
Jeje yang hari ini berangkat ke kantor tanpa memakai parfum, merasa benar-benar tidak percaya diri. Kebiasannya memakai parfum membuat dirinya selalu tampil wangi, saat melintas di depan orang-orang, yang dia lewati di kantor.
Sebentar-sebentar Jeje mengendus jasnya, untuk mengecek bau di tubuhnya. Rasanya dia ingin memastikan bahwa tubuhnya, akan tetap wangi walau tidak memakai parfum.
"Za, apa jas yang aku pakai bau?" tanya Jeje pada Reza, saat bersiap menunggu Adhi untuk meeting.
Reza yang mendengar pertanyaan dari atasannya terperanjat. Dia bingung bau apa yang di pertanyaan Presdirnya. Reza pun langsung mendekat dan mengendus jas milik Jeje. "Tidak ada bau apa-apa Pak," ucap Reza, saat tidak mendapati bau aneh dari jas Jeje.
Saat Reza sedang asik mengendus jas Jeje, pintu ruang meeting terbuka. Valeria, Adhi dan Zara terperangah saat melihat Reza yang sedang mengendus badan Jeje.
Valeria yang membukakkan pintu untuk Adhi dan Zara, di kagetkan dengan aksi kekasihnya yang sedang mengendus badan atasannya itu. Valeria merasa, seolah sedang melihat sepasang kekasih yang sedang bermesraan.
Reza yang melihat Valeria, langsung membenarkan duduknya, tubuhnya di tegakkan kembali, setelah dia membungkuk mengendus jas milik atasannya. Dia menatap dua bola mata Valeria yang penuh keterkejutan. Dalam hatinya merutuki kesalahannya, karena menuruti keinginan atasannya untuk mengecek bau di bajunya.
"Pak Reza sedang apa?" tanya Adhi yang membuyarkan keterkejutan orang-orang di ruangan meeting. Rasanya dia ingin sekali tertawa melihat adegan di depannya. Tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak tertawa.
"Tadi Pak Gajendra meminta saya untuk mengecek bau di jas Pak Gejendra." Reza menjelaskan apa yang di lakukannya tadi pada Adhi. Reza berharap penjelasannya itu, juga bisa membuat Valeria mengerti dengan apa yang di lakukannya.
Valeria yang mendengar penjelasan Reza pun bernapas lega. Tadinya dia sudah berpikir yang tidak-tidak pada calon suaminya itu. Akhirnya Valeria pun permisi keluar dan menutup pintu kembali.
Reza yang melihat Valeria nampak sudah tidak terkejut saat keluar ruangan meeting, juga merasa lega. Dia berpikir calon istrinya itunya pasti sudah mengerti alasannya mengendus atasannya.
Setelah mendengar penjelasan Reza, Adhi dan Zara melangkah menuju kursi di ruang meeting. Adhi menarik kursi, dan duduk tepat di samping Jeje. "Memangnya kenapa jasnya, Bang? " Adhi yang begitu penasaran memilih untuk bertanya.
Jeje hanya menghela napasnya saat mendapat pertanyaan dari Adhi. Rasanya berat sekali mengingat kejadian tadi pagi. "Fira muntah saat mencium parfum yang aku pakai. Jadi aku tidak memakai parfum," ucapanya sedikit kesal.
Reza yang mendengar ucap Jeje membulatkan matanya. Ternyata itu lah alasan Jeje memintanya mengecek bau jasnya. "Aku pikir bau apa yang harus aku cium, ternyata hanya karena tidak pakai parfum Pak Gejendra menyuruhku mengecek," batin Reza sedikit kesal.
Adhi langsung tertawa mendengarkan ucapan Jeje. Dia tidak menyangka alasan itu yang membuatnya Jeje menyuruh Reza mengedus jas Jeje. Dan nampak seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan. "Mungkin parfum Bang Jeje, parfum murah, jadi Fira muntah," cibir Adhi pada Jeje.
