
Mereka berempat pun memesan makanan.
"Hay Nay, maaf dari tadi sibuk jawab pertanyaan Adhi, sampai lupa sapa kamu." Zara yang teringat ada Nayla di samping Adhi pun langsung menyapa.
"Iya, nggak apa-apa ra." Nayla tersenyum.
"Oh ya nay, tadi kamu bilang mau bicara sesuatu, apa?" Adhi yang teringat bahwa Nayla mengajaknya ke restoran untuk mengajaknya bicara pun bertanya.
"Bagaimana aku bisa bicara, kalau ada Zara dan Atta." Nayla hanya bisa menahan kesalnya pada Adhi.
"Aku lupa dhi, tadi mau bicara apa." Akhirnya Nayla memilih untuk tidak membicarakan niatnya sekarang.
Zara yang melihat percakapan Adhi dan Nayla baru mengerti kenapa Nayla dan Adhi bisa bersama ke restoran.
Saat pesanan makanan datang, mereka berempat melanjutkan makan bersama.
"Kamu tadi dari kantor Jeje dhi?" tanya Atta di sela-sela makannya.
"Iya Bang, meeting sama Reza."
"Kok sama Pak Reza dhi, bukannya sama Pak Gajendra?" tanya Zara yang sedikit kaget mendengarkan ucapan Adhi.
"Bang Jeje lagi antar Fira ke rumah sakit, jadi di wakilkan sama Reza." Adhi yang berbicara pun membalikan sendok dan garpu mengakhiri makannya.lh
Atta dan Nayla langsung menatap Adhi, merasa kaget mendengar ucapan Adhi.
"Siapa yang sakit?" tanya Atta yang begitu penasaran.
"Nggak tahu Bang, mungkin Bang Jeje mau antar Fira ke dokter kandungan?" Adhi yang mengingat pertemuan mereka kemarin puni, mengingat pembahasan tentang kehamilan Fira.
Nayla membulatkan matanya, "Fira hamil?" tanyanya kaget.
"Belum tahu." Adhi berkata seraya mengedikan bahunya.
"Kalau Fira hamil, Zara apa akan di kantor Adhi ?" Nayla tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.
Setelah mereka selesai makan, mereka pun mengakhiri obrolan mereka.
"Kamu pulang sama aku aja ra?" Ajak Adhi pada Zara.
Atta yang mendengar Adhi memutuskan untuk mengajak Zara pulang, hanya memicingkan matanya. "Bukannya Zara kesini sama gue dhi, jadi gue rasa dia akan pulang sama gue." Atta dengan tegas langsung memotong niat Adhi.
Adhi menahan kesalnya, rasanya dia benar-benar tidak rela Zara pulang dengan Atta.
Zara yang mendengar perdebatan Atta dan Adhi merasa tidak enak. Hanya karena pulang dengan siapa, mereka harus saling menyerang. " Aku pulang bareng Nayla aja." Zara lebih memilih jalan tengah, dan Nayla lah yang dia pilih.
__ADS_1
Nayla yang sedari tadi melihat percakapan Adhi dan Atta, tahu bahwa mereka berdua sedang memperebutkan mengantar Zara. Tapi dia patut bersyukur, karena Zara memilih dirinya untuk mengantar pulang. "Iya, bisa Zara sama aku aja, " timpal Nayla.
Akhirnya Adhi dan Atta tidak ada pilihan lain lagi. Akhirnya mereka mengiyakan permintaan Zara. Mereka berempat pun berpisah, Atta, Zara, dan Nayla menuju parkiran. Sedangkan Adhi berlalu ke ruangab Daffa, karena memang dari awal dia mau menemuinya.
Sampai di parkiran Atta, Zara dan Nayla juga berpisah menuju mobil masing-masing.
"Sepertinya Bang Atta suka sama kamu ra." Nayla yang menyetir mencoba membahas Atta sebagai obrolan.
Zara langsung menoleh pada Nayla saat Nayla mengatakan hal itu. " Perasaan kamu aja kali nay, " elak Zara.
"Kamu itu nggak tahu atau pura-pura nggak tahu sih ra. Kamu nggak lihat sorot mata Bang Atta terlihat suka sama kamu." Nayla menatap Zara sebentar pada Zara, dan kembali ke kemudinya saat bicara.
