Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Membuat pizza


__ADS_3

Saat malam semua berada di meja makan. Mama Inan sengaja mengadakan makan malam keluarga untuk merayakan kehamilan Fira.


"Makan yang banyak fir,'' ucap Mama Inan pada Fira. "Ibu hamil harus banyak makan sayur.'' Mama Inan mengambilkan sayuran dan meletakkannya di piring Fira.


Fira tidak bisa menolak saat mertuanya memberikan lagi sayur di piringnya. Dengan senyum terpaksa akhirnya dia memakan makananya.


''Kalian sampai kapan tinggal di apartemen?'' Mama Inan menatap Fira dan bergantian menatap Jeje.


"Pembangunan rumah belum selesai ma, mungkin baru akan selesai empat atau lima bulan lagi.'' Jeje menjelaskan pada mamanya.


"Kalau selesai dalam waktu empat atau lima bulan, usia kandungan Fira sudah cukup besar. Mama saran lebih baik pindah saat sudah Fira sudah lahiran saja."


"Nanti Jeje pikirkan lagi ma." Jeje sendiri juga sebenarnya lebih suka untuk pindah, mengingat ada Celia di apartemen sebelah. Tapi pembangunan rumah yang belum rampung, mengharuskan mereka menunda kepindahan mereka.


"Je, besok mama sama Bu Ani dan Fira mau ke mall. Jadi besok kamu antar kami ya.'' Mama Inan yang mengingat rencana yang sudah di bicarakan siang tadi, dengan besan dan menantunya, menyampaikan pada Jeje.


"Iya ma," ucap Jeje. Jeje hanya bisa pasrah saat harus mengantarkan para wanita untuk berbelanja. Jeje sudah membayangkan akan sebosan apa dirinya besok.


"Gimana perusaahan je?'' tanya Rayhan pada Jeje.


Suara Rayhan yang bertanya, membuat Jeje langsung menoleh pada papanya. "Baik Pa.''


"Apa kerja sama antara perusahaan Axton Grup sudah berjalan?"


Jeje yang mendapatkan pertanyaan tentang perusahaan Axton Grup, teringat dengan Daniel yang dia temui beberapa hari yang lalu. "Mereka sudah mau berkerja sama, Pa."


"Perusahaan itu perusahaan besar, jadi papa harap kamu benar-benar memanfaatkan kesempatan kerja sama ini. Jangan sampai mereka kecewa dan membatalkan kerja sama."


"Jeje akan akan berusaha, Pa.''


Rayhan yang mendengar hanya tersenyum dan mengangguk. Dirinya tidak perlu meragukan lagi keahlian putranya. Rayhan tahu persis, bahwa perusahaan semakin berkembang pesat saat Jeje yang mengelolanya.


**


Jeje mengangkat tangannya, mengarahkan ke arah samping untuk memeluk Fira. Tapi saat tangannya mendapatkan sisi tempat tidur yang kosong, Jeje perlahan membuka matanya. ''Kemana dia,'' gumam Jeje. Jeje mengedarkan pandangan mencari jam dinding, dan dia melihat jam menujukan sudah pukul tujuh pagi.


Dengan merentangkan tangannya, merenggangkan otot yang kaku, Jeje bangun dari tidurnya. Setelah menyibak selimut, Jeje melangkah menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Jeje masih belum melihat Fira kembali ke kamar. Akhirnya Jeje mengambil baju di lemari, dan memakainya. Melangkah keluar dari kamar, Jeje menuju ke lantai bawah mencari keberadaan Fira.


Jeje langsung menuju dapur untuk mencari Fira, tapi sayangnya tidak ada Fira disana, hanya ada mertuanya dan asisten rumah tangga, yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. "Bu, apa ibu melihat Fira?'' Akhirnya Jeje memilih untuk bertanya pada mertuanya.


Bu Ani yang sedang sibuk memasak, menoleh ke arah menantunya. ''Fira dan Bu Inan sedang jalan-jalan ke depan.''


