Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Bertemu teman


__ADS_3

Setelah kepergian Adhi dan Zara. Jeje bersama dengan Reza makan siang di restoran Daffa. Tadinya Jeje berniat untuk pulang dan menemani Fira makan siang. Tapi saat Fira mengabari kalau ada Adhi dan Zara datang, akhirnya Jeje memutuskan untuk tidak pulang.


"Saya akan menemui Daffa sebentar," ucap Jeje pada Reza, sesaat setelah selesai makan.


"Baik Pak."


Jeje melangkah menuju ke ruangan Daffa. Dia memilih keluar dari restoran, dan masuk ke kantor Daffa melewati pintu utama.


Jeje di persilahkan masuk, setelah karyawan Daffa mengetuk pintu dan memberitahu Daffa.


"Hai bro," sapa Daffa saat melihat Jeje masuk ke dalam ruangan.


"Hai apa kabar loe?" tanya Jeje seraya menarik kursi, dan duduk tepat di hadapan Daffa.


"Seperti yang loe lihat. Gue sibuk di kantor sama di rumah."


Saat mendengar ucapan Daffa yang sibuk di rumah, Jeje teringat dengan Tania yang sedang hamil. "Tania udah berapa bulan kehamilannya?"


"Tania udah jalan 4 bulan," jawab Daffa.


"Udah nggak mual?" tanya Jeje penasaran.


"Mulai masuk ke 4 bulan udah berhenti mual," ucap Daffa. "Fira udah hamil?" tanya Daffa pada Jeje.


"Iya, Fira hamil 4 minggu, " ucap Jeje pada Daffa.


"Mual?" tanya Daffa ingin tahu.


"Iya," ucap Jeje. "Dan sekarang dia lagi mual cium parfum gue." Jeje langsung menghela nafasnya, mengingat bagiamana Fira muntah karena bau parfum miliknya.


Daffa langsung tertawa, mendengar cerita Jeje. "Itu baru awal," goda Daffa.


Jeje langsung menatap penuh tanya. "Maksudnya?"


"Tania dulu awal hamil mual lihat nasi. Akhirnya dia susah buat makan. Gue ampek pusing mikir buat makan dia. Terus gue harus ganti shampo, karena katanya bau shampo punya gue buat dia mual. Belum lagi yang tiba-tiba dia minta makan, yang susah di dapat." Daffa menceritakan kehamilan istrinya yang begitu membuatnya kewalahan.


Jeje hanya bisa menelan ludahnya kasar. Dia tidak bisa membayangkan Fira akan sama seperti Tania, atau malah akan lebih parah dari Tania.


"Jangan takut begitu," ucap Daffa yang melihat raut wajah Jeje yang berubah. "Nikmati aja, itu nggak akan sebanding dengan kebahagiaan yang akan kita dapat, kalau anak kita lahir."


Jeje mengagguk mendengar ucapan Daffa. Rasanya memang benar apa kata Daffa, jika akan lebih bahagia saat nanti dirinya melihat Jeje junior lahir.


"Gua udah lama nggak ketemu Atta, kemana aja dia?" tanya Jeje saat menginggat satu temannya yang tidak pernah muncul.


"Cari dia gampang, tinggal cari dia di bar pasti ada," ucap Daffa seraya tertawa. "Tapi bolehlah kita cari dia malam ini. Rasanya gue dah lama nggak kesana."


Jeje menimbang-nimbang tawaran Daffa. Rasanya memang sudah lama sekali mereka bertiga tidak berkumpul. "Boleh juga, nanti kita langsung ketemu disana." Akhirnya Jeje menerima tawaran Daffa.


**


Reza yang menunggu Jeje menemui Daffa harus sabar dengan ponselnya yang dia mainkan dari tadi. Rasanya atasannya itu betah sekali berbincang dengan temannya, hingga belu mengajaknya kembali ke kantor.


Saat sedang asik memainkan ponselnya. Reza mendengar suara wanita memanggil namanya. "Pak Reza."


Reza pun menoleh saat namanya di sebut. "Nona Celia," ucapnya saat melihat siapa wanita tersebut.


Celia langsung menarik kursi di depan Reza, saat mendapati Reza berada di restoran Daffa. "Pak Reza sedang apa disini?"


"Saya sedang menunggu atasan saya Nona."