Jeje hanya memutar mata malas mendengar cibiran Adhi. "Apa kamu lupa dia sedang hamil, jadi dia lebih sensitif. Bukan karena parfumku murah atau mahal," elak Jeje.
Adhi hanya mengangguk-angguk mendengar ucapan Jeje. Adhi tidak kaget kenapa Fira mengalami hal itu saat hamil. Dia ingat betul bagaimana kakak iparnya yang sedang hamil, juga terkadang tidak suka bau-bau menyengat. Dan itu membuat Daffa kewalahan.
"Sudah, kita bahas meeting kita saja." Jeje mengakhiri obrolan mengenai parfum yang mereka bahas.
Akhirnya Adhi langsung menjelaskan tentang pencapaian perusahaannya pada Jeje. Jeje yang mempelajari beberapa berkas, yang di serahkan oleh Adhi, merasa bahwa Adhi cepat sekali belajarnya. Pencapaian perusahaan Adhi membuktikan bahwa kinerjanya memang sangat bagus.
"Aku rasa kamu sudah bisa berdiri sendiri dhi, tanpa bantuan dari aku." Jeje yang merasa bahwa Adhi sudah lebih hebat dari sebelumnya, berencana melepas Adhi untuk mengurus perusahaan Adhi sendiri.
"Apa Bang Jeje merasa begitu?" tanyanya memastikan.
"Iya dhi, aku rasa kamu sudah bisa. Dan kita akan bicarakan pada Tuan Edward."
"Tapi membahas ini semua hanya lewat sambungan vidio, aku rasa kurang pas Bang."
Jeje mengangguk membenarkan ucapan Adhi. "Sepertinya memang kita harus kesana," ucap Jeje pada Adhi. " Za, kamu siapkan keberangkatan kita ke luar negeri untuk menemui Tuan Edward." Jeje beralih pada Reza, dan memberi perintah.
Akhirnya mereka mengakhiri meeting mereka, setelah membahas rencana untuk menemui Tuan Edward.
Adhi dan Zara pun berpamitan dengan Jeje, dan keluar dari ruangan meeting setelah semua selesai. Mereka berdua melangkah menuju lift bersama-sama, untuk kembali ke kantor. Saat masuk ke dalam lift, mereka mendapati seorang wanita sudah di dalam lift.
"Hai ra, hai dhi," sapa Nayla pada Adhi dan Zara.
"Hai nay." Adhi menyapa balik.
Sama halnya dengan Adhi, Zara juga menyapa balik Nayla. "Hai nay."
__ADS_1
"Kalian sehabis meeting ya?" tanya Nayla yang menebak kedatangan Adhi dan Zara ke kantor Nareswara.
"Iya," jawab Zara. Adhi yang merasa Zara sudah menjawab pertanyaan Nayla memilih diam dan tidak menjawab.
Nayla yang melihat Adhi begitu dingin padanya karena tidak menjawab, merasa kesal.
Mereka bertiga melangkah keluar saat lift terbuka di loby kantor. Tapi langkah mereka terhenti di depan lift saat ingin saling berpamitan.
"Ra, boleh kita bicara," pinta Nayla.
Zara yang berniat ingin berpamitan malah mendengar Nayla yang mengajaknya berbicara, mau tidak mau dia mengangguk.
"Aku akan menunggu di mobil," ucap Adhi pada Zara. " Aku duluan ya nay." Adhi pun berpamitan pada Nayla, dan melangkah menuju mobilnya yang terparkiran basement kantor.
Zara yang melihat Adhi sudah pergi hanya bisa pasrah. Zara sudah bisa menebak untuk apa Nayla mengajaknya bicara.
"Aku dengar Fira sudah positif hamil?" tanya Nayla berbasa-basi pada Zara. Nayla yang mendengar gosip Presdir membantu istrinya yang sedang muntah di toilet, sudah tahu kalau Fira hamil.
"Iya."
"Jadi kamu akan lebih lama di kantor Adhi."
Zara yang mendengar ucapan Nayla sedikit bingung mengartikan itu sebuah pertanyaan apa pernyataan. "Aku tidak tahu."
