
Fira hanya mencebikkan bibirnya. Rasanya memberitahu pada Jeje, benar-benar menyebalkan. "Semahal apa parfum milikmu, kalau membuatku mual untuk apa," sindir Fira.
Jeje hanya menghela nafasnya. Dia melangkah kembali menyusul Fira ke tempat tidur. Duduk di samping Fira, bersandar pada tempat tidur. "Baiklah, aku akan menganti parfum seperti milik Adhi." Melihat istrinya yang kesal, tidak punya pilihan.
Kedua bola mata Fira langsung berbinar. "Terimakasih," ucapnya seraya memeluk Jeje.
Jeje tersenyum, baginya melihat Fira senang, tidak lebih bahagia dari apa pun. Jeje mengeratkan pelukkannya. "Kamu tanyakan parfum yang di pakai Adhi, dan kita akan membelinya nanti."
"Adhi meminta untuk kamu yang menghubungi sendiri."
"Dasar, dia sengaja rupanya," batin Jeje kesal.
Melihat Jeje tidak menjawab ucapanya. Fia menyadari bahwa akan sulit untuk Jeje menanyakannya pada Adhi. "Apa kamu tidak mau menanyakan sendiri pada Adhi," tanyanya membelai lembut dada Jeje.
Jeje menarik senyum di bibirnya. "Tergantung," jawab Jeje enteng.
"Tergantung apa?" tanya Fira menengadah menatap Jeje.
"Tergantung seberapa besar usahamu merayuku," ucap Jeje dengan senyum licik.
Fira memutar bola matanya malas. "Aku tidak bisa merayu," ucap Fira menjauh dan melepaskan diri dari pelukkan Jeje.
Jeje hanya acuh mendengar ucapan Fira. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Ya sudah, berarti aku tidak akan menganti parfum milikku."
Fira yang masih duduk, mematung saat mendengar Jeje tidak akan menganti parfum miliknya. "Kamu tahu bukan aku tidak pandai merayu," ucap Fira seraya mendekatkan diri pada Jeje. Dia memandang Jeje, tepat di atas tubuh Jeje.
Jeje hanya diam, dan tidak menjawab ucapan Fira. Fira yang melihat Jeje acuh dan diam, mulai berpikir bagaiamana dia harus merayu Jeje. Seketika dia teringat saat mempraktekkan, bagaimana tadi dia mengedus parfum di tubuh Jeje.
Memulai aksinya, Fira menyusuri leher Jeje. Memberikan kecupan-kecupan di leher suaminya itu. Walaupun tidak akan meninggalkan bekas seperti yang Jeje buat, tapi dia melakukan seperti apa yang sering Jeje lakukan.
Jeje yang melihat Fira mulai menyusuri lehernya, tersenyum. Dia memejamkan matanya, menikmati sensasi yang tercipta, dari sentuhan bibir Fira.
Fira pun beralih membenamkan bibirnya pada bibir Jeje, mencium lembut bibir suaminya itu.
Malu-malu Fira melepas ciumannya. Rasanya dia malu sekali memulai lebih dulu, mencium Jeje.
"Sekarang biarkan aku yang melanjutkan," ucap Jeje seraya membalikkan tubuh Fira, dan membuat Fira berada di bawahnya.
Dia langsung membenamkan bibirnya pada bibir Fira, dan mencium lembut bibir istrinya. Tak lupa, tangannya mulai menjangkau tempat kesukaanya, di balik piyama Fira.
Fira tidak pernah bisa menolak sentuhan Jeje. Sentuhan lembut yang selalu membuat, erangan kecil lolos dari bibirnya. Dan dia tahu, akan kemana Jeje melanjutkan aksi yang di mulai oleh dirinya.
**
Jeje mengerjap, saat tangannya merasakan pegal, karena menyangga kepala Fira yang sedang berada di pelukkanya. Jeje melepas pelukkannya, dan menarik perlahan tanganya.
Dengan memijat-mijat tanganya, Jeje menjauh dari tubuh Fira. Menyibak selimut, dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah dia selesai mandi, Jeje melangkah menghampiri Fira yang masih tertidur pulas. Walaupun semalam dia hanya melakukan sekali. Tapi terlihat Fira masih begitu lelah. Pelahan Jeje membangunkan Fira, untuk berangkat ke kantor.
Saat melihat Fira sudah bangun dan berlalu ke kamar mandi. Jeje melangkah menuju lemari dan mengambil jasnya.
__ADS_1
"Coba kamu hubungi Adhi," pinta Fira saat keluar dari kamar mandi.
Jeje hanya bisa mengeleng kepala saat mendengar, Fira sepagi ini menghubungi Adhi. Akhirnya Jeje langsung menghubungi Adhi, menuruti keinginan Fira
**
Adhi mengerjap, saat getaran dari ponselnya terasa di kantung jasnya.
Perlahan dia membuka matanya, dan mendapati Zara tidur di bahunya.
Senyum tipis tertarik dari ujung bibirnya. Dia mengingat bagaimana bisa Zara tertidur di bahunya.
Setelah pulang mengantar Fira. Adhi mengantar Zara pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Zara, Adhi turun dan mengantar Zara ke dalam rumah.
Tapi saat Zara dan Adhi di ambang pintu, teriakan adik perempuan Zara membuat Zara dan Adhi kaget. Mereka berdua pun berlari ke dalam rumah, untuk tahu apa yang terjadi.
Seketika Zara dan Adhi keget saat melihat ayah Zara tergeletak di lantai, tak sadarkan diri.
Adhi langsung mengangkat tubuh ayah Zara, dan membawanya ke dalam mobil, menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, perawat langsung membawa ayah Zara ke dalam UGD. Dokter pun langsung menangani ayah Zara, sesampainya ayah Zara di dalam ruang UGD
"Tenang ra," ucap Adhi yang melihat Zara begitu pucat dan panik.
