
Sesampainya Jeje kembali ke negaranya. Jeje menemui mamanya. Tapi sebelumnya dia sudah menghubungi seseorang untuk menyelidiki semuanya.
Jeje menanyakan pada mamanya, apa benar mamanya yang mengirim Fira tinggal di rumah Tante Ayu, dan mamanya mengiyakan semuanya.
"Je, mama hanya mau kamu bahagia."
"Bahagia?"
"Bahagia seperti apa yang mama pikir?"
"Bahagia dengan menikah dengan Ana?"
Pertanyaan yang terlontar dari Jeje membuat mamanya diam membeku
"Kalau mama memang mau aku menikah dengan Ana, aku akan menikah dengan Ana ma," ucap Jeje menatap dalam pada mamanya.
"Tapi Jeje mohon jangan ganggu Fira lagi ma, biarkan Fira bahagia dengan hidupnya." Jeje memeluk mamanya menumpahkan air matanya di pelukan mamanya, dia benar-benar merasa bersalah karena membuat Fira menderita dan tinggal di negara orang.
"Je, maafkan mama je." mama Jeje mengelus punggung Jeje, mamanya mengerti bagaimana anaknya selama ini mencari Fira, mamanya sebenarnya tahu anaknya begitu mencintai Fira, tapi keputusannya sudah terjadi, Jeje sudah harus menikah dengan Ana, dan tidak mungkin mamanya memutuskan karena keluarga Ana pasti akan kecewa.
"Aku akan bahagia dengan cara mama." Jeje melepas pelukannya.
"Ayo ikut Jeje ma." Jeje menarik tangan mamanya lembut.
"Mau kemana je, ini udah malam," tolak mama Inan
"Aku akan beritahu kebahagiaan yang mama maksud."
Jeje mengambil kunci mobil dan membuka kan pintu mobil untuk mamanya, dia langsung meminta mamanya untuk masuk. Setelah mamanya masuk, Jeje pun masuk ke dalam mobil Juga. Dia langsung melajukan mobilnya. Sepanjang jalan mama Jeje bertanya, mau kemana sebenarnya tapi tidak ada jawaban dari Jeje.
Sampai Jeje berhenti di depan sebuah bar terkenal di kota tempat tinggalnya.
Mama Inan yang melihat Jeje berhanti di depan bar, tidak habis pikir kenapa anaknya membawanya kesini.
"Kamu kenapa bawa mama kesini je?" Tanya mama Inan tak terima di bawa ke bar oleh Jeje.
__ADS_1
"Aku mau tunjukin kebahagiaan ma."
"Kamu jangan gila ya je, bawa mama kesini," ucap mama Jeje marah.
"Udah ayo turun ma, lihat dulu aku bahagia."
Walaupun masih begitun kesala, akhirnya mama Inan mau tidak mau mengikuti anaknya. Jeje mengajak mamanya masuk ke dalam bar.
Mamanya memang bukan orang awam yang tidak tahu isinya bar ada apa saja, tapi untuk ukuran usianya sekarang serasa tidak pantas dia kemari.
"Mama tunggu disini ya." Jeje menyuruh mama Inan duduk kursi.
"Berikan aku Mocktail dan cocktail," ucap Jeje pada pelayan.
"Je, kamu apa sih bawa mama kesini," mama Jeje penasaran, untuk apa Jeje membawanya.
"Udah tunggu aja."
Jeje mengedarkan pandangan mencari wanita untuk di tunjukan kepada mamanya, bahwa itu adalah kebahagiaanya. Akhirnya setelah beberapa saat, dia menemukan wanita yang di carinya. Di lihatnya dari ke jauhan seorang wanita keluar dari lantai dansa, dengan memeluk seorang pria.
"Siapa je?" Mama Inan masih mencari-cari arah yang yang di maksud oleh Jeje. Karena bar begitu ramai, jadi mamanya susah menemukan mana yang di tunjuk Jeje.
"Itu yang pakai baju merah yang seksi." Jeje mengatakan seksi dengan membuat siluet badan dari tangannya.