Setelah mendapatkan jawaban dari mertuanya, Jeje melangkahkan kakinya keluar rumah. Saat di halaman rumah, Jeje melihat Fira dan mamanya, yang baru saja memasuki gerbang rumah.


"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Fira yang baru saja sampai, dan menghampiri Jeje.


"Iya,'' jawab Jeje. Jeje memperhatikan Fira yang membawa kantung plastik, di tangannya. "Kamu dari mana?''


"Tadi mama mengajak Fira berjalan-jalan keliling komplek," potong Mama Inan menjelaskan. "Mama masuk dulu.'' Mama Inan melangkah menuju ke dalam rumah, dan meninggalkan Fira dan Jeje.


"Kenapa tidak membangunkan aku, aku juga bisa menemanimu jalan-jalan.'' Jeje menatap Fira yang berdiri tepat di hadapannya.


"Tadi kamu tidur pulas sekali,'' ucap Fira.


"Iya, tapi jika kamu bangunkan aku, aku pasti akan bangun.''


Fira yang mendengar nada suara Jeje yang merajuk , hanya tersenyum. "Lain kali aku akan membangunkan kamu, untuk menemaniku jalan-jalan.''


Jeje mengangguk, rasanya dirinya juga ingin berjalan-jalan pagi dengan Fira. "Lalu itu apa?'' Jeje menatap kantung plastik yang di bawa Fira.


''Ini?'' Fira bertanya seraya mengangkat kantung plastik yang di bawanya. "Ini kue, tadi aku menemukan penjual roti di ujung komplek,'' jelas Fira setelah tadi mendapat anggukan dari Jeje.


"Apa kamu mau? Tapi sayangnya tinggal sedikit, karena tadi aku sudah memakannya sewaktu di sana." Fira menjawab dengan senyuman di wajahnya, dan menampilkan deretan giginya.


"Tidak, makanlah saja.'' Melihat Fira makan, dan tidak muntah sudah membuat Jeje senang


**


Setelah sarapan dan berbincang, akhirnya Jeje mengantar Fira, mamanya dan mertuanya.

__ADS_1


"Ibu bener tidak mau ikut?'' Bu Ani yang tadinya berencana ikut, mendapat telepon dari saudaranya yang tinggal di sebelah rumah, jika ada tamu yang datang.


"Lain kali saja fir, ibu merasa tidak enak saat nanti tamu harus menunggu, karena ibu harus pergi.''


"Memangnya siapa yang datang bu?'' Fira merasa penasaran dengan tamu ibunya.


''Ibu juga nggak tahu. Mungkin paman dan bibi mu dari kampung.''


"Iya sudah kalau begitu, kalau memang paman dan bibi sampaikan maaf Fira belum bisa menemui mereka.''


"Iya nanti ibu sampaikan.''


Sesampainya di rumah Bu Ani. Bu Ani langsung turun dari mobil, dan melangkah masuk ke rumah saudaranya yang berada tepat di sebelah rumahnya. Sedangkan Jeje melanjutkan tujuannya menuju ke mall yang di minta mamanya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Jeje, Fira dan Mama Inan melangkah menuju ke dalam mall. Tujuan pertama Mama Inan adalah butik yang menjual baju hamil.


Mama Inan sibuk mencarikan dress untuk Fira. Dia ingin memastikan bahwa menantunya memakai pakaian longgar, agar tidak menganggu perkembangan bayi dalam kandungan Fira.


Saat menemani Fira dan mamanya, Jeje melihat sepasang dress couple ibu dan anak yang sangat lucu. Dirinya membayangkan, Fira dan anak perempuan mereka memakainya. Dalam hatinya hanya bertanya, akan secantik apa perempuan-perempuan dalam hidupnya itu.


"Apa yang kamu lihat?'' Fira yang menghampiri Jeje bertanya.


"Aku sedang membayangkan kamu memakai dress itu bersama putri kita," ucap Jeje seraya menunjuk dress yang berada di manekin.


"Apa kamu berharap anak kita perempuan?"


"Sebenarnya tidak juga. Aku lebih ingin anak laki-laki," ucap Jeje. "Tapi perempuan atau laki-laki tidak masalah bagiku. Asalkan mereka sehat." Jeje tersenyum menatap sejenak perut rata Fira.