Celia mengangguk mengerti. "Terimakasih untuk bantuannya mengurus perpindahan surat-surat apartemen saya," ucap Celia pada Reza. Celia yang membeli apartemen melalui Reza, meminta tolong pada Reza untuk mengurus semua surat-surat pemindahan kepemilikan apartemen miliknya.


"Apa pengacara saya sudah memberikan surat-suratnya?" tanya Reza memastikan.


"Sudah."


Reza bersyukur karena semua urusan penjualan apartemen Presdirnya telah selesai. "Bagiamana, apa Nona Celia betah tinggal di apartemen baru?"


"Iya, saya sudah tinggal di apartemen baru ini. Lokasinya strategis dan nyaman," jawab Celia pada Reza.

__ADS_1


"Syukurlah kalau Nona Celia betah," ucap Reza. Saat Reza sedang berbincang dengan Celia. Ponselnya berdering karena ada pesan masuk. Reza pun mengambil ponsel di sakunya, dan mendapati pesan Jeje yang mengatakan bahwa dia menunggu di parkiran mobil.


"Maaf Nona Celia, saya harus kembali ke kantor terlebih dahulu." Reza yang mendapat pesan dari Jeje pun langsung berpamitan dengan Celia.


"Iya, silakan."


Reza langsung melangkah menuju parkiran mobil, meninggalkan Celia di restoran.


Sesaat setelah Reza datang. Reza langsung melajukan mobilnya menuju ke kantor kembali.


"Semua penjualan apartemen milik Pak Gajendra sudah selesai saya urus semua Pak." Reza yang sedang menyetir, memberitahu pada Jeje perihal apartemen yang di urusnya.


"Terimakasih za," ucapnya pada Reza. " Ambilah sepuluh persen dari penjualan apartemen itu untuk mu, dan sisanya tolong kamu transfer ke rekening Fira." Jeje melanjutkan ucapannya pada Reza.


Reza membulatkan matanya saat mendengar bahwa penjualan apartemen di berikan pada dirinya. "Apa tidak terlalu banyak Pak sepuluh persen dari penjualan?" Reza yang merasa nominal dari sepuluh persen, terlalu banyak akhirnya memilih bertanya.


"Anggap lah hadiah dari aku dan Fira, atas pernikahan kamu dan Valeria. Semoga uang itu bisa kalian pakai untuk kebutuhan kalian."


"Terimakasih banyak Pak." Reza yang merasa senang, berterima kasih pada Jeje. Dia benar-benar merasa beruntung mendapat hadiah berupa uang yang dia dapat dari Jeje.


Sesampainya di kantor Jeje langsung menuju ke ruangannya untuk mengerjakan perkerjaanya. Dan Reza kembali ke meja kerjanya, untuk menyelesaikan tugasnya, mengirim uang penjualan pada rekening istri Presdirnya.


"Kamu tadi makan siang dimana? kenapa lama sekali?" tanya Valeria yang menghampiri meja kerja Reza, saat Reza sudah datang.


"Aku dan Pak Gajendra makan di restoran teman Pak Gajendra. Dan tadi aku menunggu Pak Gajendra menemui temannya terlebih dahulu, " jelas Reza pada Valeria.


"Pantas lama sekali." Valeria yang sudah selesai makan siang di kantin kantor, tidak mendapati Reza dan Jeje saat kembali. "Kamu sedang mengerjakan apa?" tanya Valeria sedikit mengintip layar laptop milik Reza.


"Pak Gajendra meminta aku untuk mengirim uang penjualan apartemen ke rekening Nona Zhafira," jelasnya pada Valeria. " Apa kamu tahu, Pak Gajendra memberikan sepuluh persen penjualan apartemennya pada kita." Reza yang ingat akan hadiah dari atasannya pun memberitahu Valeria.


Kedua bola mata Valeria membulat sempurna. Dia tahu betul beberapa hari ini, Reza yang mengurus penjualan apartemen Jeje. Dan dia tahu betul harga apartemen mewah milik Jeje. "Apa kamu tidak salah bicara?. Nilai sepuluh persen dari apartemen itu cukup besar?" tanya Valeria memastikan pada Reza.


"Aku juga sudah menanyakan hal itu pada Pak Gajendra. Dan dia bilang itu untuk hadiah pernikahankan kita."


