
Jeje menghela nafasnya. Beberapa hari dia cuti membuat perkerjaan begitu banyak. Jeje melihat jam di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan waktu istirahat. Akhirnya dia memilih mengakhiri dulu perkerjaanya.
Jeje melangkahkan kakinya menuju ruangan di mana Fira tidur. Saat dia membuka pintu kaca. Jeje melihat Fira yang masih begitu pulas tertidur. Dia pun melangkah mendekat pada Fira. Saat tepat di samping Fira, Jeje berjongkok agar bisa menjangkau wajah Fira. "Sayang," panggil Jeje seraya membelai wajah Fira.
Fira mengerjap ketika merasa sentuhan lembut di pipinya. Perlahan Fira membuka matanya dan mendapati pemandangan wajah tampan suaminya tepat di hadapannya. Dia pun tersenyum. "Apa aku terlalu lama tertidur?" tanyanya pada Jeje.
Jeje hanya menarik garis senyum di wajah. "Kamu memang butuh banyak istirahat," ucapnya masih dengan membelai wajah Fira. "Tapi sekarang kamu harus bangun. Perutmu ini harus segera di isi." Jeje berucap seraya membelai perut Fira.
Fira langsung bangun setelah Jeje memintanya untuk makan. Jeje menautkan jemarinya pada jemari Fira, membawanya keluar dari kamar dimana Fira tidur, dan menuju sofa yang terdapat di depan meja kerjanya. "Kamu mau makan apa?" tanyanya sesaat setelah mereka duduk.
"Aku mau makan soto saja," ucapnya. Fira memang begitu menyukai soto di kantin kantor Jeje, jadi dia tidak mau melepaskan kesempatan untuk makan makanan itu.
"Baiklah aku akan meminta pelayan kantin untuk mengantarnya kesini." Jeje berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya, untuk menghubungi kantin di kantornya.
"Jangan," tolak Fira.
Jeje yang mendengar Fira melarangnya saat dia ingin menghubungi pelayan kantin pun, berhenti dan berbalik. "Kenapa?"
Fira memutar matanya memikirkan bagaimana cara menyampaikan pada Jeje. "Emm.. aku mau kamu yang memesannya langsung," lirih Fira pada Jeje.
Jeje menautkan kedua alisnnya. "Kamu mau aku ke kantin dan memesan sendiri?" Tanyanya memastikan kembali.
"Iya," ucap Fira. "Dan aku mau kamu yang membawakannya langsung kesini." Lanjutnya dengan senyum mengembang di wajahnya.
Mendengar permintaan Fira. Jeje langsung membulatkan matanya. Bagaimana bisa istrinya memintanya datang ke kantin memesan makanan, dan membawa sendiri makanan ke ruanganya. Dia tidak bisa membayangkan seorang Presdir seperti dirinya melakukan hal itu.
Tapi setelah melihat senyum di wajah Fira , kata penolakan pun melayang seketika. Rasanya mulutnya terkunci untuk mengatakan tidak mau pada permintaan Fira. Yang ada hanyalah anggukkan sebagai jawaban dari permintaan Fira.
Fira yang mendapat jawaban anggukan dari Jeje, semakin mengembangkan senyumnya dan menampilkan lesung pipinya yang bersembunyi di pipinya.
Jeje langsung melangkah keluar dari ruangannya menuju lift Presdir. Dia pun masuk dan menekan tombol menuju kantin kantornya.
Saat sampai di kantin Jeje, semua karyawannya yang berada di kantin melihat Jeje kaget. Apalagi melihat Jeje datang tanpa di temani oleh Reza. Pelayan kantin yang melihat Jeje datang langsung menghampiri Jeje. "Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya pelayan kantin dengan sopan pada Jeje.
"Siapkan saya dua mangkuk soto." Jeje memerintah pada pelayan kantin.
"Baiklah, silahkan duduk terlebih dahulu, saya akan menyajikannya."
"Saya tidak ingin makan disini. Saya mau makan di ruangan saya." Jeje yang di tawari untuk duduk pun menolak.
"Baiklah kalau begitu, biar saya nanti antarkan ke ruangan Pak Gajendra," ucap pelayan kantin saat mendapat penolakan dari Jeje.
"Tidak, saya sendiri yang akan membawanya."
