
Sesampainya Jeje kembali ke negaranya Jeje menemui mamanya. Tapi sebelumnya dia sudah menghubungi seseorang untuk menyelidiki semuanya.
"Kamu baru balik dari luar negeri ya je kok nggak bilang-bilang kalau mau keluar negeri?" tanya mama Jeje yang melihat anaknya baru saja memasuki rumah.
"Ya ma, aku keluar negeri, memang kenapa kalau Jeje keluar negeri?" Jeje menatap curiga.
"Ya ga apa-apa, emang kamu ke negara mana?
"Negara tante Ayu ma"
"Apa?" kaget mama Jeje.
"Kenapa ma?" Jeje melayangkan tatapan tajam pada mamanya.
"Nggak apa-apa," jawab mama Jeje gugup.
"Karena Fira," tebak Jeje langsung pada mamanya.
Mama Jeje terkejut mendengar nama Fira di sebut oleh Jeje.
"Apa Jeje ketemu Fira disana"
"Apa mama sedang berfikir Jeje bertemu Fira disana?, kalau mama berfikir begitu, berarti benar yang sedang mama fikirkan"
Mama Jeje menelan ludahnya, mendapati jawaban Jeje atas pertanyaan di kepalanya. Entah apa yang harus mamanya jelaskan pada Jeje serasa tak ada yang bisa keluar dari mulutnya.
"Apa benar mama yang kirim fira kesana?"
"Apa benar mama yang minta Fira meninggalkan Jeje?"
Pertanyaan itu di lontarkan Jeje dengan tatapan tajam dari Jeje, sudah hilang rasa hormat nya pada mamanya.
"Jawab ma," ucap tegas dari Jeje tapi tidak dengan membentak.
Mama Jeje benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, rasa nya berat mau menjawab iya, karena dia yakin Jeje akan membencinya kalau dia menjawab iya
"Baiklah kalau mama tidak mau menjawab, aku akan cari jawabanya sendiri," Jeje beranjak, dan hendak pergi meninggalkan rumah.
"Je..." panggil mama Jeje mencegah anaknya untuk pergi, "Iya mama yang kirim Fira kesana," jawab mama Jeje lemas.
Jeje berhenti, dan mendengarkan dengan seksama. Jeje langsung berbalik dan kembali di hadapan mamanya.
"Kenapa mama setega itu ma sama Fira, apa mama tidak fikirkan bagaimana masa depan Fira ma?, mama tahu pengorbanan Pak Amin dan Bu Ani agar Fira bisa kuliah, tapi mama hancurkan begitu saja, " Jeje meluapkan kekesalannya pada mamanya sendiri yang tega.
"Je, mama hanya mau kamu bahagia"
"Bahagia???"
"Bahagia seperti apa yang mama pikir?"
__ADS_1
"Bahagia dengan menikah dengan Ana?"
Pertanyaan yang terlontar dari Jeje membuat mamanya diam membeku.
"Kalau mama memang mau aku menikah dengan Ana, aku akan menikah dengan Ana ma," ucap Jeje menatap dalam pada mamanya.
"Tapi Jeje mohon jangan ganggu Fira lagi ma, biarkan Fira bahagia dengan hidupnya," Jeje memeluk mamanya menumpahkan air matanya di pelukan mamanya, dia benar-benar merasa bersalah karena membuat Fira menderita, dan tinggal di negara asing.
"Je, maafkan mama je," mama Jeje mengelus punggung Jeje. Mamanya mengerti bagaimana anaknya selama ini mencari Fira, mamanya sebenarnya tahu anaknya begitu mencintai Fira tapi keputusannya sudah terjadi, Jeje sudah harus menikah dengan Ana, dan tidak mungkin mamanya memutuskan karena keluarga Ana pasti akan kecewa.
"Aku akan bahagia dengan cara mama," Jeje melepas pelukannya.
***
Selama dua hari Fira di sibukan dengan pekerjaan yang menumpuk. Paling tidak setelah kepergian Jeje, Fira merasa sedikit melupakan kesedihaannya.
Dan selama dua hari ini Adhi mencoba mengakrabkan diri dengan mamanya lagi, mereka banyak bercerita dan itu membuat Adhi senang.
