
Setelah menyelesaikan makan siangnya di sebuah restoran. Jeje mengajak Fira untuk kembali ke kantor. Mata Jeje yang fokus pada jalanan di depannya, sedikit melirik pada wanita yang berada di sampingnya. Jeje sebenarnya sudah menyadari perubahan sikap Fira sejak bertemu Celia. Tapi dirinya memilih untuk diam, dan tidak menegurnya.
Karena di liputi perasaan tidak nyaman, saat melihat Fira diam. Akhirnya Jeje memilih bertanya. "Kamu kenapa?" Jeje menoleh menatap Fira sekilas sebelum kembali pada kemudinya.
Fira yang sibuk dengan pikirannya, tersentak saat mendengar suara bass yang memberi dirinya pertanyaan. "Tidak," elaknya.
"Kamu tidak bisa berbohong padaku. Ada apa?" Manik mata Jeje menatap lekat pada Fira. Dirinya menyadari bahwa Fira sedang memikirkan sesuatu.
Terkadang sebuah ikatan menciptakan perasaan yang dapat terbaca, pikir Fira. Sekali pun dia mengelak, tetap saja Jeje bisa membaca pikirannya. "Aku hanya merasa canggung saat bertemu dengan Celia." Sejak mengetahui Celia adalah kekasih Jeje, ada rasa tidak nyaman yang melingkupi hatinya. Perasaan yang entah Fira sendiri tidak bisa artikan.
"Apa kamu mau pindah?"
Fira yang sedang menatap kosong jalanan, dia buat menoleh kembali, dengan pertanyaan Jeje. Dia benar-benar tidak menyangka jika Jeje akan mengatakan hal itu padanya. "Aku rasa tidak harus sejauh itu. Dia bukan penjahat yang harus di hindari bukan?"
"Kita tidak pernah tahu. Saat orang merasakan sakit hati, dia bisa saja menjadi penjahat bukan?"
Fira mencoba memahami baik-baik ucapan Jeje. Dalam hatinya hanya berpikir, Jeje lah yang sakit hati. Kenapa bisa Celia yang jadi penjahat. Sedikit lucu pikir Fira. "Aku rasa kamu terlalu berlebihan," ucap Fira. "
"Jangan paksakan dirimu, jika kamu tidak nyaman tinggal berdekatan dengan Celia."
"Aku tidak masalah, tinggal berdekatan dengan Celia."
"Baiklah, kalau itu keputusanmu." Jeje hanya bisa pasrah, saat Fira memilih untuk tetap tinggal di apartemen. "Tapi ingatlah, jika kamu tidak nyaman. Jangan pernah paksakan."
Fira mengangguk dengan yakin. Memberikan Jeje keyakinan, bahwa dirinya akan baik-baik saja, tinggal di apartemen.
Sesampainya di kantor, Jeje dan Fira di sibukkan dengan perkerjaan. Kedatang mereka yang siang, membuat mereka menyelesaikan perkerjaan yang tertunda.
Jeje yang masuk ke dalam ruangan, langsung memanggil Reza untuk menyiapkan dokumen, yang akan di bawa untuk bertemu klien. Sedangkan Fira membantu Valeria menyalin beberapa dokumen.
"Val," panggil Fira di sela-sela perkerjaanya.
Valeria yang sedang mengetik di atas keyboard, menghentikan jemarinya, dan beralih menatap Fira. "Apa?"
"Aku mau menanyakan sesuatu," ucap Fira dengan ragu-ragu.
Valeria yang melihat Fira sedikit merasa heran. Dari sorot mata Fira, Valeria bisa mengartikan bahwa yang akan di bicarakan Fira adalah hal penting.
"Apa Jeje dulu begitu mencintai Celia?" Entah kenapa Fira ingin sekali tahu. Walaupun dirinya yakin Jeje yang sekarang sangat mencintainya. Ada terbesit rasa takut, saat ada cinta yang pernah ada di dalam hati Jeje.
Valeria terkesiap dengan pertanyaan Fira. Valeria yang sudah cukup lama mengenal Jeje, tahu betul bagaimana dulu Jeje mencintai Celia. "Kalau kamu tanya, apa dulu Jeje begitu mencintai Celia, jawabanya iya," ucap Valeria.
Dada Fira seketika merasakan sesak, saat mendengar kenyataan bahwa Jeje begitu mencintai Celia.