Pelayan kantin pun terkejut mendengar Presdir akan membawa makanannya sendiri. Tapi dia buru-buru menbuang jauh-jauh pikirannya, dan segera menyiapkan pesanan Presdir. Dia tidak mau membuat Presdir menunggu terlalu lama.
Jeje memilih berdiri untuk menunggu. Dan setelah pesanannya selesai. Dia langsung menerima nampan yang berisi dengan dua mangkuk soto, yang di berikan pelayan. Sebelum Jeje menerima, dia sudah memberikan uang untuk membayar soto yang dia beli.
"Tunggu sebentar saya akan ambilkan kembaliannya Pak." Pelayan kantin pun melangkah meninggalkan Jeje.
"Tidak perlu, ambil saja kembaliannya."
__ADS_1
Pelayan kantin yang mendengar Jeje tidak meminta kembaliannya, langsung menunduk sedikit dan berterima kasih.
Jeje berbalik dan melangkah menuju lift untuk menuju ruangannya. Dia melihat dengan jelas, bahwa karyawannya melihat dengan tatapan aneh. Mungkin di dalam hati mereka aneh, saat melihat Presdir tempat mereka berkerja, membawa nampak makanan sendiri. Tapi Jeje memilih acuh dan berlalu begitu saja.
Kedua tangan Jeje yang sibuk membawa nampak, membuatnya kesulitan untuk menekan tombol lift. Tapi keberuntungan berpihak padanya, karena dia melihat karyawan yang kebetulan lewat. Akhirnya dia meminta karyawannya untuk membantu menekan tombol lift.
Jeje pun masuk ke dalam lift. Tapi matanya membulat saat dia tahu, bahwa dia kesulitan menekan tombol lift menuju ruangannya. Jeje berpikir tidak mungkin dia meletakkan makanan di lantai. Tapi menekan tombol lift juga dia tidak bisa. Dalam hatinya dia benar-benar mengrutu kesal. Andai saja hari ini, dia tidak memberikan izin pada Reza. Mungkin dia akan dengan mudahnya memerintah Reza.
Karena tidak ada pilihan lain, akhrinya Jeje memakai sikunya untuk menekan tombol lift menuju ruanganya. Dengan susah payah, Jeje menekan tombol lift dan berusaha agar soto yang di bawanya tidak tumpah. Setelah berhasil, Jeje menunggu lift membawanya sampai ke ruangannya.
Setelah lift terbuka, dengan hati-hati Jeje melangkah menuju ruanganya. Jeje langsung meletakkan nampannya di atas meja Valeria, yang tepat berada di depan ruangannya, agar dia bisa membuka pintu terlebih dahulu. Setelah pintu terbuka, dia kembali mengambil nampaknya dan masuk ke dalam ruanganya. "Ini. " Jeje meletakkan nampan berisi soto di atas meja.
Fira yang melihat Jeje membawakan pesananya langsung berbinar. "Terimakasih," ucapnya dengan senyum. Rasanya dia begitu sudah tidak sabar untuk memakannya.
Jeje yang mendapat ucapan terimakasih hanya mengangguk dan tersenyum. "Makanlah."
Fira pun langsung memakannya perlahan-lahan, karena soto yang di bawa Jeje masih terasa panas. Fira memakannya dengan lahap. Dia merasa perutnya begitu lapar, karena tadi pagi makanan yang di makannya, dia muntahkan kembali.
Jeje yang melihat Fira makan, hanya tersenyum senang. Jeje berpikir, tidak sia-sia dia jadi tontonan karyawannya karena membawa nampan seperti pelayan. Belum lagi kesulitan saat menuju ruangannya harus dia lalui, hanya untuk membawa makanan yang di pesan istrinya. Tapi semua itu terbayar saat melihat wajah bahagia dari Fira, saat Fira memakan makanan yang di beli dengan lahap.
**
Reza yang hari ini di berikan cuti oleh Jeje. Memanfaatkan cutinya untuk mengurus semua acara pernikahannya. Setelah tadi pagi dia menjemput Valeria dan menuju gedung acara pernikahan. Siang ini Reza dan Valeria menuju mall, untuk membeli cincin pernikahan.
Sesampainya di mall, mereka berjalan menyusuri mall mencari toko perhiasan. Saat menemukan toko perhiasan, mereka berdua masuk untuk melihat koleksi cincin disana.