"Rasanya aku benar-benar tidak percaya." Valeria mengungkapkan keterkejutannya dengan apa yang di dengar


Valeria mengingat bahwa mereka berdua sudah memilih rumah untuk mereka tinggal. Walaupun tidak sebesar rumah milik ayahnya. Tapi dia bersyukur Reza mampu membeli sendiri dari hasil kerjanya selama ini. "Baiklah aku ikut saja." Valeria pun hanya bisa mendukung keinginan Reza, untuk membeli rumah yang lebih besar.


***


Setelah perkerjaan Jeje selesai dia langsung pulang ke apartemen. Jeje yang sampai di apartemen pun langsung membuka pintu apartemen. Dan saat dia masuk, dia mencium aroma masakan yang menggelitik indra penciumannya. Jeje langsung menuju dapur, dimana sumber aroma itu berasal.


Dan sesampainya di dapur. Dia melihat Fira yang sedang sibuk memasak. " Kamu sedang apa sayang?" tanya Jeje yang melihat Fira sibuk di dapur. Sebenarnya tanpa Jeje bertanya, dia sudah melihat dengan jelas bahwa Fira sedang memasak. Tapi dia hanya ingin memastikan saja.


Fira yang mendengar ada suara langsung membalikkan tubuhnya. Dan dia mendapati Jeje yang berada di belakangnya. " Aku sedang membuat beef steak black pepper sauce," jelas Fira pada Jeje dengan semangat.


"Bukannya aku sudah bilang, kalau aku yang akan memasak, setelah pulang kerja." Jeje melangkahkan kakinya mendekat pada Fira. "Apa kamu lupa?" tanya menatap pada Fira.


"Aku tidak lupa , tapi tadi setelah melihat vidio cara memasak, aku langsung ingin memasak," jawab Fira yang merasa bersalah, karena tidak mendengarkan larangan Jeje.


Jeje menghela nafasnya. Dia mengingat bahwa Daffa bilang untuk menikmati setiap keinginan Fira. "Baiklah, aku mengizinkanmu untuk memasak, tapi jagalah kondisimu agar tidak terlalu lelah," ucap Jeje seraya menangkup pipi Fira dengan kedua telapak tangannya.


Fira yang mendapat izin dari Jeje, langsung berbinar. "Sekarang mandilah, aku akan menyiapkan makanan untuk mu," pinta Fira pada Jeje.


Jeje pun mengangguk, dan melangkah menuju ke dalam kamar. Sesampainya di dalam kamar dia membuka jasnya, dan membuka kancing lengan kemejanya. Sejenak Jeje mengendus tubuhnya yang hanya di balut kemeja. "Aku rasa tubuhku tidak bau," gumamnya setelah mencium aroma tubuhnya. "Tapi rasanya berat saat sudah terbiasa memakai parfum." Jeje yang hanya bisa bersabar saat kehamilan Fira seperti ini.


Setelah selesai memberisihkan diri, Jeje langsung keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Dia langsung menarik kursi dan duduk tepat di samping istrinya.


Jeje melihat menu makanan yang di masak oleh Fira yang begitu mengiurkan rasanya. Setelah Fira menyajikannya di piring. Jeje langsung memasukan makanan ke dalam mulutnya. Menikmati sensasi yang di ciptakan oleh makanan yang di masak Fira.


"Bagaimana rasanya?" tanya Fira pada Jeje. Fira yang hanya berbekal vidio yang di lihatnya, mencoba memasak makanan itu.


"Enak," ucap Jeje setelah merasakan masakan Fira.


Kedua mata Fira langsung berbinar, saat mendengar pujian dari Jeje. Fira sangat merasa senang saat masakan tidak mengecewakan.


Akhirnya Fira dan Jeje melanjutkan makan mereka. Jeje yang merasa masakan Fira enak pun memakan dengan lahap. "Aku ingin bertemu dengan Daffa dan Atta nanti setelah makan. Apa kamu keberatan jika aku tinggal?" Ucap Jeje saat mereka sedang makan.


Fira menoleh saat Jeje meminta izin padanya. Fira baru ingat, Jeje jarang sekali Jeje bertemu dengan teman-temannya sejak dia menikah. "Pergilah," ucapnya pada Jeje. "Aku juga akan tidur lebih awal, jadi kamu tidak perlu khawatir."

__ADS_1


"Terimakasih sayang, aku janji akan. Segera pulang."