"Tapi cintanya pada Celia tidak sebesar cintanya padamu," lanjut Valeria pada Fira.
Fira terkesiap mendengar ucapan Valeria. Seakan oksigen mulai masuk ke dalam paru-parunya, rasa sesak yang di rasakan Fira pun menghilang dengan perlahan.
"Aku mengenal Jeje cukup lama fir. Aku melihat dengan jelas, sorot mata Jeje penuh cinta, saat memandangmu. Dan aku tidak pernah melihatnya dulu saat memandang Celia."
Perasaan lega langsung menyelimuti hati Fira. Saat orang lain saja melihat cinta Jeje yang begitu besar untuknya, lalu kenapa dirinya meragukkannya.
"Percayalah, bahwa Jeje sangat mencintaimu lebih dari cinta yang pernah di rasakannya pada Celia." Valeria tersenyum, memberikan keyakinan pada Fira.
"Terimakasih Val," ucap Fira tersenyum membalas senyum Valeria.
Setelah mendengar ucapan Valeria, Fira merasa tenang. Rasanya dia tidak perlu takut lagi dengan masa lalu Jeje. Fira pun melanjutkan kembali perkerjaannya, setelah menerima jawaban daei Valeria.
**
Saat jam pulang kerja, Fira bersiap merapikan meja kerjanya. Jeje yang harus bertemu klien bersama Reza, mengharuskan Fira untuk pulang sendiri.
Jeje yang meminta Valeria mengantar Fira terlebih, membuat Fira pulang bersama Valeria.
"Maaf ya val, jadi kamu harus ke apartemen aku dulu." Fira sebenarnya kesal, pada Jeje, karena meminta Valeria mengantarnya lebih dulu. Jeje benar-benar memperlakukannya seperti anak kecil, yang tidak boleh kemana-kemana sendiri.
"Santai saja, fir. Lagi pula arah rumahku juga tidak jauh dari sini.
Setelah taxi sudah sampai di apartemen, Fira berterimakasih pada Valeria, dan keluar dari taxi. Dia melanjutkan langkahnya, menuju lift apartemen.
__ADS_1
Saat dia sedang menunggu lift terbuka, Fira langsung masuk saat lift terbuka. Tapi saat lift tertutup kembali, Fira mendengar teriakkan seseorang yang ingin masuk juga ke dalam lift. Fira pun langsung menekan kembali tombol lift, agar terbuka kembali.
"Terimakasih," ucap seseorang yang baru saja masuk.
Fira terkesiap saat melihat Celia lah yang baru saja masuk. "Sama-sama."
Celia merasa kaget saat ternyata orang yang berada di dalam lift adalah Fira. "Baru pulang?" Celia yang berdiri di samping Fira menoleh dan bertanya.
"Iya."
"Kenapa tidak pulang bersama Jeje?" Celia yang begitu ingin tahu menanyakan hal itu pada Fira.
Tapi belum sempat Fira menjawab, ponselnya berdering dan Fira langsung mengambil ponselnya di dalam tas. Saat melihat layar ponselnya, ternyata Jeje lah yang menghubunginya. "Halo," sapa Fira saat mengangkat sambungan telepon.
"Halo sayang," ucap Jeje yang menjawab sapaan Fira. "Sayang aku harus ke rumah mama sebentar ya, tadi mama menghubungi kalau dia ingin memberimu makanan, dan aku akan mengambilkannya untuk mu."
"Jadi kamu akan ke rumah mama?" Fira mencoba memastikan lagi pada Jeje.
"Iya, tapi aku akan segera pulang selepas dari rumah mama." Sebenarnya Jeje juga tidak mau berlama-lama.
"Baiklah."
"Oke kamu hati-hati. Kabari jika kamu sudah sampai."
Setelah mengiyakan ucapan Jeje. Fira langsung mematikan sambungan telepon, dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Celia yang mendengar pembicaraan Fira, menangkap bahwa Jeje tidak akan ke apartemen Fira, melainkan ke rumah mamanya. "Ternyata Jeje ke rumah mamanya," ucap Celia pada Fira.
"Iya."
"Sedih ya harus di tinggal sendiri?"
Mendengarkan pertanyaan Celia, sebenarnya Fira bingung. Dalam hatinya, Jeje hanya pergi sebentar, lalu kenapa dirinya harus sedih. "Tidak juga. Kemanapun dia pergi, dia akan kembali juga."
