"Sebenarnya aku belum puas jalan-jalannya." Keluh Fira yang mengingat mereka baru ke pantai dan tempat oleh-oleh saja.


"Kita bisa kesini lagi lain waktu." Jeje mencoba menenangkan Fira.


"Apa kamu akan mengajakku jalan-jalan lagi?" Fira bertanya dengan sorot mata berbinar.


"Tentu, jika kamu mau."


Fira pun langsung tersenyum mendengar Jeje akan mengajaknya untuk berlibur kembali.


Kebahagiaan Jeje adalalah saat melihat wanita yang di cintainya tersenyum. Rasanya dirinya tak pernah bosan melihat wajah Fira yang tersenyum di hiasi lesung pipi.


Mereka berdua menikmati makan malam terakhir di pulau ini. Di temani langit malam yang dan semilir angin pantai. Membuat makan malam mereka lebih romantis.


**


Setelah makan malam, Fira mengemasi barang-barang dan beberapa oleh-oleh ke dalam koper. Fira benar-benar merutuki dirinya sendiri, karena membawa baju terlalu banyak. Mungkin dia harusnya mendengarkan apa yang di katakan Jeje, kalau dia tidak perlu membawa baju terlalu banyak.


"Kenapa?" tanya Jeje yang melihat Fira sedikit kesusahab memasukan baju-baju di kopernya.


"Aku menjadikan satu koper baju kita, agar satu koper lagi aku bisa isi barang lain. Tapi ternyata nggak muat." Fira mencebikkan bibirnya kesal dari tadi dia berusaha memasukan barang-barangnya tapi tidak bisa di tutup.


"Biar aku yang rapikan." Jeje pun berjongkok, merapikan koper dan memasukan barang-barang ke dalam koper.

__ADS_1


Dalam sekejap perkerjaan yang di kerjakan Jeje selesai, dan semua barang bisa terbawa. Fir hanya tercengang, dirinya sudah susah payah tapi tidak bisa.


"Lain kali dengarkan aku, jangan terlalu banyak membawa baju, karena hanya akan sedikit yang kamu pakai." sindirnya seraya berdiri. Jeje menarik kopernya dan meletakkan di sudut kamar.


__ADS_2