
Malam ini Fira dan Jeje bersiap untuk menghadiri pernikahan Raka dan Celia. Duduk di depan cermin, Fira memoles wajahnya. Sapuan make up menghiasi wajahnya Fira.
Jeje yang bersiap pun, memakai setelah jasnya. Berdiri di belakang Fira, Jeje memakai dasinya.
Melihat Jeje dari pantulan cermin, Fira menarik senyumnya. Fira melihat, tangan Jeje sibuk memasangkan dasinya di kerah bajunya.
Berdiri dan membalikkan tubuhnya, Fira berdiri di depan Jeje. "Biar aku yang pasangkan," ucap Fira pada Jeje. Tangannya langsung memegang dasi yang di pakai oleh Jeje.
"Kamu cantik sekali hari ini?" Jeje yang memperhatikan wajah Fira hanya bisa memuji istrinya.
"Oh ya, berarti hari-hari kemarin aku jelek?" Fira sedikit memanyunkan bibirnya saat mendengar pujian Jeje.
"Kemarin cantik, tapi hari ini lebih cantik," ucap Jeje membuat Fira agar tidak marah. "Apa lagi semenjak hamil, kamu semakin cantik."
Mendengar pujian Jeje, Fira hanya tersenyum. Jeje selalu bisa membuatnya merona di saat kesal. "Sudah, jangan merayuku," elaknya pada Jeje. Fira yang sudah selesai memakaikan dasi pun melangkah meninggalkan Jeje.
"Kenapa buru-buru," ucap Jeje seraya menarik tangan Fira.
"Mau apa kamu?" tanya Fira. Fira takut Jeje akan melakukannya di saat dirinya sudah rapi dengan gaun untuk pergi ke acara pernikahan Raka dan Celia.
"Menurutmu?" Mata Jeje memandang penuh arti.
"Jangan macam-macam, kita mau pergi." Fira menatapa tajam Jeje dan memberikan Jeje ancaman.
Jeje langsung tertawa saat mendengar ucapan Fira. Dirinya yang ingin mengoda Fira, melihat kepanikan di wajah Fira. "Aku tidak akan malakukan sekarang," ucap Jeje.
Fira hanya melirik malas, saat ternyata Jeje mengodanya saja.
"Jangan kesal," ucap Jeje mendaratkan ciuman di pipi Fira.
Mendapati pipinya di cium, Fira hanya bisa mengeleng. Rasanya Fira selalu saja tidak pernah bisa marah dengan Jeje.
"Ayo." Jeje menautkan jemarinya pada jemari Fira, dan mengajak Fira untuk ke acara Raka.
***
Sampai di tempat acara pernikahan Raka dan Celia, Fira dan Jeje menuju ke kamar tempat Raka dan Celia berias.
Fira membuka kamar hotel tempat Celia di rias. Saat masuk, Fira melihat Celia disana bersama dengan mama Atta.
"Fira," panggil Celia.
"Kamu cantik sekali," ucap Fira, saat melihat Celia dengan balutan gaun pernikahan dan hiasan make up.
"Terimakasih." Celia tersenyum saat mendengar pujian dari Celia.
Fira yang melihat wajah tegang Celia, mencoba menenangkan. Fira tahu, Celia begitu gugup. Fira pun menemani Celia, sampai acara pernikahan di mulai.
Saat acara di mulai, Fira menemani Celia ke tempat acara. Sepanjang perjalanan menuju ke tempat acara, Fira meyakinkan Celia yang begitu tegang.
Saat sampai di tampat acara, dari kejauhan, sudah terlihat Raka yang duduk di depan penghulu, dan Celia pun melangkah menghampiri Raka. Celia langsung duduk di samping Raka, dan acara di mulai.
Acara dilangsungkan dengan hikmah. Semua tamu undangan juga menyaksikan semua peroses dengan seksama.
Rasa bahagia terlihat jelas di wajah Raka dan Celia, saat semua proses di mulai. Kebahagiaan juga terlihat di wajah Bu Ani dan Fira sebagai keluarga dari Raka.
Setelah acara selesai, semua tamu undangan memberikan ucapan selamat pada Raka dan Celia.
Fira dan Jeje pun tidak lupa memberikan ucapan selamat pada Celia dan Raka.