Celia yang mendengar ucapan Fira hanya melirik tajam. Rasanya dia muak sekali melihat Fira yang seolah tidak tahu malu, mengatakan hal itu. "Ternyata perkerjaanmu sebagai sekertaris hanya kedok ya." Celia yang mulai geram, meluapkan kekesalannya.
"Dengan menjadi sekertaris Jeje, kamu menutupi kedok hubunganmu dengan Jeje."
Fira masih memahami dengan baik kata-kata Celia. Sampai lift terbuka, dia masih mencerna ucapan Celia, tapi Fira belum bisa mengartikan ucapan Celia.
Fira dan Celia yang melihat lift terbuka, melangkah keluar dari lift menuju unit apartemennya yang bersebelahan.
"Apa kamu tahu kalau dulu aku dan Jeje pernah menjalin hubungan?" tanya Celia pada Fira.
Fira yang mendengar pertanyaan Celia, merasa pertanyaan itu mengandung arti lain. Tapi dirinya berusaha tetap tenang, saat menghadapi pertanyaan Celia. "Aku tahu."
"Apa kamu juga tahu, bahwa Jeje semalam membantuku, dan mengantarkan aku ke apartemen?" tanya Celia, dengan senyum kemenangan.
Fira mengelang kepalanya, saat melihat Celia, yang bertanya dengan tersenyum. Dalam hati Fira hanya berpikir, apa yang di inginkan Celia, dengan mengatakan hal itu padanya.
"Apa kamu tahu bahwa Jeje masih begitu perhatian padaku, dan itu berarti dia masih belum bisa move on dari aku." Sebelum Fira menjawab apa-apa. Celia sudah melanjutkan ucapannya.
Perasaan Fira sudah mulai kesal mendengar ucapan Celia, tapi dirinya mencoba tetap tenang. "Aku rasa dirimu terlalu percaya diri, saat mengira Jeje membantumu karena dia belum bisa move on dari dirimu. "
Celia tidak menyangka, bahwa Fira bisa menjawab pertanyaannya, dengan tenang. Celia pikir Fira akan langsung sedih, mendengar dirinya menceritakan bagaimana semalam Jeje membantunya.
"Jeje hanya merasa iba, saat melihat seorang wanita yang tergeletak dia lantai, karena mabuk. Jadi jangan terlalu percaya diri bahwa Jeje belum move on." Fira tersenyum menatap Celia. Tangannya yang sedang meraih handle pintu, langsung membukanya. "Aku permisi," ucapan Fira seraya masuk ke dalam apartemen, dan menutup pintu kemudian.
Celia yang kesal, mengepalkan tangannya. Rasanya dia salah, jika mengira Fira hanya wanita lemah yang bisa saja dia tekan. Dengan kekesalannya, Celia pun masuk ke dalam apartemennya.
Setelah menutup pintu Fira memegangi dadanya. Rasanya jantungnya begitu berdebar saat menjawab semua ucapan Celia. Dia merasa entah keberanian darimana yang tiba-tiba muncul dari Fira.
"Apa aku terlalu kejam, mengatakan hal itu," gumam Fira. Fira yang merasakan baru pertama kali berkata kasar pada orang lain, merasa bersalah. Tapi dia membuang rasa penyesalannya saat mengingat kata-kata Celia. "Wanita mana yang tidak kesal, saat wanita lain mengatakan suaminya belum bisa move on," kesal Fira.
Fira yang masih merasa kesal melanjutkan langkahnya, menuju kamar mandi. Rasanya dia ingin menguyur tubuhnya yang panas, karena menahan emosi.
**
Jeje yang baru saja meeting menuju ke rumah mamanya. Sebenarnya Jeje ingin sekali langsung pulang. Karena takut meninggalkan Fira sendiri. Tapi mamanya yang merenggek untuk Jeje datang, akhirnya membuat Jeje mengalah, dan menuruti keinginan mamanya.
__ADS_1
"Je," panggil Mama Inan saat melihat Jeje masuk ke dalam rumah.
"Ma..." Jeje langsung mencium pipi mamanya. "Ada apa mama menyuruh Jeje kemari.?"