Zara mencerna baik-baik ucapan Nayla. Dirinya memang menyangkal apa yang di lihatnya, karena dia merasa tidak mau terlalu besar kepala menyimpulkan orang menyukainya.
"Lalu apa kamu menyukai Bang Atta?"
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya Zara heran.
"Iya, kalau kamu suka, berarti kalian bisa jadian, karena kalian saling menyukai."
"Sebenarnya apa maksud Nayla, dia seperti sedang berusaha menjodohkanku dengan Bang Atta."
"Aku nggak tahu nay." Zara memilih tidak menyangkal atau mengiyakan pertanyaan Nayla.
Zara langsung membulatkan matanyanya, dia benar-benar tidak percaya Nayla akan mengatakan hal itu.
"Kalau sampai Fira hamil, ada kemungkinan kamu akan tetap di kantor Adhi. Jadi kalau kamu menerima Bang Atta, aku rasa itu lebih baik."
Zara hanya bisa diam mendengar ucapan Nayla. Dirinya tidak tahu kenapa bisa Nayla merasa dirinya penghalang Adhi.
Zara sama sekali tidak bisa menanggapi ucapan Nayla sama sekali, rasanya lidahnya kelu saat mendengar temannya yang dulu diam dan malu-malu, berubah menjadi sosok lain.
"Terimakasih nay," ucap Zara pada Nayla seraya membuka pintu, sesaat mobil Nayla sampai di depan rumahnya.
"Aku harap kamu pertimbangin untuk jadian sama Bang Atta ra." Nayla menekankan ucapanya pada Zara.
Zara yang tadinya hendak membuka pintu mobil, berhenti sejenak mendengarkan ucapan Nayla. "Aku akan pertimbangkan." Zara berucap seraya membuka pintu dan berlalu masuk ke dalam rumah.
****
"Kamu sudah bangun?" tanya Jeje yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Fira yang baru saja mengerjap melihat suaminya masuk ke dalam kamar. "Apa aku tidur terlalu lama?" Setelah makan siang tadi Fira memang memilh untuk tidur, dia merasa selalu mengantuk.
Jeje hanya tersenyum. "Kamu butuh banyak istirahat," ucapnya seraya menghampiri istrinya. "Kamu mau menghubungi mama dan ibu?" tanyanya saat sudah duduk di samping Fira.
__ADS_1
Fira pu mengangguk dan tersenyum. Dia pun merasakan tidak sabar menghubungi ibu dan mertuanya.
Jeje langsung mengambil ponselnya dan menekan nomer Bu Ani. karena Fira meminta ibunya yang lebih dulu di hubungi.
Setelah di hubungi ibunya. Bu Ani sangat senang mendengar Fira hamil. Banyak doa yang di panjatkan ibunya.
Fira dan Jeje pun mematikan sambungan telepon, dan beralih ke menghubungi mama Inan.
"Halo, je." Suara yang terdengar pertama kali oleh Jeje dan Fira. "Ada apa kamu menghubungi mama?" Mama Inan melanjutkan dengan pertanyaan.
"Jeje mau mengabari kalau Fira hamil ma."
"Apa," pekik Mama Inan. Dan membuat Jeje menjauhkan ponselnya, karena suara mamanya begitu menyakitkan telinganya.
"Kamu beneran kan je," ucap mamanya memastikan kembali, apa yang di katakan oleh Jeje.
"Iya ma, Fira hamil, kita tadi pagi baru saja ke rumah sakit."
"Mana Fira?, Mama mau bicara sendiri sama Fira."
Jeje yang mendengar mencebikan bibirnya, dia merasa kesal saat mamaya tidak percaya apa yang di katakannya. Jeje pun menghidupkan loudspeaker pada ponselnya. Supaya Fira mendengar ucapan mamanya. "Halo ma, "ucap Fira.
"Fir, bener kamu hamil?" tanya Mama Inan pada Fira.
"Iya ma, Fira sedang hamil."
Jeje memutar bola mata malas mendengar pertayaan mamanya. "Mama tidak percaya dengan ku."
"Ya sudah besok mama akan kesana ya. Mama mau bertemu kamu langsung."
Fira yang mendengar Mama Inan akan ke rumah, hanya bisa mengiyakan. Dirinya tahu, mertuanya begitu tidak sabar ingin bertemu dengan dirinya.
.
.
.
.
.
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
Mampir juga ke karya lain ku dan instagram aku Myafa16
__ADS_1