Setelah mendapat izin Fira, Jeje menemani Fira hingga tertidur terlebih dahulu sebelum dia meninggalkan Fira untuk menemui temannya.


Saat Fira sudah tertidur. Jeje langsung bersiap-siap untuk menuju bar tempat Atta biasa disana.


**


Di sebuah bar Atta sedang menikmati minumannya, di temani oleh teman wanitanya. Saat sedang asik, bersama dengan teman wanitanya, pintu terbuka. Atta melihat Jeje dan Daffa yang sedang membuka pintu. " Hai bro, akhirnya bapak-bapak muda datang kemari juga," goda Atta pada Daffa dan Jeje.


Jeje dan Daffa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Atta yang sedang minum seraya bermesraan dengan wanita.


"Loe ya nggak berubah," ucap Daffa seraya meleparkan bantal sofa yang di lihatnya saat Atta sedang bercumbu dengan seorang wanita.


Atta yang di lempar bantal langsung mengelak. "Ini nikmat dunia bro, mumpung belum nikah, gue puasin dulu," elak Atta pada Daffa. Atta langsung beralih pada wanita yang dari tadi di cumbunya. "Pergilah dulu sayang," ucapnya meminta wanita itu pergi.


Wanita yang itu pun mengecup Atta di bibir, sebelum dia berdiri, dan melangkah meninggalkan Atta bersama dengan teman-temannya.


"Wanita mana yang mau sama loe yang model begitu ta," cibir Jeje yang melihat Atta bercumbu dengan wanita di bar.


Atta langsung tergelak saat mendengar cibiran Jeje. "Gue nggak perduli lagi mau dapat yang seperti apa," ucap Atta yang malas seraya menenggak minumannya.


Daffa dan Jeje saling pandang saat mendengar ucapan Atta yang nampak berbeda.


"Loe nggak lagi putus cinta kan?" tanya Daffa memastikan.


Atta hanya melirik tajam pada Daffa yang duduk di sebelahnya. "Baru kali ini gue di abaikan wanita. Dia benar-benar nggak mau balas pesan gue." Atta yang mengingat Zara yang tidak pernah membalas pesannya merasa benar-benar frustasi.


"Kayaknya loe jatuh cinta sampai sebegitu frustasi, hanya dia nggak balas pesan dari loe." Jeje yang tidak mau kalah dari Daffa mengoda Atta.


"Gue cuma penasaran aja sama dia," elak Atta.


"Terus kalau loe dah dapat dan penasaran loe dah hilang, loe tinggal begitu aja?" tanya Daffa yang mengingat bahwa Atta, selalu mengakhiri hubungan dengan wanita saat dia tidak butuh.


"Tergantung," ucapnya menaikan bahunya.


"Tergantung sama yang di bawah, udah dapat belum ya," goda Daffa seraya tertawa.


Jeje pun ikut tertawa. " Awas loe kena penyakit kelamin, kebanyakan ganti-ganti," timpal Jeje.


"Sial loe pada," umpat Atta yang melihat temannya hanya mengodanya. "Loe jarang-jarang ketemu gue, bukannya menghibur, malah ngeledek," kesal Atta.


"Bukannya hiburan loe di ranjang di lantai atas." Daffa tahu bahwa Atta sering melakukan **** dengan wanitanya di kamar yang tersedia di bar.


Atta langsung tertawa mendengar temannya yang tahu betul yang dia kerjakan. "Kalian aja yang nggak pernah mau mencoba."


"Mana enak di lakukan tanpa cinta," jawab Jeje.


"**** itu butuh nafsu nggak butuh cinta," cibir Atta.


"Tapi wanita butuh cinta buat menyerahkan dirinya, " ucap Jeje. Kecuali wanita yang loe bayar kayak yang tadi." Jeje melanjutkan dan mengingatkan wanita yang baru saja keluar dari tempat mereka bertiga.


Atta hanya acuh mendengar ucapan Jeje. Baginya menikmati hidup adalah dengan bersenang-senang dengan wanita.


Akhirnya mereka bertiga melanjutkan dengan berbincang seraya memesan minuman. Dan dari mereka bertiga hanya Atta yang minum minuman beralkohol, sedangkan Jeje dan Daffa memilih minuman tidak beralkohol.


.


.


.


.


.


Jangan lupa berikan like dan vote🄰


Mampir juga ke karya istagram aku Myafa16

__ADS_1


__ADS_2