"Kenapa tidak tahu, bukankah perkerjaan itu memiliki kontrak. Lalu apa kontrak kamu di perusahaan Adhi." Nayla yang sedikit tidak terima dengan jawab Zara pun mengungkapkam kekesalannya dengan sebuah sindiran.
Zara bukan tidak tahu kontraknya di perusahaan Adhi. Setelah Fira menemuinya dan memberitahu pertukaran dirinya, Adhi langsung membuat surat kontrak baru yang menerangkan bahwa Zara adalah karyawan di perusahaannya.
"Kalau memang kamu sudah menjadi karyawan di perusahaan Adhi. Aku harap kamu tidak lupa janji kamu untuk menjauhi Adhi," ucap Nayla yang ketus pada Zara. "Lebih baik lagi, jika kamu secepatnya menerima Bang Atta sebagai kekasih kamu, jadi Adhi tidak ada kesempatan mendekati kamu." Nayla melanjutkan ucapannya.
Zara benar-benar tidak habis pikir, bahwa Nayla akan mengatakan hal itu padanya. Ucapan Nayla membuatnya merasakan sakit di hati. " Menjalin hubungan atau pun tidak dengan Bang Atta, kamu tidak berhak untuk mengatur aku," ucapnya ketus pada Nayla. "Tapi kalau kamu mau aku menjauhi Adhi, aku masih berusaha untuk menjauhinya."
Zara hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rasanya dia tidak habis pikir dengan Nayla. "Kalau hanya itu yang ingin kamu bicarakan. Aku rasa penjelasan aku tadi sudah cukup," ucap Zara pada Nayla. " Kalau begitu aku permisi." Zara pun melangkahkan kakinya meninggalkan Nayla dan menuju parkiran, untuk menyusul Adhi.
"Aku akan berusaha menjauhkanmu dari Adhi, bagiamana pun caranya." Nayla yang melihat Zara pergi hanya bisa menahan kesalnya.
**
Sesampainya Zara di dalam mobil, Adhi langsung melajukan mobilnya keluar dari gedung Nareswara Grup.
"Kita mau makan dimana?" tanya Adhi saat fokus mengemudi.
"Aku sedang tidak lapar," ucap Zara pada Adhi. Nayla yang membuatnya kesal seketika membuat nafsu makannya hilang.
Rasanya Zara merasa Nayla sudah benar-benar melebih batasnya sebagai seorang teman. Dengan sesuka hati dia meminta dirinya untuk menjalin hubungan dengan Atta. Padahal sampai detik ini pun, Zara enggan membalas pesan dari Atta.
Adhi menoleh sejenak sebelum kembali pada jalanan, saat Zara memberi jawaban atas ajakannya untuk makan siang. Adhi melihat dengan jelas perubahan raut wajah Zara, setelah bertemu dengan Nayla. Dia tidak bisa menebak apa yang di bicarakan Zara dan Nayla, hingga membuat Zara sekesal itu, dan membuat dia tidak nafsu makan.
Akhirnya Adhi memilih diam dan tidak menanyakan lagi pada Zara. Dia memilih fokus dan melajukan mobilnya menuju tempat yang tiba-tiba terlintas di pikirannya.
Sesampainya di tempat yang di tuju, Adhi memarkirkan mobilnya. "Ayo turun." Adhi mengajak Zara yang masih sibuk melamun untuk turun.
Zara yang mendengar Adhi mengajaknya turun, langsung mengerjap. Tapi seketika kedua bola matanya membulat saat melihat dimana dia berada sekarang. " Kenapa kesini?" tanya Zara yang menyadari bahwa ini adalah apartemen Fira dan Jeje.
Adhi yang sedang memainkan ponselnya, karena sedang memesan makanan pun menoleh. "Kita makan siang disini saja."
Senyum langsung mengembang di wajah Zara saat mendengar bahwa dia akan makan siang bersama Fira. "Ayo," ajak Zara dengan semangat.