"Selamat ya, kak," ucap Fira memberikan ucapan selamat pada Raka. Fira pun beralih pada Celia dan memeluk Celia. "Selamat Celia." Fira memberikan ucapan selamat.
"Terimakasih, Fira," ucap Raka dan Celia bergantian.
"Selamat, Bro," ucap Jeje pada Raka.
"Terimakasih, Bro." Raka pun memberikan ucapan terimakasih.
__ADS_1
"Selamat, Lia." Jeje mengulurkan tangan dan memberikan selamat.
Jeje dan Fira yang selesai memberikan selamat pun, berlalu menikmati pesta. Fira yang dari tadi mengincar satu makanan pun menuju ke tempat makanan. Dengan cekatan Fira pun memakan makanan yang dia inginkan.
Jeje yang melihat hanya bisa mengeleng, dengan ulah Fira. Tapi mengingat Fira sedang hamil, Jeje mengerti.
"Hai," sapa Daffa dan Tania yang baru saja datang.
Fira dan Jeje pun menoleh saat Daffa dan Tania menyapanya. Fira melihat jelas perut Tania yang begitu sudah besar.
"Tania," sapa Fira. Fira menautkan pipinya pada pipi Tania. Fira begitu senang, saat melihat Tania yang sama-sama sedang hamil.
"Fira." Tania pun tidak kalah senang saat melihat Fira.
"Hai, Bro." Jeje dan Daffa pun saling menyapa.
"Kandungamu usia berapa sekarang?" tanya Fira pada Tania.
"Ini sudah memasuki usia sembilan bulan, dan harusnya sudah jadwal melahirkan," jelas Tania.
"Apa belum ada tanda-tanda?" Fira begitu ingin tahu, karena dirinya juga harus bersiap untuk melahirakan.
"Iya, harusnya dalam minggu ini, tapi entah kenapa belum juga." Tania yang merasa sudah jadwal melahirkan pun merasa sangat takut, saat belum waktunya melahirkan.
"Jangan sampai sekarang disini kamu merasa ingin melahirkan," goda Jeje. Jeje yang dari tadi mendengar perbincangan istrinya pun menimpali pembicaran.
Tania hanya memanyunkan bibirnya saat mendengar godaan Jeje.
"Jangan di tangapi ucapan Jeje." Fira menenangkan Tania yang kesal dengan Jeje.
"Aku dengar Zara juga sudah hamil," lanjut Fira mengalihkan pembicaraan.
"Iya, kemarin dia juga menghubungi mama." Tania menjelaskan pada Fira.
"Wah, anak-anak kita akan seumuran nanti."
Mereka mererka saling berbincang, sampai acara selesai. Fira menceritakan apa saja yang terjadi selama kehamilan, begitu juga dengan Tania.
Sampai akhirnya Fira dan Jeje pamit dulu untuk mencari Bu Ani.
Jeje dan Fira pun berpamitan pada mempelai, saat acara sudah selesai. Bersama Bu Ani, Fira dan Jeje pulang. Rencana Jeje akan mengantarkan mertuanya itu ke rumahnya dulu sebelum, dirinya dan Fira pulang.
Tapi baru saja Jeje dan Fira keluar gedung, mereka melihat Daffa yang mengendong Tania. "Fa, kenapa?" tanya Jeje.
"Tania mau melahirakan," ucap Daffa panik. "Je, tolong bantu gue," pinta Daffa.
Jeje pun menyuruh Fira untuk pulang ke rumah bersama ibunya, karena Jeje ingin membantu Daffa untuk ke rumah sakit.
Fira yang melihat Jeje akan membantu Tania dan Daffa pun akhirnya mengikuti perintah Jeje untuk pulang.
***
Fira yang menunggu di rumah, begitu berdebar. Fira merasa sangat tidak tenang saat tadi melihat Daffa yang mengendong Tania. Tampak Tania begitu kesakitan saat berada di gendongan Daffa.
Pikiran Fira pun melayang membayangkan seperti apa nanti dirinya apa melahirkan. Saat sedang begitu panik bayi di perut Fira menendang.
"Mama membuatmu panik ya sayang," ucap Fira membelai lembut perutnya.
Saat Fira sedang membelai perutnya, Fira melihat pintu kamarnya terbuka. Mata Fira menangkap sosok Jeje yang berada di sana.
"Sayang," ucap Fira menghampiri Jeje.