Sesuai rencana hari ini, Adhi dan Fira akan menghabiskan liburan sebelum besok Adhi akan kembali.
Mereka sudah sepakat untuk menonton.
"Disana juga libur ya dhi, apa Zara juga libur?" tanya Fira saat mengingat Zara.
"Iya Zara libur juga hari ini, tadi aku abis chat dia."
"Buat apa fir," tanya Adhi bingung.
"Ya ampun, aku kangen lah."
"Pakai ponsel kamu aja," Fira antusias menunggu Adhi menghubungi Zara.
"Halo ra," sapa Fira saat melihat panggilan tersambung.
"Fira," Zara kaget saat melihat Fira yang ada di sambungan telepon, dengan ponsel Adhi.
"Kok reaksi kamu begitu sih, kamu nggak kangen ya sama aku," Fira mencebikan bibirnya.
"Bukan gitu fir, aku tu kaget banget lihat kamu, kamu kemana aja sih, aku kangen banget sama kamu."
"Aku pikir kamu nggak kangen, aku di luar negeri ra, nanti aku cerita deh kalau aku ketemu kamu."
"Kamu mau kesini?"
"Ya lah, kangen ketemu kamu."
"Yaudah ya ra, film aku dah mau mulai nanti aku sambung lagi ya, bye Zara"
"Bye fira"
__ADS_1
Sambungan telepon berhenti karena Fira mendengar pintu teater telah di buka, jadi waktunya nonton sudah di mulai. Fira dan Adhi pun masuk dan menonton film.
"Senang deh dhi bisa nonton begini, jadi inget kalau kuliah kita nonton bertiga, " ucap Fira saat keluar dari bisokop.
"Iya aku juga kangen."
Fira dan Adhi memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang.
"Kamu tadi bilang Zara mau kembali fir, emang bener kamu mau balik?"
"Belum tau juga sih," Fira tertawa.
"Tadi asal saja bilang begitu."
"Aku bisa bantu kalau kamu mau balik, aku akan ngomong sama Bang Jeje fir, biar Tante Inan nggak ganggu kamu lagi"
"Nggak usah lah dhi, aku dah nggak mau urusan sama mereka lagi, mungkin takdir aku disini," ucap Fira pasrah.
"Aku tahu kamu pengen banget balik fir, aku akan bantu kamu tanpa kamu minta"
Mereka pun menikmati makan dan liburan mereka, berjalan-jalan di mall bersama menghabiskan waktu, untuk mengantikan waktu yang telah lama hilang.
Malam harinya Adhi menghabiskan malam terakhir dirumah mamanya, dengan mengobrol dengan Tuan Edward.
"Gimana restoran disana dhi?" tanya Tuan Edward memulai pembicaraan.
"Baik om, mulai banyak berkembang, Bang Daffa juga sudah buka cabang di kota lain juga"
"Wah keren dhi"
"Ach..Bang Daffa yang keren Om, dia emang jago mengelola restoran sampai bisa buka cabang," elak Adhi yang mendapat pujian dari Tuan Edward. Adhi sadar diri kalau restoran bisa sesukses ini karena abangnya.
"Oh..lalu rencana kamu gimana ke depan?"
"Ya masih bantu-bantu Bang Daffa aja Om"
"Om mau kasih kamu penawaran dhi, tapi Om harap kamu nggak tersingung."
"Om kan mau bangun perusahaan di negara kamu, Om pengen kamu yang kelola dhi, kamu juga bisa belajar dari Jeje, dia orang yang hebat dalam bisnis, Om yakin kamu bisa dhi"
"Belajar dari Bang Jeje"
"Tapi aku rasa aku nggak cocok Om, lagian perusahaan baru, masak yang pegang aku, sayang lah Om, aku belum pengalaman nanti malah merugikan Om," elak Adhi sopan.
"Justru kamu belum pengalaman harus banyak belajar, masalah rugi untung dalam bisnis biasa dhi, Om sih yakin kamu bisa, lagian kamu bisa nanya Om atau Jeje kalau memang kurang paham."
"Adhi fikirkan dulu ya Om."
"Ya kamu fikirikan lagi, tapi Om berharap kamu jawab iya," Tuan Edward tertawa.
__ADS_1