"Mama tadi buat masakan buat Fira. Jadi mama mau kamu bawa buat dia." Mama Inan begitu bersemangat memberitahu putrinya.
"Mama yang masak?" tanya Jeje curiga. Jeje tahu betul mamanya tidak bisa memasak. Dan dia tidak yakin, memberi Fira masakan mamanya.
Mama Inan langsung tertawa. "Bukan, asisten rumah tangga yang masak," jawabnya malu. "Tapi mama juga bantu je," elak Mama Inan.
"Ya sudah, mana ma?" tanya Jeje. " Jeje tidak tenang meninggalkan Fira di apartemen sendiri."
"Iya," ucap Mama Inan seraya melangkah menuju dapur. Setelah mengambilkan makanan yang di siapkannya. Mama Inan langsung memberikannya pada Jeje. "Besok liburkan je?" Tanya Mama Inan seraya memberikan tas kecil berisi makanan.
"Iya ma." Jeje menerima tas yang di berikan mamanya.
"Ajak Fira menginap disini ya," ucap Mama Inan pada Jeje.
"Iya ma, besok Jeje ajak Fira menginap disini."
Setelah selesai mengambil makanan dan berpamitan. Jeje melajukan mobilnya menuju apartemennya.
Jalanan yang masih macet, membuat perjalanan ke apartemem membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. Sesampainya di apartemen Jeje buru-buru melangkah menuju unit apartemennya. Rasanya dia ingin segera bertemu dengan istrinya.
Saat Jeje keluar dari lift matanya menajam, saat melihat apa yang ada di hadapannya. Dengan malas Jeje melanjutkan langkahnya, dan berusaha tatap tenang.
"Hai je, baru pulang?" Celia yang hendak keluar untuk ke restoran terdekat, terkejut saat melihat Jeje. Dia pikir setelah mendengar pembicaraan antara Fira dan Jeje, Jeje tidak akan datang ke apartemen Fira.
"Iya," ucap Jeje seraya melewati Celia.
Celia yang melihat Jeje menjawab pertanyaannya, tanpa berhenti, menahan sesak di dadanya. Celia berpikir, ternyata Jeje masih semarah itu dengannya. "Je, aku mau berterimakasih karena semalam kamu mengantarku." Celia memutar tubuhnya, menatap Jeje yang sedang membuka pintu apartemennya.
"Simpanlah terimakasihmu, karena aku hanya membantu karena kemanusiaan." Jeje membuka handle pintu dan langsung masuk ke dalam apartemen.
Celia yang melihat Jeje meninggalkan dirinya untuk masuk ke dalam apartemen Fira merasa sangat kecewa. Celia melihat Jeje benar-benar berubah. Ada rasanya penyesalan di hati Celia saat mendapat perlakuan dingin Jeje. "Andai aku tidak meninggalkanmu mungkin sekarang aku sudah bahagia bersama mu je."
**
Jeje yang masuk ke dalam rumah langsung meletakkan makanan di atas meja. Dia langsung melangkah menuju kamar, untuk mencari istrinya.
"Kamu sudah pulang?" Fira yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah mandi. Di kagetkan dengan kehadiran Jeje yang membuka pintu kamarnya.
"Iya," ucap Jeje seraya melangkah mendekat pada Fira. "Mama membawakan makanan untukmu, ayo." Jeje mengulurkan tangannya untuk mengajak Fira keluar dari kamar.
Fira yang mendapat uluran tangan Jeje, langsung meraih tangan Jeje, dan bangkit dari tempat tidur.
Sesampainya di meja makan, Fira membuka makanan dan memakannya bersama dengan Jeje.
"Tadi pulang kamu baik-baik saja kan?" Sejak tahu bahwa Celia tinggal di apartemen sebelah, ada rasa was-was dalam hati Jeje.
"Aku baik-baik saja." Fira yang sedang makan, mencoba menenangkan suaminya.
Jeje merasa lega saat Fira baik-baik saja. "Oh ya, mama menyuruh kita untuk menginap besok di rumah." Jeje yang teringat pesan mamanya menyampaikan pada Fira.
Fira tersenyum mendengar ucapan Jeje. "Baiklah," ucap Fira.
Mereka berdua pun melanjutkan makan dengan menyelipkan beberapa obrolan kecil.
.
.
.
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
Mampir juga ke karya lain ku
dan instagram aku Myafa16
__ADS_1