Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Pertama


__ADS_3

Fira yang melihat Jeje berjalan bersama dengan Tuan Edward begitu kaget, dia tidak menyangka Jeje mengejarnya sampai ke rumah Tuan Edward. Sejenak Fira menatap Jeje dengan sendu, rasanya masih sakit saat Jeje tak mempercayainya, dan malah balik menuduhnya.


Jeje pun menatap Fira dengan kebencian. Selama ini dia merasa begitu mencintai Fira , tapi Fira menusuknya dari belakang. Jeje mengingat dengan benar, bagaimana tadi dia dalam dekapan Adhi.


Lebih sakit lagi saat Fira menuduh mamanya yang yang membuatnya sampai sejauh ini, tapi nyatanya Adhi lah yang membawa Fira.


"Mari Tuan Gajendra, silahkan masuk," Tuan Edward mempersilahkan Jeje untuk masuk ke dalam rumah.


Melewati Adhi dan Fira, Jeje melangkah mengikuti Tuan Edward.


Sorot mata Jeje tak lepas dari pandangan ke Fira. Fira pun yang menyadarinya, hanya membuang ke lain arah menahan tangisnya lagi. Dia tak mau Jeje melihatnya terluka.


Saat berjalan ke dalam rumah Tuan Edward melihat Adhi yang masih diam di tempat, "Dhi, kamu nggak masuk," tegur Tuan Edward.


"Ya bentar om, aku mau ambil koper dulu," menatap melihat Tuan Edward, dan berjalan mengambil koper.


Tapi sebelum melangkah mengambil koper Adhi berbalik pada Fira, "Kamu hutang penjelasan sama aku ya fir."


Fira yang mendengar ucapan Adhi, hanya tersenyum kecil, dan masuk ke dalam rumah melewati pintu samping.


Jeje dan Tuan Edward berjalan beriringan, sedangkan Adhi berjalan tepat di belakang mereka.


Nyonya Ayu yang sudah di depan pintu berniat menyambut suaminya, begitu kaget saat melihat Jeje di rumahnya. Sejenak dia mengingat kalau Fira ada disini, "Bagaimana kalau Jeje lihat Fira" batin ayu.


"Je, kamu disini?" tanya nyonya Ayu canggung, saat Jeje tepat di hadapannya.


"Ya tante," jawab Jeje singkat.


"Tuan Gajendra ada kerjasama sama papa ma," Tuan Edward menjelaskan kepada Nyonya Ayu yang kaget karena melihat Jeje, dan di balas dengan jawaban anggukan saja dari nyonya Ayu.

__ADS_1


Nyonya Ayu melihat ke belakang tubuh Tuan Edward, dia langsung membulatkan matanya melihat seorang pria yang sedang menarik koper, yang berdiri di belakang suaminya


"Adhi" seru Nyonya Ayu, dan langsung berjalan melewati suaminya untuk memeluk anaknya.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau mau kesini?, akhirnya kamu mau kesini juga, mama nggak nyangka kalau kamu mau kesini," Nyonya Ayu tak berhenti berbicara mengungkapkan keterkejutannya sambil membelai pipi putranya. Rasanya dia begitu senang memihat Adhi mau ke rumahnya.


Tuan Edward yang melihat pemandangan itu pun hanya bisa mengeleng, "Maaf ya Tuan Gajendra, istri saya terlalu senang melihat putranya pertama kali datang ke sini," bisik Tuan Edward malu melihat istrinya tak berhenti berbicara.


"Pertama?" batin Jeje bingung dengan yang di dengarnya. Dia masih belum bisa memahami kata pertama yang di maksud oleh Tuan Edward.


"Ya ma, maaf Adhi nggak kabarin, Adhi juga baru sempat karena nunggu bang Daffa pulang bulan madu dulu" jelas Daffa pada mamanya.


"Nggak apa-apa, yang penting kamu udah mau ke sini, mama sudah senang," Nyonya Ayu tak henti-hentinya merasa senang.


"Ya, sudah ma ajak Adhi masuk," tegur Tuan Edward yang melihat istrinya masih sibuk dengan keterkejutannya, "Mari Tuan Gajendra," Tuan Edward pun mempersilahkan Jeje masuk.


