
Setelah seharian kemarin menghabiskan waktu berdua di rumah dengan Jeje, hari ini Fira sudah mulai berkerja kembali. Fira merasa tidak enak pada Adhi, karena meninggalkan perkerjaannya tiga hari. Dengan semangat Fira berangkat pagi ini. Setelah tadi pagi Jeje mengantar Fira ke kantor, Fira sudah di depan mejanya dengan beberapa tumpukan dokumen.
Terdengar langkah kaki dari arah lift yang mengarah ke ruangan Adhi. Fira menoleh dan mendapati Adhi lah yang baru saja datang.
"Pagi" sapa Fira
"Pagi fir" sapa Adhi pada Fira, "Sudah selesai main petak umpetnya" goda Adhi pada Fira, yang mengingat kepergian Fira, dan ternyata hanya ada di apartemen sebelah.
Pipi Fira langsung merona merah, menahan malu pada Adhi.
"Maafkan aku meninggalkan perkerjaan dhi" permintaan maaf langsung terlontar dari Fira saat dia mengingat kepergiannya dari apartemen yang di bahas Adhi.
"Sebagai teman aku memaklumi permasalahaanmu, tapi sebagai atasan aku kecewa kamu meninggalkam perkerjaanmu, dan aku berharap kejadian ini tidak akan terulang kembali"
Fira yang mendengar ucapan Adhi, paham betul bahwa Adhi adalah sosok yang baik sebagai teman, tapi berubah jadi sosok yang tegas saat menjadi atasannya.
"Baik, aku tidak akan mengulangnya kembali" Fira mengiyakan ucapan Adhi yang berharap dia tidak akan mengulanginya.
"Sudah berkali-kali aku katakan, kamu punya aku atau Zara yang akan mendengarkanmu saat kamu butuh, jadi jangan pernah memilih pergi"
__ADS_1
"Aku sudah jelaskan, aku tidak pergi, aku hanya pindah tidur di apartemen sebelah" elak Fira mengingatkan kalau dia hanya berada di apartemen sebelah.
Adhi hanya mengelang kepalanya mendengar ucapan Fira, "Ya, berarti salah kami yang mencarimu mengelilingi kota, tapi nyatanya kamu hanya di apartemen sebelah begitu?" tanyanya sedikit menyindir.
Fira hanya tersenyum menampilkan deratan giginya, sedikit mengiyakan penuturan Adhi, bahwa merekalah yang salah karena tidak mencari di tempat terdekat terlebih dahulu, "Kemana saja kamu mencariku?" tanya Fira yang ingat kalau Adhi mencarinya juga.
"Di daerah kampus, dan di tukang bubur"
Fira mendengar penjelasan Adhi, membuat Fira keheranan, "Ke tukang bubur?" tanyanya memastikan, dan Adhi mengangguk.
"Ach..itu hanya modus kamu aja, mana ada mencari orang hilang di tukang bubur, kamu pikir saat pikiranku sedang kalud, aku akan makan bubur begitu?"
"Dari tawamu itu, aku bisa menyimpulkan, kalau kepergianku sedikit memberimu jalan untukmu mendekatinya" Mendekati yang di maksud Fira adalah mendekati Zara. Fira tahu Adhi pasti memanfaatkan moment kepergiannya.
"Tapi sayangnya waktunya hanya sebentar, karena perkerjaanku menantiku" jelas Adhi sedikit menyesali karena harus meninggalkan Zara untuk kembali ke kantor.
"Tapi lain kali, pergi lah lagi. Tapi beritahu aku dulu sebelum kamu pergi" Adhi mengoda Fira dan memberikan ide.
"Kamu menyuruhku untuk berdrama?, sepertinya sekarang kamu sudah mulai pandai membuat drama" sindir Fira
__ADS_1
"Haha..kamu tahu selain aku belajar bisnis dari bang Jeje, aku belajar berdrama darinya" Adhi tergelak mengingat dari mana dia belajar berdrama.
Fira yang mendengar hanya menajamkan tatapan pada Adhi.
"Baiklah tuan Adhi, kita akhiri drama pagi ini, dan masuklah untuk berkerja" Fira mendorong Adhi ke dalam ruangannya.
**
Perkerjaan yang menumpuk akibat mencari Fira, membuat Jeje harus lebih extra berkerja beberapa hari ke depan. Terlebih lagi Jeje harus lebih cepat menyelesaikan pekerjaanya, sebelum hari pesta pernikahannya.
Tok..tok..
"Masuk!!" seru Jeje.
Reza yang mengetuk pintupun masuk setelah Jeje mempersilahkan untuk masuk.
"Apa bapak perlu bantuan?" tanya Reza sesaat setelah masuk. Tadi memang Jeje menghubungi Reza untuk masuk kedalam ruanganya.
"Ambilah undangan pesta pernikahanku di rumah orang tua ku. Dan bagikan undangan pesta pernikahanku pada karyawan, dan beberapa kolega ku" Jeje menjelaskan tujuannya memanggil Reza.
__ADS_1
"Baik pak"