Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Tutup matamu


__ADS_3

Setelah puas berjalan-jalan dan makan di restoran, Fira dan Jeje pun kembali ke hotel.


Fira yang sampai di kamar hotel, langsung membuka sepatunya, dan meluruskan kedua kakinya di atas kursi sofa yang tersedia di kamar hotel. kakinya yang begitu pegal seoalah sudah tidak kuat menopang tubuhnya.


"Kamu tidak mandi?" tanya Jeje yang keluar dari kamar mandi dengan handuk di pingangnya. Jeje berjalan mengambil baju, dan memakainya.


"Sebentar, kaki ku pegal sekali" ucap Fira yang sibuk memijat kedua kakinya. Jeje yang mendengar Fira kelelahan hanya bisa tersenyum, Jeje teringat bagaimana Fira berjalan tanpa henti berkeliling menikmati pemandangan kota yang mereka kunjungi.


Setelah merasa pegal di kakinya hilang, Fira pun berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Cukup lama Fira menikmati mandinya, karena ternyata dia memilih berendam memakai aroma terapi yang membuatnya begitu menikmati.


"Apa kamu tidur di kamar mandi?" tanya Jeje yang melihat Fira baru saja keluar dari kamar mandi.


Fira menatap kesekeliling mencari jam yang terpasang di dinding kamar hotelnya. Fira menghitung jam berapa dia tadi masuk ke dalam kamar mandi, dan ternyata dia mendapati dua jam, dia berada di kamar mandi.


Fira langsung tersenyum pada Jeje yang malu karena begitu lamanya di kamar mandi.


Fira langsung menghampiri Jeje, yang sudah merebahkan tubuhnya, di atas tempat tidur. Jeje yang melihat Fira berjalan menghampirinya pun, merentangkan tangannya, untuk membawanya ke dalam pelukan nya.


"Apa kamu begitu lelah" tanya Jeje.


"Iya, kakiku begitu pegal"


"Apa kamu mau aku pijit?" tanya Jeje dengan senyum licik tapi tak terlihat oleh Fira.


Fira yang mendapati Jeje dengan baik hati, menawarinya untuk memijatnya, begitu sangat senang, serasa mendapat undian.


"Mau" ucap Fira dengan semangat.


Jeje pun tak menyiayiakan kesempatan, dan langsung mendorong tubuh Fira lembut, agar Fira menyingkir dari dadanya.


"Apa kamu membawa minyak atau sesuatu untuk memijat?" tanya Jeje.


"Sepertinya ada" ucap Fira pun berdiri menuju kopernya dan mencari make up pouch.


"Ini" ucap Fira menyerahkan massage oil yang dia bawah.


Jeje pun meminta Fira untuk berbaring dan membuka bajunya.


"Kenapa buka baju, bukannya yang pegal hanya kakiku" tanya Fira polos pada Jeje.


"Aku akan memijatmu seluruh tubuhmu, kamu tidak sadar bahwa aliran darah di tubuhmu akan lancar jika di pijat, jadi pegal di kakimu juga akan hilang"


"Oh ya" ucap Fira masih menimbang-nimbang ucapan Jeje.


"Sudah jangan berisik, cepat" ucap Jeje, " Sebelum aku berubah pikiran" ancamnya pada Fira. Fira yang mendapat ancaman langsung mengiyakan.


"Tutup matamu dulu" ucap Fira yang malu saat Jeje menatapnya.

__ADS_1


"Aku sudah sangat sering melihat tubuhmu, lalu untuk apa aku menutup mata" cibir Jeje.


"Hish.." desis Fira yang malu Jeje mengatakan ucapan itu pada Fira.


"Sudah tutup matamu" ucap Fira masih tetap dengan pendiriannya, agar Jeje menutup matanya.


Akhirnya Jeje menutup matanya menuruti permintaan Fira. "Sekalipun aku menutup mata, aku sudah tahu tempat yang aku harus sering kunjungi" gumamnya yang masih terdengar oleh Fira.


Fira hanya melirik kesal dengan ucapan Jeje, dia tak habis pikir dengan lelaki yang ada di depannya, yang seenaknya saja saat mengucapkan kata-kata.


Setelah Jeje menutup matanya, Fira pun membuka seluruh tubuhnya, dan membukungkus tubuhnya dengan selimut, dirinya langsung merebahkan tubuhnya tengkurap di atas tempat tidur.


"Sudah"


Jeje yang mendengar kode bahwa Fira sudah membuka bajunya, langsung menjalankan aksinya. Hal yang pertama-tama dia pijat adalah punggung Fira.


Fira yang merasa pinjatan Jeje begitu enak, merasakan dengan memejamkan matanya.


"Kamu hebat sekali memijat, belajar dari mana" tanya Fira yang merasakan kenikmatan pijatan Jeje.


"Ini naluri" ucap Jeje santai.


Fira yang memejamkan matanya, sedikit membuka matanya dan mengerutkan keningnya, "Naluri " batin Fira bingung.


Akhirnya dia memilih tidak menanggapi ucapan Jeje. Dan menikmati pijatan Jeje yang menekan punggungnya dengan lembut.