"Ayah dhi," ucapnya menangis.
Adhi yang tidak tega membawa Zara ke dalam pelukkannya. Membiarkan gadis itu menangis, meluapkan kesedihananya. "Semua akan baik-baik saja." Adhi berusaha menenangkan dan membelai punggung Zara.
"Ayah anda kena serangan jantung. Tapi untung cepat di bawa kemari. Jadi ayah anda masih bisa di selamatkan," ucap dokter pada Zara.
Zara merasa lega saat mendengar ucapan dokter. Akhirnya Zara masuk dan melihat kondisi ayahnya. Sedangkan Adhi mengurus administrasi, dan kepindahan ayah Zara ke ruang rawat.
"Terimakasih dhi," ucap Zara setelah ayahnya di pindah ke ruang rawat.
"Sama-sama ra," ucap Adhi di sertai senyum. "Aku akan menemani kamu di sini ra," ucapnya pada Zara.
"Nggak perlu dhi. Aku sudah banyak merepotkan kamu." Zara benar-benar merasa sangat tidak enak, saat mendengar ucapan Adhi.
"Aku nggak akan tenang saat meninggalkan mu sediri ra, jadi izinkan aku menemanimu."
Zara tidak punya pilihan lain saat Adhi meminta. Akhirnya dia mengizinkan Adhi untuk menemani dirinya menunggu ayahnya.
Adhi dan Zara memutuskan untuk tidur di sofa, dengan posisi duduk bersebelahan dan bersandar pada sofa. "Tidurlah disini," ucapnya pada Zara seraya menunjuk bahunya.
Zara yang sudah sangat mengantuk pun tidak menolak, dan langsung meletakkan kepalanya di bahu Adhi.
Adhi tersenyum, saat Zara tidak menolak. Dia pun memejamkan mata, menyusul Zara tidur.
Ponsel yang terus bergetar, membuyarkan ingatan Adhi. Dia pun langsung mengambil ponselnya di kantung jasnya. Tapi saat dia mengambil ponselnya, gerakkan tanganya membuat Zara terbangun. "Maaf aku membangunkan mu," ucap Adhi saat Zara membuka matanya.
Zara yang baru menyadari bahwa dirinya tidur di bahu Adhi, merasa sangat malu. "Maaf, semalam aku tidur di bahumu," ucapnya pada Adhi.
__ADS_1
"Santai ra," jawab Adhi. "Aku angkat telepon dulu ya," ucapnya seraya bangkit dari sofo, dan berlalu keluar. Adhi melihat ponselnya, dan ternyata Jeje lah yang menghubungi. "Halo Bang," sapa Adhi pada Jeje.
"Lama sekali kamu mengangkat telelpon dari aku," grutu Jeje pada Adhi.
"Ini masih pagi kali Bang. Lagi pula kenapa Abang menghubungi aku pagi-pagi?"
"Aku mau menanyakan parfum apa yang kamu biasa pakai."
Adhi yang mendengar ucapan Jeje, sebenarnya ingin tertawa. Dia benar-benar tidak menyangka, bahwa Jeje akan menurunkan gensinya, untuk menanyakan parfum miliknya. "Oh parfum mahal milikku," goda Adhi pada Jeje.
Jeje hanya mendesis mendengar ucapan Adhi. Tapi dirinya malas sekali berdebat pagi-pagi dengan Adhi. "Jangan lama-lama cepat sebutkan," ucap Jeje ketus.
"Iya, iya," jawab Adhi. " Nanti aku akan kirimkan foto botol parfumnya saja."
"Sebutkan saja, nanti aku akan beli. "
"Nanti takutnya Bang Jeje salah beli, yang ada nanti Fira tambah mual," elak Adhi.
"Terserah padamu. Aku tunggu hari ini."
"Oke."
Akhirnya Adhi mematikan sambungan teleponnya. Dan kembali ke dalam kamar rawat.
Saat membuka pintu, Adhi melihat Ayah Zara sudah bangun. "Pagi Om," sapa Adhi.
"Pagi Nak," ucap Ayah Zara. "Terimakasih sudah membawa saya kemari semalam," ucapnya pada Adhi.
"Sama-sama Om," ucap Adhi. "Kalau begitu saya pamit dulu, karena harus bersiap ke kantor." Adhi lansgung keluar setelah berpamitan
Zara yang melihat Adhi keluar pun, izin kepada ayahnya untuk menyusul Adhi, untuk meminta izin kerja. Ayahnya pun mengangguk dan mengizikan Zara untuk keluar.
"Dhi," panggil Zara saat keluar dari ruang rawat. Zara melangkah menghampiri Adhi. "Aku izin tidak berkerja dulu ya," ucapnya pada Adhi.
" Iya ra, Masalah perkerjaan, jangan terlalu di pikirkan. Fokuslah pada ayahmu lebih dulu," ucap Adhi.
"Terimakasih ya dhi." Zara sangat bersyukur saat Adhi ada saat ayahnya sakit. Dirinya tidak tahu, apa jadinya jika Adhi tidak mengatarnya semalam.
"Ya sudah aku akan pulang lebih dulu, sebelum ke kantor. Jaga dirimu juga, jangan sampai kamu sakit menjaga ayahmu," ucap Adhi, dan Zara hanya mengangguk menjawan ucapan Adhi.
Setelah berpamitan. Adhi langsung berlalu meninggalkan rumah sakit, dan menuju rumahnya terlebih dahulu, sebelum ke kantor.
.
.
.
.
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
__ADS_1
Mampir juga ke karya lain ku, dan instagram aku Myafa16