Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Hobi baru


__ADS_3

"Apa benar kamu tidak keberatan kalau kita akan pulang hari ini?" Jeje mencoba untuk menanyakan kembali rencana mereka.


Setelah semalam Jeje memberi tahu bahwa ada beberapa perkerjaan yang harus di kerjakan, dan harus segera kembali. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali hari ini, dan menyelesaikan bulan madu mereka lebih awal.


"Tidak, aku tidak masalah kembali sekarang" Fira mencoba menenangkan Jeje yang berasa bersalah mengajak Fira untuk kembali hari ini.


Sebenarnya Fira juga merasa senang bisa pulang lebih awal, karena dia merasa merindukan semua orang yang ada disana, termasuk ibunya.


"Tapi bisakah kita beli oleh-oleh lebih dulu?"


"Tentu, aku mengambil penerbangan malam, jadi kita masih punya waktu untuk membeli oleh-oleh"


Setelah memutuskan untuk pulang hari ini, mereka memutuskan membeli oleh-oleh terlebih dahulu. Jeje dan Fira pun pergi ke pusat kota yang terdapat beberapa toko oleh-oleh.


Fira memilih beberapa barang yang akan di berikan untuk teman dan keluarganya. Fira begitu senang memilih beberapa sovenir, untuk di berikan pada teman-temannya nanti.


"Apa ini bagus?" tanyanya pada Jeje seraya menunjukan sovenir berupa kepala kucing kepada Jeje.


"Iya"


Saat menemani Fira memilih barang, Jeje teringat sesuatu.


"Aku akan membeli sesuatu di toko sebelah, tunggulah disini sebentar" ucap Jeje seraya berlalu meninggalkan Fira.


Fira pun mengangguk dan melanjutkan memilih beberapa barang.


Jeje yang melihat toko perhiasan saat masuk ke toko oleh-oleh, berniat membelikan perhiasan untuk Fira sebagai oleh-olehnya pada wanita itu.


"Aku ingin lihat yang ini " ucapnya pada pelayan toko, saat melihat kalung di etalase kaca.


Tapi tenyata secara bersamaan ada yang menuju ke arah yang sama, dan bersamaan berucap dengannya.


Mereka berdua saling menoleh saat secara tidak sengaja bersama-sama memilih barang yang sama.


"Lia, kenapa harus bertemu dengannya disini" batin Jeje.


"Jeje" ucap wanita itu yang kaget melihat Jeje lah yang menujuk kalung bersama dengannya.


"Apa kamu ingin membeli kalung ini?" tanyanya memastikan.


"Iya, aku ingin membelinya untuk istri ku?" jawab Jeje datar.

__ADS_1


"Istri?" gumamnya sedikit tidak percaya.


"Apa kamu sudah menikah?" tanyanya memastikan lagi.


"Iya" jawab Jeje datar.


"Menikah denga siapa Jeje?, Apa dia menikah dengan Valeria, aku pikir dia hanya menjadikan Val pelarian saja, tapi nyatanya dia menikahnya" batin Lia.


"Kenapa kamu tidak mengundangku?" tanyanya sedikit kecewa.


"Bukannya kamu sibuk dengan karirmu, dan lagi pula untuk apa aku mengundangmu, kalau kamu tidak bisa datang?" ucap Jeje acuh.


Lia menghela nafasnya, yang di katakan Jeje ada benarnya, saat di undang pun, dia belum tentu bisa datang karena jadwal pemotretannya begitu padat.


"Tapi paling tidak kamu memberi


tahu ku je, apa aku tidak berhak tahu?"


"Sekarang kamu sudah tahu bukan" jawab Jeje dingin.


"Tapi andai aku tahu lebih awal, mungkin aku masih bisa mencegah mu je"


Sebelum Jeje menjawab ucapan Lia, pembicaraan mereka terhenti saat pelayan toko menanyakan siapa yang akan membeli kalung, yang di tunjuk oleh mereka berdua.


"Baiklah, kalau kamu ingin membelinya untuk istrimu, aku akan mencari yang lain" Lia mencoba tersenyum, dan berlalu mencari yang lain


Jeje pun menerima dengan senang hati, dan langsung melakukan pembayaran. Setelah selesai Jeje, keluar dari toko perhiasan.


