
Zara yang menghubungi Fira, mendapatkan pesan jika Fira masih di rumah orang tua Jeje. Dengan memberanikan diri, Zara akhirnya memutuskan untuk ke rumah orang tua Jeje.
Keluar dari kamarnya, Zara bersiap untuk ke rumah keluarga Nareswara. Saat keluar dari kamar, Zara bertemu dengan ibunya.
"Kamu mau kemana, Ra?" tanya Bu intan, melihat Zara keluar dari kamar.
Tanpa menjawab, Zara berlalu begitu saja. Pikiran Zara adalah, semua hal yang terjadi padanya, di sebabkan karena ibunya, dan rasanya Zara masih tidak terima akan hal itu.
Melihat Zara yang pergi tanpa menjawab pertanyaan dari dirinya, Bu Intan merasakan sakit di hatinya. Dirinya menyesali, semua yang terjadi.
"Andai saja, aku tidak meminta bantuan Abian, mungkin Zara tidak akan menjadi korban." Bu Intan hanya bisa menyesali apa yang terjadi.
Keluar dari rumah, Zara memesan taxi, dan menuju ke rumah orang tua Jeje. Zara berharap, Fira dapat membantunya. Entah siapa lagi yang akan dia mintai tolong, jika Fira tidak bisa.
Sampai di rumah orang tua Jeje, Zara mengetuk pintu. Menunggu sejenak, Zara menunggu ada orang yang buka.
"Ra," ucap Fira memanggil Zara. Fira yang memang sudah menunggu Zara, langsung membuka pintu saat terdengar ketukan pintu.
"Ayo masuk," ajak Fira mempersilakan masuk.
Zara pun mengikuti Fira dan masuk ke dalam rumah Fira. Duduk di ruang tamu, Zara dan Fira, duduk bersebelahan.
"Ada apa malam-malam kemari?" tanya Fira. Fira sudah menebak, jika tidak akan mungkin Zara datang, jika tidak ada hal penting.
Zara menatap lekat wajah Fira. Rasa sesak di hatinya begitu menyiksa, saat mengingat apa yang terjadi padanya.
Fira yang melihat Zara sedang memendam kegelisahan langsung memeluknya. "Ada apa?" tanya Fira saat membawa Zara kepelukannya.
"Bang Atta, Fir," ucap Zara terisak.
Fira yang mendengar nama Atta langsung melepaskan pelukannya, dan menjauhkan tubuh Zara, agat bisa menjangkau wajahnya. "Apa yang Atta lakukan padamu?" Pikiran Fira melayang membayangkan hal buruk pada Zara.
"Ayah hutang pada Atta dan mamanya, dan mereka memintaku menikah untuk gantinya hutang ayah." Zara menjelaskan dengan terisak.
Fira yang mendengar ucapan Zara merasa sangat kaget. "Kenapa bisa begitu, Ra?"
"Aku juga nggak tahu, Fir," ucap Zara.
"Lalu kenapa harus kamu yang menjadi ganti hutang?" Fira belum mengerti apa yang terjadi.
"Ayah tidak bisa membayar hutang, dan Tante Sarah meminta aku untuk menikah dengan Bang Atta sebagai gantinya." Zara menjelaskan pada Fira.
"Memang berapa hutang Ayah Abian?" Fira begitu ingin tahu, sebesar apa hutang ayah Zara hingga membuat Zara menjadi korban.
"2 milyar, Fir."
Fira membulatkan matanya, saat mendengar ucapan Zara berapa jumlah uang yang di pinjam ayahnya. Fira tidak menyangka, jika ayah Zara akan meminjam uang sebanyak itu.
"Lalu bagaimana? Apa yang bisa aku bantu?" Fira tahu, jika tidak mungkin Zara menemui dirinya tanpa alasan. Fira sudah bisa menebak temannya ini akan butuh bantuannya.
"Aku mau meminjam uang, Fir," ucap Zara. "Aku tidak mau menikah dengan Bang Atta."
"Uang?" Rasanya Fira bingung harus membantu Zara bagaimana, karena jumlah yang mau di pinjam Zara sebanyak itu. Sedangkan meminjam Jeje, Fira merasa tidak enak. Tapi tidak mungkin dirinya tidak membantu Zara.