"Apa mama sudah selesai?" tanya Jeje yang melihat Fira sendiri menghampirinya.


"Aku rasa mama akan membeli semua isi toko ini." Fira dari tadi di buat heran yang tidak henti-hentinya memilih dress untuk Fira.


Jeje pun tertawa. "Ayo kita hentikan, sebelum toko ini pindah ke apartemen kita." Jeje langsung mengajak Fira menghampiri mamanya.


Dari kejauhan Jeje dan Fira melihat mamanya yang sedang meminta pelayan toko mengambil beberapa warna baju.


Mama Inan yang sedang sibuk memilih dress melihat Fira dan Jeje menghampiri dirinya. "Sini sayang, lihat warna pink in pasti cantik." Mama Inan menempelkan dress warna pink pada Fira.


"Mama sudah beli berapa dress?" Jeje yang melihat mamanya sibuk memilih hanya bisa mengeleng kepala.


"Mama beli sebanyak itu untuk apa?"


"Ya untuk Fira lah."


"Ma, Jeje dan Fira masih tinggal di apartemen. Kalau mama beli banyak barang untuk Fira. Yang ada nanti apartemen Jeje penuh."


"Ya kalau penuh, nanti mama bawa ke rumah. Mama taruh di kamar kamu."


Jeje tahu, berdebat dengan mamanya tidak akan pernah menang. Jadi Jeje hanya bisa pasrah, dengan keinginan mamanya.


"Sudah, tolong di bawa ke kasir ya," ucap Mama Inan pada pelayan toko. "Je, bayar." Mama Inan beralih pada Jeje, dan memerintah pada Jeje.


Jeje mengerutkan dalam keningnya. Dalam hatinya, walaupun mamanya yang mengatakan dia akan membeli dress untuk Fira, tetap saja dirinya yang harus membayar. Dengan langkah gontai, Jeje menuju kasir. Menyelesaikan pembayaran baju yang di beli oleh mamanya.


"Sebaiknya kita makan dulu," ucap Mama Inan. "Kamu mau makan apa fir?"


Fira yang mendapatkan pertanyaan mengedarkan pandangan. "Pizza," ucap Fira. Dirinya yang mencium aroma Pizza, seketika mengatakan bahwa dirinya ingin makan pizza.


Akhirnya sesuai keinginan Fira mereka masuk ke dalam restoran pizza terkenal. Saat memasuki restoran terdapat beberapa anak-anak yang sedang berjajar rapi. Fira yang melihat tersenyum.


"Ini menunya," ucap pelayan restoran.


"Apa yang di kerjakan anak-anak itu, disini?" Tanya Fira pada pelayan restoran.


"Mereka sedang ada kelas ikut kelas pizza maker junior Nyonya."


"Semacam membuat pizza?" tanya Fira memperjelas.


"Iya, semacam itu. Jadi chef kami akan mengajari membuat pizza, dan anak-anak akan menghiasi pizza mereka dengan topping. Setelah pizza jadi anak-anak akan membawa pulang pizza mereka." Pelayan restoran menjelaskan pada Fira.


"Aku ingin suamiku membuat pizza untukku. Bisakah suamiku ikut bersama anak-anak itu."

__ADS_1


Pelayan restoran tersentak mendengar ucapan Fira. Dia merasa bingung menjawabnya pada Fira. "Maaf Nyonya tidak bisa. Karena pizza maker junior hanya untuk anak- anak."


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Jeje.


"Aku mau makan pizza buatanmu," ucap Fira sedih karena mendapat jawaban tidak bisa dari pelayan restoran.


"Tapi itu tidak bisa sayang. Lihat lah, yang di izinkan hanya anak-anak." Jeje mencoba menjelaskan pada Fira.


"Coba kamu tanya manager restoran je, siapa tahu bisa," potong Mama Inan.


"Tapi ma.."


"Kamu mau anak kamu ileran, karena Fira ingin pizza buatanmu, tapi kamu tidak mau membuatkannya." Mama Inan mematap tajam pada Jeje yang menyanggah ucapannya.