Lia yang melihat Jeje berlalu begitu saja, tanpa menegurnya, hanya menahan sesaknya.


"Padahal aku sudah berencana kembali je, tapi teryata aku terlambat"


***


Setelah selesai membeli perhiasan yang di carinya. Jeje yang menghampiri Fira ke toko oleh-oleh. Tapi saat sampai di toko oleh-oleh, dia tidak mendapati wanita itu disana. Jeje seketika langsung panik, saat kehilangan Fira. Jeje langsung mengambil ponselnya di sakunya untuk mencoba menghubungi Fira.


Baru saja dia menekan nomer Fira, dan menempelkan ponsel di telinganya, mata Jeje melihat wanita yang di carinya dari dalam toko.


Jeje langsung memasukkan ponselnya ke dalam sakunya, dan keluar dari toko oleh-oleh, untuk menghampiri Fira.


Jeje melangkahkan kakinya ke luar toko oleh-oleh. Dari kejauhan dia melihat Fira yang sedang duduk di kursi, di depan kedai es krim. Wanita itu sibuk memasukan es krim ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak menungguku di dalam" tanya Jeje saat menghampiri Fira. Jeje benar-benar merasa sedikit kesal saat melihat Fira tidak ada di dalam toko oleh-oleh.


Fira yang sedang duduk, dan asik memakan es krim terhenti, saat ada suara yang dia kenal terdengar olehnya. Dia menengadah memastikan pemilik suara itu adalah Jeje.


"Aku melihat kedai es krim ini, jadi aku keluar untuk membelinya" ucap Fira dengan tidak merasa bersalah, seraya memasukan es krim ke dalam mulutnya.


Jeje hanya memijat keningnya, entah kenapa akhir-akhir ini wanita di hadapannya berubah menjadi acuh dengan sekitar. Dia tidak memikirkan dirinya yang begitu panik mencarinya.


"Apa sekarang kamu punya hobi baru?" tanya Jeje menarik kursi, dan duduk di depan Fira.


Fira mengerutkan keninganya mendengar ucapan Jeje, "Hobi apa?" tanyanya bingung.


"Hobi pergi secara diam-diam" ucap Jeje sedikit menyindir.


"Aku hanya makan es krim, tidak pergi diam-diam" Fira langsung mencebikkan bibirnya kesal karena Jeje yang menuduhnya pergi diam-diam.


"Harusnya kamu menghubungi ku, dan tidak pergi begitu saja"


"Iya tapi..."


Belum selesai Fira menjawab Jeje sudah memotong ucapan Fira, "Sudah dua kali ini kamu pergi tanpa mengabariku, apa kamu tidak tahu bagaimanan paniknya aku"


Tanpa Jeje sadari, suaranya sudah naik satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. Fira yang mendengar pun mengartikan Jeje membentaknya.


"Kenapa kamu membentakku?" kesal Fira saat mendengar suara Jeje lebih tinggi.


"Aku tidak membentakmu"


"Lalu kalau buka membentak, kenpa suaramu lebih keras dari biasanya" kesal Fira seraya membuang muka.


Jeje hanya bisa menepuk dahinya. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Fira bisa berubah sepeti ini. Selain dia punya hobi baru yang pergi tiba-tiba, dia juga lebih sensitif.


Jeje mengingat bagaimana kemarin Fira menangis hanya karena cake yang di makan di restoran belum habis, dan sekarang dia mengira Jeje membentaknya.


"Maafkan aku" ucap Jeje tidak mau memperpanjang masalah. Dia juga tidak mau membuat hari terakhir bulan madu mereka terganggu.


Fira yang mendapat ucapan maaf dari Jeje pun langsung luluh. Dirinya yang tidak bisa marah terlalu lama pada Jeje, hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan maaf dari Jeje.


"Ya sudah habiskan es krim mu" ucap Jeje lembut seraya membelai Pipi Fira.


Jeje memperhatikan Fira yang begitu lahap menghabiskan es krimnya hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2