"Aku hanya, hanya memiliki dua ratus juta, Ra," ucap Fira. "Tapi aku akan mencoba meminta tolong Jeje." Fira yang tidak tega pun akhirnya memilih untuk meminta tolong Jeje.
"Terimakasih, Fir."
"Jangan bilang seperti itu," ucap Fira. "Aku akan membantumu sebisaku, tapi aku tidak bisa janji, jika akan ada uang sebesar itu, Ra."
"Tidak apa-apa, Fir," ucap Zara. Fira mau meminjami uang saja, Zara sudah sangat berterimakasih.
"Sudah, jangan menangis lagi." Fira menghapus air mata Zara.
__ADS_1
Zara merasa tenang, saat melihat Fira begitu perhatian padanya. Bebannya yang tadi terasa berat, perlahan mulai ringan. Zara tidak tahu lagi, apa yang harus di lakukan lagi, jika sampai Fira tidak bisa membantunya.
"Apa Adhi sudah tahu?" tanya Fira, dan Zara menggeleng.
"Pemasalahan seperti ini, kamu tidak memberitahu Adhi?" Fira tidak habis pikir kenapa Zara tidak mengatakan hal ini pada Adhi.
"Aku tidak mau membebani dirinya," ucap Zara.
"Ra, Adhi itu kekasihmu, dan kalian sudah berpikir akan melanjutkan hubungan kalian lebih lanjut. Jika Adhi tidak tahu, apa kamu bisa bayangkan bagaimana kecewanya?"
Zara yang mendengar ucapan Fira membenarkan ucapan Fira, tapi dirinya masih sangat berat. "Aku akan memberitahu."
"Aku akan mengabarimu besok," ucap Fira.
"Baiklah, sekali lagi terimakasih, Fir."
"Iya."
"Aku pamit pulang dulu, Fir." Zara berdiri dan keluar di antar oleh Fira.
"Hati-hati," ucap Fira.
Zara mengangguk dan berjalan keluar, memesan taxi, Zara berlalu pulang saat taxi keluar.
Fira yang melihat Zara sudah masuk ke dalam taxi, langsung masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah, Fira bertemu dengan mertuanya.
"Dari mana kamu, Fir." tanya Mama Inan.
"Tadi bertemu teman, Ma," jawab Fira.
"Jeje kemana?"
"Jeje di kamar, Ma," ucap Fira. "Fira masuk ke kamar dulu ya, Ma."
Mama Inan membelai wajah Fira.
"Iya, Ma," ucap Fira. Fira langsung melanjutkan langkahnya untuk ke kamar.
Membuka kamarnya, Fira melihat Jeje yang sedang asik memainkan ponselnya di atas tempat tidur.
"Zara sudah pulang?" tanya Jeje.
Fira yang merasa Zara datang karena ada hal penting, sengaja melarang Jeje untuk ikut bersamanya, agar Zara lebih leluasa menceritakan pada Fira apa yang terjadi.
"Sudah."
"Ada apa dia kemari malam-malam?" tanya Jeje seraya merentangkan tangannya.
Fira merangkak naik ke atas tempat tidur. Melihat Jeje yang merentangkan tangannya, Fira masuk ke dalam pelukan Jeje.
"Zara ada masalah," ucap Fira sesaat setelah masuk dalam pelukan Jeje.
"Masalah apa?" Jeje membelai rambut Fira lembut saat bertanya.
"Ayah Zara meminjam uang pada Mama Atta, dan sekarang sebagai gantinya Zara di minta untuk menikah dengan Atta."
Jeje yang mendengar cerita Fira, sedikit menjauhkan tubuh Fira untuk menjangkau wajah Fira. "Atta? Atta teman aku maksud kamu?" tanya Jeje menatap Fira.
"Iya, Atta teman kamu, siapa lagi." Fira benar-benar kesal saat mendengar apa yang di ceritakan oleh Zara.
"Bagiamana bisa? Coba ceritakan dengan benar." Jeje yang penasaran pun menegakkan tubuh Fira, agar Fira bisa menceritakan dengan benar.
"Ayah Abian mempunyai hutang dengan Mama Atta. Karena Ayah Abian tidak dapat membayar hutang, Mama Atta meminta Zara menikah dengan Atta sebagai gantinya." Fira menjelaskan pada Jeje semua yang di ceritakan oleh Zara.