Saat Reza dan Valeria masuk, mereka berdua sudah di sambut oleh pelayan toko. Setelah mereka mengatakan ingin mencari cincin. Pelayan toko menunjukan beberapa koleksi cincin di toko mereka.
Reza yang melihat cincin yang di tunjukkan Valeria, mengiyakan permintaan calon istrinya tersebut.
Reza langsung membayar cincin yang di pilih oleh Valeria, dan mereka menunggu pelayan yang sedang mengukir nama, karena Valeria mau nama mereka di ukir di dalam cincin.
"Aku akan ke toliet sebentar," ucap Reza seraya melangkahkan kaki meninggalkan Valeria di toko perhiasan.
Akhirnya Valeria menunggu sendiri pesanannya yang sedang di buat, dengan membaca majalah yang tersedia di toko itu. Dia melihat beberapa koleksi toko perhiasan yang terdapat di majalah yang dia baca.
"Val," panggil seseorang pada Valeria.
Valeria yang mendengar ada yang memanggilnya, menoleh mencari sumber suara.
Teman Valeria yang tadi berniat melihat perhiasan, tidak sengaja melihat Valeria dari kejauhan juga. Dia mencoba mendekat, dan benar saja, yang di lihatnya adalah Valeria.
"Nggak menyangka ketemu kamu disini," ucap temannya senang seraya menautkan pipinya pada pipi Valeria.
"Iya, sudah lama juga kita nggak bertemu." Valeria pun tak kalah senang.
"Kamu lagi cari perhiasan?" tanyanya yang sama-sama berada di toko perhiasan.
"Iya, aku lagi cari cincin pernikahan."
Temannya menautkan kedua alisnya, mendengar Valeria sedang mencari cincin pernikahan. "Bukannya kamu sudah menikah?" tanyanya sedikit heran kenapa jika Valeria sudah menikah, harus mencari cincin lagi.
__ADS_1
"Wah walau kamu sibuk di luar negeri, kamu mendenger juga kalau aku sudah menikah?" Valeria mengoda temannya.
"Iya maaf aku hanya dengar saja, tidak bisa hadir." Temannya yang merasa tidak enak pun meminta maaf.
"Iya tidak apa-apa."
"Terus kamu kenapa mencari cincin lagi, jika kamu sudah menikah?" tanya kembali. Teman Valeria benar-benar merasa penasaran saat Valeria belum menjawab.
"Aku sudah bercerai, dan sekarang aku akan menikah lagi." Valeria menjelaskan niatnya datang ke toko perhiasan.
"Dia sudah bercerai." Batinnya yang begitu kaget mendengar Valeria sudah bercerai.
"Aku turut bersedih ya, atas pernikahan kamu yang harus berakhir dengan perceraian."
"Iya." Valeria hanya menanggapi santai ucapan temannya. Baginya masa lalunya tidak membuatnya terlalu larut dalam kesedihan, karena sekarang dia sudah mendapatkan pria sebaik Reza.
"Memangnya kenapa bisa bercerai?" tanya temannya begitu ingin tahu alasan Valeria bercerai.
"Dia berselingkuh."
Kedua bola mata teman Valeria membulat sempurna mendengar cerita suami Valeria selingkuh. Dia tidak menyangka teman suaminya itu berselingkuh.
"Nona Valeria," panggil pelayan toko.
Perbincangan Valeria dan temannya harus berakhir saat pelayan toko memanggil Valeria.
"Aku duluan ya." Valeria pun menautkan kedua pipinya pada Pipi temannya.
Temannya yang masih kaget, hanya menerima dan mengangguk mengiyakan ucapan Valeria yang berpamitan.
Valeria langsung menerima paper bag yang berisi cincinnya dan keluar mencari Reza. Tapi belum sempat dia menyusul Reza. Reza sudah berjalan ke arah toko perhiasan.
"Sudah selesai?" tanya Reza pada Valeria.
"Sudah."
"Ya sudah kita makan terlebih dahulu." Reza pun menautkan jemarinya pada jemari Valaria dan berjalan mencari restoran di dalam mall.
.
.
.
.
.
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
Mampir juga ke karya lain ku dan instagram aku Myafa16
__ADS_1