__ADS_1
Adhi pun menarik senyum di ujung bibirnya, saat melihat dengan semangatnya Zara turun dari mobil.
Mereka berdua langsung melangkah menuju unit apartemen Fira. Dan menekan bel apartemen Fira.
"Fira," panggil Zara yang baru saja melihat Fira membuka pintu apartemennya.
Fira yang melihat dua temannya datang pun merasa senang. Fira langsung memeluk Zara, seolah mereka sudah tidak bertemu beberapa hari. "Kalian kenapa kesini?" Tanyanya ingin tahu, karena mereka berdua tidak mengabari Fira kalau mau datang ke apartemen.
"Kita mau makan siang sama kamu." Adhi menjawab pertanyaan dari Fira.
"Ya sudah ayo masuk," ucapnya mempersilahkan dua temannya untuk masuk ke dalam apartemen. "Tapi aku tidak punya makanan." Fira yang mengingat bahwa dia tidak memasak, merasa tidak enak.
"Aku sudah pesan makanan, mungkin sebentar lagi sampai," ucap Adhi menenangkan Fira yang merasa tidak enak dengan kedatangan mereka.
"Terimaksih dhi."
Mereka bertiga melangkah menuju ruang tamu, menunggu makanan datang, dengan duduk di ruang tamu.
"Kalian tadi jadi meeting dengan Jeje?" Fira yang sudah tahu jadwal Jeje hari ini, memastikan pada Zara dan Adhi.
"Iya," jawab Adhi yang duduk di sebelah Fira.
Selang beberapa saat terdengar suara bel apartemen Fira. Adhi yang menebak itu adalah kurir makanan, langsung berdiri dan melangkah menuju ke pintu apartemen.
Setelah menerima pesanan makanan, Adhi menutup pintu kembali, dan melangkah ke meja makan. Disana sudah ada Zara dan Fira yang sudah menanti.
"Sepertinya enak," ucap Fira yang mencium bau wangi dari makanan yang di pesan Adhi. Fira bisa menebak jika yang di beli Adhi, adalah ayam bakar.
Adhi meletakkan makanan di atas meja makan dan membukanya. Memberikan satu porsi untuk Fira, satu porsi untuk Zara, dan satu lagi untuk dirinya.
Fira yang melihat menu makan siang yang mengiurkan langsung berbinar. Dia pun langsung memakan dengan lahap makanan di hadapannya.
"Pelan-pelan ibu hamil, tidak akan ada yang memintanya." Zara yang melihat Fira begitu bersemangat mengoda Fira seraya tertawa.
Fira hanya tersenyum. " Aku hanya bisa makan banyak di siang hari, jadi aku selalu tidak sabar saat nafsu makanku keluar."
Fira dan Zara akhirnya tertawa bersama. Mereka berdua menceritakan banyak hal yang di alami Fira selama hamil.
Fira menceritakan bagaimana tadi pagi dia muntah karena parfum Jeje. Dan Zara menceritakan bagiamana terkejutnya mereka melihat Reza sedang mengendus Jeje karena tidak memakai parfum. Fira pun langsung tergelak, membayangkan bagaimana kagetnya teman mereka, melihat dua pria sedang sibuk mengendus.
Setelah selesai makan siang, Zara dan Adhi berpamitan pada Fira, untuk kembali ke kantor.
"Terimakasih kalian sudah datang kemari untuk makan siang bersama ku," ucap Fira saat mengantar dua temannya itu ke depan pintu. Fira merasa sangat senang saat makan siangnya, tidak sepi karena harus makan sendiri.
"Sama-sama fir," ucap Zara seraya menautkan pipinya di pipi Fira.
Akhirnya Zara dan Adhi melangkah meninggalkan apartemen Fira. Di dalam perjalanan kembali ke kantor, Adhi melihat senyum mengembang di wajah Zara. Dia merasa lega bisa membuat Zara tersenyum kembali.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
Mampir juga ke karya lain ku dan instagram aku Myafa16