__ADS_1
Jeje masih benar-benar tidak percaya, dengan apa yang di lakukan temannya itu. "Kenapa Atta melakukan semua ini?"
"Aku curiga Atta segaja, sayang," ucap Fira.
"Sengaja?" Jeje mengertukan dahinya saat mendengar ucapan Fira
"Iya, kamu tahu bukan, jika Atta menyukai Zara, jadi bisa saja Atta sengaja memberi pinjaman uang pada Ayah Abian dan sebagai gantinya dia meminta Zara menikah dengannya." Fira menduga-duga bagaimana semua ini bisa terjadi.
"Apa mungkin Atta melakukan hal itu?" Jeje masih sulit untuk percaya apa yang di katakan oleh Fira. Jeje tahu betul Atta tidak akan sekejam itu, mengingat jika Atta tidak terlalu suka berdrama.
"Tapi buktinya seperti itu." Fira ssmakin kesal saat Jeje tampak membela Atta.
"Iya, aku tahu." Jeje yang melihat Fira kesal mulai meredakan. "Berarti Zara akan menikah dengan Atta?"
Fira yang mendengar ucapan Jeje semakin di buat kesal. "Apa kamu lupa Zara mencintai Adhi?" tanya Fira tajam pada Jeje.
"Iya, tahu, lalu kalau Zara tidak bisa membayar hutang, mau bagaimana lagi?"
"Makanya dia kemari."
"Makudnya?"
"Sayang, bisakah kamu membantu Zara?" Fira memegang lengan Jeje seraya memohon pada Jeje.
Jeje mengerutkan dahinya saat Fira meminta dirinya untuk membantu Zara. "Mamang berapa hutangnya?"
"2 milyar," ucap Fira lirih.
Mata Jeje langsung membulat sempurna saat Fira mengatakan jika hutang ayah Zara sebesar dua milyar. "Apa kamu bercanda?" tanya Jeje begitu kaget.
"Aku ada dua ratus juta, jadi bisakah kamu membantu menambahkannya?"
Jeje hanya terdiam saat Fira mengatakan ini pada Jeje.
Apa dia lupa kalau dia punya uang simpanan hasil penjualan apartemen.
Jeje hanya membatin dalam hatinya.
Fira yang melihat Jeje diam, memahami keadaan Jeje. Fira menyadari, jika Jeje baru saja membeli rumah, dan itu pasti harganya tidaklah murah. Fira merasa bingung karena tidak bisa membantu Zara.
"Bukannya kamu ada uang hasil penjualan apartemem yang aku kirim padamu. Kenapa kamu tidak pakai itu saja?"
Mendapati ucapan Jeje, Fira mengingat jika dulu Jeje memberikannya uang di rekeningnya. Fira sedikit merasa lega, karena paling tidak dirinya masih bisa membantu Zara.
"Kamu benar, aku punya uang itu, bukan."
"Iya, kamu bisa mengunakannya untuk membanti Zara."
"Berarti kamu mengizinkan aku memakainya?"
"Tentu saja, aku akan mengizinkanmu."
"Baiklah, aku akan kabari Zara, kalau begitu," ucap Fira. Fira langsung meraih ponselnya dan mengabari Zara untuk memberitahu berapa jumlah uang yang bisa dia berikan pada Zara.
Setelah mengirim pesan pada Zara, Fira menyusul Jeje merebahkan dirinya. Masuk ke dalam ke dalam pelukan Jeje, Fira memeluk erat Jeje.
"Terimakasih sudah mau membantu temanku," ucap Fira saat dalam pelukan Jeje.
"Jangan berterimakasih," ucap Jeje. "Semoga apa yang bisa kita lakukan hari ini akan menjadi kebaikan kita suatu saat nanti." Jeje mengeratkan pelukannya, mendekap erat Fira dalam pelukan hangatnya.
Fira bersyukur, paling tidak Jeje sudah berbaik hati mengizinkan dirinya membantu Zara. Fira berharap, Zara bisa mendapatkan sisa uang untuk membayar hutang pada Atta.
"Sudah, tidurlah," ucap Jeje pada Fira.
__ADS_1
Fira yang memang merasa sangat lelah, karena acara empat bulanan merasa membutuhkan istirahat. Memejamkan matanya, Fira tidur dalam dekapan Jeje.