Akhirnya mereka semua sudah masuk ke dalam rumah, dan duduk di ruang keluarga.


Setelah mengobrol, Tuan Edward meminta untuk Jeje tidak pulang terlebih dahulu, dan mengajak untuk makan malam dulu di rumahnya, Jeje pun tidak bisa menolaknya.


Nyonya Ayu menyiapkan makanan dan di bantu Bibi Cristina. Nyonya Ayu sudah tahu kalau Fira sudah bertemu dengan Jeje di kantor, dari kesimpulan cerita suaminya. Dan Nyonya Ayu meminta Fira dan Bu Ani tidak keluar membantu, agar suasana tidak cangung.


Setelah makan malam selesai, Jeje bersama Adhi dan tuan Edward mengobrol.


Sepanjang di rumah Tuan Edward, Jeje tidak melihat Fira dan Bu Ani sama sekali di keluar. Saat makan malam pun, Jeje melihat orang lain yang menyiapkan makan malam. Jeje berfikri Fira memang menghindarinya.


"Besok jam berapa pesawatnya Tuan Gajendra?" tanya Tuan Edward.


Jeje yang masih memikirkan Fira kenapa tidak keluar di kagetkan dengan pertanyaan Tuan Edward.

__ADS_1


"Panggil Jeje saja Tuan, biar lebih enak, kebetulan jam sepuluh Tuan, besok keberangkatnya," jelas Jeje.


"Kalau begitu panggil om aja je, lagian kamu temen Daffa dan Adhi juga."


"Baik om."


"Kamu bakal lama dhi disini?" tanya Jeje selidik pada Adhi. Jeje ingin tahu seberapa lama Adhi akan disini. Jeje sebenarnya was-was saat tahu Adhi disini , itu berarti waktu Adhi, akan banyak bertemu dengan Fira di banding dengannya.


"Belum tahu, kemungkinan lama bang," seragai licik Adhi. Adhi sengaja mengatakan lama karena dia ingin Jeje tau, kalau dirinya akan berusaha mendekati Fira.


"Dia sudah berniat rupanya," Jeje menahan kesalnya halam hati. Ada rasa kesal mendapati Adhi akan lama.


"Om akan senang kalau kamu lama dhi, apa lagi kalau kamu mau ke kantor belajar bisnis," timpal Tuan Edward.


"Oh ke kantor ya om?" tanyanya seraya melirik ke arah Jeje, "Aku akan pertimbangkan om," seragai licik dari Adhi.


"Dia sengaja, membuatku cemburu," sepertinya dia ingin menunjukan bahwa dia bisa mendekati Fira.


Akhirnya setelah lama mengobrol Jeje berpamitan pada Tuan Edward dan nyonya Ayu. Adhi yang melihat Jeje berpamitan meminta izin pada Tuan Edward dan mamanya, untuk mengantar Jeje ke depan.


"Apa abang akan kembali besok?" tanya dhi saat mengantar Jeje ke luar dari rumah mamanya.


"Iya," jawab Jeje dengan ketus. Jeje tahu Adhi sengaja menanyakan itu, karena tadi dia sudah dengar sendiri bahwa dia akan pulang besok.


"Bagus kalau abang sudah cepat kembali, walau abang yang lebih dulu ketemu Fira, tapi aku pastikan kalau dia tidak akan kembali sama abang!" seru Adhi pada Jeje.


"Lebih dulu?" tanya Jeje dalam hati bingung.


"Jangan mimpi kamu," walau dengan kebingungan Jeje menutupi dengan kekesalannya, dia tidak mau terlihat kalah dengan Adhi.

__ADS_1


"Aku harap abang inget tunangan abang," sindir Adhi pada Jeje, dan dapat balasan tatapan tajam dari Jeje.


Ingin rasanya Jeje memukul Adhi saat itu juga, tapi mengingat ini di rumah Tuan Edward, Jeje urung melakukannya. Jeje langsung pergi meninggalkan rumah Tuan Edward, dengan kekesalannya dan tak mau menanggapi lagi ocehan Adhi.


__ADS_2