Jeje yang tidak mau hal itu terjadi pun berdiri, dan melangkah mencari manager restoran. Setelah mengatakan pada manager restoran bahwa istrinya yang hamil ingin makan pizza buatannya, akhirnya manager restoran memberikan izin, untuk Jeje membuat pizza.


Setelah mendapat izin, Jeje menghampiri Fira. "Aku akan membuatkan pizza untuk mu, tunggulah," ucap Jeje pada Fira.


Fira yang mendengar ucapan Jeje merasa sangat senang.


Jeje melangkah mengikuti barisan anak-anak yang sedang membuat Pizza. Rasanya dirinya benar-benar merasa malu, berada di jajaran anak-anak kecil.


Saat Jeje sedang menunggu, dan mendengarkan arahan untuk membuat pizza, seorang anak laki-laki menarik bajunya. "Apa?" tanya Jeje menatap ke arah bawah, dimana anak itu berada.


"Apa Om juga ingin membuat pizza juga?"


"Iya."


"Apa dulu waktu kecil Om tidak pernah membuat pizza?" Tanya anak kecil itu dengan polos.


Jeje membulatkan matanya mendengar ucapan anak kecil berusia sekita lima tahun itu. "Iya, dulu waktu kecil, Om tidak pernah membuat pizza."


"Kasihan sekali," ucap anak kecil itu.


Jeje yang mendengar hanya tertawa dalam hati. Rasanya di mata anak kecil di hadapannya, seolah masa kecil Jeje begitu menyedihkan, karena tidak pernah membuat pizza.


"Kalau aku ingin membuat pizza untuk mama, kalau Om ingin membuat untuk siapa?"


"Om membuat untuk adik kecil."


Anak kecil di hadapan Jeje mengedarkan pandangan mencari adik kecil yang di maksud Jeje. "Mana? tidak ada adik kecil."


"Adik kecilnya masih di dalam perut."


Anak kecil itu hanya mengangguk. Jeje yang melihat, hanya merasa anggukan itu entah apa artinya.


Obrolan Jeje dan anak kecil itu harus terhenti, saat mereka semua di persilakan untuk masuk ke dalam dapur.


Di dalam dapur, bergantian mereka membuat pizza. Menghiasi pizza dengan berbagai macam topping.


Jeje pun ikut menghiasi pizza dengan beberapa topping, seperti yang di lakukan oleh anak-anak di sebelahnya. Beberapa orang tua, dan pelayan restoran memandang aneh pada Jeje yang sedang ikut membuat pizza. Tapi Jeje bersikap tetap santai, saat banyak orang memandang aneh pada dirinya.


Suara riuh anak-anak mengisi keheningan di dalam dapur. Wajah-wajah polos, yang begitu bersemangat membuat pizza, begitu menarik perhatian Jeje. Jeje yang melihat hanya membayangkan, jika nanti anaknya juga akan seperti mereka yang di lihatnya ini.


Setelah selesai memberi topping pada pizza yang mereka buat. Chef restoran memasukkan pizza-pizza itu ke dalam oven besar. Semua anak-anak menunggu, termasuk Jeje.


Saat pizza matang, pelayan memberikannya pada semua anak-anak. Jeje harus menunggu terlebih dahulu, anak-anak mengambi pizza. Setelah semua anak selesai mengambil pizza buatan mereka. Jeje melangkah mendekat pada chef restoran, dan meminta pizza buatannya.


Dengam senyum merekah di wajahnya, Jeje membawa pizza buatannya untuk Fira. "Silakan di makan," ucap Jeje meletakkan pizza di atas meja. Dia pun menarik kursi dan duduk di hadapan Fira.


"Terimakasih," ucap Fira. Dengan semangat Fira memakan pizza buatan Jeje.


Jeje yang melihat Fira makan dengan lahap, tersenyum. Rasanya tidak sia-sia dirinya bergabung dengan anak-anak tadi.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like terus ya❤️


Mampir juga ke instagram aku biar tahu kapan aku update ya: Myafa16


__ADS_2