Perlahan Jeje menurunkan pijatannya sampai di pingang Fira. Senyum licik mengembang sempurna di wajah Jeje, saat dirinya sudah sampai di bawah pinggang Fira.


Seketika senyum Jeje menguap ke udara, saat mendapatkan larangan dari Fira, dan memintanya melewati satu bagian yang begitu dia tunggu dari tadi.


"Baiklah, satu bagian ini aku akan lewati, tapi bagian depan tidak akan aku lewatkan"


Akhirnya Jeje beralih pada kaki Fira, dia berdiam diri, dan menunggu saatnya dia memijat bagian depan tubuh Fira.


Cukup lama Jeje memijat kaki Fira, Fira yang sedari tadi mengeluh pegal, merasakan kenikmatan luar biasa dari sentuhan Jeje.


Saat sudah selesai pada kaki Fira, Jeje sudah tidak sabar menunggu bagian depan. " Berbalik lah" ucap Jeje pada Fira, tapi tidak ada jawaban dari Fira.


"Sayang" Jeje mencoba memanggil Fira kembali, tapi nihil, tidak ada jawaban dari Fira.


Jeje pun beralih mendekat wajah Fira, dan mendapati Fira tertidur pulas.


"Ternyata dia tidur" ucap Jeje mendapati istrinya.


Jeje merasa kesal, dipikir setelah memijat istrinya, dia akan mendapatkan keuntungan yang sudah dia bayangkan, tapi yang ada Fira meninggalkannya tidur lebih awal.


Akhirnya tidak punya pilihan lagi, Jeje merebahkan tubuhnya, dan menyusul Fira ke dalam alam mimpi.


**

__ADS_1


"Pagi" Fira menyapa Jeje yang baru saja membuka matanya.


Jeje membuka matanya perlahan, dan duduk bersandar pada pada tempat tidur, dia melihat Fira sudah mandi dan sudah terlihat segar, " Kamu sudah bangun?"


"Iya, tidurku nyenyak sekali, jadi aku bangun lebih awal" Fira terlihat sangat segar dan bersemangat saat berucap.


Jeje yang mendengar cerita Fira yang menikmati tidurnya, masih di


buat kesal. Dia mengingat bagaimana dirinya sibuk memijat, tapi Fira meninggalkannya tidur lebih dulu. Jeje pun memilih berdiri dan berlalu menuju kamar mandi.


"Bisakah kita makan di restoran kemarin?" tanya Fira pada Jeje yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Jeje mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka bahwa istrinya akan meminta untuk makan di restoran kemarin.


"Apa kamu belum puas makan di sana?"


"Belum, aku belum mencoba menu yang lain, dan aku ingin mencobanya" Fira membayangkan bagaimana dia menikmati hidangan-hidangan yang ada di restoran tersebut.


Jeje yang melihat Fira begitu antusias untuk makan di restoran tersebut, akhirnya menuruti ke inginan Fira.


**


Setelah kemarin memesan makanan yang banyak, hari ini Fira memesan banyak makanan lagi. Jeje yang melihat Fira makan dengan porsi yang tidak biasa seketika menjadi kenyang. Dirinya benar-benar tidak tahu kenapa istrinya ini menjadi sangat rakus. Jeje berfikir, mungkin karena dia tidak akan menemukannya di negaranya.


"Pelan-pelan makannya, tidak akan ada yang memintanya" Jeje mengelap sudut bibir Fira yang terkena saus.


Fira hanya tersenyum memaperkan deretan giginya, menjawab ucapan Jeje.


"Aku akan ke toilet sebentar"


Fira hanya mengangguk menjawab ucapan Jeje, karena dia masih sibuk dengan makanannya, dan Jeje berlalu ke toilet.


Setelah selesai dari toilet, Jeje berniat kembali ke meja Fira. Tapi langkahnya terhenti saat ada yang memanggilnya.


"Je" panggil sesorang dari kejauhan.


"Lia" ucap Jeje saat melihat siapa wanita yang memanggilnya.


Wanita itu berjalan menghampiri Jeje yang masih berdiri di depan toilet.


"Aku pikir, aku salah lihat je, ternyata memang kamu" Lia tidak menyangka setelah sekian lama dia kembali bertemu dengan Jeje.


"Kamu disini?" tanya Jeje yang melihat wanita yang sudah lama dia tidak temui itu.


"Iya, aku sedang ada pemotretan disini" ucapnya menjelaskan, "Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu" Lia mencoba tersenyum pada Jeje.


"Ya, sejak kamu memutuskan untuk mengejar mimpimu menjadi model profesional" ucap Jeje dengan nada sinis.


"Kamu masih marah dengan ku je?"

__ADS_1


"Tidak, untuk apa aku marah denganmu" ucap Jeje datar, "Ya sudah permisi aku harus cepat kembali" Jeje berkata seraya melangkahkan kaki meneninggalkan wanita itu sendiri.


Wanita itu masih mematung di tempat dimana Jeje meninggalkannya, "Maafkan aku je, membuatmu terluka"


__ADS_2