"Ana." seketika mama Inan kaget, mendapati wanita yang di maksud Jeje adalah Ana. Tapi lebih kaget lagi saat melihat Ana sedang berpelukan dengan seorang pria. Bahkan tidak cuma pelukan tapi ciuman dengan pria itu.
"Itu ma baru bahagia." Senyum licik dari Jeje.
"Ayo kita samperin dia je," ajak mama Inan kesal melihat calon menantunya seperti itu. Dia tidak menyangka, akan melihat pemandangan Ana bercumbu dengan seorang pria di bar.
"Nggak usah ma, kita lihat dari sini dulu, mumpung gratis pemandangannya, kapan lagi mama lihat calon mantu ahli dalam bercinta, jadi kan Jeje nggak perlu ajarain lagi ma," Jeje mengoda mamanya, dengan senyum penuh mengoda.
"Kamu tu lho, emang kamu mau punya istri kayak gitu?" Tanya mama Inan kesal, melihat anaknya yang masih mau dengan wanita seperi itu.
"Kan mama yang mau, Jeje kan ikutin aja," sindir Jeje, mengingatkan bahwa semua pernikahan adalah keinginan mamanya.
__ADS_1
"Ich mama nggak mau punya mantu begitu, mending Fira lah je, mama tahu dari kecil Fira gimana," mama Inan mengucupkan kata-kata yang dia sendiri tidak sadari ucapkan, karena terbawa oleh suasana kesal.
Jeje yang mendengarnya tersenyum senang, dia tidak menyangka, nama Fira lah yang akan terucap dari mamanya.
"Jadi mama milih Fira ni?" Tanya Jeje memastikan lagi ucapan mamanya.
"Iyalah, dari pada wanita macam begitu." Mama Jeje menunjuk Ana dan bergidik ngeri.
Jeje serasa mendapat undian, saat mamanya lebih memilih Fira. Baginya tidak sia-sia dia membawa mamanya melihay Ana. "Ya sudah kita pulang," ajak Jeje mengakhiri pertunjukan yang dia buat untuk mamanya.
Mama Inan mengerutkan keningnya, "Kok pulang je?" tanyanya bingung.
"Emang mama mau ngapain lagi, mama mau menari di situ," ucap Jeje tanpa dosa sambil menunjuk lantai dansa yang berada di depannha.
Mama Inan membulatkan matanya saat Jeje menunjuk lantai dansa. "Anak kurang ajar ya kamu." Mama Inan memukul lengan Jeje, karena kesal mendapatkakan godaan dari Jeje.
Jeje hanya diam saja saat mamanya memukulnya, niat nya mengoda malah berbalas pukulan dari mamanya. "Iya ma, maaf terus mama mau apa?"
"Mama mau samperin wanita kurang ajar itu." geram mama Inan. Dia benar-benar tidak akan menyia-nyiakan untuk membuat Ana benar-benar menyesal telah mempermainkan putranya. Dia juga ingin tahu, bagaimana reaksi Ana melihat calon suami dan calon mertuanya ada di tempat yang sama.
"Nggak usah ma, besok aja kita ke rumahnya kasih tahu orang tuanya. Jeje udah ada banyak bukti kok, kalau mama kesana sekarang nggak akan seru. Dia itu licik, nanti kita kalah sebelum perang kalau lawan sekarang," jelas Jeje.
"Emang gitu ya?" Tanya mama Jeje yang seolah bingung, kenapa Jeje harus menunggu terlebih dahulu.
"Udah nurut aja kata Jeje."
"Enak aja nurut-nurut, anak kecil kurang ajar"
"Ma aku dah 28 tahun bukan anak kecil," Jeje mencebikan bibirnya, kesal di bilang anak kecil oleh sang mama.
"Di mata mama kamu tu masih anak kecil mama," ucapnya sedikit menyindir Jeje.
"Udah anak kecil ayo pulang, nggak baik di bar." Mama Jeje langsung menarik lengan Jeje.
Jeje memutar bola mata malas. "Maksudnya anak kecil, yang bisa buat anak kecil gitu," gumam Jeje.
__ADS_1
Jeje tidak ada pilihan lain, selain mengikuti keinginan mamanya, yang berusaha menariknya untuk pulang ke rumah.