Jeje yang melihat Fira langsung memeluk Fira. Air matanya tumpah saat memeluk istrinya. Fira yang melihat Jeje menangis bingung apa yang terjadi. Pikirannya menerka-nerka apa yang terjadi pada Tania.
"Apa yang terjadi? Apa Tania baik-baik saja?" tanya Fira pada Jeje.
"Tania baik-baik saja, anaknya pun sudah lahir dengan selamat." Jeje menjelaskan pada Fira keadaan Tania.
__ADS_1
"Lalu kamu kenapa?" Fira bingung apa yang terjadi pada Jeje, jika Tania baik-baik saja.
Melepas pelukannya Jeje melihat ke arah Fira. Matanya yang merah karena menangis, menatap mata Fira lekat.
"Ada apa?" tanya Fira kembali.
"Apa kamu juga akan merasakan sakit seperti yang Tania rasakan?" Jeje yang tadi mengantar Daffa dan Tania ke rumah sakit, mendengar dengan jelas rintihan Tania yang kesakitan. Jeje membayangkan jika Fira akan mengalami hal yang sama dengan Tania, dan Jeje merasa tidak tega.
Fira baru mengerti kemana arah pembicaraan Jeje. Fira menebak jika Jeje baru saja melihat Tania yang kesakitan.
"Dengarkan aku, itu adalah kenikmatan seorang ibu." Fira mencoba menenangkan Jeje.
"Tapi aku tidak tega, jika kamu merasakan sakit seperti itu," ucap Jeje.
Fira hanya menarik senyum di wajahnya. Fira mengerti jika Jeje sangatlah ketakutan. "Sebagai wanita aku akan merasakannya, dan kamu ada untuk mengkuatkannya."
Jeje memeluk Fira kembali. "Aku akan ada untukmu. Aku akans selalu menemanimu," ucap Jeje pada Fira.
Fira pun membalas pelukan Jeje dan menguatkan Jeje yang begitu ketakutan dengan prosesi melahirkan. Sebenarnya Fira sendiri juga sangat takut, tapi dirinya berusaha untuk tenang.
Saat Jeje memeluk Fira, bayi di perut Fira menendang. Jeje yang sedang memeluk Fira pun merasakan tenangan di perut Fira.
"Lihat, anakmu saja tidak ingin papanya takut," ucap Fira tertawa.
Jeje langsung melepas pelukan pada Fira, dan ikut tertawa. Beralih pada perut Fira, Jeje membelai perut Fira. "Papa janji tidak akan takut lagi, karena papa mau melihat mu.
***
Pagi ini Fira dan Jeje pergi ke rumah sakit. Seampainya di rumah sakit, Fira langsung masuk ke ruang rawat Tania.
"Selamat Tania." Fira menautkan pipinya ke pipi Tania. Fira merasakan kebahagiaan atas kelahiran anak Tania.
"Terima kasih, fir."
Mata Fira langsung teralih pada box bayi yang berada di samping Tania. Bayi cantik sedang tertidur pulas di sana. Kulit putih dari Tania benar-benar menurun pada bayinya.
"Cantik sekali," puji Fira.
"Terimakasih."
"Siapa namanya?" tanya Fira menatap Tania.
"Dania Adeeva, anak perempuan lemah lembut," ucap Tania pada Fira.
"Nama yang cantik, 'Dania Adeeva'." Fira mengulang nama anak Daffa dan Tania. Saat meresapi nama anak Daffa dan Tania, Fira menyadari jika nama Dania adalah singkatan dari Daffa dan Tania. "Dania, Daffa dan Tania masukdnya?" Fira memastikan pada Tania.
Tania pun mengangguk, dan memberikan senyuman pada Fira.
"Sayang, lihatlah, nama anak Kak Daffa dan Tania singkatan dari nama mereka, aku juga mau nama singkatan kita." Fira yang mendengar jika nama anak Daffa dan Tania singkatan namanya, juga sangat tertarik.
"Mana bisa nama kita?" Jeje tidak tahu akan disingkat apa namanya dengan Fira.
"Nanti kita cari ya," ucapnya pada Jeje.
"Iya." Jeje tidak punya pilihan saat Fira memintanya.
Fira pun beralih kembali pada putri kecil Daffa dan Tania. Rasanya Fira begitu tidak sabar menanti kehadiran putranya.
.
.
.
.
.
__ADS_1